Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Ramadan Ceria di Madura

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 10 Maret 2024 | 14:25 WIB

Syafiuddin Syarif
Syafiuddin Syarif
 

Oleh SYAFIUDDIN SYARIF

 

MASYARAKAT Madura terkenal sebagai etnis yang memiliki karakter kuat dalam hidup dan kehidupan. Salah satu karakter masyarakat Madura yaitu ceria dan gembira dalam menjalani hidup dengan segala tantangan di dalamnya.

Begitu pun dalam hal beragama, masyarakat Madura sangat kental dengan penghayatan terhadap agama yang melahirkan keceriaan dan kegembiraan.

Agama dan nilai di dalamnya diterima, dilaksanakan, dihayati dengan rasa tulus, senang serta gembira.

Ibadah salat lima waktu bagi orang Madura tidak hanya dipahami sebagai perintah, tetapi juga dipahami bagian dalam hidup sebagai ekspresi hubungan kedekatan dirinya dengan Sang Pencipta.

Salat lima waktu tidak dipandang sebagai beban, melainkan hubungan yang dibangun antara dirinya sebagai makhluk dengan Tuhan sebagai penciptanya. Ada sikap menerima dengan kedalaman jiwa bahwa dirinya adalah seorang hamba dari zat Yang Mahakuasa.

Bangunan relasi penghambaan melahirkan ikatan yang kuat, intens, dan sangat dekat antara dia sebagai makhluk dengan Tuhan yang telah menciptakannya.

Pandangan di atas merupakan keyakinan beragama yang menumbuhkan sikap ceria dan gembira serta tulus dan ikhlas dalam beribadah salat lima waktu.

Orang Madura, di mana pun berada dan apa pun pekerjaan yang dilakukan, mereka tetap melakukan ibadah salat lima waktu. Di area sawah pertanian, mereka tetap melaksanakan salat di antara waktu istirahat dan selesai mengolah tanah serta merawat tanaman.

Di atas kapal atau perahu, para nelayan setia penuhi ibadah salat di tengah deburan ombak. Hingga di pasar-pasar tempat mereka berjualan, disempatkan salat sesuai waktunya.

Tanpa terkecuali mereka yang bekerja di kantor-kantor pemerintah atau swasta. Tempat dan pekerjaan yang dijalani bukanlah halangan untuk ceria dan bahagia dalam menjalin hubungan dengan Tuhan penciptanya.

Beberapa saat lagi akan memasuki Ramadan. Umat Islam diwajibkan berpuasa satu bulan penuh. Masyarakat Madura sebagai penganut Islam yang taat memandang Ramadan dan berbagai ibadah di dalamnya tidak hanya sebagai ritual.

Tetapi, merupakan bulan yang penuh dengan keceriaan dan kebahagiaan yang sangat dinantikan. Masyarakat Madura menyambut Ramadan dengan berbagai persiapan dan ekspresi khas dalam hidup keseharian.

Setiap akan memasuki bulan Ramadan, masyarakat Madura bekerja bakti membersihkan masjid dan musala sebagai tempat tarawih dan tadarusan. Alas dan karpet masjid atau musala dicuci serta dibersihkan, kemudian diberikan wangi-wangian semacam parfum.

Selain itu, beberapa Al-Qur’an yang usang dan sebagian sobek diperbaiki untuk kebutuhan tadarusan setiap malam. Sound system masjid dan musala turut pula diadakan perawatan untuk kenyamanan beribadah.

Pada sebuah kelompok masyarakat tertentu di Madura, seluruh rumahnya dipasangi lampu hias kelap-kelip dengan cahaya warna-warni. Lampu hias itu dililitkan dan digantung pada batang bambu yang dipasang berdiri di bagian depan rumah.

Satu bulan penuh, setiap malam, lampu hias itu dinyalakan sehingga menimbulkan suasana indah dan menarik lingkungan sekitar, serta menambah ceria dan gembira suasana.

Maraknya lampu hias yang menyala setiap malam di bagian depan tiap rumah memunculkan kesan bahwa Ramadan adalah bulan spesial yang penuh dengan keindahan.

Orang dewasa dan anak-anak sangat menikmati suasana kelap-kelip lampu hias yang dipasang di setiap rumah pada bulan Ramadan.

Mereka sengaja pergi keluar, kemudian berjalan menggunakan sepeda motor sebatas untuk menikmati suasana kemeriahan cahaya kelap-kelip lampu hias.

Begitu pun anak-anak sengaja tidur lebih malam untuk bermain bersama di bawah suasana gemerlap lampu warna-warni yang indah dan memukau. Mereka semua ceria dan bahagia melewati setiap malam Ramadan.

Pada hari Jumat terakhir, sebelum masuk Ramadan, tempat pemakaman umum (TPU) ramai dengan orang nyekar. Mereka menziarahi orang tua, saudara, kerabat, anak, suami atau istri yang telah meninggal.

Seolah-olah mereka berbagi kebahagiaan dengan orang yang telah lebih dahulu meninggalkan mereka.

Dan, keceriaan serta kebahagiaan yang akan mereka jalani pada Ramadan tidak akan melupakan begitu saja terhadap saudara dan kerabat yang telah dahulu berada di alam kubur.

Hari pertama memasuki Ramadan, banyak orang Madura yang bekerja atau berkeluarga di luar untuk pulang ke kampung, secara khusus mereka yang tidak terlalu jauh jarak tempuhnya.

Mereka nampa (memulai puasa hari pertama) berkumpul bersama saudara dan keluarga besar di tanah kelahirannya.

Malam pertama puasa (nampa) adalah malam spesial bagi orang Madura. Biasanya setiap keluarga memasak olahan spesial sebagai hidangan makan sahur keluarga besar. Setiap keluarga biasanya memotong ayam diolah dengan bumbu kuning berkuah.

Ada yang dimasak diolah dengan menggunakan santan berkuah semacam opor ayam. Mereka menikmati makan sahur pertama dengan suasana ceria, gembira, bahagia bersama keluarga besar.

Suasana malam pelaksanaan salat Tarawih merupakan malam penuh petualangan. Masjid dan musala penuh dengan jemaah. Mereka berjemaah dimulai dari salat Isya sampai kelar salat Tarawih dan Witir.

Tidak hanya bernilai ibadah, tapi menjadi ajang silaturahmi antarmasyarakat sekitar masjid atau musala. Juga menjadi ajang merajut kebahagiaan bagi anak kecil dengan bermain bersama teman sebaya yang datang ikut orang tua.

Para orang tua khusyuk beribadah salat, sementara anak-anak sebagian ikut salat dan sebagian bermain saja.

Pada awal Ramadan, masjid dan musala penuh dengan jemaah bahkan tumpah hingga ke halaman.

Perlahan, jemaah berkurang seiring berlalunya hari-hari Ramadan. Masjid atau musala yang cepat dalam salat Tarawih akan didatangi banyak jemaah.

Sementara yang lambat akan sedikit jemaahnya, kecuali jemaah militan termasuk jemaah berusia tua yang telah kehilangan kegesitan dan kecepatan dalam mobilitasnya.

Waktu malam setelah salat Tarawih diselenggarakan tadarusan, yaitu belajar bersama membaca Al-Qur’an oleh sekelompok orang di masjid dan musala. Satu membaca yang lainnya menyimak dilakukan secara bergiliran.

Kemudian, dilakukan perbaikan jika terjadi kesalahan dalam membaca. Kegiatan tadarusan yang dilantangkan melalui pengeras suara menambah syahdu dan keagungan malam bulan Ramadan. Seluruh masjid dan musala seolah-olah bersahutan mengumandangkan ayat Al-Qur’an.

Setiap masjid atau musala mengkhatamkan (menyelesaikan) paling sedikit satu kali. Banyak di antaranya yang mengkhatamkan dua hingga tiga kali. Bahkan, ada masjid dan musala yang mengkhatamkan tadarus Al-Qur’an hingga enam kali.

Pada akhir Ramadan, setelah khatam, biasanya dilakukan selamatan khatam Al-Qur’an. Seluruh peserta tadarus diundang ditambah masyarakat sekitar.

Selamatan khatam Al-Qur’an diawali dengan pembacaan doa khatam Al-Qur’an kemudian ditutup dengan makan bersama.

Saat akan tiba waktu berbuka, masjid dan musala menyelenggarakan buka puasa bersama. Ada yang menyediakan hidangan berupa makanan komplet.

Lainnya, menyediakan hidangan berbuka sekadarnya, seperti kurma dan kue ditambah minuman air gelas kemasan.

Hidangan berbuka disediakan oleh masyarakat sekitar masjid dan musala secara bergantian. Bagi seseorang yang ingin menikmati keseruan berbuka bersama orang-orang, mereka akan datang ke masjid atau musala. Setiap hari, menu buka puasa berbeda sehingga selera tetap terjaga.

Bulan puasa menjadi ladang bisnis terutama usaha kuliner. Setiap sore para pedagang dan pengusaha kuliner membuka stan khusus menjual makanan dan minuman berbuka.

Beraneka jenis makanan, olahan lauk-pauk seperti daging dan ikan, sayur dan kue termasuk juga berbagai macam minuman dijajakan.

Di berbagai tempat dan berbagai sisi dibangun sentra kuliner Ramadan. Bahkan, di depan rumah warga sengaja dibangun lapak musiman khusus menjual kebutuhan berbuka.

Selain itu, muncul juga lapak musiman khusus menjual petasan dan kembang api sebagai mainan anak-anak untuk mengisi malam bulan Ramadan.

Tumbuhnya usaha bisnis bulan Ramadan merupakan keceriaan dan kegembiraan tersendiri bagi pelaku usaha, khususnya bidang kuliner.

Pada sore hari biasanya anak muda jalan-jalan keluar rumah untuk nyare malem (ngabuburit) bersama teman-teman. Nyare malem dilakukan waktu senja sampai hampir masuk waktu berbuka.

Mereka biasanya keluar rumah menggunakan kendaraan sepeda motor bersama dengan teman-teman sekadar berputar sekeliling jalan desa atau berkeliling di seputar kota.

Berkumpul dan nongkrong di sebuah lokasi yang nyaman, sambil menunggu waktu malam yang akan segera datang. Jika telah hampir waktu magrib, mereka langsung pulang ke rumah masing-masing untuk berbuka bersama keluarga.

Penentuan hari dan tanggal awal memasuki Ramadan menjadi keseruan tersendiri bagi masyarakat Madura.

Sekalipun masyarakat Madura mayoritas beragama Islam, mereka tercabang atas beberapa aliran, baik aliran besar atau aliran kecil, juga aliran tradisional dan aliran modern.

Ada yang memulai berpuasa mengikuti ketetapan pemerintah, ada yang berpuasa mengikuti penetapan organisasi yang diikuti. Ada pula yang memulai berpuasa mengikuti ulama yang dipatuhi (basis pesantren).

Juga, ada yang memulai berpuasa mengikuti penetapan yang dilakukan tokoh budaya setempat, seperti mengamati arus ombak di laut, khususnya sebagian komunitas pesisir.

Perbedaan menentukan awal Ramadan dan mulai berpuasa dalam masyarakat Madura hanya selisih antara hitungan satu sampai dua hari.

Sering kali bahkan pasti terjadi perbedaan dalam penentuan awal mulai berpuasa. Namun, perbedaan tidak menjadi pemicu konflik dan pergesekan dalam masyarakat Madura.

Bertahun-tahun terjadi perbedaan penentuan awal bulan puasa telah diterima sebagai perbedaan atas sebuah keyakinan yang dipilihnya.

Masyarakat Madura menerima perbedaan dengan lapang dada, kemudian mengekspresikan dengan damai secara horizontal dalam ranah sosial.

Mereka saling menghargai dan menghormati tanpa ada rasa saling membenci serta memusuhi apalagi saling menyakiti.

Mereka menyambut dan menjalani puasa Ramadan dengan ceria dan gembira sekalipun di antara mereka terdapat realitas dan suasana yang berbeda.

Malem lekoran (malam ganjil akhir sepertiga Ramadan) bertambah khidmat dan agung bulan Ramadan.

Waktu tengah sampai menjelang waktu makan sahur di malem lekoran masjid semakin ramai oleh jemaah yang hendak melakukan iktikaf (duduk di masjid dengan berbagai aktivitas ibadah, seperti salat sunah, zikir, dan baca Al-Qur’an).

Malem lekoran dianggap keramat, sebab dipercaya sebagai malam Lailatul Qadar, yaitu waktu diturunkannya Al-Qur’an diyakini sebagai satu malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Pencari malam Lailatul Qadar bergerilya setiap malam lekoran dengan ikhlas, ceria, dan gembira didasari rasa takwa.

Waktu malam menjelang makan sahur terdengar konser musik jalanan aliran tradisional. Konser musik pada tengah malam bulan Ramadan ini dikenal dengan musik patrol.

Biasanya dilakukan oleh sekelompok anak muda yang memainkan musik sambil berjalan di jalan raya. Mereka memainkan musik ala kadarnya dengan lagu-lagu yang menghibur.

Musik patrol menyusuri jalan kampung dan tengah kota serta area perumahan. Tabuhan musik jalanan ini memunculkan nuansa khas malam bulan Ramadan, sekaligus menjadi hiburan gratis bagi anak-anak.

Terlebih, suara tabuhan musik patrol bisa membangunkan orang, terutama ibu-ibu untuk segera menyiapkan hidangan kebutuhan makan sahur anggota keluarga.

Malam-malam pada bulan Ramadan itu menjadi malam ceria dan gembira dengan munculnya musik jalanan di tengah malam.

Puncak keceriaan terjadi pada akhir Ramadan. Waktu itu seluruh rumah tangga memperbarui atau mengecat rumahnya agar tampak indah dan rapi kembali.

Ini dilakukan karena mereka merasakan bahagia menyambut kedatangan anggota keluarga dan saudara yang pulang kampung.

Anggota keluarga dan saudara yang berada di tempat jauh sebab bekerja atau menikah akan pulang ke kampung halaman pada bagian akhir Ramadan.

Sebagai persiapan merayakan kemenangan Hari Raya Idul Fitri setelah berpuasa selama satu bulan. Mereka berkumpul dengan keluarga besar, merasakan suasana hangat, akrab dalam ikatan persaudaraan.

Karena kedatangan keluarga dan saudara yang pulang kampung, biasanya tuan rumah memasak makanan spesial dengan jumlah besar.

Pada hari terakhir Ramadan, seluruh anggota keluarga besar menutup kegiatan berbuka dengan makan besar bersama keluarga besar. Berbagai menu olahan disajikan di atas meja makan.

Salah satu olahan makanan yang hampir dipastikan selalu ada adalah sate, baik daging sapi, kambing atau ayam.

Semua larut dalam keceriaan dan kebahagiaan sambil menikmati makanan buka puasa. Sebagian olahan makanan spesial itu sengaja dipersiapkan sebagai hidangan Hari Raya Idul Fitri.

Bagi masyarakat Madura, Ramadan sangat spesial dan berbeda dari bulan lain. Mereka menyambut kedatangan Ramadan dengan senang hati dan gembira disertai berbagai persiapan.

Kemudian, menjalankan ibadah puasa dan ibadah lainnya atas dasar takwa. Malam-malam pada Ramadan sarat akan makna dan sejuta keindahan.

Menikmati rasa lapar pada waktu siang, kemudian menghayati sajian keindahan di waktu malam. Inilah ekspresi Ramadan ceria pada masyarakat Madura. (*)

*)Pegiat riset, guru SMAN 1 Sumenep

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#ramadan #salat #madura #masyarakat Madura #ritual #CERIA #ibadah