Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Karyawan Microsoft Dilarang Gunakan Aplikasi DeepSeek, Ini dia Alasannya

Amin Basiri • Jumat, 9 Mei 2025 | 12:45 WIB
Wakil Ketua dan Presiden Microsoft, Brad Smith
Wakil Ketua dan Presiden Microsoft, Brad Smith

OTO & TEKNO, RadarMadura.id - Microsoft baru saja mengumumkan kebijakan tegas terkait larangan penggunaan aplikasi DeepSeek bagi karyawan mereka.

Pernyataan ini diungkapkan oleh Wakil Ketua dan Presiden Microsoft, Brad Smith, dalam sidang Senat Amerika Serikat pada 8 Mei 2025.

Menurut Smith, larangan tersebut diberlakukan karena adanya kekhawatiran terkait keamanan data dan potensi propaganda yang berasal dari aplikasi tersebut.

Ia merujuk pada layanan aplikasi DeepSeek yang tersedia untuk perangkat desktop dan mobile.

Smith juga menambahkan bahwa Microsoft tidak memasukkan aplikasi DeepSeek ke dalam toko aplikasinya karena alasan serupa.

Kekhawatiran Utama: Data Pengguna Tersimpan di Server Tiongkok

Langkah Microsoft ini cukup mengejutkan, terutama karena DeepSeek sebelumnya digunakan secara luas oleh berbagai organisasi.

Namun, keputusan tersebut tak lepas dari risiko penyimpanan data pengguna di server yang berlokasi di Tiongkok.

Kebijakan privasi DeepSeek menyatakan bahwa data pengguna akan disimpan di server Tiongkok dan tunduk pada hukum negara tersebut.

Berdasarkan undang-undang setempat, perusahaan diharuskan bekerja sama dengan badan intelijen negara jika diminta.

Risiko ini semakin diperkuat oleh laporan TechCrunch yang mengungkapkan bahwa DeepSeek juga dikenal melakukan sensor ketat terhadap topik-topik sensitif yang dianggap bertentangan dengan kepentingan pemerintah Tiongkok.

Kondisi ini membuat Microsoft semakin waspada dan memutuskan untuk mengambil langkah preventif.

Meskipun melarang aplikasi DeepSeek, Microsoft tetap menawarkan model AI DeepSeek R1 melalui layanan Azure.

Langkah ini sempat menuai pertanyaan, mengingat DeepSeek masih dianggap memiliki potensi risiko keamanan.

Namun, Smith menjelaskan bahwa sebelum DeepSeek R1 diluncurkan di Azure, Microsoft telah melakukan evaluasi keamanan dan pengujian mendalam untuk menghilangkan potensi risiko.

Meskipun Microsoft tidak menawarkan aplikasi chatbot DeepSeek secara langsung, DeepSeek bersifat open source.

Artinya, siapapun dapat mengunduh model tersebut, menyimpannya di server pribadi, dan menyediakan layanan kepada klien tanpa mengirimkan data kembali ke Tiongkok.

Namun, risiko penyebaran propaganda tetap ada. Meski data tidak dikirimkan ke Tiongkok, model AI DeepSeek tetap berpotensi menghasilkan informasi yang telah terpengaruh oleh sensor dan propaganda.

Dalam sidang Senat, Smith juga menekankan bahwa Microsoft telah mengutak-atik model AI tersebut untuk menghilangkan konten berbahaya.

Menariknya, meskipun DeepSeek dilarang, aplikasi lain yang menjadi pesaing Microsoft seperti Perplexity masih tersedia di toko aplikasi Windows.

Namun, aplikasi milik Google seperti Chrome dan chatbot Gemini tidak ditemukan di toko aplikasi tersebut.

Langkah ini menunjukkan bagaimana Microsoft menjaga dominasinya di pasar AI dan layanan cloud sambil tetap berhati-hati dalam mengelola risiko keamanan data dan propaganda asing.

Dengan larangan DeepSeek ini, Microsoft secara tidak langsung mengirimkan pesan kuat kepada perusahaan teknologi lain untuk lebih berhati-hati dalam mengelola data pengguna, terutama yang disimpan di negara dengan regulasi ketat seperti Tiongkok.***

Editor : Amin Basiri
#DeepSeek #brad smith #microsoft