Hampir seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) terlibat dalam menurunkan angka stunting di Pamekasan. Berdasar hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, tinggi badan menurut umur yakni 8,1 persen.
”Tentu ini adalah buah hasil dari kerja sama antara kita semua. Mulai dari unsur paling bawah yang sudah bekerja ekstra dengan sepenuh tenaga untuk menurunkan angka stunting dengan baik. Ini adalah capaian yang sungguh luar biasa,” kata Wabup Pamekasan Fattah Jasin.
Berdasar data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sebelumnya, terjadi penurunan signifikan atas kasus tersebut. Catatannya, ada sekitar 38 persen penduduk Pamekasan yang tergolong stunting. ”Hasil terbaru sangat minim,” urainya.
Pemkab Pamekasan paham betul kebutuhan penanganan stunting. Apalagi, pemerintah pusat juga menetapkan permasalahan tersebut sebagai salah satu program prioritas. Harapannya, penduduk Pamekasan terbebas dari kasus stunting.
Fattah Jasin menyebutkan, Pemkab Pamekasan telah membentuk kader program percepatan penurunan stunting di setiap desa. Kemudian, merekatkan kerja sama dengan para kader pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga (PKK) berjumlah kurang lebih dua ribu orang.
”Ayo tugas ini kita kerjakan dengan baik. Tujuannya adalah mengabdi pada masyarakat. Rendahnya kasus stunting ini karena kerja kita yang hebat. Terima kasih kepada seluruh yang sudah bekerja dengan luar biasa sampai saat ini,” ujar Wabup yang karib disapa Gus Acing itu.
Angka stunting di Pamekasan hanya terpaut 1,2 persen dari Kabupaten Sampang di posisi kedua terendah se-Jawa Timur. Dua kabupaten lain, masing-masing Sumenep 21,6 persen dengan peringkat ke-24 dan Bangkalan 26,2 persen di peringkat 32. (afg/luq) Editor : Abdul Basri