Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Malo dan Toḍus di Tengah Zaman yang Kehilangan Rasa Malu

Amin Basiri • Sabtu, 30 Mei 2026 | 12:20 WIB
 Suhartatik
Suhartatik

Oleh: Suhartatik (Dosen Universitas PGRI Sumenep dan Pegiat Rumah Literasi Sumenep)

Ditengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Madura perlahan menghadapi perubahan nilai yang cukup mengkhawatirkan.

Salah satu nilai budaya yang mulai memudar adalah konsep malo dan toḍus . Padahal, dua konsep rasa malu ini sejak dahulu menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter, kehormatan, dan martabat orang Madura.

Generasi muda hari ini tampak semakin jauh dari petuah nenek moyang yang dahulu sangat menjaga adab, perilaku, dan batas-batas moral dalam kehidupan sosial.

Malo dan toḍus memang sama-sama memiliki arti ‘malu’, tetapi keduanya memiliki kedalaman makna yang berbeda.

Malo berkaitan dengan harga diri, kehormatan, dan martabat keluarga. Sementara toḍus lebih dekat dengan rasa sungkan, sopan santun, dan kesadaran etika dalam bergaul. Dua rasa malu ini sebenarnya saling melengkapi.

Malo menjaga kehormatan seseorang di mata masyarakat, sedangkan toḍus menjaga kelembutan sikap dan tata krama dalam kehidupan sehari-hari.

Orang Madura dahulu sangat menjaga dua nilai ini. Anak-anak diajarkan sejak kecil untuk tahu batas dalam berbicara, berpakaian, bersikap, dan berinteraksi dengan orang lain.

Mereka diajarkan bahwa rasa malu bukan kelemahan, melainkan pagar yang menjaga manusia agar tidak mudah terjerumus pada perilaku yang merendahkan dirinya sendiri.

Oleh karena itulah, seseorang yang memiliki malo dan toḍus biasanya dipandang sebagai pribadi yang baik, tahu diri, dan mampu menjaga nama baik keluarga.

Namun hari ini, nilai itu mulai redup. Modernisasi sering dipahami secara keliru sebagai kebebasan tanpa batas.

Banyak anak muda mulai menganggap rasa malu sebagai sesuatu yang kuno dan tidak relevan. Kebebasan berekspresi dijadikan alasan untuk mengabaikan norma, etika, bahkan kehormatan diri sendiri. Akibatnya, batas antara kebebasan dan kehilangan kendali moral menjadi semakin kabur. Fenomena ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak sedikit perempuan muda yang sudah tidak lagi merasa malu berpakaian terbuka atau transparan di hadapan laki-laki.

Padahal, dalam budaya Madura, menjaga cara berpakaian merupakan bagian dari menjaga martabat diri. Bahkan dalam hubungan sosial, sebagian perempuan kini tidak lagi merasa sungkan menyatakan cinta terlebih dahulu secara berlebihan kepada laki-laki, sesuatu yang dahulu dianggap kurang pantas dalam norma ketimuran dan budaya Madura.

Lebih memprihatinkan lagi, saat ini banyak anak muda yang sudah tidak lagi merasa malu mempertontonkan kehidupan pribadinya secara berlebihan di media sosial.

Pertengkaran dengan pasangan, hubungan yang tidak sehat, hingga perilaku yang seharusnya menjadi ruang privat justru diumbar demi mendapatkan perhatian dan pengakuan publik.

Bahkan, sebagian rela membuat konten yang merendahkan martabat dirinya sendiri hanya demi dianggap modern, berani, atau mengikuti tren.

Dalam budaya Madura, perilaku seperti ini dahulu dianggap ta’ anḍi’ malo (tidak punya rasa malu) karena hilangnya rasa sungkan dan kesadaran menjaga kehormatan diri di hadapan orang lain.

Fenomena lain juga terlihat dari semakin hilangnya rasa malu dalam berbicara kepada orang tua dan guru.

Anak muda kini lebih mudah membentak, menyindir, atau mempermalukan orang yang lebih tua di media sosial maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal, dalam nilai budaya Madura, menghormati orang tua dan menjaga tutur kata merupakan bagian penting dari malo dan toḍus.

Ketika rasa malu untuk bersikap kasar itu hilang, maka perlahan hilang pula adab yang selama ini menjadi kekuatan budaya masyarakat.

Tidak sedikit pula anak muda yang lebih bangga memamerkan gaya hidup mewah meskipun sebenarnya dipaksakan demi pengakuan sosial.

Demi terlihat keren, mereka rela berutang, berbohong, atau hidup di luar kemampuan. Budaya pamer yang semakin kuat membuat ukuran kehormatan bergeser dari akhlak menjadi penampilan.

Padahal, kehormatan dalam pandangan orang Madura dahulu bukan diukur dari kemewahan, melainkan dari kemampuan menjaga perilaku, ucapan, dan harga diri keluarga.

Kondisi ini menunjukkan bahwa rasa malu dalam makna budaya perlahan mengalami pengikisan. Ketika malo hilang, orang tidak lagi takut merendahkan martabat dirinya.

Ketika toḍus hilang, orang tidak lagi memiliki kepekaan etika dan kesantunan sosial. Akibatnya, hubungan sosial menjadi kasar, perilaku semakin bebas tanpa kendali, dan identitas budaya perlahan kehilangan ruhnya.

Oleh karena itu, mengajarkan kembali konsep malo dan toḍus kepada generasi muda saat ini menjadi sangat penting.

Orang tua memiliki peran utama dalam menanamkan nilai ini sejak dini. Anak-anak tidak cukup hanya diberi pendidikan akademik, tetapi juga perlu diwarisi pendidikan adab dan rasa malu.

Nasehat-nasehat sederhana dari orang tua, cerita para leluhur, serta contoh perilaku sehari-hari menjadi cara paling efektif untuk menanamkan nilai budaya tersebut.

Selain keluarga, lingkungan masyarakat juga perlu kembali menghidupkan budaya saling mengingatkan.

Tokoh masyarakat, guru, dan pemuka agama harus berani menguatkan kembali nilai kehormatan dan kesantunan dalam kehidupan sosial.

Sebab, budaya malu yang benar bukan untuk mengekang manusia, melainkan menjaga manusia agar tetap memiliki batas moral dan kehormatan.

Generasi muda Madura perlu memahami bahwa menjadi modern bukan berarti meninggalkan identitas budaya. Kemajuan zaman seharusnya berjalan berdampingan dengan nilai-nilai luhur yang diwariskan nenek moyang.

Orang boleh mengikuti perkembangan teknologi, pendidikan, dan gaya hidup modern, tetapi jangan sampai kehilangan akar budaya yang menjaga martabat dirinya.

Pada akhirnya, malo dan toḍus bukan sekadar rasa malu biasa. Keduanya adalah warisan moral masyarakat Madura yang mengajarkan tentang harga diri, kehormatan, kesopanan, dan kemanusiaan.

Jika nilai ini terus dibiarkan memudar, maka yang hilang bukan hanya budaya, tetapi juga karakter generasi muda itu sendiri.

Sudah saatnya orang tua dan masyarakat kembali menanamkan petatah-petitih lama kepada anak-anak muda, bahwa kehormatan diri adalah sesuatu yang harus dijaga, dan rasa malu adalah salah satu penjaga paling kuat bagi martabat manusia Madura.Top of Form (*/han)

Bottom of Form

Editor : Amin Basiri
#todus #bohong #malo