RadarMadura.id — Suzuki dikabarkan tengah menyiapkan prototipe Suzuki Ertiga Full EV yang diprediksi meluncur pada akhir 2026 di Indonesia.
MPV listrik ini disebut bukan sekadar konversi mesin bensin, melainkan mengusung platform khusus kendaraan listrik dan berpotensi dirakit lokal demi memenuhi regulasi insentif EV.
Jika benar terealisasi, langkah ini akan mempertegas komitmen Suzuki Indonesia dalam era elektrifikasi. Terlebih, model Ertiga selama ini sudah diproduksi di dalam negeri sehingga peluang lokalisasi dinilai sangat besar.
Gunakan Platform Khusus EV
Suzuki Ertiga versi listrik disebut akan memakai platform baru hasil kolaborasi Suzuki dan Toyota Motor Corporation.
Platform tersebut diduga merupakan turunan 27PL yang dikembangkan dari basis 40PL untuk kendaraan listrik global.
Artinya, Ertiga EV tidak hanya menanggalkan mesin bensin lalu menggantinya dengan motor listrik.
Struktur rangka, penempatan baterai, hingga distribusi bobot dirancang sejak awal sebagai kendaraan listrik murni.
Pendekatan ini biasanya berdampak pada ruang kabin yang lebih optimal dan lantai rata. Bagi keluarga Indonesia yang mengandalkan MPV untuk perjalanan jauh, konfigurasi seperti ini tentu menjadi nilai tambah.
Baca Juga: Motor Listrik Lokal Gaya Maxi Tembus 130 Km di 2026 Ini Daftar dan Spesifikasi Lengkapnya
Adopsi Teknologi dari eVitara
Isu yang berkembang menyebutkan Ertiga EV akan mengadopsi teknologi baterai dan sistem penggerak milik Suzuki eVitara. Opsi baterai yang disebutkan berada di kisaran 49 kWh dan 61 kWh.
Jika merujuk pada kapasitas tersebut, jarak tempuhnya berpotensi berada di atas 400 km dalam sekali pengisian.
Angka ini sudah cukup untuk kebutuhan harian dalam kota seperti Surabaya hingga perjalanan luar kota tanpa sering mengisi ulang.
Berdasarkan pantauan kami terhadap tren EV saat ini, kapasitas baterai di atas 50 kWh menjadi standar ideal bagi keluarga.
Konsumen Indonesia semakin mempertimbangkan jarak tempuh karena infrastruktur pengisian daya belum merata di semua daerah.
Hampir Pasti Dirakit Lokal
Salah satu sinyal kuat adalah aturan insentif kendaraan listrik yang mensyaratkan perakitan lokal atau CKD mulai 2026. Mengingat Ertiga konvensional sudah diproduksi di Indonesia, peluang perakitan Ertiga EV di pabrik lokal sangat terbuka.
Langkah ini juga dapat menekan harga jual agar tetap kompetitif. Tanpa perakitan lokal, sulit bagi Suzuki untuk bersaing dengan pemain EV lain yang sudah lebih dulu mengoptimalkan produksi dalam negeri.
Bagi konsumen di Jawa Timur dan Madura, perakitan lokal sering kali menjadi jaminan ketersediaan suku cadang dan layanan purna jual.
Faktor ini kerap menjadi pertimbangan utama sebelum memutuskan beralih ke mobil listrik.
Suzuki Tidak Tinggalkan Ertiga Hybrid
Di tengah rumor EV, Suzuki tetap memasarkan Ertiga versi bensin dan hybrid dengan penyegaran pada 2026. Strategi ini menunjukkan bahwa peralihan ke listrik dilakukan secara bertahap.
Hybrid masih menjadi jembatan bagi konsumen yang belum siap sepenuhnya beralih ke listrik. Sementara Ertiga EV akan menyasar segmen yang ingin langsung melompat ke kendaraan tanpa emisi.
Pendekatan ganda ini dinilai realistis mengingat pasar Indonesia sangat beragam. Tidak semua wilayah memiliki infrastruktur charging yang memadai.
Baca Juga: Motor Listrik Lokal Gaya Maxi Tembus 130 Km di 2026 Ini Daftar dan Spesifikasi Lengkapnya
Perkiraan Spesifikasi Suzuki Ertiga EV
Platform khusus EV kolaborasi Suzuki dan Toyota
Pilihan baterai 49 kWh dan 61 kWh
Perkiraan jarak tempuh di atas 400 km
Produksi lokal Indonesia
Target peluncuran akhir 2026
Seluruh informasi di atas masih berdasarkan rumor dan analisis industri hingga Februari 2026. Belum ada pengumuman resmi terkait spesifikasi final maupun harga.
Closing
Suzuki Ertiga Full EV diprediksi menjadi langkah besar Suzuki di segmen MPV listrik nasional.
Dengan potensi produksi lokal dan platform khusus EV, model ini bisa menjadi penantang serius di kelasnya pada akhir 2026.
Menurut Anda, jika harganya kompetitif dan dirakit di Indonesia, apakah Ertiga EV layak menjadi mobil listrik keluarga pertama Anda.
Editor : Hasan Bashri