Jangan Asal Menjadi Juri Baca Puisi

Amin Basiri • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 13:24 WIB
Cuplikan gambar Sugat Ibnu Ali saat membaca puisi
Cuplikan gambar Sugat Ibnu Ali saat membaca puisi

Oleh: Sugat Ibnu Ali *)


Ada satu hal yg menurut sy perlu kita bicarakan secara jujur dalam dunia perlombaan seni: pemilihan juri. Sebab terkadang kita terlalu sibuk mempersiapkan peserta, mencari panggung, membuat sertifikat, menyiapkan hadiah, bahkan menentukan siapa yg akan menjadi juara, tetapi lupa memastikan satu hal paling penting: Siapa yg sebenarnya sedang menilai mereka?

Ironisnya, di beberapa tempat, menjadi juri lomba baca puisi seolah cukup dengan satu syarat, misalnya “Asal bergelut di dunia sastra, maka jadilah juri. Padahal pada kenyataannya dunia sastra itu luas.

Menurut hemat saya, menulis puisi adalah satu hal, membacapuisi adalah hal lain dan mendeklamasikan puisi adalah persoalan lain lagi.

Jangan sampai karena seseorang pernah menulis puisi, pernah menerbitkan buku, pernah tampil dalam kegiatan sastra, atau dikenal sebagai pegiat sastra, lalu otomatis dianggap mampu menilai seni baca puisi.

Tidak sesederhana itu, baca puisi bukan sekadar membaca kata-kata yg tertulis di kertas. Kita mesti tahu pada pokok yang jadi tonggak utamanya, ada vokal, artikulasi, intonasi, tempo, ritme, aksentuasi, ekspresi, gestur, dan interpretasi. Dan di atas semuanya itu ada sesuatu yang tidak bisa hanya dipelajari dari tabel penilaian, yakni sense (rasa)

Seorang juri harus tahu seperti apa vokal yg tepat, bukan sekedar tahu bahwa vokal masuk dalam rubrik penilaian. Seorang juri harus tahu seperti apa intonasi yg hidup, bukan sekadar memberi angka pada kolom “intonasi”.

Juri juga harus tahu kapan sebuah kata harus ditekan, kapan harus dibiarkan mengalir, kapan harus berhenti, kapan harus berbisik, dan kapan sebuah suara justru harus diledakkan. Karena puisi bukan hanya tentang apa yang dibaca, tetapi tentang bagaimana makna itu sampai kepada pendengar.

Lalu bagaimana mungkin kita berharap penilaian yang mendalam jika seorang juri hampir tidak pernah bergelut di panggung baca puisi? Ini bukan berarti seorang juri harus menjadi juara lomba, masalahnya bukan disitu, namun paling tidak ia harus memahami dunia yg sedang ia nilai.

Jika demikian, bagaimana dengan pertanyaan begini, “Bolehkah jurinya membaca satu puisi di depan peserta?”

Hal tersebut tentunya bukan untuk semata jadi tontonan, bukan unjuk pamer. Namun lebih kepada menguji teori yang dia gunakan dalam menilai memiliki ruh dalam praktiknya.

Fenomena itu sering saya jumpai, tak jarang pula saya mendengar bisik-bisi dari pendamping peserta, “Coba jurinya disuruh baca puisi, sejauh mana dia bisa?”

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, namun memiliki sesuatu yang tersembunyi, mungkin ragu atau bahkan tidak percaya kepada juri.

Dan ketidakpercayaan terhadap juri bukan persoalan kecil.Karena di tangan juri ada keputusan yg menentukan kbahagiaan seorang anak.

Logika sederhananya seperti ini, jika ada lima anak tampil dengan predikat bagus, bagaimana juri menilai "ketimpangan" ketika dihadapkan pada sebuah pilihan? Tidak mungkin kelimanya masuk dalam kategori yang sama dengan nilai yang sama pula. 

Maka, mungkin yang bisa jadi acuan adalah sense tersebut, rasa bukan persoalan sedih, marah atau bahagia saja.

Rasa yang dimaksud adalah kemampuan pembaca ketika berhadapan dengan teks puisi lalu menerjemahkan menjadi suara dan gestur yang mumpuni. Sehingga yang ditangkap oleh pendengar bukan lagi soal orang lagi baca puisi, tapi energi yang bikin mereka terpukau bahkan merinding.

Dalam praktik secara teoritis, ini tidak bisa dijelaskan secara pasti. Karena bicara rasa dalam ukuran teks tidak sama dengan rasa dalam praktik. Rasa tidak punya takaran. Ia seperti gelombang, menjalar mengikuti arus hingga sampai tujuan.

Maka, himbauan bagi siapapun yang memiliki hajat perlombaan, utamanya dibidang seni baca puisi, hindari memilih juri karena berdasarkan kenalan

Karena menjadi juri bukan sebuah kehormatan semata, Ia adalah amanah yang harus diemban dan wajib dipertanggung jawabkan ketika ada masalah di kemudian hari.

Salah memilih juri bukan hanya salah memilih orang, Kita bisa salah menentukan siapa yang layak menang. Dan ketika itu terjadi, yang menjadi korban bukan hanya peserta yang kalah, tapi semua.

Akhirnya kita menciptakan generasi yang belajar dari standar yang keliru. Dan yang lebih menyedihkan, sebuah lomba yang seharusnya menjadi ruang apresiasi justru berubah menjadi ajang yang meninggalkan trauma, kekecewaan, bahkan pembunuhan karakter terhadap peserta yang sebenarnya memiliki kemampuan.

Kita sedang membangun selera, karakter, keberanian, dan masa depan anak-anak yang mencintai seni. Jangan rusak itu hanya karena kita asal memilih juri. Sebab panggung boleh selesai, Lomba boleh berakhir dan Piala boleh dibawa pulang.

Tetapi standar yang kita tanamkan kepada anak-anak akan mereka bawa jauh lebih lama.

*) Pembina Komunitas Sauh Langit Sumenep, Tinggal di Lenteng

Editor : Amin Basiri
juri puisi baca puisi lomba