Oleh :Ahmad Hasan Rusdi, S.Pd., M.M.*)
Bagi orang luar, datangnya bulan Rabiul Awal mungkin sekadar penanda hari besar keagamaan biasa. Namun, bagi masyarakat Madura, Mulud adalah panggung budaya terbesar sepanjang tahun.
Melebihi gegap gempita tahun baru atau bahkan Idul Fitri, momentum Maulid Nabi Muhammad SAW di Pulau Garam dirayakan secara kolosal selama sebulan penuh. Warga menggelar perayaan bergantian dari rumah ke rumah (muludhen).
Di sini, acara bukan lagi sebatas ritual membaca kitab Barzanji, melainkan sebuah acara kumpul warga yang menggerakkan perputaran uang luar biasa besar.
Saat muludhen berlangsung, para undangan dari berbagai latar belakang berkumpul tanpa ada sekat pembatas. Di sinilah letak indahnya; perbedaan status sosial seolah melebur begitu saja.
Si kaya dan si miskin duduk lesehan berdampingan di atas alas yang sama, bersama-sama melantunkan selawat dengan khusyuk, dan pulang menjinjing berkat dengan kualitas yang sama.
Fenomena persaudaraan yang tulus ini menjadi bukti betapa kuatnya ikatan sosial masyarakat Madura.
Pergeseran Gaya Hidup
Jika kita jeli mengamati perubahan gaya hidup masyarakat sejak adanya Jembatan Suramadu, potret isi “berkat” hari ini telah berubah drastis. Isian tradisional seperti buah srikaya lokal, rengginang lorjuk, atau kue kocor kini mulai tersisih karena dianggap kurang mentereng. Gengsi kelas menengah baru menuntut isi berkat yang beralih rupa menjadi barang pabrikan.
Jagat media sosial kita setiap tahunnya selalu dihebohkan oleh video perayaan muludhen yang membagikan baskom plastik ukuran raksasa, container box, panci presto, kipas angin, blender, hingga amplop berisi uang tunai pecahan seratus ribu rupiah.
Bagi orang luar, kemewahan ini mungkin terasa berlebihan. Namun bagi warga lokal, totalitas ini berakar dari prinsip hidup Abhantal Syahadat, Asapo’ Iman, di mana masyarakat Madura rela mengeluarkan tabungannya demi menghormati Nabi.
Daya jor-joran ini juga disokong oleh para perantau dan saudagar Madura yang sukses di kota besar. Mereka sengaja pulang kampung untuk membiayai muludhen mewah di rumah orang tua mereka sebagai wujud syukur.
Namun, dari kacamata ekonomi daerah, ada kejanggalan besar yang sedang terjadi di depan mata kita. Pertanyaannya sederhana: ke mana sebetulnya aliran uang belanja logistik maulidan yang bernilai miliaran rupiah tersebut?
Jika jujur melihat realitas di lapangan, sebagian besar barang modern yang dijadikan isi berkat mewah tersebut sama sekali tidak diproduksi di Madura. Kenyataan ini sejalan dengan tabiat belanja kelas menengah Madura yang belakangan lebih gemar menyeberang untuk kulakan di Pusat Grosir Surabaya (PGS) atau Pasar Atom.
Akses Suramadu yang sekarang gratis tanpa biaya tol membuat ongkos perjalanan ke Surabaya menjadi sangat murah. Akibatnya, arus modal warga Madura justru bocor dan mengalir deras untuk memakmurkan omzet pedagang di kota tetangga.
Kondisi inilah yang membuat uang di Madura terserap keluar. Efek domino dari perputaran uang yang masif selama bulan Mulud gagal dirasakan oleh masyarakat kelas bawah di tanah sendiri.
Pedagang sembako di pasar tradisional Bangkalan, perajin kue rumahan di Sampang, hingga peternak ayam lokal di Pamekasan dan Sumenep sering kali hanya menjadi penonton di tengah pesta perputaran uang yang diinisiasi oleh tanah kelahiran mereka sendiri.
Beban Sosial dan Gengsi
Tantangan kedua yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah risiko bergesernya nilai ibadah menjadi ajang kompetisi gengsi terselubung.
Biaya muludhen mewah ini sering kali disiapkan jauh-jauh hari lewat menabung mandiri atau skema arisan kelompok warga.
Hal ini pun tidak jarang melibatkan kontribusi dari sanak saudara, sebab ada beban moral tersendiri bagi keluarga besar untuk ikut menyumbang dana atau logistik demi menjaga harga diri bersama.
Standar kemewahan berkat yang jor-joran ini akhirnya melahirkan tekanan batin bagi warga kelompok bawah. Ada beban sosial yang tak tertulis: rasa takut dicap kurang memuliakan Nabi atau jatuh harga diri keluarga jika hanya mampu menyajikan berkat sekadarnya.
Di titik inilah kita perlu merenung jernih, agar ketulusan niat beribadah dalam merayakan Maulid tidak bergeser menjadi sekadar ajang pamer status sosial.
Muludhen dari rumah ke rumah adalah modal sosial tak ternilai yang menjadi identitas kebanggaan manusia Madura. Ia adalah pembuktian betapa tingginya rasa solidaritas di Pulau Garam. Namun, persoalan kebocoran modal ini tentu tidak bisa diselesaikan dengan aturan kaku atau larangan.
Membatasi kemewahan atau melarang warga belanja ke Surabaya adalah langkah yang tidak efektif karena berseberangan dengan hukum pasar bebas. Kuncinya bukan melarang pembeli, melainkan memperkuat daya saing para pedagang di tanah Madura sendiri.
Strategi Pasar Kompetitif
Hukum pasar itu sederhana: pembeli pasti mencari tempat belanja yang paling murah, lengkap, dan praktis. Momentum panen uang di bulan Maulid ini harus ditangkap secara cerdas oleh UMKM dan pedagang pasar tradisional di Madura. Caranya adalah dengan menciptakan strategi dagang yang menarik, agar warga kampung tidak perlu kulakan berkat ke Surabaya, sekaligus mempermudah para perantau untuk memesan dan mengirimkan berkat langsung dari pasar lokal ke rumah orang tua mereka.
Pertama, agen sembako atau distributor perabot lokal harus berani membuat produk paket (bundling) khusus edisi Maulidan—misalnya memaketkan minyak goreng, beras premium, dan detergen dalam satu kemasan menarik dengan potongan harga langsung yang mampu bersaing dengan grosir Surabaya.
Kedua, kelompok perajin kue rumahan atau distributor lokal harus menyediakan sistem pesan awal (pre-order) dengan layanan antar gratis menggunakan armada pikap langsung ke teras rumah tuan rumah. Syaratnya cukup dengan batas minimal pembelian tertentu untuk satu kali acara.
Ketiga, untuk menarik uang para perantau agar langsung mengalir ke Madura, UMKM lokal harus agresif membuka layanan pesanan jarak jauh berbasis daring.
Saudagar Madura yang masih berada di perantauan Jakarta atau Surabaya bisa memesan paket sembako atau perabot maulidan langsung dari pedagang di kabupaten asalnya melalui WhatsApp, lalu barang dikirim langsung ke rumah orang tua mereka di kampung.
Strategi jemput bola ini memastikan modal dari perantauan langsung menetap di Madura sejak transaksi pertama tanpa sempat mampir ke toko grosir luar pulau.
Melalui penyesuaian pasar yang kompetitif dan keterlibatan aktif jaringan UMKM ini, kebocoran modal ke luar daerah dapat dibendung secara alami tanpa harus mencederai tradisi.
Dengan demikian, perayaan akbar tahunan muludhen di Madura tidak hanya mendatangkan keberkahan secara spiritual, tetapi juga mampu menggerakkan roda perekonomian dan memakmurkan para pelaku usaha di tanah sendiri.
*) Penulis adalah Kepala UPTD SMPN 2 Blega
Editor : Amin Basiri