RadarMadura.id— Harga murah menjadi salah satu senjata utama merek China untuk merebut pasar otomotif, tetapi di balik banderol yang agresif muncul pertanyaan yang terus berulang: apakah harga tersebut bisa dipertahankan tanpa dukungan subsidi pemerintah? Chery Australia menegaskan harga kompetitif Tiggo 4 bukan semata hasil bantuan pemerintah China.
Chief Operating Officer Chery Australia, Lucas Harris, mengatakan harga kendaraan Chery di Australia masih dapat dipertahankan secara berkelanjutan. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah tudingan bahwa sejumlah merek China mampu menawarkan mobil dengan harga rendah karena mendapat dukungan finansial pemerintah.
Untuk pasar Australia, Tiggo 4 Pro ditawarkan mulai 23.990 dolar Australia atau sekitar Rp280 jutaan jika dikonversikan secara kasar dengan asumsi kurs Rp11.700 per dolar Australia. Angka tersebut merupakan harga drive-away dan membuat model ini berada di antara SUV kecil dengan harga relatif terjangkau di pasar setempat.
Namun, angka tersebut tidak bisa langsung diterjemahkan menjadi harga jual di Indonesia. Perbedaan pajak, biaya logistik, spesifikasi, struktur distribusi, serta kebijakan impor membuat konversi kurs semata tidak cukup untuk memperkirakan harga apabila Tiggo 4 dipasarkan di Tanah Air.
Dalam data CarsGuide, jajaran Tiggo 4 tahun 2026 di Australia memiliki rentang harga sekitar 21.990 hingga 30.990 dolar Australia. Varian terendah menggunakan mesin bensin 1,5 liter dengan transmisi CVT, sedangkan varian tertinggi mengusung sistem hybrid 1,5 liter.
Baca Juga: Geely Siapkan Baterai Solid-State 500 Wh/kg, Mobil Listrik Bisa Tempuh Lebih dari 1.000 Km
Untuk konsumen harian, pendekatan tersebut cukup menarik karena Chery tidak hanya mengandalkan satu jenis teknologi. Konsumen dapat memilih mesin konvensional jika mengutamakan kesederhanaan penggunaan, atau hybrid jika efisiensi bahan bakar menjadi pertimbangan lebih besar.
Data CarsGuide juga mencatat konsumsi gabungan Tiggo 4 sekitar 7,4 liter per 100 kilometer pada versi yang diuji. Angka tersebut setara sekitar 13,5 kilometer per liter, tetapi pemakaian di Indonesia bisa berbeda karena kemacetan, penggunaan AC, kondisi jalan, muatan, dan kebiasaan mengemudi.
Di sinilah keunggulan harga harus dilihat secara lebih realistis. Mobil dengan banderol awal rendah memang dapat mengurangi biaya pembelian, tetapi nilai ekonomis dalam lima sampai tujuh tahun juga ditentukan konsumsi BBM, biaya servis berkala, harga ban, asuransi, depresiasi, dan harga jual kembali.
Chery sendiri membantah anggapan bahwa harga rendah tersebut tidak berkelanjutan. Harris menyebut harga mobil di Australia, jika dibandingkan dengan inflasi dalam 15 hingga 20 tahun terakhir, sebenarnya tidak mengalami perubahan sebesar yang sering diasumsikan konsumen.
Ia juga menolak tudingan dumping dan subsidi tanpa bukti yang dianggap memadai. Menurut Harris, jika memang ada subsidi pemerintah China yang secara langsung membantu harga kendaraan Chery di Australia, hal itu justru akan menguntungkan perusahaan.
Pernyataan tersebut tentu merupakan sudut pandang dari pihak produsen dan tidak dengan sendirinya membuktikan seluruh struktur biaya kendaraan China. Industri otomotif China sendiri memiliki rantai pasok yang sangat besar dan kompleks, sehingga harga kendaraan dipengaruhi banyak faktor, mulai skala produksi, efisiensi manufaktur, pemasok komponen hingga strategi ekspansi masing-masing merek.
Menariknya, Chery juga menilai konsumen tidak lagi membeli mobil China hanya karena harganya murah. Teknologi menjadi faktor yang semakin kuat, terutama ketika fitur-fitur yang sebelumnya identik dengan mobil kelas lebih mahal mulai tersedia pada kendaraan dengan harga lebih terjangkau.
Pola tersebut juga terlihat dari strategi Chery di Indonesia. Saat ini lini resmi Chery Indonesia sudah mencakup SUV bermesin bensin dan teknologi Chery Super Hybrid, dengan model seperti Tiggo Cross, Tiggo 8, Tiggo 8 CSH hingga Tiggo 9 CSH. Harga resmi yang ditampilkan Chery Indonesia untuk Tiggo Cross misalnya mulai Rp264,5 juta, sedangkan Tiggo Cross CSH mulai Rp329,8 juta OTR Jakarta.
Artinya, persaingan Chery di Indonesia tidak lagi semata-mata bertumpu pada harga murah. Perusahaan mulai membangun citra sebagai merek yang menawarkan kombinasi teknologi, fitur, elektrifikasi, dan kelengkapan keselamatan dengan harga yang lebih agresif dibanding sejumlah rival konvensional.
Bahkan, Chery memperkenalkan TIGGO V di GIIAS 2026 sebagai model yang dikembangkan berdasarkan riset konsumen Indonesia. Produk tersebut dirancang mempertimbangkan kondisi jalan, kebutuhan keluarga, cuaca panas, genangan, perjalanan jarak jauh, serta fleksibilitas penggunaan.
Strategi semacam ini penting karena karakter penggunaan mobil di Indonesia tidak sepenuhnya sama dengan Australia. Kemacetan perkotaan, jalan sempit, kualitas permukaan jalan yang beragam, serta tingginya penggunaan AC membuat efisiensi dan kenyamanan dalam kondisi stop-and-go menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.
Jika suatu saat Tiggo 4 dipasarkan di Indonesia dengan pendekatan harga agresif, posisinya berpotensi menarik perhatian konsumen yang mengincar SUV kompak. Namun, harga pembelian bukan satu-satunya parameter yang seharusnya digunakan untuk menentukan apakah sebuah mobil benar-benar murah.
Calon pembeli juga perlu melihat jaringan dealer dan bengkel di kota tempat tinggal. Semakin luas jaringan layanan, semakin mudah pemilik mendapatkan servis berkala dan suku cadang tanpa harus mengandalkan pengiriman dari kota besar.
Ketersediaan komponen juga perlu diperhatikan. Untuk komponen fast moving seperti oli, filter, kampas rem, dan ban, risikonya relatif lebih mudah dikelola karena tersedia di pasar. Sebaliknya, modul elektronik, sensor, komponen transmisi, atau bagian sistem hybrid membutuhkan perhatian lebih karena waktu tunggu dan harga penggantiannya bisa lebih tinggi.
Dari sisi perangkat lunak, mobil modern juga membawa konsekuensi baru. Sistem infotainment dan fitur bantuan pengemudi dapat memberikan pengalaman lebih canggih, tetapi pemilik juga bergantung pada pembaruan perangkat lunak dan kemampuan bengkel melakukan diagnosis ketika muncul gangguan elektronik.
Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah depresiasi. Merek yang masih membangun reputasi di pasar bekas biasanya menghadapi ketidakpastian harga jual kembali yang lebih besar dibanding merek yang sudah memiliki basis konsumen selama puluhan tahun.
Karena itu, konsumen yang berencana menggunakan mobil hanya dua atau tiga tahun perlu menghitung ulang keuntungan harga beli murah. Jika selisih depresiasi terlalu besar, penghematan saat membeli bisa tergerus ketika kendaraan dijual kembali.
Sebaliknya, bagi konsumen yang memang berniat menggunakan mobil dalam jangka panjang, harga awal yang kompetitif dan kelengkapan fitur bisa menjadi nilai tambah selama layanan purnajualnya konsisten. Chery Indonesia sendiri terus memperluas lini produk dan menyatakan komitmen terhadap layanan purnajual, sementara perusahaan juga telah menyerahkan ribuan unit kendaraan berteknologi Chery Super Hybrid kepada konsumen Indonesia.
Dengan kondisi tersebut, fenomena Tiggo 4 menunjukkan perubahan yang lebih besar dalam industri otomotif. Merek China tidak lagi sekadar mencoba masuk dengan harga paling murah, tetapi mulai menggabungkan harga kompetitif dengan teknologi dan fitur yang sebelumnya menjadi pembeda utama merek Jepang, Korea, maupun Eropa.
Namun, konsumen tetap perlu bersikap rasional. Jika mencari SUV dengan anggaran terbatas, jangan hanya membandingkan harga OTR dan jumlah fitur. Hitung pula cicilan, konsumsi bahan bakar, biaya servis, asuransi, harga ban, ketersediaan suku cadang, jaringan bengkel, serta perkiraan harga jual kembali.
Baca Juga: 3 Fitur Camera Assistant Galaxy A57 5G dan A37 5G yang Layak Diaktifkan, Bukan Sekadar Gimmick
Untuk pasar Indonesia, Tiggo 4 juga belum bisa dianggap sebagai pilihan resmi sebelum Chery memberikan kepastian mengenai pemasaran, spesifikasi, harga, dan jaringan layanan untuk model tersebut. Karena itu, angka harga Australia sebaiknya dipakai sebagai gambaran posisi produk, bukan patokan harga Indonesia.
Pada akhirnya, klaim bahwa harga mobil China murah karena subsidi pemerintah masih menjadi bagian dari perdebatan industri yang lebih luas. Pernyataan Chery Australia menunjukkan posisi perusahaan, tetapi konsumen justru memiliki cara paling sederhana untuk mengujinya: melihat apakah harga, kualitas, layanan purnajual, dan nilai jual kembali tetap kompetitif setelah kendaraan digunakan selama bertahun-tahun. (Fadila)
Editor : Fadila An Naila