Huawei MatePad Mini Rp8,9 Juta: Ringkas, Layar OLED 120Hz, tapi Bukan Pengganti Laptop

Hasan Bashri • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 23:45 WIB
Huawei MatePad Mini 2026
Huawei MatePad Mini 2026

RadarMadura.id - MatePad Mini hadir membawa pendekatan yang cukup berbeda di pasar tablet Indonesia. Ukurannya hanya 8,8 inci, bobot sekitar 260 gram dan ketebalan 5,2 mm, tetapi banderol resminya mencapai Rp8.999.000.

Pertanyaan yang muncul kemudian bukan lagi apakah tablet ini tipis dan ringan. Yang lebih penting, apakah ukuran ringkas tersebut benar-benar memberikan keuntungan dalam pemakaian sehari-hari, atau justru membuat MatePad Mini terlalu mahal untuk sekadar menjadi perangkat pendamping smartphone?

Huawei memang menyasar pengguna yang membutuhkan perangkat portabel untuk bekerja, belajar, mencatat, membaca, menikmati konten hingga membuat konten. Konsep tersebut masuk akal karena tablet 8,8 inci berada di tengah-tengah smartphone besar dan tablet 11 inci yang biasanya membutuhkan tas lebih besar.

Secara fisik, MatePad Mini mempunyai dimensi sekitar 198,6 x 127,3 mm dengan ketebalan hanya 5,2 mm. Bobot 260 gram juga membuatnya cukup nyaman digenggam menggunakan satu tangan dalam waktu lama.

Untuk pengguna Indonesia yang sering berpindah antara rumah, kampus, kantor, kafe dan transportasi umum, ukuran tersebut merupakan keunggulan yang benar-benar terasa. Tablet dapat masuk ke tas kecil tanpa memberikan beban seperti tablet berukuran 11 atau 12 inci. 

Baca Juga: 3 HP Bekas Rp1 Jutaan untuk Jualan Online di 2026, Mana yang Paling Masuk Akal?

Namun, bodi tipis juga membuat perlindungan perangkat menjadi lebih penting. Tablet setipis ini sebaiknya tidak diperlakukan sembarangan, terutama ketika dimasukkan ke dalam tas bersama charger, power bank atau benda keras lainnya.

Layar menjadi daya tarik terbesar MatePad Mini. Huawei menggunakan panel Flexible OLED PaperMatte 8,8 inci dengan resolusi 2,5K 2.560 x 1.600 piksel, rasio 16:10 dan refresh rate hingga 120 Hz. Rasio layar-ke-bodinya mencapai sekitar 92 persen.

Untuk membaca dokumen, membuka halaman web atau menonton video, ukuran 8,8 inci terasa jauh lebih lega daripada smartphone. Sementara refresh rate 120 Hz membuat scrolling dan perpindahan antarmuka terlihat lebih halus.

PaperMatte juga mempunyai fungsi praktis. Lapisan tersebut dirancang untuk mengurangi pantulan cahaya sehingga layar lebih nyaman digunakan dalam kondisi pencahayaan yang berubah-ubah.

Fitur ini cukup relevan di Indonesia. Pengguna yang sering membaca di teras rumah, kendaraan, kafe atau ruangan dengan lampu kuat akan lebih terbantu oleh layar dengan pantulan rendah dibandingkan sekadar mengejar angka kecerahan tinggi.

Huawei mengklaim tingkat kecerahan puncak mencapai 1.800 nits. Tetapi angka tersebut merupakan nilai laboratorium, sehingga pengguna tidak seharusnya menganggap layar akan terus berada pada tingkat kecerahan tersebut dalam semua kondisi.

OLED juga mempunyai konsekuensi tersendiri. Tampilan hitam, kontras dan warna memang bisa terlihat sangat menarik, tetapi penggunaan elemen statis dalam waktu sangat panjang tetap menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan pada panel OLED.

Untuk pengguna yang setiap hari membaca dokumen berjam-jam, mode kenyamanan mata dan pengaturan kecerahan otomatis lebih berguna daripada terus menjalankan layar pada tingkat paling terang.

Baca Juga: Honda Perkuat Motor Listrik di Indonesia, ICON e: Tawarkan Jarak Tempuh 53 Km dan Pengisian Lebih Fl

Di balik layar tersebut terdapat Kirin 9010B. Huawei menyediakan konfigurasi RAM 8 GB atau 12 GB dengan penyimpanan internal 256 GB pada spesifikasi regional yang tersedia. Untuk pasar Indonesia, perangkat yang ditawarkan dikenal dalam konfigurasi 12 GB + 256 GB.

Kombinasi tersebut terdengar sangat besar untuk tablet berukuran mini. RAM 12 GB cukup untuk multitasking aplikasi harian, tetapi kapasitas RAM tidak otomatis membuat sebuah tablet memiliki performa seperti laptop.

Kirin 9010B tetap harus bekerja dalam bodi yang sangat tipis. Ketika tablet digunakan untuk pekerjaan berat dalam waktu lama, misalnya ekspor video, menggambar dengan banyak layer atau bermain game dengan grafis tinggi, temperatur akan menjadi salah satu faktor yang menentukan konsistensi performa.

Pengujian benchmark singkat juga tidak selalu menggambarkan kondisi tersebut. Di Indonesia, penggunaan di ruangan panas atau ketika perangkat sedang diisi daya dapat meningkatkan temperatur bodi dan berpotensi memicu penurunan performa jika beban kerja terus berlangsung.

Untuk pemakaian seperti browsing, membaca PDF, mengetik, mencatat, rapat daring, streaming dan aplikasi produktivitas, kelas performa MatePad Mini sudah lebih relevan daripada sekadar mengejar angka benchmark.

Kamera juga cukup serius untuk ukuran sebuah tablet. MatePad Mini memiliki kamera belakang utama 50 MP dan kamera 8 MP, sementara kamera depannya beresolusi 32 MP. Kamera belakang juga mendukung perekaman video hingga 4K dan stabilisasi elektronik.

Kamera depan 32 MP lebih menarik untuk kebutuhan video conference dibandingkan sekadar selfie. Dengan ukuran tablet yang kecil, perangkat ini memang cukup masuk akal digunakan sebagai layar meeting portabel.

Namun, konsumen jangan berharap kualitas kamera setara smartphone flagship. Sensor, pemrosesan gambar dan kemampuan menangkap cahaya tetap menjadi faktor penting.

Pada kondisi siang hari dengan pencahayaan cukup, kamera 50 MP bisa menghasilkan detail yang memadai. Tetapi ketika digunakan di restoran redup, ruangan dengan lampu campur atau malam hari, noise dan kehilangan detail tetap mungkin terjadi.

Ini penting bagi konten kreator. MatePad Mini lebih tepat dianggap sebagai perangkat untuk mengolah, mencatat dan mengelola konten daripada sebagai kamera utama untuk produksi profesional.

Sektor baterai menjadi salah satu bagian yang cukup menarik. Huawei menggunakan baterai berkapasitas 6.400 mAh dan mendukung pengisian cepat 66W SuperCharge.

Kapasitas tersebut tergolong besar untuk bodi 260 gram. Tetapi daya tahan aktual tidak bisa dihitung hanya dari kapasitas baterai.

Pengguna yang terus memakai layar 120 Hz, koneksi Wi-Fi, Bluetooth, kamera dan aplikasi produktivitas secara bersamaan tentu akan mengonsumsi daya lebih cepat dibandingkan pengguna yang hanya membaca dokumen dengan tingkat kecerahan rendah.

MatePad Mini juga bukan perangkat yang bergantung pada jaringan seluler dalam konfigurasi yang tercantum di spesifikasi regional tersebut. Artinya, pengguna yang mengandalkan tablet ini untuk mobilitas perlu memperhatikan ketersediaan Wi-Fi atau menggunakan hotspot dari smartphone.

Di Indonesia, kondisi ini cukup penting. Ketika berada di perjalanan, hotspot smartphone akan membuat dua perangkat aktif sekaligus dan konsumsi baterai smartphone ikut meningkat.

Karena itu, MatePad Mini paling masuk akal bagi pengguna yang sudah mempunyai smartphone sebagai perangkat komunikasi utama. Tablet ini berfungsi sebagai layar kedua yang lebih nyaman untuk membaca, bekerja dan menikmati konten.

Dari sisi konektivitas, perangkat mendukung Wi-Fi 7 dan Bluetooth 5.2. Namun manfaat Wi-Fi 7 baru terasa jika router yang digunakan juga mendukung standar tersebut.

Untuk mayoritas rumah dengan router Wi-Fi generasi lama, perbedaan tersebut mungkin belum menjadi alasan kuat untuk melakukan upgrade.

Hal yang lebih penting justru ekosistem perangkat lunaknya. MatePad Mini menggunakan HarmonyOS, bukan Android dengan layanan Google seperti kebanyakan tablet yang beredar di Indonesia. Spesifikasi regional Huawei mencantumkan HarmonyOS 4.3.

Ini menjadi pertimbangan utama sebelum membeli.

Huawei memang menyediakan berbagai aplikasi produktivitas seperti WPS Office, Huawei Notes dan GoPaint, serta dukungan M-Pencil Pro atau M-Pencil generasi ketiga untuk aktivitas mencatat dan menggambar.

Untuk pekerjaan berbasis dokumen dan ekosistem Huawei, pengalaman tersebut bisa sangat memadai.

Namun, pengguna yang sehari-hari bergantung pada layanan Google, aplikasi Android tertentu, mobile banking, aplikasi kantor khusus atau workflow yang sangat bergantung pada Play Store harus memeriksa kompatibilitas masing-masing aplikasi terlebih dahulu.

Ini bukan persoalan spesifikasi hardware. Tablet dengan layar sebagus apa pun tetap akan mengecewakan jika aplikasi yang dibutuhkan pengguna tidak tersedia atau tidak bekerja dengan cara yang diharapkan.

Bagi mahasiswa, misalnya, kemampuan membuka PDF, mencatat dengan stylus dan mengedit dokumen memang menarik. Tetapi jika kampus menggunakan aplikasi tertentu yang hanya nyaman berjalan di Android dengan layanan Google atau Windows, pengguna perlu menyiapkan perangkat alternatif.

Begitu pula untuk pekerja kantoran. MatePad Mini bisa menjadi perangkat pendamping yang sangat praktis, tetapi belum tentu dapat menggantikan laptop Windows atau Mac untuk pekerjaan yang membutuhkan aplikasi desktop penuh.

Ukuran 8,8 inci sendiri juga merupakan kompromi. Untuk membaca buku elektronik, artikel, dokumen dan mencatat, ukurannya nyaman.

Tetapi ketika digunakan untuk spreadsheet dengan banyak kolom, editing dokumen kompleks atau pekerjaan yang membutuhkan beberapa jendela sekaligus, layar 8,8 inci terasa lebih terbatas dibandingkan tablet 11 inci.

M-Pencil menjadi aksesori yang bisa mengubah pengalaman tersebut. Dengan stylus, MatePad Mini lebih menarik untuk anotasi PDF, membuat sketsa, mencatat rapat atau menulis ide secara cepat.

Masalahnya adalah harga. Harga resmi Rp8.999.000 memang sempat disertai paket promosi yang mencakup M-Pencil generasi ketiga dan folio cover, sehingga nilai paket awal menjadi jauh lebih menarik.

Namun pembeli yang mendapatkan perangkat setelah masa promosi harus memperhitungkan harga aksesori secara terpisah. Ini penting karena stylus bukan sekadar aksesori kosmetik jika tablet memang dibeli untuk produktivitas.

Di marketplace Indonesia, harga baru MatePad Mini masih terlihat berada di sekitar Rp8,5 juta hingga Rp9,8 juta, tergantung toko, paket dan promosi. Beberapa listing bahkan menawarkan harga di bawah harga resmi, tetapi pembeli harus memastikan status garansi dan asal perangkat sebelum tergoda selisih harga.

Untuk tablet seharga hampir Rp9 juta, garansi resmi menjadi faktor yang tidak boleh diabaikan.

Layar OLED PaperMatte merupakan komponen mahal. Jika mengalami kerusakan karena benturan atau tekanan, biaya penggantian panel bisa jauh lebih tinggi dibandingkan layar LCD tablet kelas menengah.

Port USB-C juga perlu dijaga karena tablet setipis ini tidak memberi banyak ruang untuk komponen internal. Gunakan kabel berkualitas dan hindari menekan konektor ketika perangkat sedang diisi daya.

Dari sisi layanan purnajual, membeli melalui kanal resmi Huawei memberikan keuntungan berupa akses garansi dan pusat layanan. Konsumen tetap sebaiknya memeriksa lokasi service center terdekat sebelum membeli, terutama jika tinggal di luar kota besar.

Untuk pengguna yang menginginkan tablet mini terutama untuk hiburan dan membaca, MatePad Mini menawarkan kombinasi layar dan portabilitas yang sangat menarik.

Namun untuk gamer berat, perangkat ini perlu dipertimbangkan lebih hati-hati. Layar 120 Hz memang mendukung pengalaman visual yang mulus, tetapi tidak semua game mampu berjalan pada 120 frame per detik dan performa dalam sesi panjang tetap dipengaruhi temperatur.

Selain itu, bodi 5,2 mm dan bobot 260 gram membuat perangkat sangat nyaman dibawa, tetapi bukan berarti ideal untuk bermain game berat berjam-jam sambil terus menggunakan performa maksimum.

Untuk mahasiswa, tablet ini lebih menarik jika pengguna benar-benar memanfaatkan stylus dan kemampuan mencatat. Jika hanya dipakai untuk YouTube, WhatsApp Web, membaca berita dan sesekali browsing, membayar hampir Rp9 juta menjadi sulit dibenarkan secara ekonomi.

Untuk pekerja mobile, situasinya berbeda. MatePad Mini bisa menjadi perangkat kedua yang jauh lebih praktis daripada membawa laptop setiap saat, terutama untuk membaca dokumen, presentasi, email dan membuat catatan.

Tetapi jangan menganggapnya sebagai pengganti laptop secara penuh. Jika pekerjaan membutuhkan Excel tingkat lanjut, aplikasi desktop khusus, software desain profesional atau sistem internal perusahaan, laptop tetap lebih aman.

Ada pula pertimbangan jangka panjang. Huawei perlu memberikan dukungan software yang konsisten agar perangkat tetap relevan beberapa tahun ke depan. Calon pembeli sebaiknya memperhatikan kebijakan pembaruan HarmonyOS dan kompatibilitas aplikasi, bukan hanya spesifikasi ketika perangkat pertama kali dibeli.

Pada akhirnya, Huawei MatePad Mini merupakan perangkat yang sangat spesifik. Ia tidak mencoba mengalahkan tablet 11 inci dalam ukuran layar atau laptop dalam kemampuan kerja, melainkan menawarkan kompromi berupa layar yang cukup luas dalam tubuh yang sangat kecil.

Harga Rp8.999.000 membuatnya bukan tablet murah. Tetapi jika paket pembelian mencakup stylus dan cover, nilai yang didapat menjadi lebih masuk akal bagi pengguna yang memang membutuhkan perangkat untuk mencatat, membaca dan bekerja secara mobile.

Untuk anggaran di bawah Rp7 juta, sebaiknya jangan memaksakan MatePad Mini hanya demi desain tipis. Tablet 10–11 inci dengan harga lebih rendah bisa memberikan layar lebih luas dan fungsi yang lebih masuk akal untuk penggunaan keluarga.

Namun jika anggaran berada di kisaran Rp9 juta dan prioritas utama adalah portabilitas, kualitas layar, stylus serta pengalaman tablet yang berbeda dari perangkat Android konvensional, MatePad Mini layak masuk daftar pertimbangan.

Sebelum membeli, yang paling penting bukan sekadar memeriksa RAM 12 GB atau layar OLED 120 Hz. Pastikan aplikasi yang digunakan sehari-hari tersedia, periksa paket aksesori, tanyakan status garansi, cek lokasi service center, dan pertimbangkan apakah ukuran 8,8 inci benar-benar sesuai kebutuhan.

MatePad Mini menunjukkan bahwa tablet kecil tidak harus berarti perangkat dengan kemampuan kecil. Tetapi seperti semua perangkat premium, nilai terbaiknya baru muncul ketika fitur yang dibayar benar-benar digunakan setiap hari. (hasan)

Editor : Hasan Bashri
tablet mini 8 8 inci OLED 120Hz Huawei MatePad Mini harmonyos