8 HP Android Mirip iPhone Air, Mulai Rp1 Jutaan: Mana yang Paling Worth It?

Hasan Bashri • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 10:58 WIB
Deratan HP yang mirip IPhone Air
Deratan HP yang mirip IPhone Air

RadarMadura.id - Desain iPhone Air dengan bodi sangat tipis dan modul kamera belakang horizontal mulai menemukan “kembarannya” di ekosistem Android. Menariknya, gaya visual tersebut tidak hanya dipakai ponsel mahal, tetapi sudah turun ke perangkat dengan harga sekitar Rp1 jutaan.

Fenomena ini tentu menguntungkan konsumen. Pengguna yang mengejar tampilan premium kini tidak harus menyiapkan dana puluhan juta rupiah seperti untuk iPhone Air.

Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan. Kemiripan desain tidak berarti pengalaman penggunaan, performa, kualitas kamera, material bodi, maupun dukungan software juga setara.

Dari delapan perangkat yang beredar di berbagai pasar, rentang harganya sangat lebar. TECNO Spark Go 5G menjadi salah satu yang termurah dengan kisaran Rp1,8 jutaan berdasarkan harga India, sedangkan Sony Xperia 10 VIII dan Honor Magic8 Pro Air berada di kisaran Rp12 jutaan berdasarkan konversi harga pasar masing-masing.

Baca Juga: Kasus Penipuan Berkedok Proyek Naik Penyidikan, Pelapor dan Saksi Kembali Dipanggil Polisi

Karena itu, istilah “kembaran iPhone Air” lebih tepat dipahami sebagai kemiripan bahasa desain, terutama modul kamera berbentuk kapsul atau pil yang memanjang secara horizontal di bagian atas punggung.

Di kelas paling terjangkau, TECNO Spark Go 5G menjadi opsi yang paling menarik dari sisi harga. Varian RAM 4 GB dan penyimpanan 128 GB dibanderol sekitar 9.999 rupee India atau sekitar Rp1,8 jutaan.

Ponsel tersebut membawa kamera utama 50 MP, baterai 6.000mAh, pengisian 18W, serta konektivitas 5G. Modul kamera belakangnya dibuat memanjang secara horizontal, meski salah satu elemen yang tampak seperti kamera tambahan sebenarnya hanya berfungsi sebagai elemen desain.

Untuk pengguna Indonesia dengan bujet sekitar Rp1–2 juta, kombinasi seperti ini memang menggoda. Namun, pembeli jangan terpaku pada angka 50 MP atau desain belakangnya.

Di kelas tersebut, kompromi biasanya lebih terasa pada kualitas panel, kamera malam, kemampuan multitasking, kualitas speaker, material bodi, hingga durasi dukungan software. Penggunaan 5G juga harus disesuaikan dengan ketersediaan jaringan operator di wilayah pengguna.

Konsumen yang membeli ponsel murah untuk pemakaian tiga sampai empat tahun sebaiknya lebih memperhatikan kestabilan software dan kapasitas RAM daripada sekadar mengejar tampilan seperti flagship.

Naik sedikit ke kelas sekitar Rp3 jutaan, ada TECNO Spark 50 5G. Perangkat ini membawa layar 6,78 inci beresolusi HD Plus dengan refresh rate 120Hz dan tingkat kecerahan maksimal yang diklaim mencapai 560 nits.

Kamera utamanya beresolusi 50 MP, sementara modul belakangnya juga mengadopsi bentuk horizontal yang mengingatkan pada iPhone Air. Di India, harga perangkat tersebut mulai sekitar Rp3 jutaan untuk RAM 4 GB/128 GB.

Baca Juga: Toyota Celica Generasi Baru Segera Hadir, Siap Tantang Honda Prelude

Refresh rate 120Hz menjadi salah satu fitur yang lebih terasa dalam pemakaian sehari-hari. Scrolling media sosial, membuka halaman web, dan animasi antarmuka dapat terasa lebih mulus dibanding panel 60Hz.

Tetapi refresh rate tinggi tidak otomatis membuat sebuah HP menjadi kencang. Jika chipset dan optimasi software terbatas, pengguna tetap bisa menemukan frame drop ketika menjalankan aplikasi berat atau bermain game dalam waktu lama.

Hal ini penting di Indonesia karena suhu lingkungan yang relatif tinggi dapat membuat perangkat lebih cepat panas ketika CPU dan GPU bekerja keras. Untuk ponsel entry-level, pembeli sebaiknya tidak menjadikan angka refresh rate sebagai indikator tunggal performa.

TECNO juga punya opsi yang lebih ekstrem untuk mengejar bodi tipis melalui Pova Slim. Ketebalannya berada di sekitar 5,95 mm dan bagian belakangnya menggunakan modul kamera berbentuk kapsul horizontal.

Perangkat ini membawa kamera utama 50 MP dengan kamera pendamping serta LED flash yang ditempatkan di modul tersebut. Harga di India berada di kisaran 19.999 rupee atau sekitar Rp3,6 jutaan.

Bodi setipis itu memang memberikan kesan premium ketika digenggam. Tetapi desain ultra-tipis juga membawa konsekuensi yang harus dipahami konsumen.

Ruang untuk baterai, sistem pendinginan, dan komponen internal menjadi lebih terbatas. Artinya, klaim bodi tipis sebaiknya tidak langsung diterjemahkan sebagai pengalaman yang lebih baik.

Pengguna yang sering bermain game atau menjalankan kamera dalam waktu lama justru perlu memperhatikan bagaimana perangkat mempertahankan performa ketika suhu meningkat. Tanpa pengujian langsung dalam kondisi panas Indonesia, sulit memastikan seberapa besar throttling yang akan terjadi.

Pilihan berikutnya adalah Nubia Air. Ponsel ini mempunyai ketebalan sekitar 6,7 mm, dengan titik tertipis pada rangka tengah mencapai sekitar 5,9 mm.

Modul kamera belakang berbentuk pil horizontal menjadi elemen visual yang paling membuatnya tampak seperti iPhone Air. Di Eropa, Nubia Air dipasarkan sekitar 250 euro atau setara Rp4,8 jutaan berdasarkan konversi yang dilaporkan.

Pada harga tersebut, Nubia Air lebih menarik bagi konsumen yang memang mengutamakan desain. Namun, harga konversi dari Eropa tidak boleh dianggap sebagai harga resmi Indonesia.

Baca Juga: Kamar Terasa Panas Tanpa AC? Air Cooler Portable 60W Bisa Jadi Solusi Hemat Energi

Pajak, distribusi, garansi, promosi, dan margin penjual dapat membuat harga lokal berbeda. Konsumen juga perlu memastikan apakah produk yang ditawarkan marketplace merupakan unit resmi Indonesia atau barang impor.

Masuk ke sekitar Rp5 jutaan, Realme 16 5G menjadi salah satu pilihan yang lebih relevan bagi pembeli Indonesia karena perangkat ini memang telah tersedia secara resmi di Tanah Air.

Realme 16 5G dibanderol Rp5.499.000 untuk RAM 8 GB/256 GB dan Rp5.999.000 untuk varian RAM 12 GB/256 GB. Perangkat ini menggunakan kamera utama 50 MP dengan sensor Sony IMX852, sementara kamera depannya juga beresolusi 50 MP.

Dibandingkan HP murah yang sekadar mengambil inspirasi desain, Realme 16 5G lebih menarik jika prioritas pembeli adalah kombinasi desain, kamera, kapasitas memori, dan konektivitas.

Tetapi konsumen tetap perlu melihat harga kompetitor pada saat pembelian. Di kelas Rp5–6 juta, pilihan HP Android sudah jauh lebih banyak sehingga desain mirip iPhone Air tidak cukup menjadi alasan untuk membeli.

Bagi pengguna yang gemar membuat konten, kamera depan 50 MP dapat menjadi nilai tambah. Namun, kualitas foto dan video tetap lebih dipengaruhi sensor, pemrosesan gambar, stabilisasi, serta kemampuan software dibanding angka megapiksel semata.

Ada pula Vivo V80 Lite 5G yang membawa bahasa desain serupa. Modul kamera belakangnya berbentuk oval memanjang dan menampung kamera utama 50 MP dengan sensor Sony IMX852 serta kamera bokeh 2 MP.

Harga yang tercantum untuk pasar Pakistan berada di sekitar Rp7,9 juta untuk RAM 8 GB/128 GB dan Rp9,3 juta untuk RAM 8 GB/256 GB. Angka tersebut merupakan konversi, sehingga tidak dapat dianggap sebagai harga resmi Indonesia.

Pada level harga tersebut, konsumen semakin perlu berhati-hati. Membeli HP hanya karena desainnya menyerupai iPhone Air menjadi semakin sulit dibenarkan ketika bujet sudah mendekati Rp10 juta.

Dengan dana sebesar itu, pembeli seharusnya mempertimbangkan kualitas layar, chipset, kamera malam, stabilisasi video, speaker, IP rating, umur software update, serta layanan purnajual.

Di segmen premium, Honor Magic8 Pro Air menawarkan pendekatan yang lebih serius terhadap konsep ponsel tipis. Ketebalannya sekitar 6,1 mm dengan bobot 155 gram.

Perangkat ini diperkenalkan di China pada Januari 2026 dengan harga mulai 4.999 yuan atau sekitar Rp12,1 juta. Secara visual, modul kamera horizontal dan bodi tipis membuatnya menjadi salah satu perangkat Android yang paling dekat dengan konsep iPhone Air.

Meski demikian, pembeli Indonesia perlu memperhatikan status distribusinya. Jika sebuah perangkat tidak dipasarkan secara resmi di Indonesia, urusan garansi, jaringan, software regional, hingga ketersediaan suku cadang dapat menjadi persoalan.

Baca Juga: Denza D9 Menuju Produksi Lokal, Kehadiran Unit di Pabrik Jadi Sinyal Baru

Ini menjadi faktor yang sering dilupakan ketika konsumen membandingkan harga impor dengan harga resmi. Harga lebih murah belum tentu lebih murah setelah memperhitungkan risiko purnajual.

Sony Xperia 10 VIII menjadi alternatif lain di kelas atas. Ponsel ini menggunakan layar LTPS OLED 6,1 inci dengan resolusi Full HD Plus dan refresh rate 120Hz.

Baterainya berkapasitas 5.000mAh dan Sony mengklaim daya tahan hingga dua hari dalam sekali pengisian. Harga yang dilaporkan mencapai 599 euro atau sekitar Rp12,3 juta.

Daya tarik Sony bukan semata-mata desain. Layar OLED, bodi yang relatif ramping, dan pendekatan khas Sony terhadap perangkat multimedia membuatnya mempunyai karakter berbeda dibanding HP murah yang hanya mengambil elemen visual serupa.

Namun, pengguna Indonesia tetap perlu mengecek kompatibilitas jaringan dan layanan resmi untuk varian yang dibeli. Perbedaan regional dapat berpengaruh terhadap dukungan jaringan maupun pengalaman software.

Jika seluruh perangkat tersebut diletakkan berdampingan, terlihat jelas bahwa tren “HP mirip iPhone Air” sebenarnya bukan satu kategori produk. Ada perangkat murah yang menjual desain dan spesifikasi dasar, ada HP kelas menengah yang mencoba menyeimbangkan performa dan tampilan, serta ada perangkat premium yang memang dirancang sejak awal untuk mengejar bodi tipis.

Karena itu, pembeli dengan bujet Rp1–2 juta sebaiknya memprioritaskan chipset, RAM, baterai, jaringan, dan garansi. Desain boleh menjadi bonus, tetapi jangan sampai mengalahkan faktor yang paling menentukan umur pakai.

Untuk bujet sekitar Rp3–4 juta, TECNO Spark 50 5G atau Pova Slim bisa menarik jika keduanya tersedia resmi dengan harga kompetitif. Tetapi pembeli sebaiknya membandingkannya dengan HP lain yang menawarkan chipset lebih kuat sebelum memutuskan.

Pada kisaran Rp4–6 juta, Realme 16 5G terlihat lebih masuk akal bagi konsumen Indonesia karena sudah mempunyai harga lokal yang jelas. Storage 256 GB dan konfigurasi RAM besar membuatnya lebih mudah dipertimbangkan untuk penggunaan jangka panjang.

Sementara itu, HP seperti Vivo V80 Lite 5G, Honor Magic8 Pro Air, dan Sony Xperia 10 VIII baru masuk akal jika konsumen memang menginginkan kombinasi desain tipis, pengalaman kelas lebih tinggi, dan bersedia membayar jauh lebih mahal.

Satu hal lain yang wajib diperiksa sebelum membeli adalah ketahanan fisik. Bodi tipis memang nyaman digenggam, tetapi tidak otomatis lebih tahan benturan.

Port USB, tombol volume dan power, frame, serta panel layar tetap menjadi bagian yang paling sering menerima tekanan dalam penggunaan harian. Untuk perangkat tipis, casing yang tepat justru menjadi investasi penting karena benturan pada sudut bodi dapat berakibat lebih serius.

Begitu pula kamera. Modul horizontal yang menonjol harus diperiksa apakah mudah tergores ketika ponsel diletakkan di meja. Pengguna yang sering meletakkan HP tanpa casing sebaiknya memperhitungkan risiko tersebut.

Kamera malam juga jangan dinilai dari angka 50 MP. Sensor dan pemrosesan gambar menentukan apakah foto malam tetap memiliki detail atau justru dipenuhi noise.

Hal yang sama berlaku untuk baterai. Kapasitas besar memang menguntungkan, tetapi penggunaan 5G, refresh rate tinggi, brightness maksimal, aplikasi media sosial, serta kondisi sinyal operator Indonesia dapat membuat konsumsi daya jauh berbeda dari angka klaim pabrikan.

Dukungan software juga harus masuk dalam pertimbangan finansial. HP yang murah tetapi hanya mendapatkan pembaruan dalam waktu singkat bisa menjadi kurang ekonomis jika pengguna berniat mempertahankannya selama bertahun-tahun.

Jadi, jika tujuan utama adalah mendapatkan “rasa iPhone Air” dengan dana terbatas, pilihan Android memang semakin banyak. Namun, konsumen tidak seharusnya membeli hanya karena modul kamera belakangnya terlihat mirip.

Untuk pembeli Rp1–2 juta, cari performa dan dukungan software terlebih dahulu. Di kisaran Rp3 jutaan, bandingkan chipset dan layar. Sedangkan pada bujet Rp5 jutaan ke atas, desain tipis seharusnya menjadi salah satu pertimbangan, bukan alasan utama.

Tren ini pada akhirnya menunjukkan satu hal menarik: desain smartphone premium kini semakin cepat turun ke kelas harga yang lebih terjangkau. Konsumen mendapat lebih banyak pilihan, tetapi semakin banyak pula alasan untuk melihat spesifikasi dan pengalaman nyata sebelum terjebak pada tampilan semata. (hasan)

Editor : Hasan Bashri
HP Android mirip iPhone Air HP murah desain premium iPhone Air HP tipis HP 5G murah