Oleh: Yanto Suhaini
Akhir-akhir ini, disadari atau tidak kita menyaksikan fenomena di media sosial yang semakin sering terjadi, guru berjoge memakai seragam resmi layaknya artis panggung, kadang berjoget bersama rekannya dan juga ada guru dan murid membuat konten bersama.
Mungkin saja tujuannya baik, misalnya untuk promosi sekolah, ada juga yang mungkin sekadar mengikuti tren, bahkan tidak sedikit yang hanya mengejar viral. Sekilas semua ini tampak seperti bentuk kedekatan dan kreativitas.
Namun jika diamati lebih dalam, fenomena ini menyimpan persoalan serius yang bisa berdampak panjang bagi pendidikan di masa depan, entah itu kapan.
Tetapi jika dibiarkan, sekolah perlahan-lahan akan berubah menjadi ruang hiburan. Ruang belajar yang semestinya sakral dan penuh nilai, perlahan mulai bertransformasi menjadi “studio konten”.
Guru dan siswa tidak lagi bertemu dalam relasi pendidikan yang bermakna, tetapi dalam relasi sosial yang kabur batasnya.
Potret Kedekatan Guru dan Siswa di Sosmed
Kedekatan guru dengan murid yang dahulu dimaknai sebagai bimbingan, keteladanan, dan pembinaan karakter, kini mulai bergeser menjadi kedekatan “teman sebaya” yang ditampilkan untuk kebutuhan publik. Hal itu kita bisa melihatnya dari maraknya video guru dan siswa berjoget bersama di lingkungan sekolah.
Bahkan, beberapa acara sekolah yang dahulu diisi dengan kegiatan edukatif, seni, atau penampilan yang membangun nilai, kini mulai dipenuhi oleh acara joget-joget massal dan saweran, dan yang sering terjadi pada saat acara akhir tahun atau acara perayaan tertentu.
Alhasil, ketika sekolah ikut-ikutan menjadi panggung hiburan, maka perlahan nilai pendidikan menjadi nomor dua. Ketika nilai pendidikan dinomorduakan, maka nomor satunya adalah hal lain yang tidak bersubstansi pendidikan.
Pokok permasalahannya memang bukan pada “joget” dan “tarian” semata. Ini soal budaya pendidikan di masa depan untuk generasi, yakni pergeseran nilai pendidikan itu sendiri. Ketika guru ikut menormalisasi budaya hiburan instan, maka sekolah pelan-pelan kehilangan wibawa.
Guru yang seharusnya menjadi figur teladan, pembimbing moral, dan penjaga disiplin, justru tampil sebagai bagian dari tontonan. Guru boleh adaptif dan kreatif mengikuti zaman. Namun adaptif tidak berarti larut tanpa kendali. Kreatif tidak berarti kehilangan batas.
Konten boleh dibuat, tetapi harus berangkat dari nilai pendidikan, seperti literasi, prestasi, karya, pembinaan karakter, dan kegiatan positif yang mendidik.
Potret Kelam Kualitas Siswa di Sosmed
Pada sisi yang lain, terdapat konten yang secara tidak sadar justru mempermalukan kualitas siswa.
Misalnya, video eksperimen yang menampilkan siswa SMA yang tidak bisa perkalian sederhana, tidak tahu jumlah bulan dalam masa 2 (dua) tahun, tidak memahami pelajaran dasar, tidak tahu rukun islam dan rukun iman, tidak tahu bacaan qunut, dan lain-lain.
Konten semacam ini mungkin mengundang tawa dan engagement, tetapi di balik itu ada masalah besar, yakni anak-anak sedang dijadikan bahan tontonan.
Terlepas apakah setingan atau tidak, kita melihat bahwa konten sering diangkat dari realitas yang ditemukan para creator sosial media.
Kalaupun konten tesebut adalah setingan secara tidak langsung hal tersebut telah menggeser marwah pendidikan dan guru.
Ironisnya, konten-konten tersebut sering diproduksi atau minimal dibiarkan oleh lingkungan sekolah sendiri.
Ketidaktahuan siswa bukan lagi dipandang sebagai warning masalah pendidikan yang harus dibenahi, melainkan dijadikan “materi konten” untuk menaikkan jumlah tayangan.
Pada titik ini, sekolah seolah sedang mengumumkan kelemahannya sendiri kepada publik, dan siswa menjadi korban yang dipertontonkan.
Fenomena ini menyimpan bahaya yang jauh lebih besar bagi generasi di masa depan, berupa normalisasi kebodohan.
Ketika ketidakmampuan akademik dipertontonkan terus-menerus sebagai candaan, maka pelan-pelan masyarakat terbiasa melihat rendahnya kualitas pendidikan sebagai hal biasa.
Anak-anak pun kemungkinan akan belajar satu pesan yang salah, yakni tidak perlu serius belajar, karena tidak bisa pun bisa viral, ketiak viral bisa FYP dan menapatkan cuan dari konten.
Inilah tragedi berbahaya pendidikan era digital, ketika nilai ilmu kalah oleh nilai konten.
Jika budaya ini dibiarkan, maka yang rusak bukan hanya citra sekolah, tetapi juga pola pikir generasi, generasi yang terbiasa ditertawakan, lalu menganggap dirinya cukup dengan menjadi tontonan, bukan menjadi insan yang tumbuh dan berkualitas.
Jika fenomena ini dibiarkan, maka suatu hari kita akan menyadari bahwa kita telah kehilangan sesuatu yang sangat penting yaitu kehormatan pendidikan itu sendiri.
Dan ketika marwah guru runtuh, maka pendidikan tidak lagi memiliki kekuatan untuk membentuk masa depan generasi.
Jadi, sekolah perlu mengingat kembali bahwa hakikat sekolah adalah menjadi “rumah megah” yang menumbuhkan manusia seutuhnya, bukan tempat menumbuhkan sensasi. Wallahu a’lam.
*) Dosen Stidkis Al-Mardliyyah Pamekasan
Editor : Amin Bashiri