Proletar; Menemukan Kembali Manusia di Belantara Kebinatangan

Amin Bashiri • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 12:12 WIB
Hidayat Raharja
Hidayat Raharja

Oleh Hidayat Raharja*


Sorot lampu merkuri menerangi tiga pasang patung karapan sapi, lalu-lalang kendaran bermotor, dan odong-odong. Suara dentam music Dj remix menambah bising jalan sebelah utara Alun-Alun Trunojoyo.

 Malam bercahaya dan di trotoar sisi selatan patung karapan sapi seorang laki-laki dengan pakaian celana gelap, wajahnya ber-makeup tebal layaknya badut, buntalan kain di punggung dan tangan kanan memegang payung warna merah.

Rakitan aneka jenis makanan ringan dalam kemasan dijadikan rompi membungkus tubuh. Sesekali ia menaik-turunkan payung berjalan mondar-mandir di hadapan orang-orang yang duduk di kursi taman.

Di dekat patung karapan sapi, Funky Zubair Affandy melakukan petunjukan monolog dengan judul Proletar pada Rabu (30 September) pukul 19.30–20.30.

Pertunjukan yang cukup unik karena ia melakukannya di antara orang lalu-lalang dan pengunjung taman yang duduk di kursi taman. Ia diam sesaat tanpa gerakan sedikit pun. 

Membungkuk memberi hormat dan kembali memutar tubuh dan berjalan ke arah timur. Berhenti sejenak di dekat tong sampah, memungut sampah yang berserakan di atas trotoar, memasukkan ke dalam tong sampah. 

Setengah berlari ia menyeret tong sampah ke arah barat, duduk di atasnya sehingga tubuhnya masuk ke dalam tong, lalu berdiri dan menjunjung wadah sampah tersebut dibawa berlari, diletakkan kembali di atas trotoar. 

Ia menggigit pegangan tong sampah, diseret kembali ke arah timur tepat di depan pintu masuk alun-alun.

Sesekali ia mendekati pengunjung, mengajak berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Ada pengunjung yang menanggapi, menerima pemberiannya sebungkus makanan ringan yang menempel di tubuhnya. Ada juga pengunjung yang segera berlalu bersama keluarga meninggalkan area taman.

Ia seperti resah berlari dan kadang melambat di sisi patung karapan sapi. Kadang memandang dengan tatapan tajam ke arah patung, lalu berbalik arah menatap keramaian di hadapannya. 

Ia tak perduli dengan kebisingan, pun orang-orang melintas dan sekadar melirik, lalu membuang pandang meneruskan perjalanannya. 

Pada bagian akhir, ia menyerahkan sebungkus makanan kemasan kepada anak kecil yang lewat di hadapannya. Anak itu mendekat menerimanya dan tertawa riang.

 Ia kembali ke area patung mendekati parkir mobil, berjongkok sambil mengamati kendaraan dan orang-orang lalu-lalang di hadapannya.

Sesaat kemudian, ia berdiri berbalik badan membungkuk ke arah penonton yang duduk di kusi taman, menandakan pertunjukannya selesai.

Funky Zubair Affandy, lelaki itu tengah memainkan monolog berjudul Proletar. Ia menjadikan area taman patung sapi karapan di Alun-Alun Trunojoyo sebagai panggung pertunjukannya, bising suara musik odong-odong, dan kendaraan sebagai iringan musik dalam pementasan.

Tak ada sorot lampu, ia memanfaatkan pancaran cahaya lampu taman sebagai pencahayaan. 

Patung karapan sapi, taman, dan keramaian di sekitar Alun-Alun Trunojoyo merupakan tiga komponen yang membangun orkestrasi terhadap pertunjukan Zubair.

Dialog bisu antara Zubair dengan tiga pasang patung sapi karapan mengenai keresahan-keresahannya terhadap dunia teater dan kehidupan di Sampang. 

Ia getir, dunia teater dengan segala keterbatasannya dirasakan mengungkung kreativitas pelaku teater di Sampang. Ia merasa tidak memiliki gedung dan fasilitas yang representatif untuk sebuah pertunjukan teater. 

Maka ia melepas panggung konvensional dengan menjadikan Alun-Alun Trunojoyo sebagai panggungnya. Kegelisahannya ditumpahkan di patung karapan sapi itu. 

Saya seperti menemukan dialog bisu antara Zubair dengan patung sapi karapan yang tengah berebut untuk menuju garis finis yang tak pernah dicapainya.

Sama halnya dengan kegelisahan dalam diri Zubair (dan teater) tak menemukan tumpuan garis akhir. Gerakan tubuh Zubair kadang terasa dinamik dan kadang terasa kaku mematung tanpa gerak. 

Dialog kegetirannya disampaikan dalam menghadapi realitas kehidupan ketika para pejabat negeri ini sudah memainkan peran dalaam teater kehidupan dengan bahasa yang terasa vulgar dan sarkas. 

Ia tak lagi membutuhkan bahasa verbal. Tubuhnya menjadi bahasa gerak dan berhasil menunjukkan bagaimana memanfaatkan ruang dan keterbatasan sebagai panggung, memindahkan pentas teater tengah kehidupan nyata. Bagaimana ia perankan Proletar yang hanya memiliki tubuh untuk menghidupi dirinya (teater).

Ia sebagai subjek yang memberikan harapan-harapan baru terhadap hidupnya dengan meyakinkan bahwa dalam segala keterbatasan, teater masih hidup. Ia tengah menggambarkan kegelisahan ”seni” dan kehidupan di daerah Sampang yang terasa ruangnya semakin menyempit dengan berbagai aturan dan ketentuan yang selalu dibenturkan dengan hukum agama.

Dalam teater, aktor memainkan peran orang lain sehingga ia bisa belajar memahami orang lain dalam dirinya. Apakah ia berperan sebagai orang miskin atau orang kaya bukan menjadi identitas dalam kehidupan nyata, namun peran yang hanya dimainkan di atas panggung.

Sementara para pejabat negeri ini berhasil sebagai aktor memainkan peran dalam sandiwara di atas panggung kehidupan yang nyata. 

Jabatan mereka jadikan alat untuk mengumpulkan kekayaan dengan melakuakn korupsi untuk menumpuk kekayaan pribadi di tengah masyarakat kecil banting tulang mempertahankan kehidupannya.

Dalam Proletar, ia meyakinkan diri bahwa keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki harus diperjuangkan untuk bisa mengubah hidupnya.

Perlawanan yang tidak cukup dengan berteriak, tetapi dengan laku menyadarkan orang lain untuk bergerak atau berubah. Payung yang digunakan dalam petunjukan laksana pelindung terhadap malam, terhadap cahaya. 

Bahwa ia butuh untuk melindungi privasinya sebagai harga diri yang harus dihormati oleh orang lain. 

Pada tubuhnya bergelantung simbol kemiskinan, barang murahan sekelas ciki kemasan tak berharga. Lambang orang kecil yang sering kali jadi korban kebijakan dan tidak pernah dipedulikan.

Ia memberikannya pada pengunjung yang ditemuinya untuk merasakan bagaimana merasakan jajanan kemasan murahan (diumpakan orang rendahan/miskin). 

Manis terasa di lidah, namun menanggung banyak zat kimia pengawet dan perasa yang secara sistemik akan menjadi tumpukan zat berbahaya bagi tubuh. 

Begitulah keputusan-keputusan instan diberikan hanya sebagai pemanis terhadap pahit persoalan yang tengah merebak, namun belum menyelesaikan akar persoalan.

Pemberian bantuan finasial tidak akan mengubah kondisi penerima bantuan karena salamanya akan bergantung pada bantuan yang diberikan.

Penanganan instan tanpa menyentuh persoalan mendasar hanya akan menjadi ancaman masa depan yang meresahkan.

Bahwa kemiskinan tidak cukup dengan bantuan sosial yang tidak seberapa, namun yang paling penting dibuka akses lapangan kerja secara terbuka sehingga bisa mengurangi jumlah pengangguran yang semakin meningkat setiap waktu. 

Tetapi sebagai pertunjukan yang merespons terhadap situasi lingkungan yang melatari pertunjukan, menurut Muhammad Iqbal Fatoni (Bung Fafan), pertunjukan Zubair seperti sebuah pertunjukan yang manyimpan banyak teka-teki terhadap apa yang ingin disampaikan.

Patung karapan sapi sebagai bagian panggung tak selaras dengan pertunjukan Zubair. Beban persoalan pada lingkungan alun-alun dan patung karapan hanya sebagai latar yang terpisah dari pertunjukan, belum menjadi bagian organik dalam petunjukan. 

Pada hal Alun-Alun Trunojoyo, hanya polesan dan lipstik pada bagian wajah, sementara tubuh banyak luka dan bopeng yang perlu dibuka dan disembuhkan. 

Zubair belum menyentuh persoalan yang krusial mengenai peradaban dan kebudyaaan yang tumbuh dan berkembang. Bagaimna kekerasan demi kekerasan (fisik, mental, dan kebijakan) masih terus berlangsung dalam kehidupan sekitar, bahkan sangat mengkhawatirkan.

Beberapa kasus kekerasan seksual, pelarangan pertunjukan konser musik, kerap mendapatkan hambatan dalam proses perizinan.

Teater memang tidak bisa menyelesaikan berbagai akar persoalan yang mencuat di sekitar.

Namun, teater bisa mengambil peran sebagai ”perlawanan” yang mengingatkan penguasa sebagai pembuat aturan dan masyarakat sebagai subyek dalam kehidupan yang menanggung persoalan. 

Menurut Augusto, Boal teater bukan sekadar tontonan hiburan pasif, melainkan berfungsi pula sebagai alat perlawanan dan pendidikan kritis.

Fungsi pendidikan kritis untuk bisa menilai dan menelaah berbagai isu dan permasalahan politik, ekonomi, dan sosial dalam kehidupan nyata sebagai mesin yang menggerakkan pemikiran kaum muda sehingga mampu memberikan sikap kritis maupun berbabagi alternatif solusi yang bisa ditawarkan terhadap penyelesaian persoalan-persoalan secara realistik. 

Barangkali karena keterbatasan waktu untuk riset atau karena sama sekali tidak melakukan riset lapangan, Zubair belum mampu memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai panggung untuk menjadi bagian utuh dalam pertunjukannya. Teater sebagai pendidikan kritis tidak bisa berangkat dari ruang kosong.

Ia bekerja dari realitas yang kemudian diangkat kembali dalam realitas pertunjukan sebagai dunia ideal yang harus dihidupkan. Ia bisa menjadi ruang kesadaran bagi penonton (penguasa dan rakyat) dalam menjalani kehidupan.

Ruang kesadaran semacam ini yang perlu terus dibangun di saat ruang kehidupan sebagai panggung teater telah dikuasai oleh para badut kekuasaan yang tak lagi memiliki empati terhadap rakyat yang dipimpinnya. Mereka yang rakus dan haus kekuasaan dengan perilakunya yang sangat menjijikkan. 

Kita perlu buka kehidupan sebagai panggung teater yang menjadikan hidup menjadi berharga dengan memanusiakan manusia sebagai subjek yang bisa menentukan dirinya dan melawan terhadap ketidakbecusan dalam panggung kehidupannya.

Menemukan kembali keaktorannya dalam kehidupan sebagai manusia di antara nafsu kebintangan di belantara kepentingan yang sudah melampaui batas kepantasan. (*)

*)Penulis Tinggal di Sampang

Editor : Amin Bashiri
pertunjukan opini