Menggali Kubur Narsisme: Kritik Al-Qur'an terhadap Fenomena Crazy Rich Siber

Amin Basiri • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 13:42 WIB
M. Deni Hidayatullah
M. Deni Hidayatullah

Oleh: M. Deni Hidayatullah *)


Layar gawai hari ini telah bertransformasi menjadi sebuah etalase megah tanpa sekat.

Cukup dengan sapuan jemari, beranda media sosial kita segera dipenuhi oleh parade kemewahan: deretan mobil sport, liburan jet pribadi, hingga pamer saldo rekening. 

Fenomena pamer kekayaan atau flexing ini seolah menjadi komoditas utama yang paling laku di pasar digital.

Di balik riuhnya ketukan tanda suka (like), ada harga psikologis yang harus dibayar mahal oleh masyarakat siber.

Paparan konstan terhadap gaya hidup para crazy rich melahirkan kecemasan baru yang akut. 

Generasi digital hari ini rentan terjebak dalam pusaran rasa iri siber (digital envy) dan krisis identitas yang mendalam (Luthfi dkk., 2024).

Masyarakat siber dipaksa menelan standar kebahagiaan yang semata-mata diukur dari tumpukan materi dan validasi virtual. Akibatnya, esensi kemanusiaan bergeser secara radikal ke arah narsisme akut.

Keberhasilan hidup tidak lagi diukur dari kemanfaatan sosial, melainkan dari seberapa riuh beranda digital mengagumi kepemilikan material kita.

Pergeseran nilai ini menciptakan stratifikasi sosial baru yang semu di ruang virtual.

Mereka yang tidak mampu mencapai standar kemewahan tersebut akan merasa terasing dan mengalami penurunan rasa percaya diri yang drastis. 

Ruang digital yang sejatinya inklusif, berubah menjadi panggung eksklusi sosial yang menghakimi status ekonomi seseorang secara tidak adil.

Jika kita menelisik lembaran sejarah suci Al-Qur'an, riuhnya panggung narsisme siber ini bukanlah barang baru. Pola perilaku sosiologis tersebut terekam dengan sangat presisi dalam Surat Al-Qashas ayat 76 hingga 82.

Teks suci ini memotret sosok Qarun, prototipe manusia pencandu validasi dan pamer kemewahan paling awal dalam sejarah peradaban.

Al-Qur'an menggambarkan bahwa Qarun memiliki kunci-kunci gudang kekayaan yang bahkan sangat berat untuk dipikul oleh sejumlah orang yang kuat.

Namun, puncak dari kepalsuan wataknya terjadi ketika ia sengaja keluar menemui kaumnya dengan pakaian kemegahan yang sangat mencolok.

 Ia sengaja mendesain sebuah pertunjukan visual yang megah (Shihab, 2010).

Langkah Qarun yang keluar dengan kemegahannya bertujuan memancing decak kagum dan rasa iri di hati masyarakat yang lemah imannya.

Secara psikologis, Qarun membutuhkan pengakuan vertikal dari orang-orang di sekitarnya untuk memuaskan hasrat narsistiknya. 

Ia merasa keberadaan dirinya baru dianggap berharga jika orang lain merasa inferior di hadapannya.

Pertunjukan kemewahan Qarun di badat publik kuno merupakan bentuk manipulasi psikologis untuk menegaskan dominasi kekuasaannya.

Dia memanfaatkan kepemilikan materi sebagai alat untuk menciptakan jarak sosial dengan kaumnya. 

Respons emosional kaumnya yang silau oleh harta menjadi validasi utama yang terus memberi makan pada kesombongan internalnya.

Di era algoritma abad ke-21, gudang kekayaan dan panggung kemegahan Qarun itu telah berpindah ke dalam feeds Instagram, TikTok, dan vlog YouTube.

Para luxury influencer dan crazy rich siber mereproduksi watak Qaruniah ini secara masif setiap hari melalui layar digital. Bedanya, panggung virtual hari ini mampu menjangkau jutaan penonton sekaligus dalam hitungan detik.

Konten unboxing barang mewah, pamer rumah bak istana, hingga pamer kemewahan berkedok motivasi adalah wujud modern dari langkah Qarun saat menemui kaumnya.

Di ruang digital yang serbavisual, kemewahan tersebut sengaja dikurasi secara estetis demi meraup angka views, pengikut, dan validasi publik yang berujung pada monetisasi algoritma (Silvina Waroh dkk., 2025).

Algoritma media sosial pun bertindak sebagai katalisator yang merawat mentalitas Qaruniah ini agar tetap subur.

Platform digital didesain untuk memprioritaskan konten-konten yang memicu emosi kuat, termasuk rasa iri dan kekaguman semu. 

Akibatnya, ekosistem digital kita hari ini menjadi ladang subur bagi tumbuhnya narsisme kolektif yang merusak kewarasan.

Logika algoritma modern secara sengaja mengamplifikasi konten pamer harta karena terbukti mendatangkan waktu retensi penonton yang sangat tinggi (Ali, 2011).

Sistem komodifikasi atensi ini menjebak pengguna dalam siklus konsumerisme tanpa akhir. 

Akibatnya, esensi komunikasi siber bergeser dari ruang berbagi gagasan menjadi ajang unjuk kasta ekonomi.

Bukan sekadar pamer harta, penyakit paling kronis dari mentalitas Qaruniah ini teoretis terletak pada klaim teologisnya yang tertuang dalam ayat 78.

Ketika diingatkan untuk tidak sombong, Qarun dengan pongah menjawab bahwa segala harta itu diperoleh semata-mata karena ilmu dan kemampuan yang ada pada dirinya sendiri.

Klaim sepihak ini merefleksikan hilangnya kesadaran spiritual atas ruang horizontal kehidupan.

Qarun mendelegitimasikan peran Tuhan dan abai terhadap tanggung jawab sosiologis kepada kaum papa di sekitarnya. 

Di era digital, narasi ini berwujud pemujaan berlebihan terhadap konsep hustle culture yang egois dan sekuler (Zuhri, 2021)

Banyak orang merasa bahwa kesuksesan material mereka adalah hasil murni dari kerja keras dan kecerdasan individual di depan layar.

Pandangan ini melahirkan kesombongan digital yang memandang rendah mereka yang kurang beruntung sebagai kelompok yang malas. 

Dimensi spiritualitas dalam menjemput rezeki perlahan terkikis oleh keangkuhan rasionalitas siber.

Kecenderungan mendewakan pencapaian materi ini melahirkan hilangnya empati sosial siber secara massal di tengah masyarakat digital (Ruslan dkk., 2025).

Sukses finansial diidentikkan dengan kelayakan moral, sementara kemiskinan dipandang sebagai sebuah kegagalan personal. 

Konstruksi berpikir bias ini sangat bertentangan dengan prinsip keadilan sosiologis dalam Islam.

Namun, kita harus menarik batas epistemologis yang tegas agar tidak terjebak dalam generalisasi yang keliru.

Al-Qur'an mengutuk tindakan Qarun karena komoditas yang dipamerkan adalah instrumen materialistik yang bertujuan menciptakan ketimpangan psikologis. 

Hal ini tentu berbeda secara diametral dengan aktivitas membagikan karya tulis, opini, atau prestasi akademik di media sosial.

Membagikan produk pemikiran di ruang digital, seperti esai media massa atau jurnal ilmiah, bukanlah bentuk mentalitas Qaruniah, melainkan manifestasi dari tahadduts bin ni’mah (mengabarkan nikmat) dan syiar literasi.

Di tengah gempuran konten siber yang hampa makna, membagikan gagasan justru menjadi kewajiban moral akademisi untuk menyeimbangkan pasokan gizi intelektual publik.

Aktivitas membagikan karya memiliki orientasi sosiologis yang inklusif; ia mengundang orang lain untuk membaca, mendiskusikan, dan mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan tersebut.

Motivasi utamanya adalah menyebarkan kemaslahatan, bukan memproduksi rasa inferioritas pada sesama. 

Batasan pembeda ini terletak pada ada atau tidaknya akses kebermanfaatan bagi publik.

Al-Qur'an memberikan resolusi yang sangat menghentak atas akhir dari narsisme Qarun. Dalam Surat Al-Qashas ayat 81, Allah menegaskan bahwa bumi akhirnya dibenamkan bersama Qarun dan seluruh harta kemegahannya.

Kehancuran fisik tersebut terjadi seketika, meruntuhkan seluruh puncak ego yang selama ini ia agung-agungkan di depan publik.

Dalam konteks kontemporer, bumi yang membenamkan para pencandu flexing tidak selalu berwujud runtuhnya tanah secara fisik.

Di era digital, pembenaman itu kerap menjelma dalam bentuk sanksi sosial berupa cancel culture, jeratan hukum akibat investasi bodong, hingga runtuhnya reputasi digital dalam semalam (Azaria dkk., 2024)

Lebih jauh lagi, pembenaman tersebut terjadi di dalam ruang psikologis berupa kehampaan jiwa dan gangguan kesehatan mental akut.

Ketika kamera mati dan layar gawai meredup, para pencandu validasi ini kerap terbenam dalam depresi yang dalam. 

Topeng narsisme yang mereka rawat setiap hari justru menjadi kuburan yang meremukkan kedamaian hati mereka sendiri.

Ketergantungan psikologis pada metrik angka di media sosial lambat laun mengikis otentisitas jati diri manusia modern.

Mereka terjebak dalam delusi citra palsu yang harus terus-menerus diberi makan dengan pameran materi baru. 

Kehancuran mental ini merupakan bentuk pembenaman eksistensial yang jauh lebih menyiksa daripada sekadar hilangnya harta benda duniawi.

Sebagai pembaca teks keagamaan yang hidup di tengah bisingnya algoritma siber, kritik Al-Qur'an terhadap Qarun harus diletakkan sebagai cermin penataan diri.

Al-Qur'an tidak melarang manusia untuk menjadi kaya, melainkan melarang materi dijadikan sebagai instrumen narsistik untuk memproduksi rasa rendah diri pada sesama manusia.

Langkah kuratif yang bisa kita ambil sebagai masyarakat siber adalah menumbuhkan kembali konsep thuma'ninah digital di dalam dada.

Kita harus melatih kesadaran diri untuk tidak mudah terombang-ambing oleh kebahagiaan artifisial yang dipamerkan di linimasa. 

Validasi sejati seorang hamba sejatinya berada di langit, bukan pada jumlah suka di beranda.

Mari kita gali kubur bagi narsisme digital kita sebelum algoritma membenamkan nilai-nilai kemanusiaan kita lebih dalam.

Transformasikan gawai yang ada di genggaman kita menjadi bahtera kemanfaatan sosial, bukan menjadi menara tinggi tempat kita menyombongkan diri. 

Sebab, di hadapan Allah, kemuliaan diukur dari ketakwaan, bukan dari kemilau saldo digital yang fana. (*)


*Mahasiswa Pascasarjana Universitas Annuqayah, Sumenep. Penerima Beasiswa LPPD Provinsi Jawa Timur Tahun 2025.

Editor : Amin Basiri
flexing amal crazy rich pasar digital