RadarMadura.id— Kamera ponsel kelas menengah kini tidak lagi sekadar mengandalkan jumlah megapiksel. Pada Samsung Galaxy A57 5G dan Galaxy A37 5G, pengguna bahkan bisa mengubah cara kamera bekerja melalui Camera Assistant, tetapi pertanyaannya, apakah fitur tambahan ini benar-benar berguna atau hanya menjadi menu tersembunyi yang jarang disentuh?
Camera Assistant merupakan ekstensi kamera yang tersedia melalui aplikasi Good Lock. Pada Galaxy A57 5G dan A37 5G, Samsung menyediakan sejumlah pengaturan lanjutan yang tidak langsung muncul pada aplikasi kamera bawaan.
Tiga pengaturan yang paling menarik adalah Prioritize Focus Over Speed, Photo Softening, serta Dim Screen While Recording. Ketiganya tidak meningkatkan kemampuan sensor secara ajaib, tetapi lebih berfungsi mengatur perilaku kamera agar sesuai dengan kondisi pemotretan.
Hal tersebut penting dipahami sejak awal. Camera Assistant bukan aplikasi yang tiba-tiba membuat kamera Galaxy A37 atau A57 berubah menjadi kamera flagship. Manfaatnya lebih terasa ketika pengguna menghadapi situasi tertentu yang memang membutuhkan kontrol tambahan.
Fitur pertama adalah Prioritize Focus Over Speed. Sesuai namanya, pengaturan ini membuat kamera lebih mengutamakan penguncian fokus sebelum mengambil gambar dibandingkan mengejar kecepatan rana.
Pengaturan tersebut bisa berguna ketika memotret anak yang sedang berlari, kendaraan yang melintas, hewan peliharaan, atau aktivitas olahraga. Dalam situasi seperti itu, masalah foto blur tidak selalu disebabkan sensor yang buruk, tetapi bisa terjadi karena objek bergerak ketika kamera belum memperoleh fokus yang tepat.
Namun, ada konsekuensinya. Karena kamera lebih memprioritaskan fokus, pengambilan gambar berpotensi terasa kurang spontan dibandingkan ketika kamera mengutamakan kecepatan. Untuk memotret objek yang benar-benar cepat, pengguna tetap perlu memahami bahwa fokus bukan satu-satunya faktor yang menentukan ketajaman.
Kecepatan rana, pencahayaan, dan pergerakan kamera juga berpengaruh. Jadi, mengaktifkan Prioritize Focus Over Speed bukan jaminan setiap foto objek bergerak otomatis tajam.
Dalam penggunaan sehari-hari di Indonesia, fitur ini lebih masuk akal digunakan secara situasional. Untuk foto makanan, dokumen, pemandangan, atau orang yang sedang diam, pengaturan standar kamera biasanya sudah cukup.
Baca Juga: Xiaomi 18 Dikabarkan Bawa Kembali Bodi Transparan, Nostalgia Mi 9T dengan Sentuhan Modern
Fitur kedua adalah Photo Softening. Pengaturan ini dirancang untuk membuat tekstur dan tepian objek terlihat lebih lembut sehingga hasil foto terasa lebih natural. Samsung menyebut fitur tersebut dapat digunakan untuk foto orang maupun selfie dalam kondisi pencahayaan tertentu.
Fitur ini menarik karena pemrosesan kamera smartphone modern terkadang memang menghasilkan gambar yang sangat tajam. Pada kondisi cahaya kuat, tekstur kulit dan detail kecil pada wajah bisa terlihat terlalu menonjol ketika diproses secara agresif.
Photo Softening dapat menjadi pilihan bagi pengguna yang lebih menyukai karakter foto lembut dibandingkan hasil yang sangat tajam. Namun, pengaturan ini sebaiknya tidak selalu diaktifkan.
Untuk foto produk, arsitektur, makanan, atau objek yang memang membutuhkan detail, terlalu banyak pelembutan justru dapat mengurangi kesan tajam. Karena itu, pengguna perlu menyesuaikannya dengan jenis konten yang dibuat.
Samsung juga menyarankan penggunaan Distortion Correction ketika kamera wide-angle digunakan untuk memotret pemandangan atau bangunan. Pengaturan ini membantu mengurangi distorsi pada bagian tepi frame yang dapat membuat garis bangunan atau cakrawala terlihat melengkung.
Fitur tersebut cukup relevan untuk pengguna yang sering membuat konten perjalanan. Ketika mengambil foto gedung dari jarak dekat menggunakan kamera ultrawide, bagian tepi gambar memang berpotensi terlihat tidak proporsional akibat karakteristik lensa sudut lebar.
Namun, koreksi distorsi biasanya juga merupakan kompromi. Proses koreksi dapat memengaruhi area gambar yang digunakan dan hasil akhirnya tidak selalu identik dengan tampilan optik tanpa koreksi.
Artinya, Camera Assistant lebih tepat dilihat sebagai seperangkat alat untuk memilih karakter hasil foto, bukan sebagai tombol peningkat kualitas instan.
Fitur ketiga adalah Dim Screen While Recording. Pengaturan ini dapat meredupkan layar secara otomatis ketika ponsel sedang merekam video sehingga layar tidak terus menyala dengan tingkat kecerahan tinggi. Samsung menyebut fitur tersebut ditujukan untuk membantu menghemat daya ketika merekam video dalam durasi panjang.
Dalam praktiknya, fitur ini lebih masuk akal untuk perekaman menggunakan tripod. Misalnya ketika pengguna merekam timelapse, suasana kota, konser dari posisi tetap, atau video perjalanan tanpa perlu terus melihat layar.
Penghematan baterai dari meredupkan layar memang masuk akal karena layar merupakan salah satu komponen yang cukup banyak mengonsumsi daya pada smartphone. Namun, jangan mengartikannya sebagai peningkatan kapasitas baterai.
Galaxy A57 5G sendiri membawa baterai 5.000 mAh, sedangkan Samsung mencantumkan waktu pemutaran video hingga 29 jam dalam kondisi pengujian tertentu. A57 juga memiliki layar 6,7 inci Super AMOLED Plus dengan resolusi FHD+ dan bobot 179 gram.
Galaxy A37 5G juga dibekali baterai 5.000 mAh dan layar 6,7 inci berteknologi Super AMOLED. Bobotnya lebih tinggi, yakni 196 gram, dengan konfigurasi kamera belakang 50 MP, 8 MP, dan 5 MP.
Perbedaan hardware tersebut perlu diperhatikan karena Camera Assistant tidak menghapus perbedaan kemampuan dasar antara kedua perangkat. A57 memiliki kamera ultrawide 12 MP, sementara A37 menggunakan ultrawide 8 MP. Keduanya memiliki kamera utama 50 MP dengan OIS dan kamera depan 12 MP.
Jadi, jika pengguna mengharapkan Camera Assistant membuat A37 menghasilkan foto yang sama persis dengan A57, harapan tersebut terlalu tinggi. Software dapat membantu mengoptimalkan proses pemotretan, tetapi kemampuan sensor, lensa, dan pemrosesan perangkat tetap menjadi batas utama.
Untuk penggunaan di Indonesia, ada faktor lain yang sering terlupakan, yakni suhu perangkat. Saat merekam video panjang di bawah cuaca panas, apalagi sambil menggunakan jaringan 5G, GPS, layar terang, dan aplikasi lain secara bersamaan, beban termal ponsel bisa meningkat.
Ketika suhu perangkat naik, sistem smartphone dapat menurunkan performa untuk menjaga temperatur. Dalam kondisi tertentu, hal tersebut dapat berpengaruh terhadap kestabilan perekaman maupun kenyamanan penggunaan. Karena itu, Dim Screen While Recording memang membantu mengurangi beban layar, tetapi bukan solusi tunggal terhadap panas.
Pengguna juga sebaiknya tidak merekam video panjang sambil menjemur ponsel di bawah matahari langsung. Penggunaan casing yang terlalu tebal juga dapat menghambat pelepasan panas, terutama ketika perangkat sedang mengisi daya sambil merekam.
Dari sisi kamera, kedua perangkat mendukung perekaman hingga 4K 30fps pada kamera belakang. Samsung juga mencantumkan OIS pada kamera utama, yang membantu mengurangi efek guncangan ketika mengambil foto maupun video.
Kemampuan tersebut sudah cukup untuk kebutuhan konten harian seperti TikTok, Instagram, YouTube Shorts, dokumentasi keluarga, hingga video perjalanan. Namun, pengguna yang mengutamakan kemampuan low-light kelas flagship tetap perlu menurunkan ekspektasi.
Kamera smartphone kelas menengah masih sangat bergantung pada pemrosesan software ketika cahaya minim. Dalam kondisi malam, lampu kota yang kontras dan objek bergerak dapat membuat hasil foto mengalami noise, kehilangan detail, atau efek gerakan yang kurang tajam.
Camera Assistant tidak secara langsung menyelesaikan persoalan tersebut. Fitur-fiturnya lebih berfokus pada cara kamera mengambil dan memproses gambar, bukan mengganti kemampuan sensor menjadi lebih besar atau lebih sensitif terhadap cahaya.
Dari sisi harga, posisi kedua ponsel juga perlu diperhitungkan. Di situs resmi Samsung Indonesia, Galaxy A37 5G dibanderol mulai Rp6.599.000 untuk konfigurasi 8 GB/128 GB dan Rp7.299.000 untuk 8 GB/256 GB.
Sementara itu, Galaxy A57 5G dipasarkan mulai Rp7.599.000 untuk 8 GB/128 GB, Rp8.299.000 untuk 8 GB/256 GB, dan Rp8.999.000 untuk 12 GB/256 GB.
Dengan selisih harga tersebut, A57 lebih masuk akal bagi pengguna yang memang membutuhkan performa lebih tinggi, kamera ultrawide lebih besar, bodi lebih ringan, serta RAM hingga 12 GB. Sebaliknya, A37 bisa menjadi pilihan lebih rasional jika kebutuhan utama adalah kamera harian, media sosial, streaming, komunikasi, dan penggunaan jangka panjang tanpa mengejar performa tertinggi.
Keduanya juga mendapat keuntungan dari ekosistem Samsung dan dukungan perangkat lunak. Pada halaman resmi A37, Samsung mencantumkan masa pembaruan keamanan hingga 31 Maret 2032.
Dukungan software yang panjang menjadi nilai penting bagi pembeli yang berencana menggunakan ponsel selama empat sampai lima tahun. Namun, durasi dukungan keamanan tidak selalu berarti seluruh fitur terbaru akan tersedia secara identik pada setiap generasi perangkat.
Ada pula aspek layanan purnajual yang menjadi pertimbangan. Dibanding membeli perangkat dari merek yang jaringan servisnya masih terbatas, ekosistem Samsung memberikan keuntungan praktis karena konsumen memiliki jalur dukungan resmi dan layanan purna jual yang lebih mapan.
Bagi calon pembeli, keputusan antara A37 dan A57 sebaiknya tidak dibuat hanya karena tiga fitur Camera Assistant tersebut. Fitur software semacam ini memang berguna, tetapi bukan alasan tunggal untuk mengeluarkan tambahan jutaan rupiah.
Baca Juga: Lenovo Yoga Air 14 Aura Baru Pakai Core Ultra 7 266V, OLED 120 Hz Jadi Daya Tarik Utama
Jika anggaran berada di sekitar Rp6,5 juta dan kebutuhan hanya untuk pemakaian harian serta fotografi kasual, A37 sudah cukup masuk akal. Namun, jika anggaran mendekati Rp8 juta dan perangkat akan dipakai untuk multitasking lebih berat, membuat konten, atau digunakan dalam jangka panjang, A57 menawarkan ruang performa dan kamera yang lebih menarik.
Sebelum membeli, calon pengguna juga sebaiknya memastikan kapasitas penyimpanan sesuai kebiasaan. Video 4K dapat menghabiskan ruang dengan cepat, sehingga varian 256 GB lebih aman bagi pengguna yang sering merekam konten dibandingkan memilih kapasitas dasar hanya demi menekan harga.
Pada akhirnya, tiga fitur Camera Assistant tersebut bukan gimmick sepenuhnya, tetapi manfaatnya sangat bergantung pada pola penggunaan. Prioritize Focus Over Speed berguna untuk objek bergerak, Photo Softening cocok bagi pengguna yang menyukai hasil lebih lembut, sedangkan Dim Screen While Recording paling relevan ketika merekam video dalam durasi panjang.
Kuncinya justru bukan mengaktifkan semua fitur sekaligus, melainkan memahami kapan fitur tersebut benar-benar dibutuhkan. Pada kamera smartphone modern, hasil terbaik sering kali bukan berasal dari spesifikasi paling tinggi, tetapi dari kombinasi perangkat yang tepat, pengaturan yang sesuai, kondisi cahaya yang baik, dan kebiasaan pengguna saat mengambil gambar. (Fadila)
Editor : Fadila An Naila