Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Pemeriksaan Laboratorium, Ratusan Warga Keracunan E-Coli

Abdul Basri • Jumat, 1 Juni 2018 | 23:14 WIB
Pemeriksaan Laboratorium, Ratusan Warga Keracunan E-Coli
Pemeriksaan Laboratorium, Ratusan Warga Keracunan E-Coli

PAMEKASAN – Penyebab ratusan warga tiga kecamatan wilayah pantai utara (pantura) Pamekasan pada Sabtu (12/5) terungkap. Warga dari Kecamatan Waru, Batumarmar, dan Pasean itu keracunan akibat bakteri escherichia coli (e-coli). Itu setelah Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya memublikasikan hasil pemeriksaan mikrobiologi.


Kasi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, dan Olahraga (Kesling Kesjaor) Dinkes Pamekasan Achmad Syamlan mengungkapkan, beberapa waktu lalu pihaknya mengirim sampel makanan yang menyebabkan masyarakat mengalami kejadian luar biasa itu. Hasil pemeriksaan diterima Senin (28/5).


Saat kejadian, petugas dari Dinkes Pamekasan langsung melakukan wawancara dan penelitian kepada penderita. Mulai dari kronologis, jam makan, dan gejala yang diderita pasien. Dengan demikian, bisa mengidentifikasikan keracunan warga disebabkan faktor kimia atau faktor bakteri. ”Lalu sampel makanan itu kami kirim ke Surabaya,” tegasnya Kamis (31/5).


Hasil pemeriksaan laboratorium kesehatan menjelaskan, kejadian tersebut diakibatkan e-coli. Yaitu, bakteri yang hidup atau menetap di usus manusia dan hewan. Lalu, bakteri itu keluar melalui kotoran atau tinja. ”Saat dikeluarkan, e-coli mampu bertahan 3x24 jam atau tiga hari di luar manusia,” terangnya.


Di sisi lain, e-coli sebenarnya tidak berbahaya. Bahkan, merupakan bagian penting dari saluran pencernaan manusia yang sehat. Namun, beberapa e-coli bersifat patogen yang dapat menyebabkan penyakit. Baik diare atau penyakit saluran usus.


”E-coli yang dapat menyebabkan diare dan dapat ditularkan melalui air atau pangan yang terkontaminasi atau melalui kontak dengan hewan atau orang. Kejadian itu bisa karena faktor lingkungan yang kotor dan mencemari makanan,” terangnya.


Dia menjelaskan, e-coli bisa menyebar ke makanan bisa melalui angin. Kotoran sapi atau manusia yang dibuang sembarangan akan diterbangkan angin. Lalu terkontaminasi dengan makanan.


”Selain itu karena debu. Kotoran ketika kering kan jadi debu, sementara e-coli masih hidup, lalu masuk ke makanan,” tegasnya. Juga bisa karena faktor serangga atau lalat yang hinggap di kotoran, lalu hinggap di makanan. Kemudian terkontaminasi dan berkembang biak.


Bisa juga karena faktor air yang tercemari e-coli. ”Kalau di desa biasanya nasi dipercikkan air agar cepat dingin. Air yang tercemari e-coli bisa mengontaminasi makanan,” terangnya.


Bisa juga lewat jari. Misalkan, pengolah makanan tidak mencuci tangan secara bersih setelah buang air besar (BAB). Saat melakukan survei, pihaknya optimistis memang lebih condong ke arah kontaminasi. Sebab, pada saat pengolahan makanan dilakukan di tempat terbuka. Nasinya didinginkan di tempat terbuka. Tidak disimpan di termos.


Dengan demikian, sangat memungkinkan terkontaminasi e-coli. ”Kita lakukan identifikasi, termasuk kunjungan ke tempat pengolahan makanan di dua tempat. Termasuk alat-alat yang digunakan. Alhamdulillah, alat yang digunakan semua bersih dan sesuai peruntukan,” terangnya.


Karena itu, dia berharap masyarakat menjaga pola hidup bersih. Jangan sampai membuang kotoran di sembarang tempat. ”Cuci tangan setelah buang air besar,” pintanya.


Sebelumnya, fasilitas layanan kesehatan di pantura Pamekasan mendadak dipadati pasien Sabtu malam (12/5) hingga Minggu (13/5). Baik Puskesmas Waru, Puskesmas Batumarmar, Puskesmas Pasean, maupun Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Waru.


Penyebab membeludaknya pasien itu lantaran ratusan warga keracunan diduga akibat makan nasi bungkus usai mengikuti acara haflatul imtihan di Desa Ponjanan Timur, Kecamatan Batumarmar, Sabtu pagi (12/5). Sejak Sabtu malam, warga mengalami mual-mual. Bahkan, ada yang kejang-kejang. Mereka berasal dari berbagai desa di wilayah Kecamatan Batumarmar, Waru, dan Pasean.


Kades Ponjanan Timur Fahriyanto mengucapkan terima kasih kepada dinkes yang telah menyampaikan hasil pemeriksaan Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya. Data itu bisa menjawab keresahan warga. ”Terima kasih kepada dinkes dan laboratorium yang telah menyampaikan hasil pemeriksaan secara objektif,” terangnya.


Dengan demikian, kecurigaan sebagian warga yang menyebut peristiwa tersebut karena sengaja diracun dapat disangkal. Tudingan tersebut tidak benar. Karena itu, masyarakat harus percaya terhadap hasil pemeriksaan laboratorium itu.


”Itu sudah data resmi dan tepercaya. Kami berharap masyarakat tidak terprovokasi dengan isu kalau warga memang sengaja diracun. Itu tidak benar,” tandasnya.


 

Editor : Abdul Basri