Oleh: Dedy Anshori (Dosen INKADHA Sumenep)
Ada perubahan halus yang terjadi dalam dunia pendidikan kita, perubahan yang mungkin tidak terasa jika kita tidak benar-benar memperhatikan. Dulu, guru adalah sosok yang disegani.
Setiap kata yang keluar dari lisannya adalah nasihat yang semestinya tidak perlu dipertanyakan.
Ketika guru menegur, orang tua justru akan menegur anaknya lebih keras lagi di rumah. Di Madura, prinsip Bhuppa' Bhâbbhu' Ghuru Rato bahkan menempatkan guru di posisi yang lebih terhormat daripada pemimpin untuk dipatuhi. Ini bukan sekadar tradisi; ini adalah kesadaran kolektif bahwa guru adalah pilar peradaban.
Dalam tradisi keagamaan, Islam juga sangat menekankan rasa dan sikap hormat terhadap guru.
Kini suasananya bergeser. Ketika seorang guru menegur murid, yang muncul bukanlah rasa malu dari murid, tetapi rasa jengkel, tersinggung, bahkan protes dari murid hingga orang tua.
Bahkan ancaman untuk "membawa keranah hukum" atau "memviralkan di media sosial" menjadi senjata yang jamak digunakan.
Sikap kurang hormat terhadap guru mungkin juga terjadi dahulu, tapi tidak semassif pemberitaan saat ini.
Guru-guru pun mulai ketakutan. Banyak dari mereka memilih diam, bersikap permisif, dan mengabaikan pelanggaran kecil demi menghindari konflik.
Jika guru diselimuti rasa takut untuk bertindak, siapa yang akan mengajarkan anak-anak tentang disiplin, tanggung jawab, dan konsekuensi yang di banyak penelitian justru jauh lebih menopang kesuksesan dan moralitas seseorang dimasa depan dibanding sekedar intelektualitas (IQ)?.
Jika sekolah berubah menjadi tempat yang penuh ketakutan bagi para pendidik, maka yang sebenarnya sedang kehilangan arah bukanlah guru, melainkan pendidikan itu sendiri.
Hal itu mudah saja terjadi jika relasi ketergantungan dalam ekosistem pendidikan juga berubah.
Awalnya murid dan sekolah yang membutuh guru, sekarang menjadi sekolah dan guru yang membutuhkan murid.
Akhirnya murid menjadi primadona dan pusat orbit ekosistem pendidikan. Apapun bisa dilakukan asal dapat murid.
Ketika Sistem Menciptakan Pasar
Tak ada gunanya meratapi perubahan ini tanpa memahami penyebabnya. Krisis wibawa guru ini bukan sekadar masalah moral atau generasi.
Ini adalah efek samping dari kebijakan dan sistem yang telah mengubah relasi pendidikan menjadi relasi pasar.
Pertama, bisa dilihat bagaimana skema pendanaan pendidikan, terutama BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang berbasis pada jumlah siswa, secara tidak langsung telah menciptakan logika kompetisi yang tidak sehat.
Sekolah sangat bergantung pada jumlah murid untuk mendapatkan bantuan operasional.
Akibatnya, murid tidak lagi semata-mata dipandang sebagai subjek didik, tetapi sebagai sumber pendapatan.
Sekolah berlomba-lomba menarik siswa dengan berbagai cara: potongan biaya, seragam gratis, hadiah pendaftaran, pemasaran agresif melalui media sosial, bagi-bagi sembako.
Sekolah yang seharusnya menjadi benteng pendidikan karakter justru sibuk menjadi "penjual" yang membutuhkan pembeli tiap kali menjelang rekrutmen.
Kedua, anak-anak memang harus dilindungi dari kekerasan fisik dan psikis sebagaimana dalam UU Perlindungan Anak.
Namun, interpretasi yang kaku dan sempit terhadap undang-undang ini telah menciptakan efek gentar yang melumpuhkan.
Teguran keras—yang merupakan bagian penting dari proses pendidikan—kini sering disalahartikan sebagai tindakan kekerasan.
Guru menjadi takut mengambil tindakan disiplin, bukan karena mereka kejam, tetapi karena mereka hawatir dipermasalahkan bahkan dipidanakan.
Ketiga, kebijakan zonasi yang meskipun memiliki niat baik, justru menambah tekanan pada sekolah untuk bertahan di tengah persaingan.
Sekolah-sekolah yang kehilangan siswa unggulan dari luar zona harus berjuang mempertahankan eksistensinya.
Dalam situasi ini, keputusan sekolah seringkali lebih mempertimbangkan daya tarik bagi calon siswa baru daripada pertimbangan pedagogis yang mendalam.
Inilah ironi yang menyayat: Guru dipaksa menjadi bagian dari mesin pasar
Guru dan Orang tua Juga Introspeksi
Secara kemampuan, guru perlu untuk terus memperbarui pengetahuan atau keterampilannya.
Ada guru yang gagap teknologi, sementara murid-muridnya sudah menjelajahi dunia digital dengan sangat cepat.
Ada guru yang datang ke kelas tanpa persiapan, atau bahkan lebih sibuk dengan urusan administratif daripada benar-benar berinteraksi dengan murid.
Secara moral, tidak sulit sekarang menemukan pendidik yang sifat dan sikapnya tidak mencerminkan pendidik.
Wibawa tidak bisa dipaksakan; ia harus diperoleh. Di era ketika informasi dapat diakses dalam hitungan detik melalui kecerdasan buatan, guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu.
Jika seorang guru hanya menyampaikan konten yang sama persis dengan yang ada di layar ponsel murid, maka secara alamiah ia akan kehilangan relevansi.
Ini adalah bagian yang paling tidak nyaman untuk disuarakan, tetapi harus saya katakan: Guru yang tidak mau belajar dan berubah justru mempercepat runtuhnya wibawa profesi guru secara keseluruhan.
Mereka menjadi "tameng" yang tidak pantas bagi guru-guru hebat lainnya yang sudah bekerja keras dan berinovasi.
Para orang tua juga perlu untuk menekankan agar anak-anaknya belajar menghargai dan bersikap hormat terhadap guru.
Tekankan bahwa interaksi dengan guru itu berbeda dengan berinteraksi dengan teman sebayanya.
Mengajarkan sejak belia agar anak menempatkan guru pada tempat yang spesial dihati anak tak kalah penting dibanding sekedar mengajarkan calistung, tak kalah penting dibanding mengajarkan anak untuk berani tampil di atas pentas, tak kalah penting untuk ditanamkan dibanding keberanian berkompetisi.
Solusi Ekosistem: Kolaborasi Empat Pilar
Nostalgia tentang masa lalu tidak akan mengembalikan wibawa guru. Kita tidak bisa memaksa anak-anak zaman sekarang untuk hormat secara otomatis hanya karena kita berkata, "Hormatilah gurumu."
Hormat harus dibangun melalui ekosistem kolaborasi yang melibatkan empat pilar: orang tua, guru, sekolah, dan murid. Masing-masing harus berubah dan mengambil peran baru.
Pilar Pertama: Orang Tua — Kembali Menjadi Mitra, Bukan Hakim
Orang tua memiliki tanggung jawab moral untuk mengembalikan kepercayaan kepada guru.
Berhentilah menjadi pengawas yang mengintai dan siap memviralkan setiap kesalahan guru. Tapi jadilah pengawas yang siap memberi masukan positif.
Ajarkan pada anak-anak bahwa kegagalan dan teguran adalah bagian dari proses pendewasaan.
Tidak ada karakter yang terbangun dari pembiaran yang berlangsung terus menerus terhadap sifat-sikap tidak terpuji.
Kehidupan tidak selalu memanjakan; sekolah adalah tempat yang aman untuk belajar menerima konsekuensi.
Jika anak-anak tidak pernah merasakan teguran di sekolah, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang rapuh, tidak tahan terhadap kritik, dan tidak memahami makna tanggung jawab.
Pilar Kedua: Sekolah — Berhenti Menjual, Mulai Menjaga Kualitas
Berhentilah memperlakukan sekolah seperti produk dagangan. Promosi dengan potongan biaya dan hadiah hanya akan menarik keluarga yang mencari harga murah, bukan pendidikan yang berkualitas.
Sekolah harus berani menjual kekhasan kurikulum, prestasi alumni, dan lingkungan karakter yang akan membentuk anak-anak menjadi manusia utuh.
Dibbeberapa tempat, sekolah yang agrasif dan pragmatis dalam proses rekrutmen murid baru justru mendapat murid yang jauh lebih sedikit dibandingkan sekolah yang dalam proses rekrutmennya biasa-biasa saja; hanya pasang banner pengumuan, tak lebih.
Sekolah juga harus menerapkan kesepakatan bersama antara guru dan orang tua di awal tahun ajaran.
Tata tertib, sistem sanksi, dan prosedur penanganan pelanggaran harus disepakati bersama, bukan ditentukan secara sepihak.
Dengan demikian, ketika guru menegur murid, orang tua tidak akan kaget atau tersinggung karena mereka telah mengetahui dan menyetujui aturan mainnya sejak awal.
Pilar Ketiga: Guru — Bertransformasi dari Pengajar Menjadi Mentor
Guru, mohon Tinggalkanlah cara lama yang usang. Jangan lagi menjadi satu-satunya sumber informasi, karena kecerdasan buatan dan internet telah mengambil alih peran itu.
Tugas guru kini harus bergeser menjadi kurator informasi—yang membantu anak-anak menyaring kebenaran di tengah banjir data—dan mentor emosi—yang mengajarkan mereka bagaimana menghadapi kekecewaan dan kegagalan.
Guru yang relevan tidak akan pernah kehilangan wibawa. Wibawa dibangun melalui keteladanan, dedikasi, dan kesediaan untuk terus belajar.
Jika seorang guru mau mengakui ketidaktahuannya dan belajar bersama murid, ia justru akan lebih dihormati karena menunjukkan bahwa belajar adalah proses seumur hidup, bukan hanya untuk murid.
Pilar Keempat: Murid — Kritis Tetap Santun, Berani Tetap Hormat
Sangat diharapkan generasi mendatang menjadi generasi yang kritis, tetapi jangan kehilangan sopan santun.
Di era kebebasan berekspresi, murid dapat dengan mudah mengkritik guru di media sosial.
Tetapi ingatlah, setiap kali merendahkan guru, kalian sedang merendahkan pendidikan itu sendiri.
Jika kalian memiliki keberatan, sampaikan dengan sopan, melalui jalur yang benar. Bukan dengan mempermalukan atau memviralkan.
Generasi yang hebat adalah generasi yang mampu menyampaikan kritik tanpa kehilangan hormat.
Kemampuan untuk berbeda pendapat dengan santun adalah tanda kedewasaan, bukan kelemahan.
Guru juga jangan sampai anti-kritik, boleh jadi pendapat dari murid itu adalah pendapat yang murni dan konstruktif untuk pendidikan.
Disisi lain, ini adalah kesempatan bagi guru mengajarkan para murid cara yang tepat dan benar dalam menyampaikan dan mengekspresikan pendapat.
Guru, Tetaplah Berdiri
Kita semua berada di persimpangan jalan. Sistem mungkin telah menciptakan pasar yang mempersulit guru. Orang tua mungkin telah menjadi terlalu protektif.
Sekolah mungkin telah terlalu komersial. Dan sebagian guru mungkin telah kehilangan semangat pembelajarannya.
Tetapi selama masih ada kesadaran bersama bahwa guru adalah pilar peradaban, masih ada harapan.
Selama orang tua bersedia menjadi mitra, sekolah bersedia menjaga kualitas, guru bersedia bertransformasi, dan murid bersedia menghormati, maka wibawa guru dapat dipulihkan.
Bukan dengan memaksa, tetapi dengan membangun ekosistem yang saling percaya.
Bangsa ini tidak akan besar karena gedung sekolah yang megah atau teknologinya yang canggih. Bangsa ini akan besar ketika setiap orang tua, setiap guru, setiap sekolah, dan setiap murid saling percaya dan bekerja sama.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukanlah perlombaan untuk mendapatkan nilai tertinggi, tetapi perjalanan panjang untuk menjadi manusia yang utuh.
Jika suatu hari para guru benar-benar pergi—bukan dari ruang kelas, tetapi dari panggilan jiwanya—maka yang tersisa hanyalah gedung-gedung kosong.
Ruh pendidikan telah lama pergi. Dan itu adalah kehilangan yang tidak akan pernah bisa digantikan.
Maka, sudahlah guru, jangan tinggalkan sekolah kami. Tetapi tinggalkanlah cara-cara lama yang usang.
Dan kami, para orang tua, akan berdiri di samping kalian—bukan di hadapan kalian sebagai musuh, tetapi sebagai mitra sejati dalam mendidik generasi penerus bangsa. (*)
Editor : Amin Basiri