RadarMadura.id— Honda Monkey EX Custom Edition resmi diperkenalkan Thai Honda di ajang BIG MOTOR SALE 2026, Bangkok. Mengusung konsep “Awaken your Enduro”, motor mini ini mencoba mengubah karakter Monkey yang identik dengan gaya retro dan playful menjadi lebih beraroma petualangan.
Namun, di balik tampilan merah-oranye-kuning dan tambahan aksesori bergaya off-road, pertanyaan penting bagi calon konsumen Indonesia bukan hanya soal tampilannya. Apakah Monkey EX Custom Edition benar-benar menawarkan kemampuan enduro yang berbeda, atau sekadar paket kosmetik dan aksesori untuk membuat motor hobi tersebut semakin eksklusif?
Secara konsep, Honda mengambil inspirasi dari balap off-road gurun BAJA dan memadukannya dengan nuansa American Western. Hasilnya terlihat pada grafis khusus di tangki dan cover samping, jok custom berwarna merah, emblem Monkey, serta stiker roda bermotif api.
Perubahan paling menarik justru datang dari aksesori yang sudah dipasang sejak dari pabrik. Monkey EX Custom Edition mendapatkan pelindung lampu depan berbahan aluminium, pelindung area instrumen, hand guard dengan grafis Enduro EX, serta rak belakang aluminium ringan.
Baca Juga: Yamaha MX King 150 Prima Pramac 2026 Dibanderol Rp29,9 Juta, Layak Dibeli atau Cuma Kejar Gaya?
Tambahan tersebut membuat tampilannya jauh lebih siap untuk membawa barang kecil atau digunakan dalam perjalanan santai. Tetapi secara fungsi, perlengkapan itu tetap tidak serta-merta mengubah Monkey menjadi motor trail yang dirancang untuk menghadapi medan berat.
Fondasi mekanisnya tetap berangkat dari Honda Monkey 125. Di Indonesia, Monkey menggunakan mesin satu silinder 124 cc, SOHC dua katup, pendingin udara, injeksi PGM-FI, dan transmisi manual lima percepatan. Output maksimumnya berada di sekitar 6,9 kW pada 6.750 rpm dengan torsi sekitar 11 Nm pada 5.500 rpm.
Karakter tersebut sebenarnya cukup masuk akal untuk penggunaan perkotaan. Bobot sekitar 104 kilogram dan dimensi yang kompak membuat Monkey mudah diajak bermanuver di jalan sempit, area parkir, maupun lalu lintas perkotaan yang padat.
Di sisi lain, ukuran mungil juga menjadi batas yang perlu dipahami. Monkey bukan pilihan paling rasional bagi konsumen yang membutuhkan kendaraan untuk mengangkut barang banyak, berboncengan setiap hari, atau melakukan perjalanan antarkota dengan kecepatan tinggi secara rutin.
Kelebihannya ada pada kemudahan dikendalikan dan karakter berkendara yang menyenangkan. Suspensi depan inverted fork 31 mm dan suspensi belakang twin shock memberikan fondasi yang cukup baik untuk jalan perkotaan, sementara ban berukuran 120/80-12 di depan dan 130/80-12 di belakang memberikan tampilan sekaligus jejak yang relatif lebar untuk ukuran motor mini.
Sistem pengereman ABS pada roda depan juga menjadi nilai tambah. Fitur tersebut lebih relevan dalam penggunaan sehari-hari dibanding sekadar aksesori bergaya adventure, terutama ketika motor harus menghadapi jalan licin atau pengereman mendadak di lalu lintas kota.
Untuk konsumsi bahan bakar, jangan melihat kapasitas mesin 124 cc semata sebagai jaminan angka irit tertentu. Kondisi lalu lintas Indonesia, frekuensi stop-and-go, tekanan ban, bobot pengendara, serta gaya membuka gas akan sangat menentukan hasil akhirnya.
Baca Juga: UTM Launching eL Café, Etalase Komersial Riset dan Inovasi
Karena itu, Monkey lebih tepat dilihat sebagai motor yang relatif efisien untuk perjalanan ringan ketimbang kendaraan yang dibeli semata-mata demi mengejar penghematan biaya operasional. Kapasitas tangkinya sekitar 5,6 liter sehingga kebutuhan mengisi bahan bakar tidak terlalu sering jika digunakan dalam pola perjalanan harian yang moderat.
Dari sisi perawatan, mesin satu silinder 125 cc dengan sistem injeksi dan pendingin udara tergolong sederhana dibandingkan mesin berkapasitas besar. Perawatan rutin seperti oli mesin, filter, busi, rantai, rem, ban, dan pemeriksaan suspensi tetap menjadi pos biaya utama.
Justru karena Monkey merupakan motor hobi dengan harga relatif tinggi, calon pemilik perlu membedakan antara biaya perawatan dan biaya kepemilikan. Harga pembelian yang mahal tidak otomatis membuat biaya servis rutinnya mahal, tetapi komponen bodi, aksesori khusus, atau part yang tidak umum bisa menjadi perhatian jika suatu saat mengalami kerusakan.
Di pasar Indonesia, Monkey model 2026 saat ini dipasarkan sekitar Rp82,8 juta sampai Rp88,3 juta tergantung wilayah dan dealer. MPM Honda Jatim, misalnya, mencantumkan harga sekitar Rp82,845 juta untuk OTR Surabaya, sedangkan jaringan Honda di Jakarta mencantumkan sekitar Rp88,276 juta. Harga dapat berubah mengikuti wilayah dan kebijakan dealer.
Sementara itu, Monkey EX Custom Edition di Thailand memiliki harga rekomendasi 121.900 baht. Angka konversinya ke rupiah berbeda-beda tergantung kurs yang digunakan sejumlah sumber, sehingga nominal tersebut tidak tepat diperlakukan sebagai harga Indonesia.
Yang lebih penting, sampai saat ini belum ada pengumuman resmi bahwa Honda Monkey EX Custom Edition akan dipasarkan di Indonesia. Dengan demikian, calon pembeli sebaiknya tidak menjadikan harga Thailand sebagai patokan harga OTR Tanah Air.
Kalaupun suatu saat masuk Indonesia, faktor harga akan menjadi penentu utama. Dengan harga Monkey standar yang sudah berada di kisaran Rp80 jutaan, edisi khusus dengan aksesori dan jumlah produksi terbatas berpotensi menempati posisi yang semakin niche.
Bagi pemilik yang mengejar kepraktisan, membeli Monkey standar kemudian menambahkan aksesori yang benar-benar dibutuhkan bisa menjadi pilihan lebih rasional. Sebaliknya, bagi kolektor atau penggemar desain, EX Custom Edition memiliki daya tarik karena detail custom sudah menjadi bagian dari paket kendaraan sejak awal.
Ada pula aspek purna jual yang tidak boleh dilewatkan. Jaringan servis Honda relatif luas, tetapi tidak berarti seluruh komponen khusus EX Custom Edition otomatis tersedia di setiap bengkel. Konsumen perlu memastikan ketersediaan part, terutama aksesori spesifik, sebelum memutuskan melakukan pembelian melalui jalur impor apabila model tersebut tidak resmi dijual di Indonesia.
Pada akhirnya, Honda Monkey EX Custom Edition menarik bukan karena tiba-tiba berubah menjadi motor trail mini. Daya tarik utamanya justru terletak pada bagaimana Honda mengemas platform Monkey yang sudah dikenal menjadi produk lifestyle dengan karakter enduro yang lebih kuat.
Untuk penggunaan harian, keunggulan Monkey tetap berada pada dimensi kompak, bobot ringan, mesin sederhana, transmisi lima percepatan, dan karakter berkendara yang menyenangkan. Sementara gaya enduro pada EX Custom Edition lebih tepat dianggap sebagai identitas desain dan paket aksesori daripada peningkatan kemampuan off-road secara menyeluruh.
Jika model ini benar-benar hadir di Indonesia, calon pembeli sebaiknya menyiapkan anggaran bukan hanya untuk harga motor, tetapi juga pajak, perlengkapan berkendara, biaya servis berkala, dan potensi harga komponen khusus. Untuk pemakaian rutin, aspek kenyamanan dan kebutuhan membawa penumpang juga perlu dipertimbangkan sejak awal.
Monkey EX Custom Edition pada akhirnya adalah pilihan emosional yang masih memiliki dasar mekanis cukup rasional. Ia cocok untuk konsumen yang ingin motor kecil dengan karakter kuat dan berbeda dari mayoritas kendaraan harian, bukan untuk mereka yang membutuhkan kendaraan paling praktis dengan biaya per kilometer serendah mungkin. (Fadila)
Editor : Fadila An Naila