Samsung Galaxy S26 Ultra Jadi HP Android Terlaris Dunia, Apa yang Membuatnya Begitu Laku?

Hasan Bashri • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 23:35 WIB
Samsung Galaxy S26 Ultra  (youtube:@gadgetin)
Samsung Galaxy S26 Ultra (youtube:@gadgetin)

RadarMadura.id - Samsung Galaxy S26 Ultra mencatat sejarah baru di pasar smartphone global. Untuk pertama kalinya, sebuah ponsel Android kelas ultra-premium menjadi perangkat Android dengan penjualan tertinggi dalam satu kuartal, mengalahkan model-model Android yang selama ini biasanya didominasi perangkat kelas menengah dan murah.

Data Counterpoint Research untuk kuartal II 2026 menempatkan Galaxy S26 Ultra di posisi keempat daftar smartphone terlaris dunia. Tiga posisi teratas masih ditempati Apple melalui iPhone 17, iPhone 17 Pro Max, dan iPhone 17 Pro.

Pencapaian tersebut cukup penting karena Galaxy S26 Ultra bukan smartphone murah. Di Indonesia, harga resminya berada di Rp24,499 juta untuk varian 12 GB/256 GB, Rp27,499 juta untuk 12 GB/512 GB, dan mencapai Rp31,999 juta untuk varian 16 GB/1 TB.

Baca Juga: Honda Perkuat Motor Listrik di Indonesia, ICON e: Tawarkan Jarak Tempuh 53 Km dan Pengisian Lebih Fl

Artinya, keberhasilan S26 Ultra tidak semata-mata disebabkan harga yang agresif. Ada kombinasi perangkat keras kelas atas, fitur AI, kamera, serta ekosistem Samsung yang membuat konsumen bersedia membayar mahal.

Counterpoint mencatat Galaxy S26 Ultra menjadi smartphone Android terlaris pada kuartal tersebut sekaligus menjadi smartphone ultra-premium pertama yang memimpin penjualan Android pada kuartal Juni. Samsung juga disebut mendapatkan keuntungan dari waktu peluncuran seri Galaxy S26 yang lebih akhir dibanding generasi sebelumnya, sehingga lebih banyak penjualan masuk ke kuartal kedua.

Galaxy S26 Ultra bahkan menyumbang lebih dari separuh penjualan seluruh seri S26 pada periode tersebut. Fenomena ini menunjukkan konsumen flagship Android semakin terkonsentrasi pada model paling tinggi ketika mereka memang ingin membeli perangkat premium.

Dari sisi perangkat keras, S26 Ultra memang tidak bermain di kelas biasa. Samsung membekalinya dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy, prosesor 3 nm yang dirancang khusus untuk lini Galaxy. Chip ini menangani CPU, GPU, NPU, sekaligus berbagai pemrosesan AI di perangkat.

Untuk pemakaian harian, tenaga sebesar itu sebenarnya sudah jauh melampaui kebutuhan sebagian besar pengguna. Membuka WhatsApp, media sosial, kamera, navigasi, aplikasi perbankan, atau melakukan multitasking tidak membutuhkan chipset sekelas ini.

Baca Juga: 7 Mobil Keluarga Honda yang Layak Dipertimbangkan pada 2026, Jangan Cuma Lihat Harga

Keuntungannya baru terasa ketika perangkat digunakan untuk pekerjaan berat. Editing video, pemrosesan foto beresolusi tinggi, gaming kelas berat, menjalankan aplikasi AI, hingga perekaman video resolusi tinggi memberikan ruang performa yang jauh lebih besar.

Namun, performa puncak tidak berarti perangkat akan selalu dingin. Dalam kondisi Indonesia yang panas, kombinasi suhu lingkungan, penggunaan data seluler, tingkat kecerahan layar tinggi, kamera, dan game berat tetap dapat meningkatkan temperatur bodi.

Pada sesi gaming panjang, sistem akan melakukan pengaturan performa sesuai temperatur perangkat. Karena itu, calon pembeli jangan mengartikan chipset flagship sebagai jaminan frame rate akan selalu berada di level maksimum selama berjam-jam.

Galaxy S26 Ultra menggunakan layar Dynamic AMOLED 2X berukuran 6,9 inci dengan resolusi QHD+ dan refresh rate adaptif hingga 120 Hz. Tingkat kecerahan puncaknya mencapai 2.600 nit menurut spesifikasi Samsung.

Layar besar tersebut menjadi salah satu keunggulan paling terasa dalam penggunaan sehari-hari. Membaca dokumen, mengedit foto, menonton video, maupun bermain game terasa lebih nyaman dibandingkan layar smartphone berukuran lebih kecil.

Tetapi ada fitur yang menjadi pembeda utama generasi ini, yakni Privacy Display. Teknologi tersebut dirancang agar konten pada layar lebih sulit dilihat dari sudut samping ketika pengguna berada di ruang publik. Samsung menyebutnya sebagai teknologi pertama di dunia untuk perangkat seluler.

Bagi pengguna yang sering membuka mobile banking, email kantor, dokumen, atau percakapan pribadi di transportasi umum dan tempat ramai, fitur tersebut bukan sekadar gimmick.

Meski demikian, Privacy Display bukan alasan yang cukup bagi semua orang untuk membeli S26 Ultra. Pengguna yang sebagian besar waktunya berada di rumah mungkin tidak akan merasakan manfaatnya setiap hari.

Keunggulan lain ada pada sistem kamera. S26 Ultra membawa kamera utama 200 MP dengan aperture f/1.4, ultra-wide 50 MP f/1.9, telefoto 50 MP f/2.9 dengan zoom optik 5x, serta telefoto 10 MP f/2.4 dengan zoom optik 3x. Kamera depan menggunakan sensor 12 MP.

Kamera utama dengan aperture lebih lebar menjadi perubahan yang lebih relevan daripada sekadar angka 200 MP. Bukaan f/1.4 memungkinkan lebih banyak cahaya masuk, sementara Samsung juga meningkatkan pemrosesan gambar dan pengurangan noise untuk kebutuhan fotografi serta video malam hari.

Dalam kondisi terang, pengguna akan mendapatkan fleksibilitas tinggi untuk mengambil foto dengan detail yang besar. Namun, hasil kamera tetap dipengaruhi pemrosesan software, gerakan objek, kondisi cahaya, dan pilihan focal length.

Pada malam hari, kamera S26 Ultra berpotensi menghasilkan foto yang lebih terang dan bersih. Tetapi pengguna tetap tidak seharusnya berharap sensor smartphone mampu menggantikan kamera mirrorless atau DSLR dalam seluruh kondisi pemotretan.

Kemampuan zoom juga menjadi salah satu alasan perangkat ini menarik bagi pengguna yang gemar fotografi. Kombinasi zoom optik 3x dan 5x membuat pengambilan objek dari jarak jauh lebih fleksibel dibandingkan smartphone yang hanya mengandalkan satu kamera telefoto.

Untuk video, perangkat ini mendukung perekaman 8K hingga 30 frame per detik serta 4K hingga 120 frame per detik dalam mode Pro Video. Fitur tersebut lebih relevan bagi kreator konten daripada pengguna biasa.

Baterainya masih berkapasitas 5.000 mAh. Samsung mengklaim kemampuan pemutaran video hingga 31 jam, sementara pengisian kabel Super Fast Charging 3.0 mampu mencapai 75 persen dalam sekitar 30 menit dengan pengisi daya yang sesuai.

Dalam penggunaan nyata di Indonesia, angka tersebut sebaiknya tidak diterjemahkan sebagai jaminan penggunaan aktif selama 31 jam. Konsumsi baterai akan berubah drastis ketika pengguna memakai 5G, kamera, GPS, game, brightness tinggi, atau berada di area dengan sinyal seluler yang tidak stabil.

Sinyal juga menjadi faktor penting. Smartphone yang terus berpindah antara jaringan atau bekerja keras mempertahankan koneksi di area dengan penerimaan buruk dapat mengonsumsi energi lebih banyak daripada perangkat yang digunakan dalam kondisi jaringan stabil.

Karena itu, pengguna yang mengharapkan baterai bertahan seharian penuh untuk penggunaan berat sebaiknya tetap membawa charger atau power bank. Kapasitas 5.000 mAh memang besar untuk flagship, tetapi kebutuhan pengguna juga semakin tinggi.

Dari sisi desain, Samsung membuat S26 Ultra lebih tipis dan ringan dibanding beberapa pendahulunya. Ketebalannya 7,9 mm dengan bobot 214 gram.

Dimensi tersebut cukup mengesankan untuk smartphone dengan layar 6,9 inci dan sistem kamera besar. Namun, 214 gram tetap bukan bobot ringan jika perangkat digunakan dengan satu tangan dalam waktu lama.

Perlindungan IP68 juga tersedia untuk ketahanan terhadap debu dan air. Meski demikian, sertifikasi tersebut bukan alasan untuk sengaja merendam perangkat atau mengabaikan kondisi port pengisian.

Untuk pengguna Indonesia yang sering bepergian, perlindungan seperti ini memberikan ketenangan lebih ketika menghadapi hujan atau cipratan air. Tetapi kerusakan akibat penggunaan ekstrem tetap dapat menimbulkan persoalan garansi dan biaya perbaikan.

Salah satu aspek paling kuat dari S26 Ultra justru berada pada usia pakainya. Samsung menjanjikan tujuh generasi pembaruan sistem operasi dan tujuh tahun pembaruan keamanan sejak peluncuran global.

Komitmen tersebut membuat harga mahal perangkat sedikit lebih mudah dipertanggungjawabkan bagi konsumen yang berniat menggunakan satu smartphone dalam jangka panjang.

Misalnya, pembeli yang menggunakan S26 Ultra selama lima atau enam tahun akan mendapatkan dukungan software yang jauh lebih panjang dibanding banyak smartphone lama. Ini juga membantu menjaga relevansi perangkat ketika aplikasi dan standar keamanan terus berubah.

Namun, dukungan software panjang tidak berarti komponen fisik akan bertahan tanpa perawatan. Baterai tetap mengalami degradasi, port USB-C bisa aus, layar bisa mengalami kerusakan, dan kamera tetap rentan terhadap benturan.

Karena itu, konsumen yang membeli S26 Ultra dengan tujuan penggunaan jangka panjang sebaiknya memperlakukan biaya penggantian baterai sebagai bagian dari total biaya kepemilikan.

Harga Rp24,499 juta untuk model 256 GB juga perlu dipertimbangkan dengan hati-hati. Kapasitas tersebut mungkin cukup bagi pengguna biasa, tetapi bisa cepat penuh jika perangkat digunakan untuk merekam video 4K atau 8K secara rutin.

Varian 512 GB dengan harga Rp27,499 juta menjadi pilihan yang lebih masuk akal bagi kreator konten. Selisih sekitar Rp3 juta dari model 256 GB dapat terasa mahal, tetapi kapasitas tambahan tersebut berpotensi mengurangi kebutuhan menghapus atau memindahkan file dalam beberapa tahun pemakaian.

Sementara itu, varian 1 TB seharga Rp31,999 juta lebih sulit direkomendasikan untuk pengguna umum. Kapasitas tersebut baru benar-benar masuk akal bagi fotografer, videografer, kreator konten, atau pengguna yang menyimpan banyak data langsung di perangkat.

Dari sisi value for money, keberhasilan penjualan S26 Ultra tidak otomatis berarti perangkat ini menjadi pilihan paling ekonomis. Ada perbedaan antara menjadi smartphone Android terlaris dalam segmen premium dan menjadi smartphone yang paling masuk akal untuk seluruh konsumen.

Pengguna dengan anggaran Rp10 juta-Rp15 juta, misalnya, tidak perlu memaksakan diri mengejar S26 Ultra. Banyak smartphone kelas menengah atas sudah mampu menjalankan aktivitas harian dengan sangat baik tanpa mengeluarkan dana mendekati Rp25 juta.

Bahkan bagi pemilik Galaxy S25 Ultra, keputusan upgrade juga perlu dipikirkan. Perubahan seperti Privacy Display, peningkatan kamera, chipset baru, dan fitur AI memang menarik, tetapi tidak semua pengguna akan merasakan perbedaan besar dalam aktivitas sehari-hari.

S26 Ultra lebih mudah dibenarkan bagi pengguna yang datang dari smartphone berusia beberapa generasi, membutuhkan kamera telefoto serius, menginginkan performa tinggi untuk pekerjaan kreatif, atau memang membutuhkan dukungan software panjang.

Sementara bagi pengguna yang hanya membutuhkan WhatsApp, media sosial, kamera keluarga, navigasi, mobile banking, dan streaming, membeli flagship semahal ini lebih merupakan pilihan gaya hidup daripada kebutuhan teknis.

Keberhasilan Galaxy S26 Ultra tetap penting bagi Samsung karena menunjukkan bahwa pasar Android premium belum kehilangan daya tarik. Di saat konsumen semakin lama mempertahankan smartphone, produsen justru perlu membuat perangkat kelas atas yang memiliki alasan kuat untuk dipertahankan selama bertahun-tahun.

Counterpoint juga mencatat Galaxy A07 4G, Galaxy A17 5G, dan Galaxy A17 4G masuk dalam daftar Android terlaris. Ini menunjukkan bahwa pasar smartphone tetap memiliki dua kutub: perangkat premium seperti S26 Ultra dan model murah yang mengejar volume.

Dengan demikian, keberhasilan S26 Ultra sebaiknya tidak dibaca sebagai tanda bahwa konsumen Indonesia maupun global tiba-tiba meninggalkan HP murah. Justru Samsung berhasil menjual perangkat premium di tengah pasar yang tetap sangat sensitif terhadap harga.

Jika anggaran bukan masalah dan smartphone akan digunakan empat sampai tujuh tahun, Galaxy S26 Ultra merupakan salah satu pilihan Android paling lengkap saat ini. Kamera serbaguna, layar kelas atas, performa tinggi, S Pen, Privacy Display, serta dukungan software panjang membuat perangkat ini punya alasan kuat untuk dipertahankan.

Untuk pembeli yang ingin menghemat, varian 256 GB sudah cukup untuk penggunaan umum. Namun, kreator konten sebaiknya mempertimbangkan 512 GB agar investasi perangkat premium tidak terganggu oleh keterbatasan penyimpanan.

Sebelum membeli, konsumen juga perlu membandingkan harga resmi dengan promo, program trade-in, dan paket bundling. Untuk perangkat di atas Rp20 juta, selisih beberapa juta rupiah dapat mengubah perhitungan value for money secara signifikan.

Pada akhirnya, rekor penjualan Galaxy S26 Ultra memang membuktikan satu hal: smartphone Android termahal tidak lagi harus kalah volume dari model murah untuk menjadi pemimpin penjualan Android dalam sebuah kuartal.

Tetapi bagi konsumen, pertanyaan yang lebih penting tetap sederhana: apakah fitur-fiturnya benar-benar akan digunakan? Jika kamera, S Pen, performa, Privacy Display, AI, dan dukungan software panjang memang menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari, harga S26 Ultra lebih mudah diterima.

Jika sebagian besar fitur tersebut hanya akan menjadi spesifikasi di atas kertas, uang puluhan juta rupiah tersebut masih bisa dialihkan ke smartphone yang lebih murah, aksesori pendukung, atau bahkan perangkat lain yang memberikan manfaat lebih besar. Flagship terbaik bukan selalu yang spesifikasinya paling tinggi, melainkan yang paling banyak benar-benar digunakan pemiliknya. (hasan)

Editor : Hasan Bashri
HP Android terlaris Snapdragon 8 Elite Gen 5 galaxy ai Privacy Display Samsung Galaxy S26 Ultra