Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Koleksi Bahasa Madura Tak Jadi Prioritas Perpusda Pamekasan

Abdul Basri • Kamis, 18 Mei 2023 | 06:54 WIB
MINIM: Mahasiswa mengambil buku Kamus Bahasa Madura di Perpsutakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pamekasan,  Selasa (16/5). (MOH. JUNAIDI/JPRM)
MINIM: Mahasiswa mengambil buku Kamus Bahasa Madura di Perpsutakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pamekasan, Selasa (16/5). (MOH. JUNAIDI/JPRM)
MADURA – Perhatian pemerintah terhadap literatur berbahasa Madura jauh dari kata maksimal. Padahal, itu merupakan aset dan kekayaan intelektual yang harus dilestarikan.

Di Perpustakaan Daerah (Perpusda) Pamekasan memang ada rak khusus buku-buku Madura, tetapi minim. Tidak lebih dari 100 judul buku. Koleksi buku Perpusda Pamekasan 41 ribu buku. Terdiri atas 25 ribu judul. Tiap judul terdapat satu sampai empat eksemplar.

Di rak konten Madura cukup beragam. Ada karya fiksi seperti puisi, novel, lagu daerah, cerita pendek, dan naskah macapat. Sementara itu, buku nonfiksi ada kamus, buku Carok karya A. Latief Wiyata, Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura 1850–1940 karya Kuntowijoyo, dan lain-lain.

Kepala Dispusip Pamekasan Prama Wijaya menyatakan, pengadaan tidak dianggarkan setiap tahun. Bahkan sejak terjadi pandemi Covid-19, tidak ada penambahan atau belanja. Anggaran pengadaan buku Rp 200 juta tahun ini merupakan hibah dari pemerintah pusat. Anggaran tersebut akan dibelanjakan untuk 1.751 eksemplar yang terdiri atas 440 judul buku.

”Pengadaan buku yang berkaitan dengan Madura atau berbahasa Madura tidak dianggarkan secara khusus. Kalau yang baru dan memang belum kita miliki kita anggarkan dari sana,” ucapnya.

Pemenuhan ruang baca menjadi tanggung jawab pemerintah karena berkaitan dengan peningkatan sumber daya manusia (SDM). Sebab itu, pemerintah harus punya cara yang lebih kreatif dan inovatif. Misalnya, di setiap sudut kota ada ruang yang berfungsi sebagai taman/pojok baca.

Di Pamekasan, pojok baca yang dikelola pemerintah hanya ada tiga. Yakni, di kantor Sekkab, Gedung Islamic Center, dan RSUD dr H Slamet Martodirdjo. ”Tapi, yang di pojok baca ini tidak bisa dipinjam karena versi digital. Hanya bisa dibaca di tempat,” jelas Prama.

Pemerhati bahasa Madura M. Tauhed Supratman menyatakan, pemerintah harus punya perhatian lebih terhadap lokalitas. Apalagi jika menyangkut kebudayaan dan identitas, termasuk buku. ”Harus ada pendataan yang lebih komprehensif sehingga daftar buku yang berkaitan dengan Madura bisa dijangkau,” sarannya.

Sebagai bentuk perhatian Pemkab Sampang, setiap tahun ada pengadaan buku muatan lokal. Namun, yang terpajang di perpsuda hanya 63 eksemplar buku berbahasa Madura. Koleksi Perpusda Sampang 44.320 eksemplar dengan 13.062 judul.

”Pengadaan muatan lokal ini berdasar usulan anggota,” jelas Kabid Perpustakaan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Sampang Turoyyah melalui pustakawan Damai Harianto.

Disarpus membuka kelas bahasa Madura halus. Namun, peminatnya masih sangat minim meski kegiatan itu sudah dibuka untuk umum. Untuk memantik minat masyarakat, disarpus akan mengundang narasumber. Peserta yang ditarget dari sekolah 30 orang.

Harianto menyampaikan, penulis buku berbahasa Madura sedikit. Mayoritas buku muatan lokal di pojok Madura perpusda karya orang Bangkalan. Anggaran pengadaan buku tahun ini Rp 200 juta dari dana alokasi khusus (DAK). Khusus muatan lokal Rp 8 juta untuk membeli 27 judul dengan 4 eksemplar setiap judul.

Selain perpusda, pemkab juga ikut andil dalam melestarikan perpustakaan desa (perpusdes). Namun, yang aktif hanya 12. Koleksi bukunya juga terbatas. ”Tahun depan kami akan fokus pada pembinaan saja karena tidak ada anggaran untuk pengadaan buku,” imbuhnya.

Kegemaran Membaca Aman

Sementara itu, berdasar hasil survei tingkat kegemaran membaca di Jawa Timur 2022, Bangkalan mendapatkan skor nilai kategori tinggi. Hal itu diketahui setelah dilakukan survei di Kecamatan Bangkalan, Kamal, Modung, dan Kwanyar. ”Lima indikator pada penilaian tingkat kegemaran membaca dalam survei ini belum menggambarkan kabupaten secara keseluruhan,” terang Kepala Dispusip Bangkalan Moch. Musleh.

Lima indikator tersebut frekuensi membaca (FM), durasi membaca (DM), jumlah bahan bacaan (JBB), frekuensi akses internet (FAI), dan durasi akses internet (DAI). Dari lima indikator itu, Bangkalan mendapat nilai 67,2. Untuk meningkatkan literasi, bupati menerbitkan peraturan tentang gerakan literasi.

Dispusip juga menerbitkan surat edaran (SE) tentang penyediaan pojok baca, perpustakaan, dan taman baca masyarakat (TBM). Namun, TBM belum merata. Salah satunya di Desa Telang, Kecamatan Kamal.

Koleksi Perpusda Bangkalan 32.724 eksemplar dari 18.756 judul. Juga ada 60.398 eksemplar dari 1.647 judul di perpustakaan digital e_BECAH. Namun, khusus buku berbahasa Madura hanya dua judul. Padahal, anggaran belanja buku tahun ini kurang lebih Rp 100 juta. ”Koleksi buku Madura masih sangat terbatas,” ungkapnya.

Penggiat Rumah Literasi Bangkalan Salman Alfarisi menyadari buku berbahasa Madura terbatas karena anggaran juga minim. Namun, pemerintah tetap harus mendukung peningkatan literasi. Menurut dia, membaca dapat mencegah informasi hoaks. ”Penggiat literasi tidak muluk-muluk minta dana ini dan itu. Kami hanya butuh penghijauan bacaan,” jelas pria asal Klampis itu. (di/za/ay/luq) Editor : Abdul Basri
#literasi #koleksi buku #perpusda #Refleksi Hari Buku Nasional 2023