Sony Inzone M10S II vs Alienware AW2726DM, OLED 1440p Rp5 Jutaan Sudah Cukup?

Fadila An Naila • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 14:58 WIB
Sony Inzone M10S II vs Alienware AW2726DM (Sony UK & Dell)
Sony Inzone M10S II vs Alienware AW2726DM (Sony UK & Dell)

RadarMadura.id - Harga monitor OLED 1440p semakin turun pada 2026, tetapi Sony justru membawa Inzone M10S II ke kelas premium dengan harga lebih dari US1.000. Disisi lain, Alienware AW2726DM menawarkan panel QD-OLED27 inci, resolusi QHD dan refreshrate 240Hz dengan harga sekitar US350.

Perbedaan harga hampir tiga kali lipat itu membuat pertanyaan yang muncul cukup sederhana: apakah 540Hz dan teknologi Tandem OLED Sony benar-benar layak dibayar mahal, atau monitor 240Hz seperti Alienware sudah lebih dari cukup untuk sebagian besar gamer?

Pengujian Notebookcheck menunjukkan keduanya memang memiliki karakter yang berbeda. Sony Inzone M10S II lebih diarahkan kepada gamer kompetitif dan pengguna dengan perangkat kelas atas, sementara Alienware AW2726DM menjadi pintu masuk yang jauh lebih murah ke teknologi OLED.

Baca Juga: KONI Pamekasan Bidik Atlet Peraih Medali untuk Porprov Jatim 2027

Sony menggunakan panel Tandem OLED berukuran 26,5 inci dengan resolusi 2.560 x 1.440 piksel. Refresh rate standarnya mencapai 540Hz dan dapat ditingkatkan hingga 720Hz, tetapi mode 720Hz tersebut bekerja pada resolusi 720p sehingga ketajaman gambar turun cukup drastis pada layar 27 inci.

Alienware AW2726DM menggunakan panel QD-OLED 26,5 inci dengan resolusi yang sama, tetapi refresh rate-nya 240Hz. Di atas kertas, angka tersebut memang jauh lebih rendah daripada Sony, tetapi 240Hz sebenarnya sudah sangat tinggi untuk gaming harian maupun kompetitif.

Perbedaan mulai terasa ketika membicarakan kecepatan respons. Pengukuran Notebookcheck mencatat respons Sony sekitar 0,13 milidetik, sedangkan Alienware berada di sekitar 0,24 milidetik untuk gray-to-gray. Keduanya tetap sangat cepat dan mampu memberikan gerakan yang jauh lebih bersih dibandingkan monitor konvensional dengan refresh rate rendah.

Masalahnya, kemampuan monitor tidak berdiri sendiri. Untuk benar-benar memanfaatkan 540Hz pada resolusi 1440p, komputer harus mampu menghasilkan frame rate yang sangat tinggi secara konsisten.

Notebookcheck menilai Alienware 240Hz lebih mudah dimanfaatkan oleh perangkat kelas menengah, termasuk laptop gaming dengan GPU seperti RTX 5050 atau RTX 5060 pada skenario tertentu. Sebaliknya, mencapai batas 540Hz Sony membutuhkan perangkat kelas ekstrem seperti konfigurasi RTX 5090 dan Ryzen 7 9850X3D.

Bagi gamer Indonesia, faktor tersebut perlu diperhitungkan sejak awal. Membeli monitor Rp belasan juta tetapi menggunakan PC yang hanya mampu menghasilkan 150-200 frame per detik pada game favorit membuat sebagian besar kemampuan refresh rate monitor tidak terpakai.

Situasinya berbeda untuk pemain esports yang memang mengejar setiap milidetik. Pada game kompetitif dengan pengaturan grafis rendah dan frame rate sangat tinggi, 540Hz dapat memberikan pergerakan yang terasa lebih mulus dan membantu menampilkan perubahan posisi objek dengan lebih cepat.

Namun, bagi pemain game single-player, RPG atau game AAA dengan visual berat, perbedaan 240Hz ke 540Hz tidak otomatis memberikan lompatan pengalaman sebesar perbedaan antara monitor LCD 60Hz dan OLED 240Hz.

Justru pada aspek HDR, Sony memiliki keunggulan yang jauh lebih mudah terlihat. Pengukuran Notebookcheck mencatat Inzone M10S II mencapai sekitar 1.411 nit pada puncak HDR 1 persen, sedangkan Alienware tercatat sekitar 385 nit pada pola pengujian serupa.

Untuk SDR layar penuh, Sony juga lebih terang dengan sekitar 306,8 nit dibandingkan 186,1 nit pada Alienware. Perbedaan ini dapat terasa ketika monitor digunakan di ruangan terang, terutama jika meja kerja berada dekat jendela atau sumber cahaya kuat.

Sony juga menggunakan lapisan matte anti-reflektif. Konsekuensinya, efek visual OLED yang sangat mengilap memang sedikit berkurang dibandingkan panel glossy, tetapi pantulan lampu dan jendela dapat lebih mudah dikendalikan.

Bagi pengguna di Indonesia yang sering bermain di kamar dengan pencahayaan tidak ideal atau bekerja di dekat jendela, karakter matte ini cukup praktis. Layar tidak terlalu terganggu pantulan lingkungan, meskipun preferensi terhadap glossy atau matte tetap subjektif.

Alienware justru menggunakan permukaan glossy. Hasilnya, warna dan kontras QD-OLED dapat terlihat sangat menarik, tetapi posisi meja menjadi lebih penting. Pantulan jendela tepat di belakang pengguna dapat mengganggu pengalaman melihat layar.

Menariknya, monitor yang harganya jauh lebih murah justru memiliki keunggulan dalam akurasi warna. Setelah kalibrasi, Alienware mencatat ColorChecker DeltaE rata-rata sekitar 1,9, sedangkan Sony berada di sekitar 4,2 dan dinilai kurang cocok untuk pekerjaan yang membutuhkan akurasi warna kritis.

Ini menjadi pertimbangan penting bagi kreator konten. Label monitor gaming premium tidak otomatis berarti lebih baik untuk pekerjaan fotografi atau video profesional.

Alienware juga mencakup sekitar 100 persen sRGB, 93,98 persen AdobeRGB dan 99,84 persen Display P3 berdasarkan pengukuran Notebookcheck. Sony berada di sekitar 99,9 persen sRGB, 94,6 persen AdobeRGB dan 99,3 persen Display P3, sehingga cakupan warnanya sama-sama luas, tetapi akurasi reproduksinya menjadi pembeda.

Dari sisi konektivitas, keduanya juga memiliki pendekatan berbeda. Alienware menyediakan DisplayPort 1.4 untuk 240Hz serta dua HDMI 2.1 yang dibatasi hingga 120Hz dalam pengujian tersebut, sementara Sony menawarkan DisplayPort untuk 540Hz, dua HDMI dengan dukungan hingga 480Hz serta USB hub. Sony tetap tidak menyediakan USB-C.

Untuk konsumen Indonesia, persoalan lain yang harus diperhatikan adalah harga riil. Angka US350untukAlienwaredansekitarUS1.100 untuk Sony merupakan harga pembanding dalam pasar internasional, bukan otomatis harga resmi ketika produk dibeli melalui distributor atau marketplace Indonesia.

Setelah memperhitungkan pajak, garansi lokal, biaya distribusi dan margin penjual, harga di Indonesia dapat berbeda cukup jauh. Karena itu, calon pembeli sebaiknya membandingkan harga dari distributor resmi dan penjual marketplace sekaligus memeriksa jenis garansi yang diberikan.

Garansi menjadi sangat penting untuk monitor OLED karena panel merupakan komponen utama sekaligus bagian yang paling mahal. Konsumen juga perlu memperhatikan kebijakan mengenai burn-in, dead pixel dan kerusakan panel sebelum menganggap harga murah sebagai kemenangan mutlak.

Untuk penggunaan jangka panjang, risiko burn-in juga tidak boleh diabaikan. Pengguna yang menjalankan desktop statis berjam-jam setiap hari, memasang taskbar, jendela aplikasi atau elemen antarmuka yang sama dalam posisi tetap memiliki pola penggunaan berbeda dengan gamer yang sebagian besar waktunya berpindah-pindah tampilan.

Di titik ini, Alienware memiliki proposisi yang cukup kuat. Dengan harga sekitar US$350, AW2726DM memberikan kontras OLED, refresh rate 240Hz, respons sangat cepat dan gamut warna luas tanpa menuntut PC kelas ekstrem. Notebookcheck bahkan merekomendasikannya bagi pengguna yang menginginkan pintu masuk murah ke OLED.

Sony Inzone M10S II memiliki alasan untuk dihargai lebih mahal, tetapi alasannya sangat spesifik. Gamer esports serius mendapatkan 540Hz, respons sangat cepat, panel Tandem OLED yang jauh lebih terang, lapisan matte serta HDR yang secara teknis lebih mengesankan.

Baca Juga: Kunjungi Kemenhub, Bupati Fauzi Perjuangkan Akses Warga Kepulauan

Bagi pengguna biasa, sebagian besar keunggulan tersebut lebih dekat dengan kategori kemewahan daripada kebutuhan. Refresh rate 540Hz tidak akan memberikan manfaat maksimal jika GPU tidak mampu menghasilkan frame rate yang sepadan, sementara mode 720Hz dengan resolusi 720p justru mengorbankan ketajaman gambar.

Karena itu, jika anggaran berada di kisaran US$350-500 atau setara harga lokal setelah seluruh biaya diperhitungkan, monitor QD-OLED 240Hz seperti Alienware AW2726DM menjadi pilihan yang jauh lebih rasional untuk mayoritas gamer.

Sementara itu, Sony Inzone M10S II baru benar-benar masuk akal bagi pengguna yang memang memiliki PC kelas atas, bermain game kompetitif dengan frame rate sangat tinggi dan mampu membayar premium untuk respons, HDR serta ergonomi tanpa menjadikan harga sebagai pertimbangan utama.

Untuk kreator yang membutuhkan akurasi warna, Alienware bahkan bisa menjadi pilihan yang lebih menarik setelah dikalibrasi. Sebaliknya, jika prioritasnya adalah HDR terang, pantulan rendah dan pengalaman esports secepat mungkin, Sony mempunyai keunggulan yang sulit diabaikan.

Pada akhirnya, perang monitor OLED 1440p pada 2026 bukan lagi sekadar soal siapa yang memiliki spesifikasi tertinggi. Penurunan harga membuat 240Hz OLED sudah cukup mudah dijangkau, sehingga produk ultra-premium seperti Inzone M10S II harus membuktikan bahwa kecepatan ekstrem tersebut benar-benar digunakan pemiliknya.

Untuk mayoritas gamer Indonesia, 1440p OLED 240Hz sudah merupakan titik keseimbangan yang jauh lebih masuk akal. Sony Inzone M10S II tetap menarik, tetapi lebih tepat dipandang sebagai perangkat khusus untuk mereka yang memang membutuhkan setiap keunggulan kompetitif—bukan sekadar karena angka 540Hz terlihat lebih besar di kotak. (fadila)

Editor : Fadila An Naila
Sony Inzone M10S II Alienware AW2726DM monitor OLED monitor gaming 1440p monitor 540Hz