Oleh: Muhammad Tauhed Supratman *)
ADA kemerdekaan yang dirayakan dengan pekik, tetapi ada pula kemerdekaan yang justru menuntut kesunyian untuk berpikir. Puisi Taufik Ismail, “Jangan Teriak Merdeka, Malu Kita...”, bergerak di wilayah yang kedua.
Ia tidak mengajak pembaca larut dalam kegembiraan simbolik setiap kali kata merdeka diteriakkan.
Sebaliknya, ia menghadirkan pertanyaan yang lebih mengganggu: apakah sebuah bangsa benar-benar merdeka ketika ekonominya masih bergantung, rakyatnya masih miskin, kekayaan alamnya dikuasai pihak lain, korupsi menjadi kebiasaan, dan sebagian warganya harus mencari penghidupan di negeri orang?
Pertanyaan itu terasa semakin tajam karena Taufik tidak berbicara tentang kemerdekaan sebagai sebuah peristiwa yang telah selesai, melainkan sebagai cita-cita yang terus diuji oleh kenyataan.
Di antara pekik kemerdekaan dan kenyataan kehidupan rakyat, terdapat jarak yang harus direnungkan.
Karena itu, sebelum membaca lebih jauh kritik sosial dan kegelisahan kebangsaan yang terkandung di dalamnya, berikut puisi lengkap Taufik Ismail yang menjadi titik berangkat perenungan ini.
JANGAN TERIAK MERDEKA, MALU KITA ...
Negeri ini masih dicekik ribuan triliun hutang berbunga haram
Jika negeri ini telah mampu melunasi hutang itu...
Silahkan teriak merdeka !
Jika belum mampu, lebih baik diam dan berfikir
Malu kita ..
Banyak anak negeri yang hanya jadi babu di negeri orang
Mereka, seringkali disiksa dan dianiaya
Jika negeri ini belum mampu memulangkan mereka
Memberi pekerjaan layak dan mensejahterakan
Jangan teriak merdeka !
Lebih baik diam dan berfikir
Malu kita...
Negeri katulistiwa ini dihampari kekayaan alam yang luar biasa
Namun dikelola oleh orang lain
Rakyat hampir tak menikmatinya
Jika kekayaan alam ini belum bisa dikuasai negara
Jangan teriak merdeka !
Lebih baik diam dan berfikir
Malu kita
Kemiskinan dan pengangguran semakin meluas
Terasa berat untuk bisa hidup layak
Bahkan harga-harga terus merangkak naik
Ditambah pajak yang kian mencekik
Jika masih meluas kemiskinan
Jangan teriak merdeka !
Lebih baik diam dan berfikir
Malu kita
Anak negeri tengah terjerembab watak amoral
Narkoba meraja lela
Seks bebas liar menyasar siapa saja
Pornoaksi dan pornografi makin menggila
Jika anak bangsa masih amoral
Jangan teriak merdeka !
Lebih baik diam dan berfikir
Malu kita
Demokrasi korporasi mencengkran negeri ini
Keuangan yang maha kuasa
Korupsi menjadi budaya
Kolusi makin menganga
Kerugian uang rakyat tak terkira
Jika perilaku ini masih mewarnai bangsa
Jangan teriak merdeka !
Lebih baik diam dan berfikir
Malu kita
Luas negeri ini dipenuhi potensi sumber daya
Namun garam masih impor
Namun singkong masih impor
Jika negeri ini belum mandiri
Memenuhi kebutuhan bangsanya sendiri
Jangan teriak merdeka !
Lebih baik diam dan berfikir
Malu kita
Luas negara ini jutaan hektar
Namun lebih dari setengah dikuasai asing
Hingga rakyat tak lagi punya lahan luas
Berdesak-desakan di tanah yang sempit
Jika tanah negara belum mampu direbut kembali
Jangan teriak merdeka !
Lebih baik diam dan berfikir
Malu kita
Malu kita
Tak berdaya
Tak Kuasa
Lumpuh di ketiak penjajah..
Malu Kita...Malu Kita..
Puisi tersebut kemudian membuka ruang perenungan yang jauh lebih luas daripada sekadar persoalan apakah Indonesia telah merdeka secara formal.
Taufik Ismail membawa pembaca berhadapan dengan ukuran-ukuran kemerdekaan yang lebih konkret: kemandirian ekonomi, kesejahteraan rakyat, penguasaan sumber daya alam, perlindungan tenaga kerja, integritas politik, kemandirian pangan, dan keadilan atas tanah. Kata “merdeka” dalam puisi ini justru sengaja ditempatkan dalam tanda tanya moral.
Ia bukan sesuatu yang otomatis selesai hanya karena sebuah bangsa telah memproklamasikan kemerdekaannya. Kemerdekaan harus terus diperjuangkan agar hadir dalam kehidupan nyata rakyat.
Di situlah suara Taufik berubah menjadi suara kritik, sekaligus ajakan untuk berhenti sejenak dari kebanggaan yang seremonial dan mulai bertanya apakah cita-cita kemerdekaan benar-benar telah dirasakan oleh seluruh anak negeri.
Sejak awal, puisi ini mengambil posisi yang provokatif melalui larik:
“Negeri ini masih dicekik ribuan triliun hutang berbunga haram”
Kata “dicekik” menjadi kata kunci penting. Hutang tidak digambarkan sebagai persoalan ekonomi yang netral, melainkan sebagai sesuatu yang menekan dan membatasi ruang gerak sebuah bangsa.
Sementara itu, frasa “ribuan triliun” menghadirkan imaji tentang beban yang begitu besar sehingga kemerdekaan politik terasa belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kemandirian ekonomi.
Di sinilah Taufik Ismail menggeser makna kemerdekaan dari sekadar peristiwa historis menuju persoalan struktural.
Sebuah negara dapat memiliki bendera, lagu kebangsaan, pemerintahan sendiri, dan wilayah berdaulat, tetapi tetap mengalami ketergantungan dalam bidang ekonomi. Karena itu, ketika ia menulis, “Jika negeri ini telah mampu melunasi hutang itu... / Silahkan teriak merdeka!”, sesungguhnya ia sedang mengajukan ukuran kemerdekaan yang sangat material.
Kemerdekaan harus dirasakan dalam kemampuan bangsa menentukan masa depannya sendiri.
Namun, puisi ini tidak berhenti pada persoalan hutang. Ia bergerak menuju persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan rakyat, yaitu nasib pekerja migran Indonesia. Taufik menulis:
“Banyak anak negeri yang hanya jadi babu di negeri orang
Mereka, seringkali disiksa dan dianiaya”
Ungkapan “hanya jadi babu di negeri orang” memang keras dan problematis jika dibaca secara harfiah, tetapi justru kekerasan diksi itu memperlihatkan kemarahan penyair terhadap kondisi sosial yang membuat sebagian warga negara harus meninggalkan tanah air untuk mencari pekerjaan. Persoalannya bukan semata-mata bekerja di luar negeri.
Persoalannya adalah ketika migrasi tenaga kerja menjadi pilihan karena negara belum mampu menyediakan pekerjaan yang layak dan perlindungan yang memadai.
Karena itu, tuntutan berikutnya berbunyi:
“Jika negeri ini belum mampu memulangkan mereka
Memberi pekerjaan layak dan mensejahterakan
Jangan teriak merdeka !”
Kata “memulangkan”, “memberi pekerjaan layak”, dan “mensejahterakan” menunjukkan bahwa kemerdekaan dalam pandangan puisi ini harus memiliki konsekuensi sosial.
Negara tidak cukup hadir sebagai simbol. Negara harus hadir dalam kehidupan konkret warganya.
Kemerdekaan menjadi bermakna ketika seorang warga dapat hidup bermartabat tanpa harus mempertaruhkan keselamatan dirinya di negeri lain.
Dengan demikian, puisi ini dapat dibaca sebagai kritik terhadap nasionalisme yang terlalu cepat merasa puas dengan simbol-simbol kemerdekaan.
Taufik seolah bertanya: apa arti kemerdekaan jika rakyatnya belum memperoleh perlindungan? Apa arti kedaulatan jika manusia Indonesia masih mengalami ketidakberdayaan?
Kritik tersebut kemudian diperluas ke persoalan kekayaan alam. Taufik menulis:
“Negeri katulistiwa ini dihampari kekayaan alam yang luar biasa
Namun dikelola oleh orang lain
Rakyat hampir tak menikmatinya”
Di sini muncul ironi besar. Indonesia digambarkan sebagai negeri yang kaya, tetapi rakyatnya belum tentu menikmati kekayaan tersebut.
Kekayaan alam secara geografis berada di dalam wilayah negara, tetapi penguasaan dan manfaat ekonominya dapat berada di tangan pihak lain.
Karena itu, pertanyaan mengenai kemerdekaan kembali muncul sebagai pertanyaan mengenai siapa yang menguasai sumber daya dan siapa yang menikmati hasilnya.
Larik:
“Jika kekayaan alam ini belum bisa dikuasai negara
Jangan teriak merdeka !
Lebih baik diam dan berfikir
Malu kita”
memperlihatkan bahwa bagi Taufik Ismail, kedaulatan politik harus disertai kedaulatan atas sumber daya. Tanah, mineral, energi, laut, hutan, dan kekayaan alam lainnya tidak semata-mata merupakan komoditas ekonomi.
Ia merupakan bagian dari kekayaan kolektif bangsa. Ketika kekayaan tersebut tidak memberikan kesejahteraan yang adil kepada rakyat, kemerdekaan menjadi persoalan yang belum selesai.
Dari sumber daya alam, puisi bergerak menuju persoalan yang paling nyata dalam kehidupan sehari-hari: kemiskinan. Taufik menulis:
“Kemiskinan dan pengangguran semakin meluas
Terasa berat untuk bisa hidup layak
Bahkan harga-harga terus merangkak naik
Ditambah pajak yang kian mencekik”
Di bagian ini, puisi kehilangan jarak abstraknya. Kemerdekaan masuk ke ruang dapur, pasar, tempat kerja, dan rumah-rumah rakyat.
Ukuran kemerdekaan bukan lagi hanya tentang siapa yang mengibarkan bendera, tetapi tentang apakah masyarakat mampu memenuhi kebutuhan hidup secara layak.
Frasa “harga-harga terus merangkak naik” menghadirkan pengalaman ekonomi yang sangat sederhana sekaligus menyakitkan.
Harga tidak hanya naik dalam statistik, tetapi dirasakan melalui berkurangnya kemampuan membeli kebutuhan sehari-hari. Sementara itu, metafora “pajak yang kian mencekik” kembali menggunakan citra tubuh yang tertekan, sebagaimana sebelumnya muncul dalam ungkapan “dicekik ribuan triliun hutang”.
Negara yang semestinya melindungi rakyat justru dalam pengalaman tertentu dapat dirasakan sebagai tekanan ekonomi.
Karena itu, pengulangan:
“Jika masih meluas kemiskinan
Jangan teriak merdeka !
Lebih baik diam dan berfikir
Malu kita”
berfungsi seperti palu yang terus diketukkan pada kesadaran pembaca. Pengulangan bukan sekadar teknik retoris. Ia menjadi semacam alarm moral. Setiap kali kata “merdeka” hendak diteriakkan, penyair menghadapkan pembaca kepada realitas yang belum selesai.
Namun, kritik Taufik tidak hanya diarahkan pada struktur ekonomi. Ia juga melihat persoalan moral generasi bangsa. Ia menulis:
“Anak negeri tengah terjerembab watak amoral
Narkoba meraja lela
Seks bebas liar menyasar siapa saja
Pornoaksi dan pornografi makin menggila”
Bagian ini menunjukkan kegelisahan penyair terhadap perubahan moral dan budaya. Bagi Taufik, kemerdekaan tidak berarti kebebasan tanpa batas. Kebebasan harus disertai tanggung jawab.
Sebuah bangsa tidak hanya membutuhkan kedaulatan ekonomi dan politik, tetapi juga kualitas manusia yang mampu menggunakan kebebasannya secara bermartabat.
Namun, pembacaan terhadap bagian ini perlu dilakukan secara kritis. Persoalan moral tidak seharusnya disederhanakan hanya sebagai kesalahan individu.
Penyebaran narkoba, eksploitasi seksual, pornografi, dan berbagai bentuk perilaku menyimpang juga berkaitan dengan pendidikan, keluarga, ekonomi, teknologi, industri budaya, dan lingkungan sosial.
Karena itu, kegelisahan moral Taufik dapat diperluas menjadi pertanyaan tentang bagaimana sebuah bangsa membangun manusia yang sehat secara sosial dan bermartabat secara moral.
Puisi kemudian memasuki wilayah yang lebih politis:
“Demokrasi korporasi mencengkran negeri ini
Keuangan yang maha kuasa
Korupsi menjadi budaya
Kolusi makin menganga”
Empat larik tersebut merupakan salah satu bagian paling tajam dalam puisi. Demokrasi yang semestinya menempatkan rakyat sebagai sumber legitimasi kekuasaan justru dicurigai telah berhadapan dengan kekuatan modal. Frasa “demokrasi korporasi” mengandung kritik terhadap kemungkinan dominasi kepentingan ekonomi atas proses politik.
Sementara itu, larik: “Keuangan yang maha kuasa” merupakan permainan bahasa yang sangat satiris. Ungkapan tersebut menggemakan bahasa religius, tetapi kata “keuangan” menggantikan sesuatu yang transenden dengan kekuatan material. Sindiran itu mengarah pada keadaan ketika uang menjadi kekuatan yang seolah-olah menentukan segala sesuatu.
Kritik kemudian dipertegas:
“Korupsi menjadi budaya
Kolusi makin menganga
Kerugian uang rakyat tak terkira”
Di sini persoalan korupsi tidak lagi dilihat sebagai penyimpangan individual semata. Kata “budaya” menunjukkan sesuatu yang telah berlangsung berulang dan mengakar.
Ketika korupsi menjadi kebiasaan, persoalannya bukan hanya mengenai orang yang mencuri uang negara, tetapi mengenai sistem nilai yang memungkinkan tindakan tersebut dianggap biasa.
Dalam konteks inilah kata “merdeka” kembali dipertanyakan. Bagaimana mungkin rakyat merasa sepenuhnya merdeka apabila uang publik yang seharusnya digunakan untuk pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan kesejahteraan justru bocor melalui praktik korupsi dan kolusi?
Puisi selanjutnya mengangkat persoalan kemandirian ekonomi:
“Luas negeri ini dipenuhi potensi sumber daya
Namun garam masih impor
Namun singkong masih impor”
Dua komoditas sederhana, garam dan singkong, sengaja dipilih sebagai simbol. Taufik tidak mengambil contoh barang mewah atau teknologi tinggi. Ia memilih kebutuhan yang dekat dengan kehidupan rakyat.
Di sinilah ironi kembali muncul: negeri yang luas dan kaya sumber daya masih bergantung pada produk dari luar untuk memenuhi kebutuhan tertentu.
Karena itu, ia menyimpulkan:
“Jika negeri ini belum mandiri
Memenuhi kebutuhan bangsanya sendiri
Jangan teriak merdeka !”
Kemandirian menjadi salah satu inti gagasan puisi. Kemerdekaan tidak hanya berarti bebas dari penjajahan formal, tetapi juga memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan dasar secara berkelanjutan. Sebuah bangsa yang terus-menerus bergantung pada pihak lain akan menghadapi keterbatasan dalam menentukan arah ekonominya sendiri.
Persoalan kedaulatan kemudian bergerak ke tanah. Taufik menulis:
“Luas negara ini jutaan hektar
Namun lebih dari setengah dikuasai asing
Hingga rakyat tak lagi punya lahan luas
Berdesak-desakan di tanah yang sempit”
Di sini tanah menjadi simbol yang sangat penting. Tanah bukan hanya aset ekonomi, melainkan sumber kehidupan. Petani membutuhkan tanah untuk bertani.
Masyarakat membutuhkan ruang untuk tinggal. Negara membutuhkan wilayah sebagai fondasi kedaulatan. Ketika penguasaan tanah terkonsentrasi pada segelintir pihak, muncul persoalan keadilan sosial yang serius.
Larik: “Jika tanah negara belum mampu direbut kembali/Jangan teriak merdeka !” menunjukkan bahwa bagi Taufik, kemerdekaan juga berhubungan dengan penguasaan ruang hidup.
Kemerdekaan menjadi rapuh apabila rakyat kehilangan akses terhadap sumber daya yang memungkinkan mereka bertahan hidup.
Akhirnya, semua kegelisahan tersebut dirangkum dalam pengulangan yang sangat pendek:
“Malu kita
Tak berdaya
Tak Kuasa
Lumpuh di ketiak penjajah..
Malu Kita...Malu Kita..”
Kata “malu” menjadi pusat moral puisi. Berbeda dengan kata marah, malu memiliki dimensi reflektif. Marah dapat diarahkan kepada orang lain, sedangkan malu memaksa manusia melihat dirinya sendiri.
Dalam konteks puisi ini, “malu” bukan sekadar rasa rendah diri. Ia merupakan kesadaran bahwa terdapat jarak antara cita-cita kemerdekaan dan kenyataan kehidupan bangsa.
Namun, justru di sinilah puisi tersebut dapat dibaca secara lebih produktif. Malu tidak harus berakhir pada keputusasaan. Malu dapat menjadi awal dari evaluasi.
Ketika penyair berkata: “Lebih baik diam dan berfikir” ia sebenarnya tidak sedang mengajak bangsa untuk menyerah. Kata “berfikir” merupakan kata kerja yang sangat penting. Setelah diam, manusia harus berpikir.
Setelah berpikir, seharusnya muncul tindakan. Dengan demikian, diam dalam puisi ini bukan kepasrahan, melainkan jeda untuk melakukan introspeksi.
Taufik Ismail seolah ingin mengatakan bahwa bangsa yang matang bukan bangsa yang selalu meneriakkan keberhasilan, melainkan bangsa yang berani mengakui kegagalannya.
Kemerdekaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menutup mata terhadap kemiskinan, ketergantungan, korupsi, ketidakadilan, dan lemahnya kemandirian ekonomi. Sebaliknya, semua itu harus menjadi alasan untuk memperbaiki kehidupan bersama.
Di titik tersebut, “Jangan Teriak Merdeka, Malu Kita...” dapat dibaca sebagai puisi kritik sosial yang menempatkan kemerdekaan sebagai proyek yang terus berlangsung.
Proklamasi memang telah dilakukan pada 1945, tetapi cita-cita kemerdekaan tidak berhenti pada pembacaan teks proklamasi. Ia harus diwujudkan dalam kehidupan sosial.
Kemerdekaan harus hadir dalam kemampuan rakyat memperoleh pekerjaan layak. Ia harus hadir dalam pendidikan yang bermutu.
Ia harus hadir dalam pengelolaan kekayaan alam yang adil. Ia harus hadir dalam pemerintahan yang bersih. Ia harus hadir dalam perlindungan terhadap pekerja.
Ia harus hadir dalam kemandirian pangan. Ia harus hadir dalam distribusi tanah yang berkeadilan. Dan yang paling penting, ia harus hadir dalam martabat manusia.
Karena itu, pertanyaan terbesar puisi ini sebenarnya bukan “apakah Indonesia sudah merdeka?” Pertanyaan yang lebih penting adalah “untuk siapa kemerdekaan itu bekerja?” Jika kemerdekaan hanya terasa sebagai perayaan simbolik, sementara sebagian besar rakyat masih berhadapan dengan kemiskinan, ketidakpastian, ketimpangan, dan ketidakadilan, maka kritik Taufik masih menemukan relevansinya.
Pada akhirnya, puisi ini bukan sekadar larangan untuk meneriakkan kata merdeka. Ia adalah ajakan untuk memahami kembali makna kemerdekaan.
Taufik menolak kemerdekaan yang hanya menjadi suara, tetapi tidak menjadi kenyataan. Ia menolak nasionalisme yang hanya berhenti pada upacara, tetapi tidak berlanjut menjadi keberpihakan kepada rakyat.
“Jangan teriak merdeka !
Lebih baik diam dan berfikir
Malu kita”
Tiga baris tersebut dapat dibaca sebagai tamparan sekaligus undangan untuk bercermin. Kita boleh merayakan kemerdekaan, tetapi jangan sampai perayaan membuat kita lupa pada mereka yang belum menikmati hasil kemerdekaan.
Kita boleh bangga menjadi Indonesia, tetapi kebanggaan itu harus disertai keberanian mengakui kekurangan dan memperbaikinya.
Sebab kemerdekaan yang sejati bukan sekadar terbebas dari penjajahan, melainkan terbebas dari ketidakberdayaan.
Bukan sekadar memiliki negara sendiri, melainkan mampu memastikan negara bekerja untuk rakyatnya.
Bukan sekadar menguasai wilayah, melainkan menjadikan tanah air sebagai ruang kehidupan yang adil.
Dan bukan sekadar meneriakkan “merdeka”, melainkan memastikan bahwa kata itu memiliki arti dalam kehidupan manusia sehari-hari.
Di situlah “Malu Kita” menjadi lebih dari sekadar ungkapan pesimisme. Ia adalah suara kritik yang mengajak kita berhenti sejenak dari kegaduhan perayaan, menundukkan kepala, dan bertanya kepada diri sendiri: apa yang sudah kita lakukan agar kemerdekaan benar-benar menjadi milik semua?
Jika pertanyaan itu belum mampu kita jawab, mungkin memang ada saatnya kita berhenti berteriak.
Bukan karena kita tidak mencintai Indonesia, melainkan karena kita terlalu mencintainya untuk berpura-pura bahwa semuanya telah baik-baik saja.
Malu, dalam pengertian terdalam puisi ini, bukan akhir dari nasionalisme. Ia justru dapat menjadi awal dari keberanian untuk memperbaiki negeri. (*)
*)Penulis adalah dosen sastra di Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Madura
Editor : Amin Basiri