Achmad Muhlis (Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam/Direktur Utama IBS PKMKK)
PADA saat dunia pendidikan yang semakin dipenuhi persaingan materialistik, tekanan psikologis peserta didik, dan krisis keteladanan moral, lahirnya sebuah madrasah sesungguhnya dapat dimaknai sebagai lahirnya harapan baru bagi kemanusiaan.
Karena itu, terbitnya Izin Operasional Pendirian Madrasah Tsanawiyah Kyai Mudrikah Kembang Kuning melalui Keputusan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Nomor 244 Tahun 2026 yang ditetapkan di Sidoarjo pada tanggal 20 Mei 2026 oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Dr. KH. Akhmad Sruji Bahtiar, bukan sekadar peristiwa administratif kelembagaan, melainkan simbol lahirnya ruang baru bagi tumbuhnya peradaban pendidikan Islam yang lebih humanis, progresif, dan berorientasi masa depan.
Penyerahan izin operasional tersebut kepada perwakilan IBS PKMKK, yakni Dr. KH. Mohammad Holis, M.Si., Ust. Abdul Qadir Maliki, M.Pd., dan Ust. Achmad Humaidi, M.Pd. di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, sesungguhnya menjadi penanda bahwa perjalanan panjang sebuah lembaga pendidikan selalu lahir dari kesabaran, visi besar, dan kerja kolektif yang tidak sederhana. Sebab mendirikan madrasah bukan hanya membangun ruang belajar, tetapi membangun ruang pembentukan jiwa manusia.
Madrasah adalah tempat manusia belajar mengenali dirinya sendiri sebelum mengenali dunia luar, ia bukan sekadar institusi akademik, tetapi ruang peradaban tempat ilmu, akhlak, spiritualitas, dan kesadaran sosial dipertemukan dalam satu tarikan napas pendidikan.
Karena itu, pesan yang disampaikan oleh Kabag TU sekaligus Plh Kabid Pendma Kanwil Kementerian Agama Jawa Timur agar MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning menjadi pelopor Madrasah Ramah Anak dan Madrasah Anti Bullying memiliki makna yang sangat mendalam.
Dunia pendidikan hari ini sedang menghadapi paradoks besar. Banyak sekolah berhasil mencetak siswa cerdas secara akademik, tetapi gagal menghadirkan rasa aman secara psikologis bagi peserta didiknya.
Perundungan, kekerasan verbal, tekanan sosial, dan pengucilan sering tumbuh diam-diam di ruang pendidikan modern. Akibatnya, sekolah yang seharusnya menjadi tempat bertumbuh justru berubah menjadi ruang kecemasan bagi sebagian anak.
Karena itu, langkah MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning yang telah menyiapkan SOP khusus untuk mengurangi perundungan dan anti kekerasan menunjukkan kesadaran penting bahwa pendidikan Islam tidak boleh kehilangan ruh kasih sayangnya.
Dalam Islam, mendidik bukan sekadar mengajar, tetapi memuliakan manusia. Sebagaimana Rasulullah membangun peradaban dengan kelembutan akhlak, maka madrasah pun harus hadir sebagai ruang yang menjaga martabat dan kesehatan batin peserta didik.
Lingkungan pendidikan yang aman dan ramah akan melahirkan keberanian berpikir, kreativitas, dan kepercayaan diri peserta didik. Anak-anak yang tumbuh tanpa rasa takut akan lebih mudah mengembangkan potensi intelektual dan spiritualnya. Karena itu, konsep madrasah ramah anak sejatinya bukan sekadar program kelembagaan, tetapi bentuk nyata dari pendidikan berbasis rahmah yang menempatkan cinta kasih sebagai fondasi peradaban.
Hal menarik lainnya adalah kesiapan fasilitas ramah anak dan disabilitas yang telah dipersiapkan.
Dalam perspektif sosiologi humanistik, lembaga pendidikan yang maju bukanlah lembaga yang hanya melayani kelompok tertentu, tetapi lembaga yang mampu menghadirkan ruang setara bagi seluruh manusia tanpa memandang keterbatasannya.
Pendidikan yang beradab adalah pendidikan yang memastikan setiap anak memiliki hak yang sama untuk tumbuh dan bermimpi.
Namun yang lebih membanggakan, spirit humanisme itu berjalan beriringan dengan budaya prestasi yang sangat kuat.
MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning telah menunjukkan kemampuan santrinya dalam berbagai kompetisi nasional dan internasional.
Prestasi medali emas dalam Thailand International Mathematical Olympiad dan Southeast Asian Mathematical Olympiad menjadi simbol bahwa santri madrasah tidak lagi diposisikan sebagai generasi pinggiran dalam percakapan sains global.
Capaian itu menunjukkan transformasi besar pendidikan pesantren dan madrasah. Dulu madrasah sering dianggap hanya unggul dalam pendidikan agama, sementara ilmu pengetahuan modern diasosiasikan dengan sekolah umum.
Namun hari ini batas itu mulai runtuh. Madrasah telah membuktikan bahwa spiritualitas dan sains bukan dua kutub yang saling bertentangan, tetapi dua energi yang dapat berjalan bersama membangun peradaban.
Keberhasilan ratusan santri dalam bidang pencak silat tingkat regional dan kabupaten, prestasi bahasa asing, mata pelajaran, hingga produk pembelajaran memperlihatkan bahwa pendidikan di MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning dibangun secara holistik.
Pendidikan tidak hanya dipahami sebagai penguatan intelektual semata, tetapi juga pembentukan ketahanan mental, disiplin tubuh, kreativitas, dan keterampilan sosial.
Yang paling menarik secara filosofis adalah lahirnya 206 karya buku ber-ISBN hasil tulisan santri yang diterbitkan penerbit nasional.
Ini bukan sekadar angka statistik prestasi, tetapi tanda lahirnya tradisi literasi dan keberanian berpikir di lingkungan pesantren.
Dalam sejarah Islam, peradaban besar selalu lahir dari tradisi membaca dan menulis. Dan ketika para santri mulai menulis buku sejak usia muda, sesungguhnya mereka sedang belajar meninggalkan jejak pemikiran bagi masa depan.
Aktivitas menulis membantu manusia membangun kesadaran reflektif. Anak-anak belajar menyusun pikirannya, mengenali emosinya, dan memahami dunia dengan lebih mendalam.
Menulis juga melatih keberanian intelektual: keberanian untuk berpikir, mengkritisi, dan menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.
Karena itu, slogan “Maju Bermutu Mendunia” yang disampaikan pihak Kanwil Kementerian Agama Jawa Timur bukan sekadar kalimat motivasi, ia adalah orientasi peradaban.
Bahwa madrasah hari ini tidak boleh puas hanya menjadi lembaga lokal, tetapi harus memiliki keberanian memasuki percakapan global tanpa kehilangan identitas spiritual dan budayanya.
Pesan dari operator kelembagaan Kanwil Kemenag Jawa Timur mengenai pentingnya penguatan data EMIS, verifikasi lembaga, dan tata kelola administrasi juga menunjukkan bahwa pendidikan modern memerlukan integrasi antara idealisme dan profesionalisme.
Madrasah yang besar tidak hanya dibangun oleh semangat dakwah, tetapi juga oleh tata kelola yang tertib, akuntabel, dan berbasis teknologi.
Di tengah seluruh proses tersebut, ucapan terima kasih Direktur Utama IBS PKMKK kepada semua pihak, khususnya Kepala dan Guru MTsN 3 Pamekasan, memperlihatkan satu nilai penting dalam budaya pendidikan Islam: bahwa keberhasilan tidak pernah lahir dari kerja individual semata.
Pendidikan adalah kerja kolektif yang dibangun oleh doa, dukungan, pengorbanan, dan ketulusan banyak orang.
Berdirinya MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning sesungguhnya adalah tentang harapan. Harapan bahwa di tengah dunia yang semakin gaduh oleh krisis moral, masih ada ruang pendidikan yang mencoba memadukan ilmu dengan kasih sayang, prestasi dengan akhlak, modernitas dengan spiritualitas, serta teknologi dengan nilai kemanusiaan.
Dari madrasah yang lahir dengan doa dan perjuangan ini kelak akan tumbuh generasi yang bukan hanya mampu memenangkan kompetisi dunia, tetapi juga mampu menjaga hati nurani kemanusiaan di tengah dunia yang semakin kehilangan arah spiritualnya. (*/han)
Editor : Amin Basiri