Fokus Belajar dengan Pembatasan Penggunaan Gawai di Sekolah

Amin Basiri • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 08:50 WIB
Untung Wahyudi
Untung Wahyudi


Oleh: Untung Wahyudi *)


Tak dapat dimungkiri bahwa keberadaan teknologi dan informasi saat ini membantu banyak pekerjaan di segala bidang. Tidak hanya di bidang ekonomi atau perdagangan, yang memang tidak pernah lepas dari penggunaan teknologi, tetapi juga dunia pendidikan.

Seperti diketahui, selama ini penggunaan teknologi seperti laptop dan gawai di lingkungan sekolah memang memiliki manfaat besar dalam mengunduh berbagai program dan aplikasi yang berhubungan dengan kegiatan belajar-mengajar. Guru dituntut untuk melek teknologi sehingga bisa beradaptasi dengan dunia digital yang memang tak lepas dari kegiatan dan tugas mereka sebagai guru.

Bagaimana dengan siswa? Apakah penting siswa menggunakan gawai, terutama saat berada di sekolah?
Selama ini, terutama saat dilaksanakannya belajar jarak jauh karena adanya Covid-19, siswa memang sangat lekat dengan gawai. Hampir semua tugas di sekolah dikirim lewat grup-grup atau aplikasi pembelajaran yang menuntut siswa untuk bisa menggunakannya.
Melihat efek dan dampak negatif penggunaan gawai yang berlebihan, seperti berkurangnya konsentrasi belajar, hilangnya kepatuhan dalam berdisiplin, bahkan hingga maraknya perundungan di dunia siber.

Maka, Kemendikdasmen mengeluarkan peraturan tentang pembatasan penggunaan gawai di sekolah.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengatakan bahwa Surat Edaran (SE) Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan bertujuan untuk meminimalkan distraksi, sehingga dapat meningkatkan konsentrasi belajar murid.

Dikutip dari laman antaranews.com, bahwa pihak Kemendikdasmen menilai penggunaan gawai yang tidak tepat selama berada di lingkungan sekolah berpotensi mengurangi konsentrasi belajar, menurunkan kualitas interaksi antar-murid hingga meningkatkan risiko penyalahgunaan teknologi digital yang dapat berdampak terhadap kesehatan fisik maupun mental murid.

Tidak Dilarang, tetapi Dibatasi

Bagi murid yang sudah duduk di bangku SMA atau SMK, penggunaan gawai memang sudah hal yang wajar, terutama sejak adanya pembelajaran jarak jauh. Makanya, pihak Kemendikdasmen menegaskan sekaligus menggarisbawahi bahwa, penggunaan gawai di sekolah bukan dilarang, tetapi dibatasi.

Dikutip dari laman berita detik.com, bahwa pembatasan penggunaan, bukan pelarangan, yaitu gawai dibatasi penggunaannya selama kegiatan belajar dan kegiatan satuan pendidikan berlangsung, namun tetap dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran di bawah pengawasan pendidik.
Ada beberapa pedoman pembatasan gawai yang dapat diberlakukan kepala sekolah atau satuan pendidikan.

Pertama, penggunaan gawai tidak mengganggu proses pembelajaran dan kegiatan satuan pendidikan. Kedua, penggunaan gawai dilakukan secara terbatas sesuai kebijakan satuan pendidikan selama kegiatan belajar dan kegiatan satuan pendidikan berlangsung.

Ketiga, penggunaan gawai dalam kegiatan pembelajaran hanya dilakukan berdasarkan pertimbangan profesional pendidik serta disesuaikan dengan kebutuhan, tujuan, dan karakteristik pembelajaran. Keempat, mekanisme penyimpanan gawai dilakukan secara aman, mudah diawasi, dan disesuaikan dengan kondisi serta kemampuan satuan pendidikan (detik.com).

Penguatan Literasi Digital

Pengunaan gawai di kalangan murid membuat mereka keranjingan sehingga sulit lepas dari gawai yang sudah menemani hari-hari mereka. Karena itu, penting bagi guru untuk meningkatkan pemahanan literasi digital. Anak-anak perlu diberi pemahaman tentang manfaat dan dampak negatif gawai jika digunakan secara berlebihan (tak terbatas waktu). Sehingga, anak-anak bisa paham dan tidak berontak ketika ada pembatasan penggunaan gawai di sekolah.

Pihak Kemendikdasmen berharap, dengan diterbitkannya Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 18 Tahun 2026, pemerintah daerah, satuan pendidikan, pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali, dan seluruh pemangku kepentingan memiliki pemahaman serta komitmen yang sama dalam menerapkan pembatasan penggunaan gawai secara bijaksana.

*) Untung Wahyudi, lulusan UIN Sunan Ampel, Surabaya

Editor : Amin Basiri
Fokus Belajar sekolah gawai