Toyota Celica Generasi Baru Segera Hadir, Siap Tantang Honda Prelude

Hasan Bashri • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 10:47 WIB
Toyota Celica (X: we love cars)
Toyota Celica (X: we love cars)

RadarMadura.id - Toyota Celica bersiap kembali ke panggung mobil sport setelah lama menghilang dari jajaran produk Toyota. Kehadiran generasi baru ini menarik perhatian karena Celica berpotensi berhadapan langsung dengan Honda Prelude yang kini sudah resmi dijual di Indonesia sebagai coupe hybrid.

Kembalinya Celica bukan lagi sekadar rumor lama. Toyota sebelumnya telah mengonfirmasi rencana menghidupkan kembali nama Celica, sementara prototipe yang diduga berkaitan dengan proyek tersebut juga terlihat menjalani pengujian. Namun, detail seperti tenaga, harga, pilihan transmisi, dan waktu peluncuran masih belum seluruhnya dikonfirmasi Toyota.

Laporan terbaru menyebut Celica generasi baru berpeluang menggunakan mesin 2.0 liter turbo dan sistem penggerak empat roda. Toyota juga dikabarkan tengah mempertimbangkan sistem hybrid untuk mesin tersebut, terutama karena tuntutan regulasi emisi yang semakin ketat.

Baca Juga: Lexus NX Hybrid Terbaru: Lebih Irit dan Halus, tapi Layak Dibeli di Indonesia?

Jika konfigurasi tersebut benar-benar diterapkan, Celica baru akan mempunyai karakter yang berbeda dari Honda Prelude. Honda memilih jalur hybrid dengan mesin 2.0 liter naturally aspirated yang dipadukan sistem dua motor, sedangkan Toyota berpotensi mempertahankan karakter mobil sport bermesin turbo dan AWD.

Namun, pembaca perlu membedakan antara informasi resmi dan spekulasi. Hingga saat ini, angka tenaga sekitar 400 PS yang beredar di sejumlah laporan belum layak dianggap sebagai spesifikasi final Celica produksi.

Justru bagian yang lebih menarik adalah kemungkinan hubungan Celica baru dengan pengembangan mobil balap Toyota untuk regulasi WRC generasi berikutnya. Prototipe Toyota yang diuji di Portugal menggunakan bentuk bodi coupe dan kemudian dikaitkan dengan kemungkinan hadirnya GR Celica.

Toyota memang mempunyai sejarah panjang dengan Celica GT-Four di ajang reli. Karena itu, kemungkinan penggunaan sistem AWD pada Celica generasi baru bukan sekadar gimmick pemasaran, melainkan dapat menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali identitas performa Celica.

Baca Juga: Lenovo Tab Plus Gen 2 Mulai Dijual, Andalkan 9 Speaker JBL, Layar 2.5K 120Hz dan Baterai Jumbo

Jika Toyota benar-benar membawa teknologi GR-FOUR ke Celica, mobil ini akan mempunyai modal kuat untuk menghadapi tikungan dan kondisi jalan dengan traksi yang berubah-ubah. Tetapi sistem penggerak empat roda juga membawa konsekuensi berupa bobot, kompleksitas mekanis, serta potensi biaya perawatan yang lebih tinggi dibanding coupe berpenggerak dua roda.

Di Indonesia, faktor tersebut cukup relevan. Jalan perkotaan memang tidak membutuhkan AWD untuk penggunaan sehari-hari, tetapi karakter sistem tersebut bisa memberikan stabilitas ketika hujan, melewati permukaan licin, atau melakukan akselerasi kuat di jalan dengan grip yang tidak merata.

Sebaliknya, AWD tidak otomatis membuat mobil lebih aman jika ban sudah aus atau tekanan ban tidak sesuai. Komponen ban tetap menjadi titik kontak utama dengan aspal dan biaya penggantiannya untuk mobil sport biasanya tidak murah.

Sebagai pembanding, Honda Prelude yang sudah resmi hadir di Indonesia menggunakan sistem hybrid e:HEV dengan mesin 2.0 liter empat silinder. Total output sistem mencapai 203 PS, sedangkan motor listrik menghasilkan torsi 315 Nm. Transmisinya menggunakan e-CVT dengan teknologi Honda S+ Shift untuk memberikan sensasi perpindahan gigi virtual.

Honda memosisikan Prelude bukan sebagai mobil yang mengejar catatan waktu ekstrem. Filosofinya lebih dekat kepada sport coupe yang masih dapat digunakan sehari-hari.

Pendekatan tersebut membuat Prelude menjadi lawan yang menarik bagi Celica. Jika Toyota mengutamakan turbo dan AWD, sedangkan Honda mempertahankan sistem hybrid dengan karakter lebih halus, konsumen sebenarnya akan mendapatkan dua interpretasi berbeda mengenai mobil sport modern.

Baca Juga: Daihatsu New Sigra 1.2 R Dapat Sentuhan Teknologi Baru, Android Auto dan Apple CarPlay

Prelude sendiri mempunyai fondasi yang cukup serius. Honda menyebut mobil ini dibangun menggunakan platform turunan Civic Type R, kemudian disesuaikan untuk menghasilkan keseimbangan antara performa, kenyamanan, dan kemudahan penggunaan sehari-hari.

Di Indonesia, Honda sudah mematok Prelude Rp974,9 juta. Model tersebut juga mendapat respons cukup kuat sejak pemesanan dibuka.

Pada awalnya Honda mencatat alokasi 100 unit untuk 2026 habis dipesan dalam tiga hari. Per April 2026, total pemesanan bahkan telah mencapai 280 unit, melampaui alokasi yang tersedia.

Angka tersebut memberikan gambaran bahwa pasar mobil sport coupe sebenarnya masih memiliki konsumen. Masalahnya bukan selalu tidak ada pembeli, melainkan seberapa tepat produsen menentukan kombinasi harga, performa, desain, dan eksklusivitas.

Toyota mempunyai peluang memanfaatkan celah tersebut jika Celica baru diposisikan secara agresif. Nama Celica sendiri memiliki nilai sejarah yang kuat, terutama bagi penggemar Toyota dan motorsport.

Tetapi harga akan menjadi persoalan utama. Jika Celica baru menggunakan mesin turbo 2.0 liter, AWD, serta teknologi hybrid, harga produksi tentu tidak bisa dibandingkan dengan coupe sederhana bermesin konvensional.

Komponen AWD menambah kompleksitas drivetrain. Sistem hybrid juga membutuhkan motor listrik, baterai tegangan tinggi, inverter, dan perangkat kontrol tambahan.

Di sisi lain, Toyota mempunyai pengalaman yang cukup panjang mengembangkan sistem hybrid maupun teknologi GR. Pada GR Corolla terbaru, misalnya, Toyota menggunakan mesin G16E-GTS 1.6 liter tiga silinder turbo dengan sistem GR-FOUR AWD. Di Indonesia, GR Corolla saat ini tercantum dengan harga sekitar Rp1,38–Rp1,43 miliar tergantung varian.

GR Corolla tersebut menghasilkan 300 PS dan pada spesifikasi Indonesia menggunakan transmisi manual enam percepatan dengan iMT. Suspensinya menggunakan MacPherson strut di depan dan double wishbone di belakang, sementara rem depan memakai kaliper fixed empat piston.

Pengalaman Toyota tersebut bisa menjadi petunjuk bagaimana Celica baru mungkin diarahkan. Namun, tidak tepat menyimpulkan Celica akan menggunakan mesin atau sistem mekanis yang sama hanya karena berada di bawah payung GR.

Toyota bahkan sudah mengembangkan GRMN Corolla sebagai versi yang lebih ekstrem. Mobil tersebut menggunakan mesin 1.6 liter tiga silinder turbo, AWD, transmisi manual enam percepatan, serta peningkatan chassis dan pendinginan untuk penggunaan performa tinggi.

Hal tersebut memperlihatkan bahwa Toyota masih serius mempertahankan mesin pembakaran internal berperforma tinggi di tengah elektrifikasi. Celica baru dapat menjadi salah satu model yang meneruskan pendekatan tersebut, meskipun konfigurasi finalnya belum bisa dipastikan.

Untuk penggunaan harian di Indonesia, mobil sport seperti Celica akan menghadapi persoalan yang berbeda dengan pengujian di sirkuit.

Kemacetan membuat mesin bekerja dalam kondisi stop-and-go, sementara suhu lingkungan tinggi dapat meningkatkan beban sistem pendinginan. Jika mobil menggunakan mesin turbo berdaya besar, kondisi tersebut menuntut sistem pendinginan bekerja lebih keras dibanding penggunaan santai di jalan bebas hambatan.

Pemilik juga harus lebih disiplin terhadap oli mesin, kualitas bahan bakar, temperatur kerja, dan interval servis. Mesin berperforma tinggi tidak berarti pasti rapuh, tetapi toleransi terhadap kelalaian perawatan biasanya lebih kecil.

Bahan bakar juga menjadi perhatian. Jika Celica nantinya menggunakan mesin turbo berkompresi tinggi dengan output besar, kemungkinan kebutuhan bahan bakar beroktan tinggi akan menjadi konsekuensi. Pada GR Corolla, misalnya, Toyota Australia merekomendasikan bensin beroktan 98.

Bagi konsumen Indonesia, artinya biaya operasional tidak berhenti pada harga beli. Penggunaan bahan bakar berkualitas tinggi, ban performa, rem, oli, dan servis berkala harus masuk ke perhitungan sejak awal.

Satu set ban mobil sport juga bisa menelan biaya jutaan rupiah. Jika mobil digunakan agresif, umur ban dan kampas rem tentu lebih pendek daripada kendaraan keluarga yang dikendarai santai.

Karena itu, calon pembeli Celica sebaiknya tidak hanya menyiapkan dana untuk cicilan atau pembelian tunai. Dana cadangan untuk perawatan tahunan juga harus tersedia.

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah ground clearance. Coupe sport dengan bodi rendah memang terlihat menarik, tetapi polisi tidur, ramp parkir, jalan berlubang, dan tanjakan curam merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari di Indonesia.

Pengemudi harus mengubah kebiasaan. Mengambil jalur secara perlahan, memperhatikan sudut tanjakan, dan tidak membawa kecepatan tinggi di jalan rusak akan menjadi bagian dari rutinitas.

Untuk layanan purnajual, peluang Celica lebih baik jika Toyota Indonesia menjualnya secara resmi. Jaringan dealer Toyota yang luas menjadi keunggulan dibanding mobil sport impor yang hanya mengandalkan bengkel spesialis.

Namun, ketersediaan jaringan tidak otomatis berarti semua komponen Celica tersedia di setiap dealer. Komponen khusus GR, drivetrain AWD, turbo, atau sistem hybrid berpotensi membutuhkan teknisi dan suku cadang tertentu.

Calon pembeli nantinya perlu memastikan cakupan garansi, interval servis, harga komponen fast-moving, ketersediaan ban, serta prosedur penanganan sistem hybrid jika varian tersebut benar-benar diproduksi.

Untuk Honda Prelude, situasinya relatif lebih jelas karena sudah resmi dijual oleh Honda Prospect Motor di Indonesia. Harga resminya Rp974,9 juta dan pengiriman konsumen pertama telah dilakukan pada Mei 2026.

Honda juga memberikan garansi baterai tegangan tinggi e:HEV selama delapan tahun atau 160.000 kilometer, mana yang tercapai lebih dahulu, dengan syarat dan ketentuan berlaku.

Keunggulan tersebut penting bagi pembeli mobil sport hybrid karena salah satu kekhawatiran terbesar kendaraan elektrifikasi adalah biaya komponen baterai. Garansi panjang setidaknya memberikan kepastian finansial selama periode kepemilikan awal.

Jika Celica nantinya hadir dengan hybrid, Toyota akan menghadapi tuntutan yang sama. Konsumen akan melihat bukan hanya performa, tetapi juga berapa lama baterai dilindungi dan bagaimana jaringan servisnya.

Dari sisi harga, posisi ideal Celica akan sangat menentukan. Jika harganya jauh di atas Prelude, Toyota harus menawarkan performa atau karakter berkendara yang memang berbeda secara signifikan.

Sebaliknya, jika Toyota mampu menempatkan Celica di bawah Rp1 miliar atau tidak terlalu jauh dari harga Prelude, persaingan akan menjadi jauh lebih menarik.

Namun, harga di bawah Rp1 miliar untuk coupe sport AWD bermesin turbo 2.0 liter sekaligus hybrid terdengar sangat agresif. Karena itu, pembaca sebaiknya tidak menjadikan angka harga yang beredar di media sosial sebagai patokan sebelum Toyota mengumumkan harga resmi.

Bagi konsumen Indonesia yang sudah mengincar mobil sport, keputusan antara Celica dan Prelude nantinya akan lebih banyak ditentukan oleh karakter daripada sekadar angka tenaga.

Prelude lebih masuk akal bagi pembeli yang menginginkan mobil sport yang relatif mudah digunakan sehari-hari, teknologi hybrid, dan dukungan resmi Honda. Celica akan lebih menarik bagi penggemar yang menginginkan karakter Toyota, potensi performa turbo, dan kemungkinan sistem AWD.

Sementara bagi pembeli yang membutuhkan mobil utama keluarga, keduanya tetap bukan pilihan paling rasional. Coupe dua pintu memiliki keterbatasan akses penumpang dan ruang praktis dibanding sedan, hatchback, SUV, atau MPV.

Mobil sport juga memiliki biaya kepemilikan yang tidak selalu terlihat pada brosur. Pajak, asuransi, ban, rem, bahan bakar, dan depresiasi harus dihitung bersama harga pembelian.

Baca Juga: Daihatsu New Sigra 1.2 R Dapat Sentuhan Teknologi Baru, Android Auto dan Apple CarPlay

Jika Celica baru benar-benar menggunakan teknologi yang kini dirumorkan, mobil ini berpotensi menjadi salah satu proyek paling menarik Toyota dalam beberapa tahun terakhir. Namun, semakin kompleks teknologinya, semakin penting pula bagi konsumen untuk memastikan dukungan purnajual.

Untuk sekarang, Celica sebaiknya ditempatkan sebagai calon rival Prelude, bukan rival yang sudah resmi di jalan. Toyota memang telah memberi sinyal kuat mengenai kebangkitan nama tersebut, tetapi spesifikasi final dan harga masih menjadi bagian yang harus ditunggu.

Yang jelas, kembalinya Celica menunjukkan bahwa era elektrifikasi tidak sepenuhnya menghapus mobil sport bermesin performa tinggi. Justru tantangannya berubah: produsen harus membuat mobil yang tetap menyenangkan dikendarai tanpa mengabaikan tuntutan emisi dan efisiensi.

Jika Toyota berhasil menemukan titik tengah antara performa, elektrifikasi, AWD, harga, dan biaya kepemilikan, Celica baru bisa menjadi lebih dari sekadar nostalgia. Bagi konsumen Indonesia, daya tarik terbesarnya nanti bukan hanya pada nama besar Celica, tetapi apakah mobil tersebut tetap menyenangkan dikendarai tanpa membuat biaya kepemilikannya ikut “berlari” secepat performanya. (hasan)

Editor : Hasan Bashri
Toyota Celica 2027 Toyota Celica terbaru Celica GR mobil sport Toyota Honda Prelude