Mengapa Korea, Bukan Mandarin?, Rasionalitas Strategis bagi MTs/MA Kyai Mudrikah Kembang Kuning

Amin Bashiri • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 18:00 WIB
Achmad Muhlis, Pengasuh PP Kyai Mudrikah Kembang Kuning
Achmad Muhlis, Pengasuh PP Kyai Mudrikah Kembang Kuning

Oleh: Achmad Muhlis (Pengasuh PP Kyai Mudrikah Kembang Kuning)


Pilihan bahasa Korea di MTs/MA Kyai Mudrikah Kembang Kuning bukan keputusan yang didasarkan semata-mata pada popularitas budaya Korea, melainkan bagian dari desain pendidikan yang berorientasi pada masa depan.

Jika bahasa Mandarin memiliki keunggulan sebagai bahasa dengan jumlah penutur yang sangat besar dan memiliki relevansi ekonomi global yang kuat, maka bahasa Korea dipilih karena menawarkan akses langsung kepada salah satu ekosistem pendidikan, teknologi, inovasi, dan industri kreatif yang berkembang sangat cepat di Asia.

Korea Selatan telah menunjukkan bagaimana pendidikan dapat menjadi mesin transformasi nasional: membangun sumber daya manusia berpendidikan tinggi, memperkuat STEM, mengembangkan riset, dan mengintegrasikan teknologi ke dalam kehidupan pendidikan.

OECD mencatat bahwa sekitar 70% penduduk Korea usia 25–34 tahun memiliki pendidikan tersier, salah satu proporsi tertinggi di negara-negara OECD, sementara sekitar 30% lulusan tersier berada dalam bidang sains dan teknologi.

Karena itu, Mandarin dan Korea tidak perlu dipertentangkan sebagai bahasa yang “baik” dan “tidak baik”.

Keduanya memiliki nilai strategis yang berbeda. Mandarin lebih kuat sebagai instrumen konektivitas ekonomi, perdagangan, dan komunikasi dengan salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia.

Sementara itu, Korea dipilih oleh MTs/MA Kyai Mudrikah Kembang Kuning karena memiliki kombinasi yang sangat menarik antara pendidikan, teknologi digital, riset, STEM, industri kreatif, budaya inovasi, dan transformasi masyarakat.

Korea bahkan dikenal OECD sebagai salah satu negara dengan input inovasi yang sangat tinggi; belanja riset dan pengembangannya mencapai 4,93% PDB pada 2021 dan Korea memiliki basis sumber daya manusia STEM yang kuat.

Dengan demikian, bahasa Korea diposisikan bukan hanya sebagai bahasa komunikasi, tetapi sebagai bahasa akses menuju ekosistem pengetahuan dan inovasi.

Pilihan ini juga memiliki relevansi Pendidikan dan pembelajaran yang kuat bagi peserta didik MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning.

Anak-anak hari ini tidak cukup dipersiapkan hanya untuk menjadi pengguna teknologi; mereka harus dipersiapkan menjadi pencipta, peneliti, inovator, dan pembelajar global.

Korea memberikan contoh konkret bagaimana pendidikan, teknologi, riset, dan industri dapat dibangun secara terintegrasi.

OECD mencatat bahwa sistem pendidikan dan inovasi Korea memiliki kekuatan besar dalam pengembangan sumber daya manusia, terutama pada bidang sains dan teknologi, sementara pendidikan tinggi Korea juga terus mengalami peningkatan mobilitas internasional.

Karena itu, ketika santri belajar bahasa Korea, yang ingin dibangun bukan sekadar kemampuan membaca Hangul atau melakukan percakapan sederhana, tetapi curiosity terhadap bagaimana bangsa lain belajar, berinovasi, bekerja, melakukan riset, dan membangun masa depan.

Di sinilah letak filosofi One Week Three Languages salah satu pilar yang di kembangkan MTs/MA Kyai Mudrikah Kembang Kuning, sementara bahasa Arab untuk memperdalam akar keislaman, bahasa Inggris untuk membuka cakrawala global, dan bahasa Korea untuk membaca salah satu model transformasi pendidikan dan inovasi Asia kontemporer.

Santri tidak diarahkan menjadi Korea, tetapi belajar dari Korea. Mereka tidak diminta meninggalkan tradisi pesantren, tetapi justru memperkuat kemampuan untuk berdialog dengan peradaban lain.

Pendidikan pesantren yang kuat bukan pendidikan yang menutup diri dari dunia, melainkan pendidikan yang memiliki akar kokoh sekaligus mampu membaca arah angin perubahan.

Dalam perspektif ini, bahasa menjadi instrumen cross-cultural learning: santri belajar memahami perbedaan, mengambil yang baik, mengkritisi yang tidak sesuai, kemudian mengolahnya menjadi pengetahuan yang relevan dengan nilai Islam, budaya Indonesia, dan kebutuhan masyarakat Madura.

Dengan demikian, mengapa Korea dan bukan Mandarin? Jawabannya bukan karena Mandarin tidak penting, tetapi karena MTs/MA Kyai Mudrikah Kembang Kuning sedang memilih sebuah educational positioning, yakni menyiapkan santri agar memiliki kemampuan bahasa sekaligus perspektif tentang pendidikan masa depan, teknologi, inovasi, STEM, kreativitas, dan budaya belajar global.

Korea menjadi salah satu laboratorium peradaban yang menarik untuk dipelajari karena keberhasilannya mengubah investasi pada pendidikan dan inovasi menjadi kekuatan nasional.

Maka, One Week Three Languages bukan sekadar program multilingual, melainkan strategi membangun generasi pesantren yang berakar pada Islam, berwawasan global, melek teknologi, terbuka terhadap peradaban, dan memiliki keberanian untuk belajar dari bangsa-bangsa yang berhasil membangun masa depannya.

Editor : Amin Bashiri
bahasa korea PP Kyai Mudrikah Kembang Kuning