Oleh Ismail*
MADURA selama ini dikenal sebagai wilayah yang kuat dengan tradisi keislaman, jaringan pesantren yang luas, dan ikatan kekeluargaan yang erat. Namun, di balik kekuatan sosial dan religius tersebut, terdapat tantangan serius yang tidak boleh diabaikan: meningkatnya ancaman peredaran dan penyalahgunaan narkoba.
Berdasarkan data yang dipublikasikan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan kepolisian melalui berbagai pemberitaan media, hampir seluruh kabupaten di Madura menghadapi persoalan yang sama. Di Bangkalan, tingkat peredaran narkoba dinilai sangat mengkhawatirkan hingga BNN membangun Laboratorium Narkotika Nasional di Kecamatan Labang sebagai salah satu pusat penguatan penegakan hukum. Kecamatan Socah dan Labang berulang kali dipetakan sebagai wilayah perhatian, sementara kepolisian pernah mengungkap 129 kasus dalam kurun satu tahun.
Di Kabupaten Sampang, kawasan pesisir selatan seperti Sokobanah dan Robatal berkali-kali diidentifikasi sebagai jalur transit jaringan narkoba. Dalam beberapa operasi besar, aparat berhasil menyita belasan kilogram sabu dan ganja dari sindikat yang beroperasi lintas daerah. Sepanjang satu tahun, Polres Sampang juga menangani sekitar 147 kasus narkoba.
Situasi serupa terlihat di Pamekasan. Selain menjadi bagian dari operasi besar BNN Provinsi Jawa Timur yang memusnahkan hampir tujuh kilogram sabu dan sepuluh kilogram ganja hasil pengungkapan berbagai perkara, Polres Pamekasan juga berhasil mengungkap 91 kasus dengan 117 tersangka dalam satu tahun. Di Sumenep, BNNK secara rutin menangani berbagai laporan kasus narkotika, mengungkap peredaran sabu lebih dari dua kilogram, serta menjalankan program rehabilitasi bagi para penyalahguna.
Data-data tersebut bukan sekadar angka statistik. Di balik setiap kasus terdapat keluarga yang kehilangan harapan, orang tua yang menyaksikan anaknya terjerumus, dan masa depan generasi muda yang dipertaruhkan. Karena itu, meningkatnya kasus narkoba tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan kriminalitas. Fenomena ini merupakan ujian besar bagi seluruh ekosistem pendidikan Madura.
Pendidikan Bukan Sekadar Mengajar
Sosiolog Prancis Émile Durkheim menegaskan bahwa pendidikan pada hakikatnya merupakan proses pembentukan manusia bermoral (moral being). Sekolah tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga mewariskan nilai, norma, dan solidaritas sosial yang memungkinkan masyarakat tetap bertahan sebagai sebuah peradaban.
Pandangan Durkheim mengingatkan kita bahwa meningkatnya penyalahgunaan narkoba bukan sekadar menunjukkan adanya pelanggaran hukum, tetapi juga melemahnya sebagian mekanisme pembentukan moral dalam kehidupan sosial. Ketika solidaritas sosial melemah dan nilai-nilai bersama tidak lagi diinternalisasikan secara kuat, ruang bagi berbagai bentuk penyimpangan akan semakin terbuka.
Namun, pendidikan hari ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu. Remaja hidup di tengah derasnya arus informasi digital, media sosial, budaya instan, dan tekanan kelompok sebaya yang sering kali lebih berpengaruh daripada nasihat guru maupun orang tua.
Di sinilah teori Social Learning dari Albert Bandura menjadi relevan. Bandura menjelaskan bahwa manusia belajar melalui proses mengamati dan meniru lingkungan. Seorang remaja tidak hanya belajar dari buku pelajaran, tetapi juga dari teman, media sosial, figur publik, bahkan budaya yang berkembang di sekitarnya. Jika lingkungan lebih banyak menyajikan contoh perilaku destruktif daripada teladan yang baik, maka perilaku menyimpang akan lebih mudah dipelajari.
Artinya, perang melawan narkoba tidak mungkin dimenangkan hanya melalui ruang kelas.
Ekosistem Pendidikan yang Sedang Diuji
Teori Ecological Systems dari Urie Bronfenbrenner memberikan perspektif yang lebih komprehensif. Menurutnya, perkembangan seorang anak dipengaruhi oleh berbagai sistem yang saling berinteraksi: keluarga, sekolah, teman sebaya, masyarakat, media, hingga kebijakan negara.
Teori ini menjelaskan mengapa sekolah tidak boleh menjadi satu-satunya pihak yang dipersalahkan ketika seorang remaja terjerumus narkoba. Pendidikan sejatinya berlangsung di banyak ruang. Anak belajar di rumah, di lingkungan bermain, di masjid, di pesantren, di media sosial, bahkan dari cara masyarakat menyelesaikan persoalan sehari-hari.
Dalam konteks Madura, perspektif Bronfenbrenner menemukan relevansinya. Sejak lama masyarakat Madura mengenal pendidikan berbasis keluarga, langgar, masjid, pesantren, dan komunitas. Nilai-nilai seperti hormat kepada orang tua, kepatuhan kepada guru, gotong royong, dan solidaritas sosial telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Konsep ini diperkuat oleh teori modal sosial dari Robert Putnam. Menurut Putnam, masyarakat yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi, jaringan sosial yang kuat, dan budaya saling menjaga akan lebih mampu menghadapi berbagai persoalan sosial. Modal sosial itulah yang selama ini menjadi kekuatan Madura. Persoalannya, modernisasi, urbanisasi, dan perubahan pola interaksi mulai mengikis sebagian modal sosial tersebut.
Perspektif Pendidikan Islam
Dalam tradisi Islam, persoalan narkoba bukan hanya persoalan kesehatan ataupun hukum. Ia berkaitan langsung dengan tujuan pendidikan. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang berakhlak mulia, mampu mengendalikan hawa nafsu, dan menggunakan ilmu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ilmu yang tidak melahirkan akhlak tidak akan menghadirkan kemaslahatan.
Pemikir pendidikan Islam kontemporer Syed Muhammad Naquib al-Attas bahkan menyebut krisis terbesar dunia pendidikan modern sebagai loss of adab, hilangnya adab. Ketika adab memudar, manusia kehilangan kemampuan menempatkan sesuatu secara benar. Pengetahuan berkembang, tetapi kebijaksanaan tidak selalu mengikutinya.
Dalam perspektif maqāṣid al-syarī'ah, Imam al-Shatibi menempatkan hifẓ al-'aql (menjaga akal) sebagai salah satu tujuan pokok syariat. Karena itu, setiap upaya melindungi generasi muda dari narkoba pada hakikatnya merupakan ikhtiar menjaga salah satu tujuan utama agama.
Lebih jauh lagi, Ibn Khaldun mengingatkan bahwa kemajuan sebuah peradaban sangat bergantung pada kualitas pendidikan dan karakter masyarakatnya. Peradaban tidak runtuh hanya karena lemahnya ekonomi atau teknologi, tetapi juga karena lunturnya nilai moral yang menopangnya.
Membangun Ekologi Ketahanan Moral
Karena itu, Madura membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar program penyuluhan antinarkoba. Yang dibutuhkan adalah pembangunan Ekologi Ketahanan Moral. Ekologi ketahanan moral adalah sistem pendidikan yang menempatkan keluarga, sekolah, pesantren, masyarakat, media, dan pemerintah sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan dalam membentuk karakter generasi muda.
Sekolah perlu memperkuat pendidikan karakter, literasi digital, dan layanan konseling yang responsif. Pesantren perlu terus menanamkan adab dan spiritualitas sebagai benteng moral. Orang tua harus menghadirkan rumah sebagai ruang dialog yang hangat, bukan sekadar tempat tinggal. Pemerintah perlu memperluas akses rehabilitasi sekaligus memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat agar remaja tidak mudah direkrut jaringan narkoba. Media pun memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan edukasi yang membangun kesadaran publik.
Pada akhirnya, polisi dapat menangkap pengedar. Pengadilan dapat menjatuhkan hukuman. BNN dapat memutus jaringan peredaran. Akan tetapi, tidak ada lembaga yang mampu membangun benteng paling kuat selain pendidikan.
Perang melawan narkoba pada akhirnya bukan hanya perang hukum. Ia adalah perang mempertahankan peradaban. Masa depan Madura tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi angka partisipasi sekolah atau seberapa banyak lulusan perguruan tinggi yang dihasilkan, tetapi oleh seberapa kuat seluruh ekosistem pendidikan mampu melahirkan generasi yang berilmu, beradab, berdaya tahan moral, dan berani mengatakan "tidak" terhadap narkoba.
Di tengah ancaman yang semakin nyata, inilah saatnya Madura memperkuat kembali jalinan keluarga, sekolah, pesantren, masyarakat, dan negara. Sebab, menyelamatkan generasi muda dari narkoba bukan sekadar menyelamatkan individu, melainkan menjaga masa depan peradaban Madura itu sendiri. (*
*)Dosen Pascasarjana IAI Al-Khairat Pamekasan
Editor : Amin Bashiri