Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Mobile Banking Meningkat Rentan Dibobol, Begini Cara Mengatasinya

Hasan Bashri • Sabtu, 31 Agustus 2024 | 05:52 WIB

 

Ilustrasi Mobile M-banking
Ilustrasi Mobile M-banking

RadarMadura.id — Mobile banking atau M-Banking yang seharusnya memberi kemudahan bagi penggunanya kini menjadi sasaran empuk bagi para penipu dalam serangan siber yang semakin mengkhawatirkan.

Menurut laporan terbaru dari firma keamanan siber Kaspersky, serangan terhadap sektor keuangan terus meningkat dengan berbagai modus yang semakin canggih dan sulit terdeteksi.

Tahun lalu, serangan trojan mobile terhadap pengguna Android mencapai angka mencengangkan, yakni 32%. Salah satu trojan yang paling banyak menyebar adalah Bian.H, mencapai 22% dari total serangan.

Sementara itu, modus phishing, yang menyerang individu dan pengguna korporat, mencatatkan angka masing-masing 30,68% dan 27,32%.

Para pelaku sering menggunakan identitas palsu, seperti mengatasnamakan toko online yang populer, dengan Amazon (34%), Apple (18,66%), dan Netflix (14,71%) menjadi target utama. Serangan terhadap platform pembayaran online seperti Paypal bahkan mencapai 54,73%.

Menurut Igor Golovin, Pakar Keamanan Siber dari Kaspersky, para penyerang terus mengembangkan serangan mereka dengan menggunakan malware yang semakin canggih.

"Mereka mengincar perangkat seluler dengan taktik yang lebih agresif," jelas Golovin.

Kaspersky juga memberikan beberapa langkah pencegahan kepada pengguna untuk mengurangi risiko menjadi korban penipuan keuangan, terutama pada aplikasi mobile banking.

Langkah-langkah tersebut antara lain hanya mengunduh aplikasi dari toko aplikasi resmi seperti Play Store dan App Store, serta memeriksa izin aktivitas aplikasi sebelum memberikan izin.

Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengidentifikasi empat modus penipuan keuangan yang marak terjadi saat ini:

  1. Phishing melalui WhatsApp: Melalui pesan WhatsApp, pelaku mengirimkan file APK yang mengatasnamakan layanan resmi seperti kurir pengiriman paket atau undangan pernikahan, yang pada akhirnya mengarah pada pencurian data pribadi.

  2. Salah transfer melalui pinjol ilegal: Korban menerima transfer dana dari pinjaman online ilegal dan kemudian diminta untuk mengembalikan dana atau membayar utang yang sebenarnya tidak pernah diminta.

  3. Penawaran palsu melalui penawaran pekerjaan: Korban ditawarkan pekerjaan dengan iming-iming penghasilan tinggi, namun akhirnya diminta untuk menyetorkan uang deposit terlebih dahulu sebelum 'tugas' dimulai.

  4. Penawaran produk palsu: Korban ditawari produk atau layanan keuangan yang seolah-olah berasal dari lembaga berizin, padahal sebenarnya palsu, yang berujung pada kehilangan dana yang telah disetorkan.

Untuk menanggulangi maraknya modus penipuan ini, OJK telah mengambil berbagai langkah seperti melakukan edukasi keuangan secara masif baik secara langsung maupun daring, penguatan infrastruktur literasi keuangan, serta pemblokiran terhadap aplikasi dan situs web yang menawarkan atau melakukan kegiatan tanpa izin di sektor keuangan.

Dengan meningkatnya kompleksitas serangan siber dan modus penipuan yang semakin rapi, penting bagi pengguna mobile banking dan layanan keuangan online untuk selalu waspada dan mengikuti langkah-langkah pencegahan yang disarankan agar terhindar dari kerugian finansial yang tidak diinginkan. (hasan

Editor : Hasan Bashri
#mobile bangking #hecker #retas #dibobol #Rawan