RadarMadura.id - Toyota Motor kembali menegaskan dominasinya sebagai produsen mobil terlaris di dunia sepanjang 2025.
Pabrikan asal Jepang ini membukukan penjualan global hingga 10,5 juta unit, tumbuh di tengah tekanan kebijakan tarif impor Amerika Serikat.
Capaian tersebut diumumkan pada akhir Januari 2026 dan langsung menempatkan Toyota di atas para pesaingnya.
Kinerja ini menjadi sorotan karena diraih saat industri otomotif global menghadapi ketidakpastian biaya dan perdagangan.
Baca Juga: Angin Puting Beliung Terjang Dua Kecamatan di Sampang, Madrasah dan Rumah Ikut Rusak
Toyota Unggul Jauh dari Para Pesaing
Berdasarkan pantauan kami, penjualan Toyota bersama merek premiumnya Lexus naik 3,7 persen secara tahunan.
Angka ini cukup untuk mengungguli Volkswagen Group yang mencatat sekitar 9 juta unit sepanjang 2025.
Di bawahnya, Hyundai Motor Group membukukan penjualan 7,27 juta unit secara global.
Selisih ini menunjukkan konsistensi Toyota dalam menjaga skala produksi dan distribusi di berbagai pasar utama dunia.
Mobil Hybrid Jadi Senjata Utama
Lonjakan penjualan Toyota terutama ditopang tingginya minat terhadap kendaraan hybrid.
Di Amerika Serikat, model seperti Prius dan RAV4 Hybrid menjadi tulang punggung pertumbuhan penjualan.
Di pasar AS saja, penjualan Toyota dan Lexus meningkat 7,3 persen menjadi 2,93 juta unit.
Hal ini menjadi kabar baik bagi konsumen yang mencari mobil irit bahan bakar tanpa harus beralih penuh ke listrik.
Tetap Tumbuh Meski Ditekan Tarif Impor
Kinerja Toyota terbilang kontras dengan kebijakan tarif Amerika Serikat.
Presiden AS Donald Trump sempat memberlakukan tarif impor mobil Jepang hingga 25 persen sebelum akhirnya diturunkan menjadi 15 persen.
Toyota memilih menyerap sebagian besar dampak biaya tersebut.
Strategi ini dilakukan dengan memperkuat produksi lokal dan menekan biaya operasional agar harga tetap kompetitif di pasar.
Dampak Tarif Lebih Berat ke Pesaing
Tekanan tarif justru terasa lebih dalam bagi Hyundai Motor. Meski pendapatan globalnya tumbuh lebih dari 6 persen, laba operasional perusahaan asal Korea Selatan ini turun hampir 20 persen pada 2025.
Hyundai masih sangat bergantung pada impor, dengan hanya sekitar 40 persen mobilnya di AS diproduksi secara lokal.
Kondisi ini membuat beban tarif sulit dihindari dalam jangka pendek.
Produksi Lokal Jadi Kunci Keunggulan
Toyota saat ini hanya mengandalkan impor untuk sekitar 20 persen penjualannya di Amerika Serikat.
Selebihnya diproduksi secara lokal, terutama untuk model hybrid yang permintaannya terus naik.
Pendekatan ini memberi fleksibilitas bagi Toyota menghadapi gejolak kebijakan dagang.
Bagi pasar seperti Indonesia, strategi ini relevan karena menjaga stabilitas harga dan pasokan kendaraan.
Ringkasan Penjualan Produsen Global 2025
| Produsen | Penjualan Global 2025 |
|---|---|
| Toyota dan Lexus | 10,5 juta unit |
| Volkswagen Group | Sekitar 9 juta unit |
| Hyundai Motor Group | 7,27 juta unit |
Secara keseluruhan, Toyota berhasil membuktikan ketangguhannya di tengah tekanan global dengan mengandalkan mobil hybrid dan produksi lokal.
Menurut Anda, apakah strategi ini juga akan membuat mobil Toyota semakin diminati di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan? (fadila)