PAMEKASAN – Ribuan umat Islam dan santri memadati Monumen Arek Lancor, Kota Pamekasan, Rabu malam (25/10). Mereka datang dari 13 kecamatan dan puluhan pondok pesantren di Kota Gerbang Salam. Selain untuk merayakan Hari Santri Nasional, mereka ingin menyimak sang dai favorit, Habib Ubaidillah bin Umar Al-Habsyi, dari Surabaya.
Habib Ubaidillah memang memiliki daya tarik bagi umat Islam. Khususnya santri di Pamekasan. Selain berparas ganteng, dia juga dikenal akrab dengan ulama sepuh. Wawasannya tentang keislaman dan keindonesiaan juga menjadi pelengkap pengajiannya senantiasa diikuti ribuan umat.
Dalam tausiahnya, Habib Ubaidillah menegaskan bahwa santri dari dulu memiliki peran sangat baik. Terbukti dengan adanya Resolusi Jihad yang dipelopori KH Hasyim Asy’ari telah mengobarkan semangat santri untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bahkan di zaman prakemerdekaan, santri juga banyak yang berjuang di medan perang melawan penjajah.
”Kalau bukan santri, Indonesia sampai sekarang menjadi RIS (Republik Indonesia Serikat). Oleh karena para kiai, mereka mengubah RIS menjadi NKRI,” jelas Habib Ubaidillah.
Karena itu, dia meminta agar tidak mengajari santri tentang NKRI. Sebab santri inilah yang memiliki peran penting atas berdirinya NKRI. Bahkan dia menyebut santri sebagai intisari keberadaan republik ini.
”Santri yang paling ngerti tentang NKRI. Santri yang paling rela berkorban jiwa raga demi keutuhan NKRI,” paparnya.
Ketua PC NU Pamekasan KH Taufik Hasyim mengatakan, pengajian ini merupakan bagian dari perayaan Hari Santri Nasional. Pengajian ini sekaligus ingin menguatkan keyakinan umat bahwa santri memiliki peran penting di negara ini. Tanpa santri, kata dia, negara ini bisa saja tidak berwujud NKRI.
Dijelaskan, Hari Santri Nasional diambil dari peristiwa fatwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Fatwa ini dikeluarkan seiring kembali datangnya pasukan sekutu di Surabaya. Kemerdekaan yang sudah dideklarasikan pada 17 Agustus 1945 terancam direbut kembali oleh penjajah.
”Dalam fatwa itu ditegaskan bahwa wajib hukumnya yang rumahnya berjarak 95 kilometer dari Surabaya untuk berperang mengusir penjajah,” kata Taufik dalam sambutannya.
Berkat fatwa inilah, lanjut Taufik, masyarakat Jawa Timur berbondong-bondong datang ke Surabaya. Puncaknya, pada 10 November 1945 terjadi peperangan dahsyat. Bung Tomo waktu itu sudah menguasai Radio Republik Indonesia (RRI) dan memekikkan kalimat takbir tiga kali. Pekikan ini pun membakar semangat santri untuk memerangi penjajah.
”Artinya apa, dari peristiwa ini dapat dikatakan tanpa adanya fatwa jihad yang dikeluarkan oleh KH Hasyim Asy’ari tidak ada Hari Pahlawan,” tegasnya.
Editor : Abdul Basri