RadarMadura.id— Chery kembali memperluas lini kendaraan listrik premiumnya melalui Luxeed RX, SUV listrik yang dikembangkan bersama Huawei. Model ini menarik perhatian bukan hanya karena tenaga besar dan teknologi elektrifikasinya, tetapi juga karena desainnya melibatkan mantan desainer Ferrari.
Luxeed RX diposisikan untuk bermain di kelas SUV listrik premium di China. Mobil ini diproyeksikan berhadapan dengan pemain seperti Xiaomi YU7, dengan menawarkan kombinasi performa tinggi, teknologi Huawei, serta konstruksi bodi yang dirancang untuk menjaga keseimbangan antara bobot, kekakuan, dan pengendalian.
Dari sisi tampilan, RX mengusung bentuk SUV bergaya fastback dengan atap yang menurun ke belakang. Proporsinya membuat mobil ini terlihat lebih rendah dan sporty dibanding SUV konvensional, sekaligus memunculkan kemiripan visual dengan Ferrari Purosangue yang ramai diperbincangkan.
Dimensi Luxeed RX mencapai panjang 5.020 mm, lebar 2.007 mm, dengan jarak sumbu roda 3.000 mm. Di atas kertas, ukurannya tergolong besar dan bahkan sedikit lebih panjang daripada Ferrari Purosangue yang memiliki panjang 4.973 mm.
Baca Juga: Chery Tiggo 4 Tetap Murah Tanpa Subsidi Pemerintah, Strategi Harga Jadi Senjata Lawan SUV Jepang
Namun, daya tarik RX bukan semata soal desain. Chery dan Huawei membekalinya dengan sistem penggerak listrik Huawei DriveOne generasi terbaru yang diklaim mampu memberikan respons torsi motor dalam waktu sekitar 1 milidetik.
Untuk konsumen harian, teknologi tersebut sebenarnya lebih relevan diterjemahkan sebagai respons pedal akselerator yang cepat. Keunggulannya baru benar-benar terasa ketika pengemudi membutuhkan akselerasi spontan, misalnya saat menyalip atau masuk ke jalan bebas hambatan.
Luxeed RX tersedia dengan konfigurasi penggerak roda belakang atau RWD dan penggerak seluruh roda atau AWD. Varian RWD menggunakan satu motor listrik berdaya 277 kW, sedangkan versi AWD menggabungkan motor depan 160 kW dan motor belakang 277 kW.
Jika dijumlahkan, sistem AWD menghasilkan tenaga maksimum 437 kW atau sekitar 586 tenaga kuda. Angka tersebut menempatkan RX bukan sekadar sebagai SUV listrik yang mengutamakan efisiensi, tetapi juga sebagai kendaraan performa tinggi.
Menariknya, tersedia pula tombol boost yang dapat meningkatkan torsi secara sementara hingga 10 persen. Fitur semacam ini lebih terasa sebagai tambahan performa ketika pengemudi menginginkan akselerasi maksimal, meski dalam penggunaan kota sehari-hari kemampuan tersebut kemungkinan jarang dimanfaatkan secara penuh.
Karakter performanya turut didukung konstruksi sasis. RX menggunakan suspensi depan double-wishbone berbahan aluminium dengan konfigurasi kingpin virtual dan empat ball-joint, sementara bagian belakang mengandalkan suspensi independen lima-link.
Sistem pengereman depan juga dibuat serius dengan kaliper tetap enam piston. Ban depan dan belakang menggunakan ukuran berbeda, sebuah konfigurasi yang diarahkan untuk mendukung stabilitas serta karakter pengendalian pada kecepatan tinggi.
Chery bahkan menyebut Luxeed RX telah menjalani pengujian manuver perpindahan jalur pada kecepatan di atas 250 kilometer per jam di lintasan oval dengan kemiringan tertentu. Meski demikian, klaim tersebut tetap perlu ditempatkan secara proporsional.
Pengujian di lintasan tidak otomatis menggambarkan perilaku mobil ketika digunakan di jalan umum. Kondisi aspal, lalu lintas, temperatur, tekanan ban, muatan penumpang, hingga gaya mengemudi dapat memengaruhi karakter mobil secara signifikan.
Di sektor sumber tenaga, Luxeed RX dilaporkan tersedia dengan baterai 81,1 kWh serta pilihan baterai sekitar 100 kWh. Varian dengan kapasitas terbesar disebut mampu mencapai jarak hingga 852 kilometer berdasarkan standar CLTC.
Angka 852 kilometer tersebut sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai jarak tempuh riil. Standar CLTC merupakan siklus pengujian China yang cenderung menghasilkan angka lebih tinggi dibanding kondisi pemakaian sebenarnya.
Dalam penggunaan sehari-hari, jarak tempuh mobil listrik akan dipengaruhi kecepatan rata-rata, penggunaan pendingin udara, kondisi jalan, beban kendaraan, suhu lingkungan, serta kebiasaan akselerasi. Karena itu, calon konsumen sebaiknya menggunakan angka pengujian sebagai acuan perbandingan, bukan sebagai jaminan jarak tempuh.
Teknologi bantuan pengemudi juga menjadi bagian penting dari RX. Mobil ini teridentifikasi menggunakan empat sensor LiDAR, meski informasi publik mengenai perangkat lunak bantuan pengemudi pada setiap variannya masih belum sepenuhnya terperinci.
Bagi pasar Indonesia, aspek ini justru menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan jika suatu saat Luxeed RX ditawarkan secara resmi. Teknologi canggih tidak hanya membutuhkan perangkat keras, tetapi juga pemetaan, perangkat lunak, kalibrasi, serta dukungan purnajual yang sesuai dengan kondisi lalu lintas lokal.
Persoalan lain adalah ukuran bodi. Dengan panjang lebih dari lima meter dan lebar sekitar dua meter, RX bukan SUV yang ideal untuk semua lingkungan perkotaan Indonesia.
Di jalan besar, dimensinya tentu memberikan kabin yang lapang dan stabilitas lebih baik. Namun ketika masuk ke gang sempit, parkiran gedung, atau kawasan dengan jalan yang padat, pengemudi perlu beradaptasi lebih banyak dibanding menggunakan SUV berukuran menengah.
Dari sisi desain, keterlibatan Werner Gruber menjadi salah satu nilai jual yang paling menarik. Gruber diketahui pernah bekerja di Pininfarina, Ferrari, dan Saleen, serta dikaitkan dengan sejumlah proyek Ferrari seperti LaFerrari, FXX-K, dan Portofino.
Meski demikian, keterlibatan seorang desainer yang memiliki pengalaman di Ferrari tidak otomatis menjadikan Luxeed RX sebagai mobil dengan karakter berkendara Ferrari. Desain dan pengalaman rekayasa kendaraan merupakan dua hal yang berbeda.
Bagi konsumen Indonesia, pertanyaan yang lebih penting justru adalah bagaimana kesiapan produk tersebut jika benar-benar masuk pasar nasional. Harga jual, status impor atau perakitan lokal, garansi baterai, ketersediaan komponen elektronik, serta jaringan bengkel akan sangat menentukan nilai kepemilikan dalam jangka panjang.
Mobil listrik memang memiliki lebih sedikit komponen bergerak dibanding kendaraan bermesin pembakaran internal. Namun ketika terjadi masalah pada sistem baterai, inverter, motor listrik, sensor, atau modul elektronik, biaya perbaikannya dapat menjadi pertimbangan serius apabila suku cadang harus didatangkan dari luar negeri.
Karena itu, calon pembeli tidak seharusnya hanya terpaku pada tenaga 437 kW atau klaim jarak tempuh 852 kilometer. Untuk kendaraan listrik premium, ekosistem layanan purnajual justru sama pentingnya dengan spesifikasi teknis.
Luxeed RX saat ini masih lebih tepat dilihat sebagai calon pemain baru di segmen SUV listrik premium, bukan sebagai produk yang otomatis akan mengubah peta pasar Indonesia. Terlebih, informasi mengenai harga dan pemasaran di Indonesia belum menjadi bagian dari data yang tersedia saat ini.
Jika nantinya masuk ke Indonesia dengan harga kompetitif dan dukungan after-sales yang kuat, kombinasi desain, performa, teknologi Huawei, serta kapasitas baterai besar dapat menjadi daya tarik tersendiri. Sebaliknya, harga terlalu tinggi dan jaringan layanan yang terbatas berpotensi membuat teknologi canggihnya sulit diterima konsumen umum.
Baca Juga: Geely Siapkan Baterai Solid-State 500 Wh/kg, Mobil Listrik Bisa Tempuh Lebih dari 1.000 Km
Bagi konsumen yang tertarik dengan SUV listrik seperti ini, langkah paling aman adalah menunggu kepastian harga resmi, garansi baterai, ketersediaan suku cadang, serta fasilitas pengisian daya sebelum mengambil keputusan. Spesifikasi yang mengesankan di atas kertas tetap harus berhadapan dengan realitas penggunaan sehari-hari.
Pada akhirnya, Luxeed RX menunjukkan bagaimana persaingan mobil listrik China mulai bergerak dari sekadar menawarkan efisiensi menuju kombinasi desain premium, performa tinggi, dan teknologi bantuan pengemudi. Tantangan sebenarnya bukan lagi siapa yang mampu membuat mobil paling bertenaga, melainkan siapa yang mampu memberikan pengalaman kepemilikan yang paling masuk akal bagi konsumen. (Fadila)
Editor : Fadila An Naila