PAMEKASAN – Kiai Abdurrahman atau yang dikenal Agung Raba dikenal sebagai wali Allah. Dia ikut membantu menyelesaikan kegundahan Pangeran Ronggosukowati saat Pamekasan mengalami peceklik bertahun-tahun.
Menuju pesarean atau Asta Agung Raba membutuhkan waktu sekitar 15 menit dari Kota Pamekasan. Asta tersebut terletak di Desa Sumedangan, Kecamatan Pademawu.
Untuk mengetahui sosok Agung Raba, Jawa Pos Radar Madura (JPRM) menemui K. Abd. Hamid, pengasuh Pesantren Abdurrahman yang berlokasi tak jauh dari Pesarean Agung Raba. Dia merupakan salah satu penerus yang melestarikan situs Kiai Agung Raba.
Koran ini didampingi saat masuk ke Pasarean Agung Raba. Di pasarean itu hanya ada dua makam. Yaitu Agung Raba di sisi barat dan istrinya di sisi timur. Di pasarean itu, Hamid membuka bungkus batu nisan yang dibuat dari kain berwarna hijau.
Ternyata, batu nisan yang dibungkus itu terbuat dari marmer bertuliskan arab. Isinya menjelaskan nama yang ada di makam itu. Ada keterangan marmer itu dibuat atas perintah atau hadiah panembahan Sumolo (Tumenggung Notokusomo) atau putra Bindara Saod Sumenep sekitar 1700 masehi. Dia tercatat sebagai cicit keponakan Kiai Agung Raba.
Agung Raba masih keturunan ulama Sumenep. Dia merupakan generasi keempat Kiai Rahwan (Gung Rahwan) di Desa Sendir, Kecamatan Lenteng, Sumenep. Tidak heran, arsitek bangunan pagar asta itu tidak jauh berbeda dengan Asta Agung Rahwan, Sendir.
”Dari garis ayah, beliau (Agung Raba) adalah putra Kiai Abdullah alias Kiai Sendir III yang berasal dari Desa Sendir,” kata Hamid.
Dia menjelaskan, tidak seorang pun warga Pamekasan yang mengetahui secara pasti kapan Kiai Abdurrahman mulai menempati kawasan Raba. Namun sejarahnya, dia menempati Raba berkat petunjuk gurunya, Kiai Aji Gunung, Sampang.
”Kiai Aji Gunung bertitah dan melempar sebatang lidi. Agung Raba diminta mencari lidi itu menancap di mana. Beliau diperintahkan bertempat di lidi itu menancap. Atas izin Allah, lidi itu ditemukan menancap di Raba,” terangnya.
Kedatangan Agung Raba tidak ada yang mengetahui. Sebab saat itu kawasan Raba merupakan hutan angker. Keberaaan Agung Raba diketahui pada zaman pemerintahan Panembahan Ronggosukowati, salah satu raja Pamekasan.
Saat itu, Pamekasan mengalami musim kemarau panjang. Konon, menurut cerita, hingga tujuh tahun tidak ada hujan. Kondisi paceklik berkepanjangan itu membuat masyarakat Pamekasan kebingungan.
Dengan situasi peceklik itu, Pangeran Ronggosukowati berdoa berharap belas kasih Sang Kuasa. Hingga suatu malam beliau bermimpi didatangi petunjuk berupa suara. Suara itu mengisyaratkan Pamekasan tidak hujan lantaran ada wali Allah yang tidak memiliki tempat tinggal untuk berteduh dari guyuran hujan.
Dia adalah Kiai Abdurrahman alias Agung Raba. ”Ucapkan salam begitu sampai di sana.” ”Begitu suara petunjuk di tengah mimpi Ronggosukowati,” kata Hamid.
Mendapatkan petunjuk itu, esok harinya Pangeran Ronggosukowati memanggil patih Pamekasan. Mereka diajak ke alas atau hutan Raba. Kepada patih, Ronggosukowati menceritakan mimpinya.
”Patih itu tercengang. Sebab Raba kawasan alas angker. Di pikirannya tidak mungkin ada manusia berani tinggal di sana,” kata pria yang memiliki nama Facebook Mansuhana itu.
Sesuai petunjuk, ketika tiba di Raba, Ronggosukowati memanggil salam. Terdengar jawaban dari sebuah arah. Namun ketika didatangi tak ada seorang pun di sana. Sang raja mengucapkan salam sebanyak tujuh kali. Salam itu dijawab dari arah berbeda.
”Tujuh kali salam itu menandakan tujuh kali belokan jalan menuju Pasarean Kiai Agung Raba,” tegasnya.
Saat itu, Kiai Abdurrahman bersemidi bersama anak keponakannya yang bernama Kiai Abdullah yang tidak lain adalah ayah Bindara Saod. Ronggosukowati lalu menuturkan maksudnya ketika berhasil bertemu dengan Kiai Abdurrahman.
Dalam percakapannya, Ronggosukowati meminta bantuan berdoa kapada Allah agar Pamekasan yang sudah bertahun-tahun tidak hujan bisa segera turun hujan. Ronggosukowati bersedia membangun tempat untuk dijadikan tempat berteduh Kiai Abdurrahman.
”Atas izin Allah, bersamaan dengan tertutupnya atap bilik Kiai Abduurahman, hujan turun dengan deras. Raja berterima kasih kepada kiai. Namun beliau menganjurkan agar bersyukur kepada Allah,” terangnya.
Masih berdasarkan keterangan Hamid, hujan yang terjadi saat itu selama tujuh hari tujuh malam. Rakyat panik, begitu pun Raja. Akhirnya Ronggosukowati kembali menemui Kiai Abdurrahman.
”Ketika menemui Agung Raba, raja menuturkan bahwa hujan tidak mau berhenti. Banjir tak bisa dicegah,” kata raja kepada Agung Raba sebagaimana penuturan Hamid.
Raja bermaksud agar Agung Raba kembali berdoa supaya hujan reda sehingga tidak mendatangkan petaka. Kiai Abdurrahman bermunajat. Tak lama kemudian, atas izin Allah, hujan turun sedang.
”Setelah itu, hujan turun sesuai musim. Rahmat Allah turun berkat doa Kiai Abdurrahman sehingga Pamekasan bebas dari paceklik,” terangnya.
Berdasarkan cerita sejak kecil, Agung Raba memiliki keistimewaan. Setiap beliau berucap, biasanya menjadi kenyataan. Karena itu, Kiai Abdullah khawatir, sehingga Agung Raba lebih sering di dalam rumah dan tidak dibiarkan bermain bersama teman-temannya.
Hingga kemudian beranjak dewasa, Agung Raba dititipkan pada Kiai Imam di Desa Pandian, Sumenep. Setelah itu, Kiai Imam memerintahkan Agung Raba berguru pada Kiai Aji Gunung di Sampang.
Editor : Abdul Basri