Sebanyak 20 jurnalis antusias mengikuti kegiatan tersebut. Salah satunya, Moh. Busri yang merupakan wartawan Jawa Pos Radar Madura (JPRM). Pria asal Sumenep itu diutus mengikuti pelatihan agar profesionalismenya dalam menjalankan profesi jurnalis semakin baik.
Sekretaris AJI Surabaya Andre Yuris mengatakan, pelatihan Cek Fakta dilaksanakan sejak 2018 lalu. Lebih dari 3.800 jurnalis di seluruh Indonesia mengikuti program Cek Fakta tersebut.
Kegiatan itu bertujuan untuk meningkatkan kemampuan jurnalis. Khususnya dalam menekan potensi beredarnya kabar bohong atau hoaks. “Secara tidak sadar, publik figur juga bisa terlibat dalam produksi hoaks,” katanya.
Salah satu faktor yang bisa mengakibatkan hoaks mudah tersebar luas, yaitu karena kurang kesadaran dari masyarakat untuk melakukan verifikasi. Kemungkinan yang lain, juga bisa disebabkan karena tidak tahu cara verifikasi.
“Hoaks bisa menyebar luas karena literasi di lingkungan kita sangat lemah. Termasuk juga, jurnalisme yang lemah. Atau, bisa jadi dipicu karena sebagian kelompok terlalu mencintai dan membenci tokoh tertentu,” urainya.
Kepala JPRM Biro Pamekasan Prengki Wirananda mengapresiasi pelatihan Cek Fakta. Dengan pelatihan itu diharapkan jurnalis memiliki kemampuan dan kemauan tinggi melakujan cek ricek dari setiap informasi yang diterima.
Setiap informasi harus diverifikasi dan divalidasi kebenarannya sebelum dimuat menjadi berita. Tujuannya, agar berita yang dipublish tidak mengandung berita bohong.
"Terima kasih AJI Surabaya telah menularkan ilmu bermanfaat bagi jurnalis JPRM. Kegiatan seperti ini diharapkan terus berlanjut agar tidak ada lagi berita bohong yang tersebar di publik," tandas jurnalis bersertifikasi Madya itu. (bus/pen) Editor : Abdul Basri