Performa Mendekati Kelas Premium, tetapi Ada Kompromi di Layar dan Bobot! Berikut Review Dell 14S DS

Hasan Bashri • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:49 WIB
Dell 14S DS14260
Dell 14S DS14260

RadarMadura.id - Dell 14S DS14260 datang sebagai laptop kelas menengah yang mencoba mendekati pengalaman lini premium tanpa harus masuk sepenuhnya ke kelas XPS.

Pertanyaannya, apakah performa prosesor Intel Panther Lake dan desain baru cukup untuk membuat laptop ini layak dibeli, atau justru ada kompromi yang lebih terasa ketika digunakan sehari-hari?

Hasil pengujian Notebookcheck terhadap konfigurasi Core Ultra 7 355 menunjukkan Dell 14S memang memiliki performa aplikasi yang kuat.

Namun, laptop ini juga memperlihatkan sejumlah kelemahan yang penting diperhatikan calon pembeli, terutama soal temperatur ketika bekerja keras, bobot, kualitas layar OLED untuk HDR, serta kemampuan grafis yang belum cocok untuk gaming berat.

Baca Juga: ALVA N3 Vs Polytron Fox 350, Harga Berdekatan dan Karakter Berbeda, Mana Lebih Masuk Akal?

Secara desain, Dell melakukan perubahan cukup besar dibandingkan generasi Dell 14 Plus. Dell 14S menggunakan lebih banyak material logam pada sasis sehingga kesan pertama terasa lebih solid dan premium.

Baca Juga: Jangan Cuma Ganti Oli, Ini Komponen yang Wajib Diperiksa pada Honda BeAT 20.000 Km

Notebookcheck menilai peningkatan desain dan kekakuan bodi sebagai salah satu daya tarik terbesar perangkat ini. Sasisnya berukuran 313,7 x 224 x 15,3 mm dengan bobot sekitar 1,481 kilogram.

Bobot tersebut sebenarnya masih masuk kategori portabel untuk laptop 14 inci. Namun, Dell 14S bukan termasuk perangkat paling ringan di kelasnya. Ada laptop 14 inci lain yang dapat lebih ringan hingga ratusan gram, sehingga pengguna yang setiap hari membawa perangkat dalam tas akan tetap merasakan perbedaannya.

Untuk pekerja kantoran atau mahasiswa yang hanya sesekali membawa laptop, kompromi tersebut mungkin tidak terlalu mengganggu. Tetapi bagi pengguna yang berpindah lokasi berkali-kali dalam sehari, bobot hampir 1,5 kilogram ditambah adaptor 327 gram membuat total bawaan mendekati 1,8 kilogram.

Di balik bodinya terdapat Intel Core Ultra 7 355 dari keluarga Panther Lake. Prosesor ini memiliki delapan core, terdiri dari empat P-core dengan frekuensi hingga 4,7 GHz dan empat E-core hingga 3,5 GHz, dengan daya sustained sekitar 34 watt dan short burst hingga 56 watt.

Dalam pengujian Cinebench R23, Dell 14S mencatat 1.964 poin untuk single-core dan 10.966 poin pada multi-core. Angka tersebut menunjukkan kemampuan komputasi yang cukup kuat untuk pekerjaan produktivitas berat, termasuk multitasking, pengolahan dokumen besar, kompilasi kode, hingga pekerjaan kreatif yang tidak bergantung penuh pada GPU.

Hasil Geekbench 6 juga berada di kisaran 2.700 poin untuk single-core dan 11.300 sampai 11.500 poin untuk multi-core dalam beberapa pengujian perangkat yang sama. Perbedaan angka antarhasil merupakan hal yang wajar karena kondisi pengujian dan versi benchmark dapat berbeda.

Dalam penggunaan nyata, performa seperti ini berarti membuka banyak tab browser, menjalankan aplikasi Office, video conference, pengolah gambar, hingga beberapa aplikasi secara bersamaan seharusnya bukan masalah besar. Untuk pengguna yang membutuhkan laptop kerja jangka panjang, Core Ultra 7 355 menjadi salah satu alasan utama mempertimbangkan perangkat ini.

Namun, ada catatan penting mengenai pendinginan. Notebookcheck menemukan temperatur CPU rata-rata mencapai sekitar 87 derajat Celsius dalam pengujian Prime95, sementara stress test Cyberpunk 2077 membawa suhu CPU hingga sekitar 91 derajat Celsius.

Ini bukan berarti Dell 14S akan terus berada pada temperatur tersebut saat mengetik atau browsing. Suhu tinggi tersebut muncul ketika perangkat diberi beban berat secara berkelanjutan.

Meski demikian, kondisi Indonesia yang panas perlu menjadi perhatian. Pengujian laboratorium Notebookcheck dilakukan pada temperatur ruangan 20 derajat Celsius, sedangkan penggunaan di ruangan tanpa AC atau lingkungan dengan suhu sekitar 30 derajat Celsius tentu memberikan kondisi termal yang lebih berat.

Suhu permukaan bodi maksimum dalam pengujian mencapai sekitar 44,4 derajat Celsius pada bagian atas dan 41 derajat Celsius pada bagian bawah. Area palm rest dan touchpad relatif lebih nyaman karena maksimum sekitar 33 derajat Celsius.

Artinya, laptop ini masih cukup nyaman untuk penggunaan produktivitas normal. Tetapi ketika digunakan untuk render, komputasi panjang atau bermain game dalam waktu lama, pengguna sebaiknya menghindari meletakkannya di kasur atau permukaan yang menghalangi ventilasi.

Kipas juga tidak sepenuhnya senyap ketika beban meningkat. Notebookcheck mengukur tingkat kebisingan hingga sekitar 47,4 dB(A) pada beban maksimum, meski dalam skenario Cyberpunk 2077 tercatat sekitar 39,1 dB(A).

Dari sisi grafis, Core Ultra 7 355 menggunakan Intel Graphics 4 Xe3. Ini merupakan grafis terintegrasi, sehingga jangan menyamakan kemampuan Dell 14S dengan laptop yang memiliki GPU diskrit.

Pengujian Cyberpunk 2077 pada resolusi 1.920 x 1.080 dengan preset Ultra menghasilkan rata-rata sekitar 16,8 fps. Pada resolusi 1.280 x 720 dan preset Low, angkanya meningkat menjadi sekitar 61,3 fps.

Gambaran tersebut cukup jelas. Dell 14S dapat digunakan untuk game ringan atau judul lama dengan pengaturan yang disesuaikan, tetapi bukan pilihan ideal untuk gamer yang ingin memainkan game AAA terbaru dengan kualitas visual tinggi.

Untuk game seperti Dota 2, situasinya jauh lebih bersahabat. Notebookcheck mencatat sekitar 107,1 fps pada konfigurasi 1280 x 720 dengan pengaturan rendah dan 81,9 fps pada 1080p pengaturan tinggi dalam pengujian Dota 2 Reborn.

Jadi, pengguna yang sesekali bermain game kompetitif masih bisa mempertimbangkan perangkat ini. Tetapi jika gaming adalah prioritas utama, uang yang sama sebaiknya diarahkan ke laptop dengan GPU diskrit.

Layar menjadi bagian yang menarik sekaligus agak membingungkan. Unit yang diuji menggunakan panel OLED 14 inci beresolusi 1.920 x 1.200 piksel, rasio 16:10 dan refresh rate 60Hz.

OLED memberikan keunggulan pada kontras dan tampilan warna, sehingga konsumsi konten, foto, dan pekerjaan visual terasa lebih menyenangkan dibandingkan panel IPS standar. Rasio 16:10 juga memberikan ruang vertikal lebih luas untuk dokumen dan aplikasi kerja.

Namun, Notebookcheck mencatat kelemahan pada kemampuan HDR. Bahkan ketika memilih konfigurasi OLED, dukungan HDR dinilai kurang memuaskan dibandingkan panel OLED pada Dell XPS 14.

Ada pilihan layar 120Hz pada Dell 14S, tetapi konfigurasi tersebut menggunakan IPS. Artinya, calon pembeli harus memilih antara OLED dengan kualitas visual dan kontras lebih baik atau IPS dengan refresh rate lebih tinggi.

Untuk penggunaan kantor, 60Hz bukan persoalan besar. Tetapi pengguna yang sudah terbiasa dengan layar 90Hz, 120Hz, atau lebih tinggi akan langsung menyadari perbedaannya ketika menggulir halaman web atau menggerakkan jendela.

Konektivitas menjadi salah satu bagian yang cukup kuat. Dell 14S memiliki dua USB-A, dua Thunderbolt 4 dengan DisplayPort dan Power Delivery, HDMI, serta jack audio 3,5 mm.

Kelengkapan ini cukup relevan untuk pengguna Indonesia. Laptop masih dapat langsung dihubungkan ke proyektor, monitor eksternal, flash drive, headset, dan berbagai aksesori tanpa harus bergantung penuh pada dongle.

Konektivitas nirkabelnya bahkan sudah menggunakan Wi-Fi 7 dan Bluetooth 6 pada konfigurasi yang diuji. Dalam pengujian Wi-Fi 6/7 menggunakan jaringan 6 GHz, Dell 14S mencapai throughput sekitar 1,63 Gbps pada pengujian penerimaan.

Tentu saja, pengguna Indonesia tidak otomatis memperoleh kecepatan tersebut. Performa internet tetap bergantung pada router, paket internet, frekuensi yang tersedia, kondisi jaringan, dan perangkat lain yang terhubung.

Untuk aktivitas sehari-hari seperti browsing, rapat Zoom atau Google Meet, streaming, serta transfer file melalui jaringan lokal, dukungan Wi-Fi 7 lebih tepat dianggap sebagai investasi konektivitas jangka panjang daripada fitur yang langsung terasa manfaatnya pada semua pengguna.

Dell membekali perangkat dengan RAM LPDDR5x 16GB berkecepatan 7.467 MT/s dalam konfigurasi dual-channel. Namun, memori tersebut disolder sehingga pengguna tidak memiliki fleksibilitas untuk meningkatkan RAM setelah pembelian.

Kapasitas 16GB masih cukup nyaman untuk mayoritas pengguna pada 2026. Tetapi untuk pekerjaan AI lokal, editing video berat, virtual machine, atau penggunaan profesional yang membutuhkan banyak memori, konfigurasi ini perlu dipertimbangkan sejak awal.

Penyimpanan NVMe yang diuji juga menunjukkan performa tinggi. Pengujian CrystalDiskMark mencatat sequential read sekitar 4.617 MB/s dan sequential write sekitar 2.506 MB/s, sehingga respons sistem dan transfer file besar seharusnya terasa cepat.

Untuk baterai, Dell 14S membawa kapasitas 70 Wh. Hasil pengujian Wi-Fi Notebookcheck mencapai sekitar 19 jam 7 menit dalam skenario pengujian tertentu, yang merupakan hasil sangat kuat untuk laptop kelas ini.

Namun, angka tersebut jangan diterjemahkan sebagai 19 jam penggunaan campuran di Indonesia. Aktivitas seperti video conference, brightness tinggi, koneksi Wi-Fi yang tidak stabil, editing, serta penggunaan aplikasi berat akan memangkas daya tahan secara signifikan.

Dengan demikian, pengguna harian masih memiliki peluang mendapatkan daya tahan seharian untuk pekerjaan ringan, tetapi pekerja dengan beban CPU dan layar tinggi tetap sebaiknya membawa charger.

Webcam 1080p dengan IR tersedia untuk video conference dan fitur autentikasi. Namun, salah satu kekurangannya adalah tidak adanya webcam shutter fisik.

Bagi pekerja yang sering mengikuti rapat daring, kualitas 1080p cukup memadai. Tetapi untuk pengguna yang sangat memperhatikan privasi, absennya penutup kamera fisik merupakan kekurangan kecil yang cukup relevan.

Baca Juga: Tablet Baru Honor Pad 20 Pro Resmi Hadir, Kombinasi Snapdragon 8s Gen 4, Layar Paperlike dan Baterai

Dari sisi software, perangkat menjalankan Windows 11 Home dan mendapat dukungan Dell Optimizer serta SupportAssist. Dell juga menyediakan halaman dukungan resmi khusus DS14260, termasuk manual servis dan dokumen spesifikasi yang diperbarui pada Juli 2026.

Ketersediaan dokumentasi servis menjadi nilai positif, terutama karena laptop modern semakin bergantung pada firmware, BIOS, dan driver. Dell juga menyediakan kanal driver khusus untuk model tersebut.

Tetapi ada satu hal yang perlu dicatat calon pembeli: RAM disolder dan perangkat ini bukan laptop yang dirancang untuk upgrade komponen secara bebas. Karena itu, konfigurasi RAM dan kapasitas penyimpanan ketika membeli menjadi lebih penting daripada pada laptop yang menyediakan akses upgrade luas.

Untuk harga, Dell mencantumkan Dell 14S mulai sekitar US1.420untukkonfigurasiCore7355denganlayarFHDIPS.UnityangdiujiNotebookcheckmemilikikonfigurasiCoreUltra7355,OLED1200pdandibanderolsekitarUS1.500.

Sampai penelusuran ini, belum ditemukan harga resmi Indonesia yang dapat dijadikan patokan kuat untuk Dell 14S DS14260. Karena itu, calon pembeli Indonesia perlu berhati-hati terhadap unit impor di marketplace dan tidak menganggap konversi langsung dolar sebagai harga jual lokal.

Jika dikonversikan secara kasar, harga US$1.500 memang berada di kisaran Rp24 jutaan, tetapi harga aktual Indonesia dapat berbeda setelah pajak, biaya impor, garansi, margin distributor, dan konfigurasi. Dell sendiri memiliki halaman produk resmi untuk DS14260, tetapi ketersediaan konfigurasi berbeda menurut negara.

Di kelas harga tersebut, value for money menjadi persoalan utama. Notebookcheck sendiri mencatat bahwa Dell 14S masih masuk akal apabila mendapatkan diskon besar, sementara konfigurasi yang semakin tinggi dapat membuat alternatif lain menjadi lebih menarik.

Ini penting bagi pembeli Indonesia. Jika Dell 14S masuk dengan harga mendekati laptop premium, calon konsumen sebaiknya membandingkannya dengan Asus VivoBook S 14 OLED, Lenovo ThinkBook 14, HP OmniBook, atau bahkan Dell XPS jika selisih harganya sudah tidak terlalu jauh.

Untuk pengguna yang mengutamakan performa CPU, baterai panjang, bodi kokoh, konektivitas lengkap, dan layar OLED, Dell 14S merupakan paket yang cukup kuat. Prosesor Core Ultra 7 355 juga membuatnya jauh lebih menarik untuk produktivitas daripada sekadar laptop tipis yang mengejar tampilan.

Namun, gamer sebaiknya tidak menjadikannya pilihan utama. Grafis Xe3 terintegrasi memang cukup untuk game ringan, tetapi benchmark menunjukkan game berat seperti Cyberpunk 2077 masih membutuhkan kompromi besar pada resolusi dan kualitas grafis.

Begitu pula bagi pengguna yang sangat mengutamakan mobilitas. Bobot hampir 1,5 kilogram bukan angka yang buruk, tetapi sudah cukup berat dibandingkan beberapa pesaing 14 inci yang lebih ringan.

Untuk pembeli dengan anggaran sekitar Rp20 juta, Dell 14S baru terasa menarik jika mendapatkan konfigurasi dan harga yang kompetitif. Jika harganya menembus Rp25 juta atau lebih, konsumen perlu mulai membandingkan laptop dengan GPU diskrit, layar 120Hz, RAM lebih besar, atau bahkan lini premium.

Sementara bagi pengguna dengan anggaran di bawah Rp15 juta, Dell 14S kemungkinan bukan pilihan paling rasional kecuali tersedia promo atau unit dengan konfigurasi lebih rendah pada harga yang jauh lebih murah. Banyak laptop Ryzen atau Intel kelas menengah dapat memberikan performa produktivitas yang cukup tanpa harus membayar fitur premium yang tidak digunakan.

Jika membeli unit impor atau bekas, pemeriksaan layar OLED, kesehatan baterai, kondisi keyboard, port Thunderbolt, USB, HDMI, charger, serta status garansi menjadi wajib. Khusus layar OLED, periksa kemungkinan burn-in dan ketidakseragaman panel dengan menampilkan warna putih, abu-abu, merah, hijau, dan biru pada kecerahan tinggi.

Pada akhirnya, Dell 14S DS14260 memang membuktikan bahwa laptop kelas menengah tidak harus terasa murahan. Desainnya jauh lebih solid, performa Core Ultra 7 355 kuat, baterai 70 Wh mengesankan, dan pilihan portnya praktis.

Tetapi perangkat ini belum menjadi "XPS murah" dalam arti sebenarnya. Layar OLED 60Hz belum unggul untuk HDR, bodinya relatif berat, temperatur CPU dapat mencapai sekitar 90 derajat Celsius saat beban berat, dan grafis terintegrasinya tetap memiliki batas.

Nilai terbaik Dell 14S justru muncul ketika konsumen membelinya dengan konfigurasi yang tepat dan harga yang masuk akal. Jika kebutuhan utamanya adalah bekerja, belajar, multitasking dan menikmati konten dengan baterai panjang, laptop ini layak masuk daftar pertimbangan.

Namun, bila harga sudah mendekati laptop premium dengan GPU diskrit atau layar yang lebih unggul, jangan terpaku pada nama Core Ultra 7. Dalam pasar laptop 2026, performa tinggi baru benar-benar menjadi value ketika seluruh paket, termasuk layar, bobot, upgradeability, pendinginan, garansi, dan harga akhir, masih seimbang. (hasan)

Editor : Hasan Bashri
review laptop Dell 14S DS Review Dell 14S DS rekomendasi laptop dell