Perempuan 36 tahun itu dinyatakan meninggal dunia saat masih dalam ruang operasi di RS swasta di Jalan Mandilaras. Zaitun meninggal setelah berjuang melahirkan anak ketiga. Operasi ditangani dokter kandungan Tatik Sulistyowati.
Zahir menceritakan, istrinya masuk ke RS Larasati sekitar pukul 13.00 Kamis (11/8). Dia datang ke rumah sakit itu atas rekomendasi dr Tatik Sulistyowati. Sebab, sehari sebelumnya, Zaitun melakukan ultrasonografi (USG) di tempat praktik Tatik Sulistyowati di Jalan Trunojoyo Nomor 130.
Pria 38 itu mengutarakan jika hasil USG terakhir tidak ada masalah. Kondisi kesehatan bayi dan ibu dalam keadaan baik. Hanya, Tatik menyebut jika air ketuban tinggal sedikit. ”Alasan yang disampaikan ke saya harus dioperasi karena air ketuban tinggal sedikit,” cerita Zahir kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) kemarin (17/8).
Zahir mengungkapkan, istrinya tidak pernah mengeluh sakit atau pecah ketuban. Sepanjang dia mendampingi, istrinya hanya memiliki riwayat penyakit kista. Penyakit tersebut bersarang di tubuh Zaitun sejak sebelum melahirkan anak pertama. ”Anak saya yang pertama dan kedua bisa lahir normal,” paparnya.
Sekitar pukul 15.00, Zaitun masuk ke ruang operasi RS Larasati setelah keluarga mengurus administrasi. Zahir memilih jalur umum meskipun sudah memiliki kartu BPJS Kesehatan. Hal itu dilakukan agar istrinya mendapat pelayanan yang maksimal.
Saat mendaftar, pihak RS Larasati mencantumkan biaya operasi dan obat sebesar Rp 13 juta. Biaya itu selain penginapan dan tindakan lain. Zahir tidak keberatan, yang penting anak dan istrinya selamat.
Sekitar pukul 17.00, putranya lahir dengan selamat. Zahir lalu mengazankan anak yang diimpikan. Setelah itu, dia mencoba untuk menanyakan kondisi istrinya kepada perawat yang menangani.
”Jawaban perawat, masih dalam penanganan dokter. Soalnya saat operasi, tensi darah Zaitun 200 dan sempat kejang-kejang,” ungkap Zahir menirukan kalimat perawat itu.
Setelah salat Magrib, dia melihat kondisi istrinya semakin memburuk. Sekitar sepuluh menit kemudian Zahir mendapat kabar jika Zaitun sudah menghadap Sang Pencipta. Seketika itu dia mulai panik.
Zahir mengaku setengah tidak percaya jika istrinya darah tinggi. Sebab, Zaitun tidak pernah memiliki riwayat darah tinggi. Selain itu, saat periksa di bidan dan puskesmas, tensi darahnya normal 110 mmHg.
”Seharusnya, kalau memang darah tinggi dijelaskan ke keluarga dulu. Pihak rumah sakit tidak menjelaskan apa-apa sebelum operasi,” ungkapnya.
Anehnya lagi, kata Zahir, anaknya yang baru lahir diizinkan langsung dibawa pulang. Saat hendak mau pulang, Zahir ingin membayar biaya sesuai dengan tagihan saat pendaftaran. Namun, yang diambil dari pihak RS Larasati hanya sekitar Rp 1,923 juta. Sedangkan sisanya, kata Zahir, sebagai tali asih.
Karena itu, dia merasa ada yang tidak beres dalam penanganan medis sehingga menyebabkan istrinya meninggal dunia. ”Saya hanya minta pihak rumah sakit transparan dan jangan ada yang ditutup-tutupi,” pintanya.
JPRM mendatangi RS Larasati untuk mengonfirmasi kepada Indri Widayanti selaku direktur atas keluhan Zahir. Informasi petugas satuan pengamanan (satpam), Indri sedang tidak ada di ruangan. Pria bernama Dimas itu menyarankan untuk datang lagi hari ini (18/8).
Tidak cukup di situ, JPRM mencoba menghubungi Indri Widayanti melalui pesan WhatsApp. Dia mengaku sudah ada di rumah. Namun, Indri tidak menjawab permintaan konfirmasi. Dia justru mengancam akan menyomasi.
”Bukan sekarang dan jangan sampai salah memberitakan, maka kami siap untuk somasi,” jawabnya. (bil/luq) Editor : Abdul Basri