Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Viralitas dan Runtuhnya Martabat Intelektual : Algoritma, Sensasi, dan Kemiskinan Nalar

Amin Basiri • Minggu, 14 Juni 2026 | 16:30 WIB
Ilustrasi dibantu AI
Ilustrasi dibantu AI

 
Oleh: Moh. Riski Kohar

RUANG digital pada mulanya diharapkan menjadi arena demokratisasi pengetahuan. Internet dipuji sebagai medium yang mampu memperluas akses literasi, mempercepat distribusi ilmu, serta membuka ruang dialog lintas batas sosial dan geografis. 

Namun dalam perkembangannya, ruang digital justru menghadirkan paradoks semakin ramai partisipasi publik, semakin dangkal kualitas percakapan yang diproduksi. 

Fenomena viralitas hari ini menunjukkan bahwa perhatian publik lebih mudah ditarik oleh sensasi visual, hiburan instan, dan konten receh dibanding gagasan yang membutuhkan refleksi dan kedalaman berpikir.
Algoritma media sosial memainkan peran besar dalam membentuk realitas tersebut.

Platform digital bekerja bukan berdasarkan nilai intelektual suatu konten, tetapi berdasarkan tingkat keterlibatan (engagement).

 Akibatnya, sesuatu yang memancing emosi cepat (tawa, kemarahan, keterkejutan, atau hiburan ringan) lebih diprioritaskan untuk muncul di beranda pengguna.

Dalam logika semacam ini, kualitas gagasan sering kalah oleh kemampuan konten mencuri perhatian dalam hitungan detik.

Marshall McLuhan pernah mengatakan, “The medium is the message.” Medium bukan sekadar alat penyampai pesan, tetapi turut menentukan cara manusia berpikir dan berperilaku. 

Media sosial dengan karakter serbacepat, pendek, dan visual perlahan membentuk budaya berpikir instan. Publik tidak lagi didorong untuk merenung, melainkan untuk terus menggulir layar tanpa jeda. 

Akibatnya, kemampuan membaca panjang, berdiskusi mendalam, dan mencerna kompleksitas gagasan mengalami penurunan secara perlahan namun sistematis.

Fenomena ini dapat dilihat dari semakin maraknya budaya viral yang menjadikan popularitas sebagai ukuran utama nilai sosial. 

Sesuatu dianggap penting bukan karena substansi atau manfaatnya, tetapi karena banyak ditonton dan dibicarakan. 

Dalam kondisi demikian, ruang digital berubah menjadi panggung performatif. Orang berlomba tampil bukan berpikir, berlomba terlihat bukan memahami. 

Jean Baudrillard menyebut kondisi ini sebagai masyarakat simulasi, yakni ketika citra dan penampilan lebih dihargai daripada realitas itu sendiri. 

Publik akhirnya hidup dalam banjir representasi, tetapi miskin makna.
Lebih jauh lagi, dominasi hiburan dangkal di ruang digital berpotensi melahirkan kemunduran intelektual kolektif.

Neil Postman dalam bukunya Amusing Ourselves to Death mengingatkan bahwa masyarakat modern sedang bergerak menuju peradaban yang “terhibur hingga mati.” 

Maksudnya, masyarakat perlahan kehilangan kemampuan berpikir kritis karena segala hal dibungkus dalam format hiburan. 

Informasi tidak lagi diposisikan sebagai sarana pencerahan, tetapi sebagai komoditas hiburan yang harus menarik perhatian pasar.

 Bahkan isu pendidikan, agama, politik, hingga moralitas sering direduksi menjadi potongan konten singkat yang kehilangan kedalaman konteks.

Di Indonesia, fenomena ini tampak jelas ketika diskursus publik sering kalah oleh tren joget, prank, drama digital, atau sensasi sesaat.

Sementara itu, diskusi ilmiah, kebudayaan, literasi, dan kritik sosial justru tenggelam karena dianggap “tidak menarik algoritma.” 

Situasi ini memperlihatkan bahwa algoritma tidak netral, ia membentuk preferensi publik sekaligus menentukan apa yang layak mendapat perhatian sosial. Ketika masyarakat terus-menerus disuguhi kedangkalan, maka kedangkalan itu lama-kelamaan dianggap normal.

Antonio Gramsci pernah menegaskan bahwa hegemoni bekerja bukan melalui paksaan, tetapi melalui pembiasaan budaya. 

Dalam konteks digital, publik tanpa sadar sedang dibentuk untuk menikmati hal-hal instan dan melupakan tradisi berpikir mendalam. 

Akibatnya, lahir generasi yang sangat cepat mengonsumsi informasi, tetapi lemah dalam proses refleksi. Mereka kaya data, namun miskin kebijaksanaan.

Masalah utamanya bukan pada hiburan itu sendiri. Hiburan merupakan bagian wajar dari kehidupan manusia. Persoalannya muncul ketika hiburan mengambil alih seluruh ruang kesadaran publik dan menggantikan fungsi pengetahuan. 

Ketika masyarakat lebih mengenal tren viral dibanding gagasan besar, lebih hafal gerakan tarian dibanding arah peradaban, maka sesungguhnya sedang terjadi krisis orientasi intelektual.

Di titik inilah literasi digital harus dipahami bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi, tetapi kemampuan bersikap kritis terhadap teknologi. 

Publik perlu menyadari bahwa algoritma dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin, bukan untuk mencerdaskan mereka. 

Karena itu, menjaga kedalaman berpikir di era digital menjadi bentuk perlawanan kultural terhadap arus banalitas yang terus diproduksi industri media sosial.
Akhirnya, kemunduran intelektual tidak datang secara tiba-tiba.

Ia hadir perlahan melalui kebiasaan menikmati kedangkalan tanpa refleksi. Ketika masyarakat lebih sibuk bergoyang daripada berpikir, maka peradaban sedang bergerak menuju krisis makna.

 Dan mungkin benar apa yang pernah diingatkan Socrates: “The unexamined life is not worth living.” Kehidupan yang tidak dipenuhi refleksi kritis pada akhirnya hanya akan melahirkan keramaian tanpa kesadaran. (*)

*)Mahasiswa Pascasarjana Universitas Annuqayah Sumenep

Editor : Amin Basiri
#Intelektual #ruang digital #publik