Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

TADABUR CITA

Amin Basiri • Minggu, 7 Desember 2025 | 15:48 WIB
Atik Nuraini, SDN Tamberu 1
Atik Nuraini, SDN Tamberu 1

Oleh: Atik Nuraini, SDN Tamberu 1 *

TIADA langkah tanpa jejak, tiada kata seindah bijak. Begitu syahdu nan elok baluran gradasi itu tersimpul; ya, begitulah dunia, harus dengan warna. Kali ini rupanya udara yang bergerak semakin bergetar kencang, menggigil dalam baluran kain bercorak indah nan elok. Aku merajut kisah yang begitu pelik. Ingin aku tertawa, namun raga ingin menyudahinya, padahal aku ingin melihatnya lebih lama lagi.

Rupanya sang raja siang menampakkan aura yang tak biasaefek peralihan iklim tropis di negeri tercinta ini.

”Ayo, bangkit raga get well soon. Sandiwara sudah dimulai dengan babak baru. Bukankah sang sutradara sudah mengarahkan, dan kamu adalah aktris yang cukup berbakat dengan segudang talenta? gumamku.

Embun terasa mengejek, apalagi kokok ayam itu yang begitu menggoda. Aahhhhh ayo semangat! Kusegerakan keluar dari zona nyaman. Waktunya menghadapi kenyataan hidup. Ya life must go on.

Dalam hitungan 24 jam dari titik nol, kupastikan menjalani alur dengan lebih teratur dan harus lebih keren, gumamku dalam hati. Are you ready for today? Selama hayat masih di kandung badan, selama bumi masih dipijak, di situlah dunia benar-benar menunjukkan taringnya. Hukum alam dan hukum dunia saling beradu, memicu candu dan gelak.

”Raaaannntiiii!!!

Nah kan, sudah empat oktaf lengkingannya. Beliau sosok pembawa surga di telapak kakinya. Badanku sulit digerakkan, lutut bergetar seolah fobia turun dari peraduan; jari jemari kaku layaknya es batu, pandangan kabur mengisyaratkan kata tunggu. Raga pun enggan lepas dari inainya.

Waduh bener-bener kudu ngejak ndusel iki cah tapi kudu dipaksa, apa pun konsekuensinya. Bismillah!

Melangkahlah aku menuju beliau. Benarlah ayat-ayat indah dari yang muliabegitu syahdu dan sedikit mengoyak, namun aku harus menerimanya sebagai konsekuensi hidup, mengingat beliau adalah fatwa yang benar. Kulangkahkan kaki, hati, dan pikiran. Mengambil air bersuci dan menghadap Sang Ilahi. Pikiranku menyatu; kuadukan pada Sang Khalik segala yang aku hadapi. Mulailah ketenangan itu memberikan hawa yang adem.

Kujalani hari layaknya seorang pencari ilmu dengan aturan yang berlaku. Kutelusuri arah mata batin dengan niat dan keinginan untuk berubah. Orang tuaku di sekolah tiada henti berpetuah yang baik-baik. Segala hal dalam kebajikan sungguh adalah tantangan, pikirku dalam hati.

Kali ini gundah mulai menghampiri, mempertanyakan: ke mana langkahnya, ke mana auranya, ke mana alunannya? Mengapa aku tak bisa menikmati keindahan Tuhan yang dahulu menghiburku dan memberiku semangat? Akankah ini berakhir sebelum semuanya dimulai? Ah mengapa begitu perih? Hulu hatiku meronta, mengapa sepedih ini?

Pagiku hilang entah ke mana. Hari mudakupergi secepat ini? Oh tidak aku mohon Tuhan, jangan dahulu. Jangan sembunyi atau disembunyikan. Seolah tiba-tiba dunia runtuh dalam sekejap dan tragisnya menimpaku.

Tatkala telinga ini mendengar bisik:

”Eh Ran, kamu tahu kalau Refan sudah pindah?

”Hah? Apa pindah?!

Sang pemberi materi sang pahlawan tanpa tanda jasa. Apa yang kau bisikkan? Mengapa aku tak merasakan getaranmu? Hanya masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Duniaku seolah berakhir. Semangatku luruh tiada tertandingi. Aku pasrah. Sejauh mata memandang, semuanya hampa, hancur, tiada dua. Ya Rabb mengapa seremuk ini?

”Terima kasih. Semoga hari esok lebih ceria dan tentunya tetap semangat dalam belajar. Hati-hati di jalan

Aku pun mengikuti ritme dari perintah itu.

Kakiku tak lagi kompromi. Sesampainya di rumah, yang terbayang hanya bantal, guling, dan rebahan. Aku tak menyadari tenggorokanku berontak, lambungku berdemo menagih energi yang sudah seharusnya diisi. Hambar. Pikiranku lepas, semangat pun raib seketikaabnormal.

Sayup terdengar gelombang antena menyiarkan petuah para alim: dunia tak selebar daun kelor, dan cinta yang hakiki hanyalah dari Allah. Sontak jiwaku tertegun, melebur dalam dosa, menyadari kefanaan dan keegoisan sebagai insan.

Episode baru harus dimulai. Semua akan baik-baik saja atau hancur tanpa tersisasemuanya dengan masanya. Namun kenyataannya tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Andai mengingat kembali betapa aku selalu memosisikan diri sebagai pahlawan untuknya. Selalu berkata ”iya tanpa berpikir berlanjut, dalam latar apa pun. Ikhlas itu memang datang dengan sendirinya. Jika cinta tidak harus memiliki, mengapa bantingannya begitu dahsyat dalam mencapai kategori qanaah?

Sudah 24 jam berlalu. Raja siang dan dewi malam kembali bersaksi. Kokokan ayam, gonggongan anjingsemuanya teratur bersaksi.

”Aku tidak bisa begini. Aku harus bisa move on, sekalipun tidak adil dan sangat merugikan waktuku.

Gumamku dalam doa. Bukankah ini Ramadhan Karim yang penuh berkah untukku dalam meminta kepada-Nya? Kulantunkan bait suci yang menyenangkan Rabbku. Kutundukkan jiwa dengan segenap raga dan dosaku. Aku tersungkur memohon dengan penuh harap.

Hari ini langkahku menuntut ilmu adalah ibadah. Kumantapkan jiwa agar tidak terseret arus energi negatif. Serpihan kuharap dapat terangkai kembali dalam balutan kasih yang hakikiyang menyentuh jiwa hampa dalam relung kosong itu. Kubulatkan dalam tekad.

Melihat ibuku, single parent malaikat tak bersayap. Aku tak bisa terus mengusap kesedihan saat aku sendiri menjadi insan yang merugi.

”Ran sepertinya kali ini ada yang berbeda. Kamu sudah move on, kah? tanya Selfi.

Pertanyaan itu begitu menggelitik dan mengingatkanku pada keterpurukanku.

”Ya, kayaknya nggak mungkin begitu. Seolah kamu menganggap dia duniamu. Masak iya sesudah itu kisah ini berakhir? lanjutnya. Dan, entah kenapa aku sangat gerah mendengarnya. Sangat amat!

Panggilan kumandang suci selepas sahur membuatku merasa perubahan harus nyata. Malaikatkuibukusudah sibuk dengan adonan di tungku. Maklum, semua serbamahal, tungku jadi alternatif kami. Terlihat jelas rabun yang semakin menjadi, peluh yang lusuh, kekeriputan yang nampak, goresan pipi yang semakin kisut. Seketika aku tersadar: aku tidak bisa terus-menerus menambah luka.

Keikhlasannya tak diragukan, begitu tulus dalam memberi nafkah. Lantas, ke mana saja aku selama ini? Saat terpuruk, hanya keluarga yang selalu menerima tanpa syarat, tanpa perhitungan, tanpa basa-basi. Akal sehatku yang hilang perlahan mulai mengenal diriku kembali dalam keterpurukan: krisis moral, krisis percaya diri, dan krisis keimanan.

Kalbuku terbakar. Luka itu menganga, membekas keras, sulit pulih. Aku memungut ikan-ikan kecil hasil sortiran yang nantinya akan kujual di pasarkadang kujadikan lauk untuk menghemat anggaran, mengingat musim hujan dan sulitnya kebutuhan hidup.

Benar saja, terik di pinggir pantai dan bergumul dengan mereka yang jauh lebih tua darikuadalah pemandangan asing bagi yang memandang.

Duh risih? Iya. Tapi tak seberapa dibanding beratnya kesalahan hidup. Wes cuek ae, toh bukan mereka yang memberiku makan. Lanjut. Bangkit dari letih dan kecewa bukan hal mudah.

”Prak! Kurang ajar! Matanya nggak lihat kalau ada orang di sini? Seolah jalan ini milik mereka berdua!

Entah kenapa mataku terpaku. Ya dia. Si begajulan Refan dengan cewek tiktoker yang sedang booming di kalangan remaja menengah. Populer, aku akuiapalagi polesan yang membuatnya glowing. Tatapannya begitu hina. Atmosfernya menggugah amarahku, dukungan alam yang ekstrem menambah gemesku. Hhhhuuuhhh dooaarrrrr.

Langkahku menuju gubuk kecil membangkitkan semangat geram. Darah mudaku menggugat kenyataan. Tangan mengepal, siap diluncurkan ke sasaran. Tak terasa tanganku terluka terkena sisik ikan. Ah tiada seberapa dibanding luka di hati yang mendidih, membara, dan begitu muak ingin menyeruak.

Sejenak kuambil air wudu dan melantunkan ayat suci Rabbku. Kusalami goresan pena dalam tadabur cinta; gejolak itu bangkit dalam jiwa.

”Bukankah kamu seharusnya bersyukur bahwa Allah sudah menunjukkan insan seperti apa yang pantas untukmu? Nikmat Tuhanmu yang mana yang akan kau dustakan?

Tadabur cinta selalu membawa berkah pada insan pilihan yang dikehendaki-Nya. (*)

 

* Salah satu guru pada sekolah dasar negeri di Kabupaten Pamekasan, tepatnya di daerah pesisir pantai utara Pulau Madura. Penulis lahir di Jombang, 21 Maret 1981. Merupakan penggiat literasi dan sangat senang akan menulis karena imajinasi berkembang saat menulis dan menulis baginya sudah merupakan teman yang paling jujur.

Editor : Amin Basiri