Oleh Moh. Riski Kohar *)
"Jangan takut gagal."
Barangkali tidak ada kalimat motivasi yang lebih populer daripada nasihat tersebut. Ia terpampang di dinding sekolah, diucapkan para motivator, dan membanjiri media sosial dalam bentuk kutipan-kutipan inspiratif.
Kegagalan digambarkan sebagai guru terbaik, sebagai batu loncatan menuju kesuksesan, bahkan sebagai syarat mutlak untuk mencapai impian besar.
Narasi itu memang terdengar indah. Namun, ia menyimpan sebuah asumsi yang jarang dipersoalkan: seolah-olah setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk gagal.
Padahal, dalam kenyataan sosial, tidak semua orang memiliki kemewahan untuk mengambil risiko.
Bagi sebagian orang, kegagalan hanyalah gangguan sementara.
Namun bagi sebagian lainnya, kegagalan dapat menjadi bencana yang mengubah seluruh jalan hidup.
Di titik inilah kita perlu mengajukan pertanyaan yang lebih jujur: mungkinkah kegagalan sesungguhnya merupakan sebuah hak istimewa (privilege)?
Siapa yang Berhak Gagal?
Dalam perspektif sosiologi, kegagalan bukan sekadar peristiwa personal. Ia selalu berkaitan dengan struktur sosial yang melingkupinya.
Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa posisi seseorang dalam masyarakat dipengaruhi oleh berbagai bentuk modal: modal ekonomi, modal sosial, dan modal kultural.
Ketiga modal tersebut menentukan kemampuan seseorang dalam menghadapi konsekuensi dari sebuah keputusan.
Seseorang yang lahir dalam keluarga berkecukupan memiliki ruang eksperimen yang lebih luas.
Ia dapat mencoba berbagai hal tanpa terlalu takut terhadap kemungkinan gagal.
Jika usahanya bangkrut, masih ada tabungan keluarga. Jika pilihan kariernya keliru, masih ada dukungan finansial yang memungkinkan dirinya memulai kembali.
Jika proyek yang dibangunnya tidak berhasil, masih tersedia jaringan sosial yang dapat membuka kesempatan baru.
Singkatnya, kegagalan bagi kelompok ini sering kali hanya menjadi "biaya operasional" dari proses belajar.
Tidak mengherankan apabila banyak kisah sukses yang kita dengar selalu diiringi cerita tentang jatuh bangun dan kegagalan.
Sebab, orang-orang tersebut memiliki jaring pengaman yang memungkinkan mereka bangkit kembali.
Namun, bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki jaring pengaman itu?
Ketika Satu Kesalahan Menghancurkan Segalanya
Sosiolog Jerman Ulrich Beck melalui teori Risk Society menjelaskan bahwa masyarakat modern dipenuhi oleh berbagai risiko yang dihasilkan oleh proses modernisasi. Akan tetapi, risiko-risiko tersebut tidak dialami secara merata.
Kelompok yang memiliki sumber daya lebih besar dapat meminimalkan dampak risiko melalui asuransi, tabungan, akses pendidikan, atau jaringan sosial yang kuat.
Sebaliknya, kelompok miskin dan rentan justru harus menanggung konsekuensi paling berat.
Bagi seorang buruh harian, satu keputusan yang salah dapat berarti hilangnya sumber penghasilan keluarga.
Bagi petani kecil, gagal panen dapat berarti menumpuknya utang yang sulit dilunasi.
Bagi pedagang kecil, kerugian usaha dapat mengakibatkan berhentinya pendidikan anak-anak mereka.
Dalam situasi seperti itu, kegagalan tidak pernah menjadi pelajaran yang romantis. Ia merupakan ancaman nyata terhadap keberlangsungan hidup.
Kita sering mengatakan bahwa kegagalan adalah bagian dari proses. Namun, proses semacam itu sesungguhnya hanya mungkin dijalani oleh mereka yang memiliki ruang untuk jatuh tanpa harus kehilangan segalanya.
Sementara itu, jutaan orang hidup dalam kondisi yang tidak memberi mereka kemewahan tersebut.
Anak-Anak yang Tidak Diberi Hak untuk Salah
Fenomena ini juga tampak jelas dalam dunia pendidikan Indonesia.
Di berbagai daerah, tidak sedikit orang tua yang merantau ke kota-kota besar, bekerja sebagai buruh, nelayan, atau pekerja migran demi membiayai pendidikan anak-anak mereka.
Ada yang menghabiskan masa produktifnya di negeri orang agar anaknya dapat mengenyam pendidikan yang lebih baik, termasuk di pesantren.
Dalam kondisi demikian, pendidikan tidak lagi dipandang sebagai proses pengembangan diri semata. Pendidikan berubah menjadi investasi ekonomi keluarga.
Beban yang dipikul anak menjadi sangat besar. Mereka tidak sekadar belajar untuk memperoleh ilmu, tetapi juga membawa harapan seluruh keluarga.
Mereka tumbuh dengan kesadaran bahwa kegagalan akademik bukan hanya kegagalan pribadi.
Ia dianggap sebagai pengkhianatan terhadap pengorbanan orang tua.
Akibatnya, banyak anak yang sesungguhnya tidak pernah memiliki hak untuk gagal.
Ketika teman-teman sebayanya dapat mencoba berbagai pilihan hidup dan belajar dari kesalahan, mereka justru hidup di bawah tekanan untuk selalu berhasil.
Karena bagi mereka, kegagalan bukanlah kesempatan kedua, melainkan kemewahan yang terlalu mahal untuk dibayar.
Ketimpangan dalam Menghakimi Kegagalan
Yang lebih ironis, masyarakat tidak memperlakukan kegagalan secara setara.
Ketika seorang pengusaha kaya mengalami kebangkrutan, kita menyebutnya sebagai sosok pemberani yang sedang berinovasi.
Kegagalannya dipandang sebagai bagian dari perjalanan menuju kesuksesan.
Namun, ketika kegagalan yang sama menimpa masyarakat miskin, respons yang muncul justru berbeda.
Mereka dianggap malas, tidak kompeten, kurang bekerja keras, atau tidak pandai memanfaatkan peluang.
Kegagalan orang kaya sering diberi makna heroik. Kegagalan orang miskin justru dijadikan pembenaran atas stigma yang sudah lama melekat.
Padahal, keduanya tidak memulai perlombaan dari garis yang sama.
Ketimpangan ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya mendistribusikan risiko secara tidak setara, tetapi juga mendistribusikan empati secara tidak merata.
Mitos Meritokrasi dan Industri Motivasi
Budaya motivasi modern sering kali terjebak dalam mitos meritokrasi: keyakinan bahwa setiap orang dapat mencapai apa pun selama bekerja keras.
Narasi semacam ini terdengar optimistis, tetapi sering kali mengabaikan realitas struktural.
Tidak semua orang memiliki akses pendidikan yang sama. Tidak semua orang tumbuh dalam keluarga yang suportif. Tidak semua orang memiliki modal ekonomi, jaringan sosial, atau lingkungan yang memungkinkan mereka mengambil risiko.
Ketika faktor-faktor tersebut diabaikan, keberhasilan mudah dipandang semata-mata sebagai buah kerja keras, sementara kegagalan dianggap sepenuhnya sebagai kesalahan individu.
Dari sinilah lahir budaya victim blaming.
Mereka yang gagal dianggap kurang gigih, kurang disiplin, atau kurang berani bermimpi.
Kita lupa bahwa sebagian orang gagal bukan karena kurang bekerja keras, melainkan karena mereka dipaksa bertanding dalam arena yang sejak awal tidak pernah setara.
Keberanian yang Sesungguhnya
Memahami bahwa kegagalan merupakan hak istimewa bukan berarti kita harus berhenti bermimpi atau takut mengambil risiko.
Kesadaran ini justru mengajak kita untuk lebih rendah hati dalam memandang keberhasilan dan lebih berempati terhadap mereka yang mengalami kegagalan.
Mungkin keberanian terbesar bukan hanya milik mereka yang berani mengambil risiko besar dengan berbagai jaring pengaman di belakangnya.
Keberanian yang sesungguhnya justru dimiliki oleh mereka yang setiap hari harus berjalan di atas ketidakpastian; mereka yang tetap bekerja meskipun tidak memiliki tabungan; mereka yang tetap bersekolah di tengah keterbatasan; mereka yang terus berharap meskipun satu kesalahan kecil dapat mengguncang seluruh kehidupannya.
Mereka hidup dalam dunia yang nyaris tidak memberi ruang untuk salah, tetapi tetap memilih untuk melangkah.
Karena itu, sebelum kita kembali mengucapkan, "Jangan takut gagal," ada satu kalimat yang perlu kita tambahkan:
Tidak semua orang memiliki hak istimewa untuk gagal. Dan masyarakat yang adil adalah masyarakat yang berusaha memastikan bahwa ketika seseorang jatuh, ia masih memiliki kesempatan untuk bangkit kembali. (*)
*) Mahasiswa Pascasarjana Universitas Annuqayah Sumenep
Editor : Amin Basiri