Oleh: Fajri Andika *)
Filsuf Inggris, Sir Bertrand Russel, merumuskan hubungan ilmu dan teknologi dengan rumusan yang amat sederhana.
Menurutnya, dengan akalbudinya, manusia mempunyai dua kemampuan. Pertama, akal budi memberinya kemungkinan mengetahui berbagai hal.
Kedua, akal budi yang sama memberinya kemungkinan menciptakan berbagai hal. Ilmu adalah pengetahuan. Sedangkan teknologi adalah penciptaan (Kleden, 2005).
Sementara ilmu dan teknologi merupakan unsur kebudayaan. Dari sini sudah terlihat bahwa antara ilmu dan teknologi saling keterkaitan dan tidak dapat dipisahkan.
Yasraf A. Piliang dalam tulisannya yang berjudul “Imagologi dan Gaya Hidup: Membingkai Tanda dan Dunia, dalam (Adlin, 2006), menyatakan bahwa budaya, yakni tentang cara manusia memberikan makna pada dunia kehidupannya, membutuhkan medium untuk mengekspresikan makna tersebut, yaitu bahasa dan benda-benda (atau objek).
Dengan kata lain, makna sebagai entitas kultural di dalam relasi antara manusia dan dunia kehidupan (life-world) membutuhkan aktualisasi dirinya ke dalam dunia objek atau benda-benda.
Senada dengan Piliang, pengkaji studi STS, Sonny Yuliar, mengatakan bahwa norma-norma dan relasi-relasi sosial yang membentuk masyarakat tidak hanya bersifat simbolis, tapi juga terwujud ke dalam objek-objek material (Yuliar, 2009). Apa yang Pilian dan Yuliar kemukakan tersebut jelas bukan premis-premis baru.
Sejak setidaknya dua atau tigas dasawarsa silam, para semiotikawan dan para ahli sosiologi teknologi telah mengungkapan pemikiran yang demikian.
Semiotikawan Wendy Leedshurwitz, yang menelisik kode-kode sosial yang terkandung dalam makanan, pakaian, dan objek-objek keseharian dari perspektif teori semiotika komunikasi, telah menegaskan ketidakperisahan teknologi dari realitas sosial dan makna-makna kultural (Hurwitz, 1993). Begitu pula yang dikemukakan oleh ahli sosiologi teknologi dan proponen teori ANT, John Law.
Ia menyatakan: if human beings form a social network it is not because they interact with other human beings. It is because they interanct with human beings and endles other materials too. Selain itu, teoritikus budaya, Raymond Williams, juga menyakan demikian.
Menurutnya, meski kebudayaan tidak bertujuan langsung untuk mengembangkan kondisi material kehidupan, tapi jelas bahwa setiap praktik budaya, yang bertujuan untuk memproduksi makna, selalu melibatkan sarana yang bersifat material sebagai mediumnya.
Para ahli antropologi budaya sudah sejak lama menyatakan bahwa artefak yang manusia ciptakan adalah medium tempat identitas budaya dilestarikan dan dikomunikasikan pada generasi berikutnya (Ibrahim, 2005).
Semua proposisi akademis tersebut menegaskan fenomena ketidakterpisahan teknologi dari entitas sosokultural tersebut.
Langdon Winner pun menyebut alat-alat teknologi sebagai bentuk-bentuk kehidupan (forms of life) yang sudah menyatu dengan kehidupan manusia.
Contohnya, televisi yang sudah menjadi bagian dari hidup sehari-hari masyarakat kontemporer.
Televisi sudah begitu melekat dalam persepsi, pikiran, dan tingkah laku manusia sehingga ia menjadi bagian yang tidak terhapuskan dalam budaya saat ini.
Mengenai hal ini, teoritikus STS, Ralph Schroeder, menyatakan bahwa ketika teknologi menyatu dengan kehidpan manusia, maka ia menjadi bersifat kultural. Ini terjadi karena teknologi diartikulasikan ke dalam pola kehidupan sehari-hari (Schroeder, 2007).
Premis Schroeder tersebut mengasumsikan bahwa di dalam setiap entitas teknologi yang sudah digunakan oleh masyarakat itu terkandung nilai-nilai kultural yang terkait dengan masyarakat penggunanya.
Melalui praktik penggunaan teknologi itulah masyarakat memproduksi makna (yang merupakan entitas kultural) atas artefak teknologis keseharian.
Dari sudut pandang lain, ini berarti bahwa budaya pasti melibatkan teknologi di dalamnya karena nilai-nilai tidak sampai kepada manusia seperti jatuh dari langit begitu saja, tapi hadir, anara lain, melalui berbagai artefak yang digunakan oleh manusia dalam kehidupannya sehari-hari.
Dalam pandangan ini, tepatlah apa yang dikatakan (Barker, 2004), bahwa kebudyaan terkait dengan pertanyaan tentang makna sosial yang dimiliki bersama, yaitu berbagai cara kita memahami dunia ini.
Namun, makan tidak semata-mata mengawang di luar sana; melainkan, mereka dibangun melalui tanda.
Dengan kata lain, ada materialisasi aspek-aspek mental-konseptual ke dalam, atau melalui medium, objek-objek artefaktual.
Premis sosiologis Schroeder bahwa teknologi bersifat kultural ketika digunakan dalam kehidupan keseharian tidak ubahnya premis filosofis dari Don Ihde bahwa teknologi itu tertanam (embedded) dalam budaya karena teknologi merupakan hasil kreasi manusia.
Berikut contoh-contoh dari Ihde dikutip dari (Lim, 2008): Ia mencontohkan cara pandang Barat terhadap teknologi. Budaya Barat cenderung menggunakan teknologi sebagai kekuasaan.
Karena itu, teknologi dikonsepsikan sebagai cara untuk memanipulasi dan mengeksploitasi dunia sebagai persediaan. Misalnya, penggunaan mesiu yang berbeda-beda di negara-negara Barat dan di Cina.
Awalnya, mesiu ditemukan di Cina dan digunakan sebagai hiburan dalam acara perayaan, seperti pesta kembang api. Namun di Barat, mesiu digunakan dalam perang untuk menguasai dan menaklukkan negara lain.
Contoh tersebut menunjukkan tertanamnya teknologi dalam budaya tertentu. Teknologi yang sama dapat digunakan dengan cara yang berbeda dan untuk tujuan yang berbeda di dalam budaya yang juga berbeda.
Demikianlah, penggunaan alat selalu berada dalam praksis budaya tertentu. Alat teknologi selalu dilibatkan sesuai konteks kegunaannya dalam lingkungan sekitarnya.
Contoh lain adalah tentang alih teknologi. Ketika suatu alat dipindahkan dari suatu budaya ke budaya yang lain.
Yang dipindahkan bukan hanya alat itu, tapi juga hubungan budaya dan nilai-nilai yang ada. proses alih teknologi selalui disertai perpindahan nilai.
Karena itu, dalam suatu budaya yang menerima teknologi baru akan terjadi ketergantungan pada budaya yang masuk karena teknologi baru belum dapat diciptakan oleh budaya penerima.
Pihak penerima teknologi baru terpaksa bergantung pada pihak yang membuat teknologi tersebut.
Kemudian, secara perlahan-lahan terjadi proses penyesuaian sehingga nilai dan penggunaan alat yang dipindahkan tadi berubah menurut konteks budaya yang menerimanya.
Pada saat itulah terjadi transformasi nilai-nilai. Demikianlah, teknologi tertanam secara berbeda dalam budaya yang berbeda pua.
Dua contoh tersebut di atas menunjukkan bahwa peran teknologi tergantung pada konteks penggunaannya dalam budaya yang berbeda.
Kertetanaman teknologi dalam budaya menunjukkan bahwa suatu alat teknologi yang sama dalam konteks budaya yang lain bisa menjadi alat teknologi yang berbeda karena penggunaannya berubah mengikuti budaya yang menerapkannya.
Setelah teknologi diterapkan dalam budaya yang menerimanya, konteks penggunaannya menjadi stabil, yakni menjadi struktur teknologi-budaya.
Ini dinamai Ihde sebagai multistabilitas teknologi, di mana Ihde mencontohan navigasi laut ala barat yang menggunakan peralatan navigasi seperti kompas atau alat navigasi yang lebih canggih seperti radar.
Bandingkan dengan pelaut asli Polynesia di Samudera Pasifik yang hanya menggunakan perahu biasa (Syahrie, 2012).
Pelaut asli Polyniesia dipandu hanya oleh tubuhnya ketika mencari arah, sambil memperhatikan arus laut dan gumpalan awan di langit.
Keduanya merupakan struktur budaya yang stabil. Setelah menemukan multistabilitas, manusia berada dalam posisi yang dapat mengubah multistabilitas itu sendiri.
Pertanyaannya, jika terdapat dua sistem navigasi yang menggunakan alat (Barat) dan sistem yang tidak menggunakan alat selain tubuh pelaut sendiri (Polynesia), mengapa tidak digabungkan saja penggunaan kedua sistem navigasi tersebut? Dengan panduan peta radar dan sekaligus posisi tubuh, pelaut mungkin dapat mencari posisi lebih gampang.
Bertolak dari perumpamaan ini, menurut Ihde, dapat diasumsikan bahwa bentuk-bentuk budaya stabil yang berbeda dapat digabungkan dan dimanfaatkan bersama.
Dunia kehidupan manusia dipenuhi dengan kultur-kultur yang beraneka ragam. Tiap-tiap budaya bersifat stabil dan dapat hadir secara bersamaan.
Contoh-contoh tentang ketertanaman teknologi dalam budaya tersebut di atas tidak berarti bahwa teknologi hanya bergantung pada konteks penggunaannya dalam budaya yang berbeda, karena ini berarti menyetujui, sedikit ataupun banyak, klaim pemikiran determinisme budaya. Ihde juga mempertimbangkan arah sebaliknya dari relasi teknologi-budaya ini.
Teknologi tidaklah netral, tapi memiliki kecenderungan tertentu untuk mengarahkan, dan dengan demikian teknologi tidak bebas nilai. Fenomena ini disebut Ihde dengan istilah latent telic.
Dalam banyak kasus, latent telic alat menghasilkan gaya tertentu tergantung pada penggunaan alat tertentu (Lim, 2008).
Namun, penggunaan alat tidak menyadari kecenderungan ke arah tertentu yang dimungkinkan oleh alat. Konsep latent telic ini tidak berarti membenarkan pandangan determinisme teknologi, melainkan bahwa teknologi memiliki kecenderungan ke arah tertentu.
Dalam kecenderungan latent telic alat, dimensi fungsi alat mempengaruhi pengalaman dan cara bagaimana manusia memaknai penggunaan alat.
Dimensi alat mampu menggiring pengalaman manusia pada arah tertentu, seperti perbedaan pengalaman menulis dan hasil tulisan yang berbeda akibat penggunaan pulpen dan komputer, perbedaan intensionalitas dalam penggunaan perekam suara dan telinga, dan lahirnya minat meneliti dalam sains karena penggunaan teknologi teleskop dan mikroskop (Lim, 2008).
Uraian mengenai ketertanaman teknologi dalam budaya tersebut di atas menegaskan bahwa nilai atau gagasan itu tertanam di dalam artefak. Jadi, membicarakan budaya pasti melibatkan teknologi.
Sebaliknya, membicarakan teknologi yang sudah terartikulasikan dalam kehidupan sehari-hari pasti juga melibatkan budaya.
Budaya sebagai suatu sistem interpretatif dan simbolik sangat erat kaitannya dengan benda-benda artefaktual yang merupakan wujud terknologi karena nilai-nilai atau dimensi simbolik dalam kehidupan ini tidak berada dalam ruang hampa.
Eksistensinya senantiasa memerlukan medium teknologis (Syahrie, 2012). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa budaya itu tertanam dalam teknologi.
Sebaliknya, seperti tesis Ihde, teknologi juga tertanam dalam budaya. Kesimpulan akhirnya ialah teknologi dan budaya itu tidak terpisahkan. (*)
*Pengelola Arsip Prosa Madura
Editor : Amin Bashiri