BAIC T1 Dibanderol Rp373 Jutaan, Mengapa Tak Mau Disamakan dengan Chery Q dan Geely EX2?

Fadila An Naila • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 13:01 WIB
BAIC T1 (X/@rodadotco)
BAIC T1 (X/@rodadotco)

RadarMadura.id— Harga BAIC T1 yang berada di kisaran Rp373 jutaan langsung menempatkannya dalam pertarungan yang cukup menarik di pasar mobil listrik Indonesia. Pasalnya, pada saat yang sama konsumen sudah memiliki pilihan seperti Chery Q dan Geely EX2 yang bermain di rentang harga Rp200 jutaan.

Namun, BAIC Indonesia menilai T1 tidak tepat jika dibandingkan secara langsung dengan kedua model tersebut. Pabrikan asal China itu menyebut perbedaan dimensi dan karakter bodi menjadi alasan T1 ditempatkan sebagai crossover, bukan sekadar mobil listrik perkotaan berukuran kompak.

Chief Operating Officer BAIC Indonesia Dhani Yahya mengatakan T1 memiliki panjang bodi sekitar 4,3 meter. Sementara Chery Q dan Geely EX2 berada di kisaran 4,1 meter.

“Kami bukan bermain di segmen mereka,” ujar Dhani saat menjelaskan posisi T1. Menurutnya, perbedaan ukuran tersebut membuat BAIC melihat T1 berada pada kelas produk yang berbeda.

Secara teknis, perbedaan tersebut memang bukan sekadar persoalan label pemasaran. BAIC T1 memiliki panjang 4.337 mm, lebar 1.850 mm, tinggi 1.573 mm, serta wheelbase 2.750 mm. Ukuran ini membuat T1 lebih besar dibandingkan mobil listrik yang memang dirancang sebagai urban car berukuran sangat ringkas.

Baca Juga: Mesin Dipangkas, Performa Malah Bertambah, Mazda MX-5 Terbaru Siap Hadir dengan Tenaga Lebih Besar

Di sisi lain, konsumen tetap berhak membandingkan ketiganya. Sebab, pada penggunaan sehari-hari, harga pembelian tetap menjadi pertimbangan utama, terutama bagi pembeli mobil listrik pertama yang ingin mendapatkan biaya operasional rendah.

Saat ini, situs resmi BAIC mencantumkan harga T1 sebesar Rp373 juta OTR Jakarta untuk 1.000 konsumen pertama, dari harga normal yang tercantum Rp393 juta. Artinya, calon pembeli perlu memastikan apakah harga tersebut masih berlaku ketika melakukan pemesanan, karena program harga khusus memiliki batasan.

Dari sisi penggerak, BAIC T1 menggunakan motor listrik permanent magnet synchronous motor dengan tenaga puncak 70 kW atau sekitar 94 hp. Torsi maksimumnya mencapai 176 Nm, angka yang secara karakter sudah cukup untuk kebutuhan stop-and-go di perkotaan.

Karakter seperti ini justru relevan dengan kondisi jalan Indonesia. Pada lalu lintas padat, respons instan motor listrik dan torsi yang tersedia sejak putaran awal membuat pengemudi tidak membutuhkan mesin berkapasitas besar untuk bergerak dari lampu merah, menyusul kendaraan, atau menghadapi tanjakan perkotaan.

Baterainya menggunakan teknologi lithium iron phosphate atau LFP dengan kapasitas 42,3 kWh. BAIC mengklaim jarak tempuh mencapai 425 km berdasarkan metode CLTC, sedangkan angka berdasarkan WLTC tercantum lebih dari 310 km.

Perbedaan metode pengujian ini penting untuk dipahami calon konsumen. Angka 425 km sebaiknya tidak diperlakukan sebagai jarak tempuh pasti dalam kondisi jalan Indonesia karena lalu lintas, penggunaan AC, kecepatan tinggi, beban penumpang, temperatur, hingga gaya mengemudi dapat membuat jarak aktual lebih rendah.

Untuk penggunaan harian dalam kota, kapasitas baterai tersebut secara umum memberikan ruang cukup untuk perjalanan rutin tanpa harus mengisi daya setiap hari. Pemilik yang mempunyai akses pengisian di rumah juga berpotensi mendapatkan keuntungan terbesar dari pola penggunaan seperti ini.

BAIC T1 juga sudah mendukung DC fast charging. Pengisian dari 30 persen ke 80 persen diklaim membutuhkan waktu maksimal sekitar 25 menit pada kondisi pengujian tertentu, sementara pengisian AC 0-100 persen tercantum sekitar delapan jam.

Namun, kecepatan pengisian di dunia nyata tetap bergantung pada daya charger, kondisi baterai, temperatur, serta kemampuan stasiun pengisian. Karena itu, calon pembeli yang sering melakukan perjalanan luar kota tetap perlu melihat ketersediaan SPKLU di rute yang biasa dilalui, bukan hanya melihat angka waktu pengisian di brosur.

Menariknya, BAIC justru menyebut AION UT, BYD Dolphin, dan GWM Ora sebagai model yang lebih relevan untuk dibandingkan dengan T1. Ketiganya berada di kisaran harga Rp300 juta hingga Rp400 jutaan dan lebih dekat dari sisi positioning produk.

Dari sudut pandang konsumen, pendekatan tersebut cukup masuk akal jika parameter yang digunakan adalah harga, ukuran, serta karakter kendaraan. Namun, apabila yang dicari adalah mobil listrik untuk kebutuhan dasar perkotaan, perbandingan dengan Chery Q dan Geely EX2 tetap sulit dihindari karena selisih harga keduanya cukup besar.

Chery Q, misalnya, saat ini tercantum mulai Rp249,9 juta OTR Jakarta untuk varian Pure dan Rp269,9 juta untuk varian Rizz. Model tersebut menggunakan baterai 42,7 kWh dengan klaim jarak tempuh hingga 400 km berdasarkan NEDC.

Geely EX2 juga berada pada rentang harga yang lebih rendah. Situs resmi Geely mencantumkan harga Rp239,9 juta untuk EX2 Pro dan Rp269,9 juta untuk EX2 Max, dengan jarak tempuh yang diklaim mencapai 395 km NEDC serta fast charging 30-80 persen sekitar 25 menit.

Dengan demikian, konsumen yang hanya membutuhkan kendaraan listrik kompak untuk perjalanan rumah-kantor tidak otomatis harus mengeluarkan Rp373 juta untuk mendapatkan pengalaman mobil listrik.

T1 baru menjadi lebih menarik ketika kebutuhan pengguna mulai bergeser ke kendaraan dengan bodi lebih besar, kabin yang lebih lega, posisi berkendara crossover, dan fitur yang lebih mendekati kendaraan di kelas Rp300-400 jutaan.

BAIC sendiri membekali T1 dengan sejumlah fitur yang cukup lengkap. Di antaranya ADAS Level 2, Automatic Parking Assist, Vehicle-to-Load, Vehicle-to-Vehicle, panoramic roof seluas 2,34 meter persegi, serta sistem audio enam speaker.

Bagi pengguna perkotaan, fitur-fitur tersebut memiliki nilai praktis, meski tidak semuanya wajib. Automatic Parking Assist misalnya dapat membantu ketika bermanuver di area parkir sempit, sedangkan ADAS lebih berguna pada perjalanan panjang dan jalan dengan lalu lintas yang relatif teratur.

Faktor lain yang patut diperhatikan justru berada di luar spesifikasi. BAIC T1 pada tahap awal dipasarkan sebagai kendaraan impor utuh dari China. BAIC Indonesia sebelumnya menyatakan memiliki rencana untuk mulai merakit T1 secara lokal di Purwakarta pada akhir 2026.

Rencana produksi lokal tersebut berpotensi menjadi nilai tambah dari sisi pengembangan produk dan rantai pasok, tetapi konsumen sebaiknya tidak membeli hanya berdasarkan janji perubahan status produksi. Yang lebih penting adalah memastikan jaringan dealer, ketersediaan suku cadang, teknisi kendaraan listrik, serta dukungan purna jual di kota tempat kendaraan akan digunakan.

Untuk mobil listrik, biaya perawatan rutin memang cenderung lebih sederhana dibandingkan mobil bermesin pembakaran karena tidak ada penggantian oli mesin, busi, filter oli, atau sejumlah komponen mesin konvensional. Namun, bukan berarti seluruh biaya kepemilikan menjadi murah.

Ban, rem, suspensi, AC, sistem kelistrikan, serta komponen elektronik tetap membutuhkan perhatian. Pada kendaraan listrik berbobot cukup besar, kondisi ban dan kaki-kaki juga perlu diperiksa secara berkala, terutama jika mobil sering digunakan melewati jalan rusak.

Karena itu, calon pembeli BAIC T1 sebaiknya tidak hanya bertanya mengenai harga mobil dan cicilan. Pastikan juga mengetahui biaya servis berkala, cakupan garansi baterai dan motor listrik, harga komponen yang tidak masuk garansi, serta lokasi bengkel resmi terdekat.

Pada akhirnya, BAIC memang memiliki alasan untuk menempatkan T1 di atas Chery Q dan Geely EX2. Dimensi 4,3 meter, wheelbase 2,75 meter, tenaga 70 kW, baterai LFP 42,3 kWh, serta fitur keselamatan dan kenyamanan yang dibawa membuatnya lebih tepat dilihat sebagai alternatif di kelas crossover EV sekitar Rp300-400 jutaan.

Tetapi dari perspektif pembeli, perbedaan kelas tidak otomatis menghapus perbandingan harga. Jika anggaran maksimal berada di sekitar Rp250-270 juta dan kebutuhan utama hanya mobilitas perkotaan, Chery Q atau Geely EX2 menawarkan titik masuk yang jauh lebih rendah.

Baca Juga: Adu SUV Listrik China, Changan Nevo Q05 atau Geely EX5 Lebih Masuk Akal?

Sebaliknya, bila anggaran berada di kisaran Rp350-400 juta dan konsumen menginginkan mobil listrik dengan bodi lebih besar, kabin lebih lapang serta kelengkapan fitur yang lebih tinggi, BAIC T1 layak masuk daftar test drive.

Sebelum mengambil keputusan, lakukan uji jalan pada rute yang mendekati penggunaan sehari-hari. Perhatikan posisi duduk, visibilitas, kenyamanan suspensi, radius putar, respons pedal, kemampuan AC, hingga kemudahan parkir.

Sebab, dalam memilih mobil listrik, angka jarak tempuh dan besarnya layar kabin bukan satu-satunya penentu. Kendaraan yang paling masuk akal adalah yang sesuai dengan kebutuhan perjalanan, kemampuan pengisian daya di rumah, jaringan layanan purna jual, serta anggaran kepemilikan selama beberapa tahun ke depan. (fadila)

Editor : Fadila An Naila
Geely EX2 Chery Q BAIC T1 crossover EV Mobil Listrik