Oleh: Nadlir
PULAU Madura dikenal sebagai kota santri karena memiliki ribuan pondok pesantren yang tersebar hampir di setiap kecamatan. Pesantren yang dimaksud bukan hanya sebatas lembaga pendidikan agama saja, melainkan sebagai pusat kehidupan sosial, tradisi, budaya, dan spiritual masyarakat.Pulau Madura yang terdiri dari empat kabupaten, mulai dari Bangkalan hingga Sumenep memiliki tradisi keislaman turun-temurun dari para ulama yang menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat.
Salah satu ulama besar karismatik yang lahir dari pulau Madura adalah KH Kholil Bangkalan. Beliau merupakan salah satu tokoh kunci yang pengaruhnya meluas ke seluruh Nusantara yang dijuluki sebagai “Maha Guru Ulama Nusantara”, beliau juga merupakan penentu berdirinya Nahdlatul Ulama (NU). Namun, di tengah arus modernisasi dan transformasi digital saat ini, ada sebuah pertanyaan yang perlu dijawab perihal bagaimana merawat kearifan lokal kota santri di Madura agar tetap relevan bagi generasi muda ?
Baca Juga: Ratusan CJH Sampang Laksanakan Umrah Wajib
Agama Menyatu dengan Kehidupan Masyarakat
Di Madura, agama islam hadir di setiap ruang kehidupan, dari keluarga hingga masyarakat luas. Sholawatan, peringatan maulid nabi, arebbâ (sedekah makanan untuk sesama), nyèbuh (seribu hari kematian) bukan sekadar tradisi biasa, melainkan sebagai sarana pendidikan sosial yang menanamkan nilai kebersamaan, ketakwaan, dan penghormatan kepada leluhur. Islam di Madura bersifat membumi yang diwujudkan dalam keseharian. Anak-anak menyaksikan orang tua menghormati kiai, saling membantu, dan menjaga tradisi kolektif. Proses ini membentuk pendidikan karakter secara alami hingga menjadikan Madura sebagai ruang belajar Islam yang berbasis masyarakat.
Tradisi ini membentuk karakter melalui praktik nyata. Peringatan maulid nabi menumbuhkan rasa syukur ataskelahiran Rasulullah, arebbâ (sedekah makanan) mengajarkan untuk saling berbagi dengan sesama disekitar kita, dan nyèbuh (seribu hari kematian) bertujuan agar bisa saling menghormati dan mendoa’akan almarhum bersama keluarga besar dan tetangga sekitar.
Tantangan Modernisasi
Perubahan sosial akibat modernisasi berlangsung dengan sangat cepat di Madura. Akses internet, media sosial, dan mobilitas ekonomi mengubah gaya hidup generasi muda saatini. Mereka hidup di dua dunia, antara tradisi lokal dan digitalalisasi. Dari perubahan sosial tersebut, secara tidak langsung tradisi mulai dikesampingkan, partisipasi remaja dalam kegiatan sosial di kampung mulai menurun, ikatan sosial melemah, dan individualisme mulai menggantikan kolektivisme. Meskipun pesantren tetap banyak dan budaya santri masih jadi bagian kuat dalam kehidupan masyarakat Madura, situasi ini tetap menjadi peringatan dini kepada semua pihak agar kearifan lokal tetap relevan di tengah arus modern.
Pesantren sebagai Penjaga Kearifan lokal
Pesantren memiliki peran strategis sebagai penjaga identitas kearifan lokal. Di Pesantren nilai-nilai lokal tetap terjaga, mulai dari adab kepada guru, pelajaran kehidupan, pengabdian melalui khidmah, dan kebersamaan komunal. Nilai-nilai dirasa dapat mengatasi individualisme modern, dengan menekankan bahwa keberhasilan sejati adalah kebermanfaatan sosial. Pesantren harus menjadi pelopor utama dalam upaya pelestarian kearifan lokal.
Strategi Integrasi Kearifan Lokal dan Teknologi
Pelestarian kearifan lokal memerlukan integrasi dengan modernitas. Generasi muda tidak bisa dipaksa kembali kemasa lalu, tetapi diajak membawa tradisi dalam modernitas melalui langkah-langkah berikut:
Dokumentasikan pengajian, sejarah ulama, dan kegiatan keagamaan dalam bentuk video atau konten digital untuk disebarkan melalui platform seperti YouTube dan Instagram. Hal ini membuat tradisi lebih mudah diakses oleh generasi muda.
Libatkan pemuda sebagai pelaku utama melalui festival budaya lokal, kegiatan sosial, atau komunitas. Tradisi akan bertahan jika diwariskan melalui pengalaman langsung.
Sekolah dan madrasah dapat memasukkan sejarah ulama lokal, budaya pesantren, dan tradisi masyarakat sekitar ke dalam kurikulum. Sehingga siswa akan memahami identitas lokal sebagai bagian dari jati diri mereka.
Membangun Rasa Kebanggaan
Kota santri Madura harus tetap menjadi realitas hidup. Modernitas tidak boleh sampai menghapus tradisi yang sudah ada dari dulu di kota santri, melainkan memperkuatnya sebagai alat. Pelestarian kearifan lokal berarti menjaga keseimbangan antara akar budaya dan inovasi, tanpa akar modernitas menimbulkan keterasingan, tanpa inovasi tradisi kehilangan relevansi. Ini adalah tanggung jawab bersama seluruh masyarakat dalam menjaga kearifan lokal yang ada di Madura.
*) Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya
Editor : Dafir.