PAMEKASAN – Sejumlah madrasah di Pamekasan akan menggelar ujian nasional berbasis komputer (UNBK). Namun kebijakan pemerintah pusat tersebut dinilai membebani madrasah. Modal persiapan untuk melaksanakan UNBK cukup besar.
Nasir, seorang guru madrasah mengungkapkan, untuk menyelenggarakan UNBK harus mengeluarkan biaya jutaan rupiah. Bahkan untuk pembelian server saja harus menyediakan Rp 10 juta. ”Mau bagaimana lagi, lha wong ini sudah menjadi kebijakan pusat. Jadi kita tetap berjuang untuk menyukseskan UNBK,” kata Nasir kemarin (9/2).
Pria kelahiran Sumenep itu menjelaskan, selain masalah pendanaan, madrasah juga terkendala fasilitas atau perangkat pendukung. Banyak madrasah penyelenggara UNBK tidak memiliki komputer memadai. ”Jumlah komputer yang dimiliki madrasah sedikit. Sementara peserta UNBK sangat banyak,” terangnya.
Karena itu, pihaknya harus mencari pinjaman laptop kepada guru dan siswa untuk menyukseskan UNBK. Termasuk untuk kebutuhan tryout UNBK yang akan segera digelar.
Kepala Kemenag Pamekasan Afandi membenarkan pengelola madrasah sibuk mempersiapkan UNBK. Khususnya pelaksanaan tryout yang akan digelar pada pertengahan bulan ini. ”Penyusunan tentang soal-soalnya sudah dibahas,” terangnya.
Dia juga mengakui madrasah belum memiliki fasilitas lengkap. Karena itu, pihaknya mempersilakan madrasah mencari pinjaman. ”Madrasah yang tidak siap bisa bergabung dengan madrasah penyelenggara,” tukasnya.
Editor : Abdul Basri