Geely Siapkan Baterai Solid-State 500 Wh/kg, Mobil Listrik Bisa Tempuh Lebih dari 1.000 Km

Fadila An Naila • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 22:59 WIB
Gambar EM-i atau E-Motive intelligence teknologi hibrida canggih dari Geely (Geely Jakarta)
Gambar EM-i atau E-Motive intelligence teknologi hibrida canggih dari Geely (Geely Jakarta)

RadarMadura.id— Geely tengah menyiapkan generasi baru baterai solid-state untuk kendaraan listrik yang dijadwalkan mulai diuji pada kendaraan pada 2027. Teknologi ini menawarkan kepadatan energi hingga 500 Wh/kg, sehingga berpotensi membuat baterai lebih ringkas tetapi mampu menyimpan energi lebih besar.

Teknologi tersebut menjadi salah satu jawaban Geely terhadap persoalan yang masih dihadapi mobil listrik saat ini, yakni kompromi antara kapasitas baterai, bobot kendaraan, ukuran baterai, dan jarak tempuh. Geely mengklaim baterai generasi barunya dapat memungkinkan kendaraan menempuh lebih dari 1.000 kilometer dalam sekali pengisian.

Angka 500 Wh/kg menjadi bagian paling menarik dari pengembangan tersebut. Semakin tinggi kepadatan energi, semakin banyak energi yang dapat disimpan dalam bobot dan volume baterai yang sama.

Dengan kata lain, teknologi ini tidak selalu berarti Geely akan memasang baterai berkapasitas sangat besar. Secara teori, produsen bisa mempertahankan jarak tempuh dengan baterai yang lebih kecil atau mempertahankan ukuran baterai sambil meningkatkan kapasitas energi yang tersedia.

Konsep tersebut penting karena baterai merupakan salah satu komponen terberat pada mobil listrik. Ketika kapasitas baterai diperbesar untuk mengejar jarak tempuh, bobot kendaraan ikut bertambah dan berpotensi meningkatkan konsumsi energi.

Jika baterai dapat dibuat lebih padat energi, persoalan tersebut dapat ditekan. Mobil tidak harus membawa baterai berukuran sangat besar hanya untuk memperoleh jarak tempuh yang panjang.

Geely menargetkan baterai solid-state ini mulai digunakan dalam kendaraan pada 2027. Sebelum mencapai tahap tersebut, teknologi baterai perlu melewati proses validasi dan pengujian di kondisi nyata untuk memastikan performa serta keamanannya sesuai dengan kebutuhan kendaraan produksi.

Hal ini penting karena klaim laboratorium dan penggunaan di jalan raya tidak selalu menghasilkan angka yang sama. Temperatur, kecepatan, beban kendaraan, penggunaan AC, kondisi jalan, serta gaya mengemudi akan memengaruhi konsumsi energi secara langsung.

Karena itu, angka lebih dari 1.000 kilometer sebaiknya tidak dipahami sebagai jarak yang pasti bisa ditempuh semua kendaraan Geely dalam penggunaan sehari-hari. Angka tersebut merupakan gambaran potensi teknologi berdasarkan klaim dan metode pengujian yang digunakan.

Baca Juga: 3 Fitur Camera Assistant Galaxy A57 5G dan A37 5G yang Layak Diaktifkan, Bukan Sekadar Gimmick

Bagi pengguna di Indonesia, perbedaan antara angka pengujian dan kondisi riil bahkan bisa semakin terasa. Kemacetan di kota besar membuat mobil lebih sering berhenti dan kembali berakselerasi, sementara penggunaan AC dalam cuaca panas juga menjadi beban tambahan bagi sistem kelistrikan.

Di sisi lain, karakter mobil listrik sebenarnya cukup menguntungkan dalam lalu lintas perkotaan. Motor listrik mampu memberikan torsi secara cepat dari kondisi diam, sementara sistem pengereman regeneratif dapat mengembalikan sebagian energi ketika kendaraan melambat.

Jika baterai solid-state Geely nantinya mampu mempertahankan kepadatan energi tinggi sekaligus memiliki efisiensi pengisian yang baik, teknologi ini berpotensi memperpanjang jarak antarpengisian tanpa harus membuat bodi kendaraan semakin besar.

Selain jarak tempuh, Geely juga menyebut baterai baru tersebut memiliki target daya tahan hingga sekitar 1 juta kilometer. Angka ini tentu menarik bagi konsumen yang selama ini masih khawatir terhadap penurunan kemampuan baterai setelah digunakan dalam jangka panjang.

Namun, klaim daya tahan satu juta kilometer tidak berarti pemilik otomatis terbebas dari degradasi baterai. Kapasitas baterai tetap dapat menurun akibat siklus pengisian, temperatur tinggi, pola penggunaan, serta kebiasaan pengisian daya.

Faktor tersebut justru akan menjadi ujian penting ketika teknologi ini masuk ke kendaraan produksi massal. Baterai harus mampu mempertahankan performa bukan hanya dalam kondisi ideal, tetapi juga setelah bertahun-tahun digunakan konsumen.

Teknologi solid-state sendiri memiliki perbedaan mendasar dengan baterai lithium-ion konvensional yang saat ini banyak digunakan kendaraan listrik. Pada baterai solid-state, elektrolit padat digunakan sebagai bagian dari sistem penyimpanan energi, sehingga pengembangan teknologi ini diarahkan untuk meningkatkan kepadatan energi sekaligus aspek keselamatan.

Meski demikian, teknologi tersebut bukan tanpa tantangan. Produksi dalam skala besar, biaya manufaktur, konsistensi kualitas setiap sel, manajemen temperatur, serta kemampuan mempertahankan performa dalam berbagai kondisi menjadi pekerjaan besar sebelum baterai solid-state benar-benar menjadi teknologi massal.

Geely bukan satu-satunya produsen yang mengejar teknologi tersebut. Persaingan baterai solid-state saat ini semakin ketat karena produsen otomotif dan perusahaan baterai melihat teknologi tersebut sebagai salah satu langkah penting untuk meningkatkan daya saing kendaraan listrik.

Bagi konsumen, perkembangan ini juga dapat mengubah cara melihat mobil listrik. Saat ini pembeli masih sering membandingkan kapasitas baterai dalam satuan kWh sebagai salah satu indikator utama jarak tempuh.

Ke depan, angka kapasitas tidak akan menjadi satu-satunya hal yang penting. Kepadatan energi, efisiensi motor dan sistem kelistrikan, bobot kendaraan, kemampuan pengisian cepat, serta manajemen baterai akan sama pentingnya dalam menentukan jarak tempuh.

Kondisi tersebut sudah terlihat pada produk Geely saat ini. Salah satu teknologi baterai yang telah digunakan perusahaan adalah Aegis Short Blade Battery berbasis LFP, yang dirancang dengan pendekatan baterai lebih ringkas dan efisien.

Namun, solid-state dengan kepadatan energi 500 Wh/kg berada pada level teknologi yang berbeda. Jika target tersebut benar-benar dapat diterapkan pada kendaraan produksi, perubahan paling terasa bukan hanya pada jarak tempuh, tetapi juga peluang membuat mobil listrik lebih ringan dan fleksibel dalam desain.

Bagi pasar Indonesia, dampaknya akan sangat menarik apabila teknologi tersebut akhirnya diterapkan pada model yang dipasarkan secara resmi. Mobil dengan jarak tempuh panjang akan mengurangi frekuensi pengisian, terutama bagi pengguna yang rutin melakukan perjalanan antarkota.

Meski begitu, jarak tempuh panjang tidak otomatis menghilangkan kebutuhan terhadap infrastruktur pengisian. Untuk perjalanan jauh, keberadaan stasiun pengisian cepat tetap penting karena pengguna tidak bisa selalu mengandalkan pengisian di rumah.

Begitu pula dengan biaya. Teknologi baterai baru pada tahap awal biasanya memiliki biaya produksi lebih tinggi sebelum mencapai skala ekonomis. Jika diterapkan pada model premium, manfaat teknologi mungkin hanya bisa dinikmati konsumen dengan anggaran lebih besar.

Konsumen juga sebaiknya tidak terburu-buru membeli kendaraan hanya karena angka jarak tempuhnya terlihat fantastis. Sebelum teknologi solid-state masuk pasar, yang perlu diperhatikan adalah garansi baterai, kapasitas setelah beberapa tahun pemakaian, biaya penggantian modul, jaringan servis, serta ketersediaan komponen.

Untuk pemilik mobil listrik saat ini, perkembangan tersebut juga tidak berarti kendaraan dengan baterai konvensional langsung menjadi tidak relevan. Teknologi LFP dan baterai lithium-ion yang sudah digunakan secara luas masih menawarkan keunggulan dari sisi kematangan produksi, ketersediaan, dan biaya.

Justru tantangan bagi Geely adalah membuktikan bahwa baterai solid-state bukan sekadar unggul dalam angka laboratorium. Teknologi tersebut harus mampu bekerja konsisten pada kendaraan produksi massal, mudah diproduksi, aman, tahan lama, dan tetap masuk akal dari sisi harga.

Baca Juga: Xiaomi 18 Dikabarkan Bawa Kembali Bodi Transparan, Nostalgia Mi 9T dengan Sentuhan Modern

Jika target penggunaan pada 2027 berjalan sesuai rencana, Geely berpotensi menjadi salah satu pemain yang mendorong perubahan besar dalam teknologi mobil listrik. Baterai dengan kepadatan energi 500 Wh/kg secara teori dapat membuat kendaraan memiliki jarak tempuh sangat panjang tanpa harus membawa paket baterai yang semakin besar dan berat.

Bagi calon pembeli di Indonesia, teknologi ini layak dipantau tetapi belum perlu menjadi alasan untuk menunda pembelian mobil listrik yang memang sudah sesuai kebutuhan. Yang lebih penting adalah memilih kendaraan berdasarkan kebutuhan perjalanan, akses pengisian daya, biaya kepemilikan, layanan purnajual, dan garansi baterai.

Sebab, mobil listrik dengan jarak tempuh 1.000 kilometer memang terdengar menarik. Namun dalam penggunaan sehari-hari, baterai yang tahan lama, mudah dirawat, aman, dan didukung jaringan layanan yang baik justru bisa jauh lebih berharga daripada sekadar angka jarak tempuh di atas kertas. (Fadila) 

Editor : Fadila An Naila
geely jarak tempuh mobil listrik baterai solid-state teknologi EV Mobil Listrik