Oleh: Nasrullah Ainul Yaqin (Alumnus IIS Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Tulisan ini menjelaskan tentang corak Islam Nusantara di Kerajaan Sumenep Abad ke-19 di bawah pimpinan Sultan Abdurrahman Pakunataningrat dalam perspektif manuskrip-manuskrip warisan leluhur saya dari jalur ibu di Dusun Genteng Desa Batukerbuy Kecamatan Pasean Kabupaten Pamekasan.
Dalam hal ini, bapak saya, Mustari, berjasa besar dalam merawat manuskrip-manuskrip warisan leluhur saya sehingga bisa dinikmati hingga hari ini.
16 manuskrip disimpan di perpustakaan pribadi saya, dan sisanya disimpan di rumah paman saya.
Pada 8 Juli 2026, Moh. Ainur Ridha (Kepala Pusat Studi Aswaja dan Naskah Pesantren Universitas Annuqayah) dan civitas akademica Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep melakukan digitalisasi dan kajian filologi terhadap manuskrip-manuskrip leluhur saya tersebut.
Bapak saya menceritakan dari buyut saya, Umar (nama aslinya adalah Utsman. Beliau termasuk sesepuh dan tokoh agama di Dusun Genteng pada masanya), bahwa semua manuskrip itu merupakan peninggalan Bujuk Tapa Agung Genteng. Buyut saya menerima warisan manuskrip-manuskrip itu dari bapaknya.
Agung Genteng sendiri adalah sesepuh dan tokoh agama yang paling utama di Dusun Genteng. Beliau sangat dihormati oleh masyarakat sekitar, baik ketika masih hidup maupun ketika sudah wafat.
Menurut Bapak saya, manuskrip-manuskrip warisan Agung Genteng sangat banyak, termasuk Al-Qur’an (sayangnya, manuskrip Al-Qur’an ini sudah ada di tangan orang lain).
Selain manuskrip-manuskrip yang masih ada sekarang, sebenarnya ada sekitar 20 manuskrip lain yang dibakar karena sudah rusak.
Manuskrip-manuskrip berbahan jeluang tersebut berisi disiplin keilmuan Islam yang beragam, seperti naḥwu, ṣarraf, tauhid, fikih, macapat, primbon, dan doa-doa.
Adapun bahasa yang digunakan dalam penulisan manuskrip-manuskrip tersebut adalah Arab dan Jawa yang ditulis dengan aksara Arab (pegon).
Satu manuskrip ada yang berisi dua kitab, yaitu (1) Matn al-Ājurūmiyyah karya Syekh Ibnu Ājurrūm dan (2) Matn Taṣrīf al-‘Izzī karya Syekh al-‘Izzī. Manuskrip jenis ini berjumlah tiga buah. Ada manuskrip yang berisi Matn Taṣrīf al-‘Izzī saja dan apendiks berupa hadis-hadis, doa-doa, dan fardunya iman.
Ada pula satu manuskrip yang berisi empat kitab, yaitu (1) Masā’il Abī al-Layś as-Samarqandī karya Syekh Abū al-Layś Naṣr bin Muḥammad as-Samarqandī (tauhid), (2) as-Sittīn Mas’alah karya Syekh Aḥmad bin Muḥammad al-Miṣrī (fikih), (3) makna dua kalimat syahadat (tauhid), dan (4) Umm al-Barāhīn karya Syekh Abū ‘Abdillāh Muḥammad bin Yūsuf as-Sanūsī (tauhid). Manuskrip jenis ini berjumlah empat buah.
Bahkan, ada satu manuskrip di antara keempat manuskrip tersebut yang tidak hanya berisi Masā’il Abī al-Layś as-Samarqandī, as-Sittīn Mas’alah, makna dua kalimat syahadat, dan Umm al-Barāhīn, tetapi juga berisi tentang silsilah, doa-doa, primbon, dan apendiks yang menjelaskan tentang empat martabat syahadat.
Adapun manuskrip yang disimpan di rumah paman saya berisi (1) Masā’il Abī al-Layś as-Samarqandī, (2) as-Sittīn Mas’alah, (3) makna dua kalimat syahadat, (4) Umm al-Barāhīn, (5) doa-doa (seperti doa rasōl, doa maulid, pujian setelah salat lima waktu, dan doa ketika berziarah ke makam), dan (6) apendiks berupa primbon tentang jimak dan tasrif.
Penyalinan manuskrip tersebut selesai pada hari Jumat waktu Asar bulan Muharam tahun Wawu. Adapun tahun hijriahnya adalah “زنرغ”/1257 H. (Maret 1841 M.).
Keterangan ini disebutkan secara jelas di bagian akhir manuskrip, yaitu ketika penulis manuskrip tersebut mengakhiri penyalinan kitab Umm al-Barāhīn.
Dengan demikian, manuskrip ini ditulis pada masa Kerajaan Sumenep di bawah pimpinan Sultan Abdurrahman Pakunataningrat (1194-1270 H.) yang memerintah dari tahun 1811 hingga 1854. Jadi, manuskrip ini sudah berumur sekitar 185 tahun versi Masehi atau sekitar 191 tahun versi hijriah.
Sultan Abdurrahman sendiri dikenal sebagai raja yang alim, religius, dan bijaksana. Sejak kecil beliau sudah memiliki kecintaan dan perhatian yang besar terhadap pengetahuan.
Oleh karena itu, beliau tidak hanya alim di bidang ilmu agama saja, tetapi juga pakar di bidang bahasa, sastra, budaya, dan sejarah. Kepakaran beliau diakui oleh dunia internasional.
Dalam hal ini, beliau mendapatkan penghargaan doktor kehormatan (honoris causa) di bidang kebudayaan dari Kerajaan Inggris.
Selain itu, beliau juga produktif menulis, baik kitab maupun Al-Qur’an. Salah satu tulisan beliau yang masih utuh dan tersimpan rapi di Museum Keraton Sumenep hingga sekarang adalah Al-Qur’an.
Semua manuskrip yang berisi Matn al-Ājurūmiyyah, Matn Taṣrīf al-‘Izzī, Masā’il Abī al-Layś as-Samarqandī, as-Sittīn Mas’alah, makna dua kalimat syahadat, dan Umm al-Barāhīn dimaknai dan diberikan catatan pinggir menggunakan pegon.
Hal ini menunjukkan bahwa pada waktu itu kalangan santri menggunakan bahasa Jawa (pegon) ketika memaknai dan memberikan catatan pinggir terhadap kitab-kitab yang dikaji.
Berdasarkan data dari manuskrip-manuskrip tersebut, maka bisa disimpulkan tiga hal.
Pertama, Matn al-Ājurūmiyyah, Matn Taṣrīf al-‘Izzī, Masā’il Abī al-Layś as-Samarqandī, as-Sittīn Mas’alah, penjelasan tentang makna dua kalimat syahadat, Umm al-Barāhīn, doa-doa, macapat, dan primbon turut serta meramaikan percaturan dan diskursus keislaman di Pulau Madura bagian timur, yaitu Sumenep dan sekitarnya, pada masa Kerajaan Sumenep di bawah pimpinan Sultan Abdurrahman Pakunataningrat.
Dusun Genteng Desa Batukerbuy sendiri pada masa lampau termasuk wilayah Kerajaan Sumenep. Hal ini berdasarkan fakta bahwa Desa Batukerbuy dulu termasuk bagian dari Kecamatan Waru.
Kartu Tanda Penduduk (KTP) ibu saya yang diterbitkan pada tahun 1989 menunjukkan hal itu. Adapun Waru dan Tamberu pada masa lampau masih termasuk wilayah Kerajaan Sumenep.
Berbeda dengan sekarang di mana Desa Batukerbuy sudah menjadi bagian dari Kecamatan Pasean Kabupaten Pamekasan, Kecamatan Waru sudah menjadi bagian dari Kabupaten Pamekasan, dan Desa Tamberu sudah menjadi bagian dari Kecamatan Batumarmar Kabupaten Pamekasan.
Kedua, penyalinan Al-Qur’an, kitab-kitab kuning, macapat, primbon, dan doa-doa sangat berkembang pada masa Kerajaan Sumenep di bawah pimpinan Sultan Abdurrahman Pakunataningrat.
Ketiga, bahasa utama kalangan santri untuk memaknai dan memberikan catatan pinggir terhadap kitab yang dikaji pada masa Kerajaan Sumenep di bawah pimpinan Sultan Abdurrahman Pakunataningrat adalah Jawa (pegon).
Ketiga hal ini memberikan petunjuk bahwa Islam Nusantara di Kerajaan Sumenep abad ke-19 di bawah pimpinan Sultan Abdurrahman Pakunataningrat adalah bercorak akulturasi, yaitu perpaduan antara ajaran Islam yang dijelaskan secara terperinci oleh ulama-ulama Timur Tengah dalam kitab kuning dengan ajaran dan tradisi Jawa.
Dalam hal ini, meskipun kalangan santri mempelajari kitab kuning yang berasal dari Timur Tengah, tetapi mereka tidak meninggalkan ajaran dan tradisi leluhur mereka yang sudah mengakar di bumi Nusantara, seperti macapat dan primbon.
Selain itu, mereka mengakulturasikan teks Arab dengan bahasa Jawa dengan cara memaknai dan memberikan catatan pinggir terhadap kitab kuning yang berbahasa Arab menggunakan bahasa Jawa (pegon). Wallāhu A‘lam wa A‘lā wa Aḥkam...
Editor : Amin Basiri