Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Saat Darah Lebih Kental dari Rantau; Makna Filosofis Tradisi Toron

Amin Basiri • Jumat, 8 Mei 2026 | 10:16 WIB
Fathor Arifin, Pengawas Madrasah Kantor Kemenag Sumenep
Fathor Arifin, Pengawas Madrasah Kantor Kemenag Sumenep

Oleh Fathor Arifin, Pengawas Madrasah Kantor Kemenag Sumenep

 

Ma ta lanjang ka pekkeran

Jang-bajangan esanggu dika

Mole arantau dhari penggiran

Moga salamet sampe e disa

Prolog

TORON adalah tradisi mudik khas masyarakat Madura untuk pulang ke kampung halaman dari perantauan, yang sangat kental dengan nilai kekeluargaan dan religiusitas.

Tradisi ini umumnya terjadi saat Idulfitri, namun mencapai puncaknya pada Idul Adha (Lebaran Haji_Tellasan Raja), dan Maulid Nabi. Toron berarti turun, merujuk pada perantau yang kembali ke tanah kelahiran.

Istilah ini bahkan telah dikenal jauh sebelum abad ke-19, berkaitan dengan sejarah panjang migrasi masyarakat Madura yang telah berlangsung sejak masa sebelum Kerajaan Majapahit. 

Toron memiliki arti filosofi kembali ke akar, sedangkan kembali ke kota rantau dikenal dengan istilah ”ongga atau naik.

Toron (pulang kampung) merupakan sebuah tradisi yang turun-temurun di kalangan etnis Madura yang merantau dan telah menetap di luar Pulau Madura.

Budaya dan tradisi toron ini dilakukan oleh semua kalangan pada hari-hari besar keagamaan maupun saat ada acara keluarga di kampung halaman seperti pernikahan, kematian, umrah dan haji para sanak saudara atau tetangga dekat ataupun acara-acara penting yang membutuhkan kehadiran langsung orang yang memiliki kepentingan di Pulau Madura.

Toron atau mudik khas madura merupakan fenomena sosial dan budaya yang masif di Madura. Pergerakan jutaan jiwa dari kota besar menuju kampung halaman ini tidak sekadar ritual tahunan, ia juga menjadi ekspresi mendalam dari nilai-nilai luhur masyarakat.

Secara harfiah, mudik merujuk pada pulang ke udik atau kampung, namun maknanya jauh melampaui perjalanan fisik. Ini adalah momentum sakral untuk merekatkan kembali ikatan keluarga, sanak saudara, dan masyarakat yang terpisah oleh tuntutan ekonomi dan geografis (Mahbubah, 2025).

Tradisi toron masyarakat Madura lebih dari sekadar aktivitas mudik biasa. Tradisi ini mencerminkan nilai-nilai solidaritas, kebersamaan, dan penghormatan terhadap leluhur yang masih sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Madura.

Meski zaman terus berubah, tradisi ini tetap bertahan dan menjadi bagian integral dari identitas budaya Madura.

Jika ada yang mengatakan bahwa di mana-mana kita bisa menemukan orang Madura, pernyataan itu tidaklah berlebihan.

Di berbagai daerah di Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri, masyarakat Madura dapat dijumpai.

Selain untuk keperluan belajar seperti kuliah atau mondok, sebagian besar masyarakat Madura merantau untuk bekerja demi meningkatkan kesejahteraan hidup melalui berbagai mata pencaharian di tanah rantau.

Filosofis dan Nilai Ekonomis

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2004, bahwa di tahun 2000, suku Madura di seluruh Indonesia mencapai 6.771.727 jiwa.

Dengan presentase jumlah penduduk Madura yang berada di Pulau Madura hanya di angka 3.230.300 jiwa.

Hal ini berarti 50 persen orang Madura merantau ke luar Pulau Madura. Menurut hasil sensus penduduk 2020, populasi suku Madura di Indonesia meningkat mencapai 7.179.356 jiwa atau sekitar 3,03% dari total penduduk Indonesia.

Dari data Long Form Sensus Penduduk 2020 yang dirilis oleh BPS, penduduk  suku Madura di Indonesia sebagian besar tinggal di Pulau Jawa  dengan persentase mencapai 92,48%.

Sementara 8 persen sisanya tersebar di seluruh provinsi di Indonesia (Dunia Santri, 2026).

Menurut pakar sejarah, Moordiati, toron memiliki dua arti. Pertama, orang Madura yang bermigrasi pulang ke kampung halamannya.

Kedua, toron tana, yaitu orang Madura pulang ke kampung halaman untuk menyambangi keluarga dan kerabatnya. Konteks menyambangi keluarga tidak hanya menyambangi keluarga dan kerabatnya yang masih hidup.

Akan tetapi, juga kerabat yang sudah meninggal dunia melalui ziarah di makamnya melalui kegiatan nyekar atau nyalase.

Dalam sejarah masyarakat Madura, tradisi toron merupakan kebiasaan yang telah dilakukan sejak lama.

Namun, belum ada sumber primer yang menjelaskan secara spesifik kapan tepatnya asal muasal tradisi toron tersebut.

Sosiolog Universitas Airlangga Surabaya Bagong Suyanto menyebut bahwa toron merupakan cara masyarakat Madura untuk nyambung bala, yaitu menyambung hubungan kekeluargaan setelah lama merantau.

Syukron Romadhon, pengajar Ilmu Sosial UIN Madura, mengatakan bahwa sebelum adanya Jembatan Suramadu, Madura sering dianggap sebagai wilayah yang lebih rendah secara akses.

Maka dari itu, toron dimaknai sebagai turun dari tempat tinggi ke tempat rendah. Sebelum ada Jembatan Suramadu, Madura juga dianggap sebagai subordinat dari Pulau Jawa, sehingga toron itu dimaknai turun dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. 

Toron juga memiliki makna filosofis tersendiri bagi masyarakat Madura.

Toron menjadi salah satu tradisi yang dilestarikan untuk meningkatkan tali persaudaraan dan rasa cinta terhadap keluarga, kerabat, teman, dan tanah kelahiran.

Toron menjadi seperti obat rasa rindu dan semangat pembangun motivasi bagi masyarakat perantau dari Madura.

Hal ini juga menjadi momen yang hangat dan meningkatkan rasa persaudaraan dan cinta tanah kelahiran bagi masyarakat Madura Dari sisi dan dimensi sosial dan ekonomi, toron juga berdampak positif untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Madura.

Kebanyakan perantau yang sukses, ketika pulang kampung membuat masyarakat Madura lain termotivasi untuk mengikutinya, sehingga terjadi diaspora dan tradisi toron terus lestari.

Fenomena eksodus besar-besaran warga madura ke Kota Jakarta beberapa tahun terakhir ini untuk merintis dan buka warung atau toko kelontong Madura 24 jam merupakan potret dan bukti nyata sisi perjuangan keras warga madura di tanah rantau untuk memperbaiki taraf hidup dan ekonomi mereka.

Prinsip mereka, warung atau toko kelontong Madura adalah simbol kemandirian ekonomi yang menjembatani nilai-nilai kearifan lokal yang tentu saja menjadi modal sosial ekonomi yang sangat menjanjikan ketika mereka toron atau mudik ke kampung halaman. 

Usaha warung Madura itu adalah usaha keluarga dimulai dengan keuletan orang Madura sebagai perantau ulung.

Falsafah kehidupan orang Madura itu adalah ibaratnya asapo' angen, abantal omba’ salanjangnga (berselimutkan angin kencang lautan dan berbantalkan ombak sepanjang masa) adalah contoh kehidupan untuk hidup sederhana tapi cukup keras di rantau.

Jangan heran misalnya melihat perantau Madura yang nampak sederhana itu tetapi telah menunaikan beberapa kali ibadah haji dan umroh serta memiliki rumah mewah, menyumbang pendirian masjid musala di kampung dan berbagi rejeki dengan saudaranya yang kurang beruntung dari hasil remittansinya selama berdagang dan bekerja keras di perantauan.

Masyarakat Madura yang berhasil di perantauan dianggap memiliki kewajiban moral untuk membantu kerabat dan tetangga yang kurang mampu di kampung halaman.

Hal ini, sejalan dengan pepatah Madura mon sogi pasoga' yang berarti ”jika sudah kaya harus membantu yang miskin, atau ”bila sudah kaya, jadilah kaya yang sesungguhnya dengan menjadi orang yang dermawan dan banyak membantu.

Hal ini mencerminkan nilai solidaritas yang tinggi di masyarakat Madura, di mana yang kuat membantu yang lemah.

Bentuk bantuan ini bisa beragam, mulai dari bantuan finansial langsung hingga kontribusi dalam bentuk pembangunan infrastruktur desa, seperti perbaikan jalan, pembangunan masjid, atau fasilitas umum lainnya.

Tradisi ini membantu menjaga keseimbangan sosial dan ekonomi di kampung halaman, mengurangi kesenjangan antara yang kaya dan miskin, dan memastikan bahwa semua anggota komunitas dapat merasakan manfaat dari keberhasilan individu-individu yang merantau (Dzunnurain, 2024).

Fenomena di atas cukup menjadi bukti nyata bahwa mudik membawa dampak ekonomi yang positif dan menjanjikan.

Terjadi peningkatan aktivitas ekonomi lokal di daerah asal pemudik. Uang yang dibawa dan dibelanjakan oleh para perantau memicu pergerakan sektor ritel, kuliner, dan jasa di daerah, menghidupkan kembali denyut nadi perekonomian desa dan kota-kota kecil.

Dari data yang diperoleh tim investigasi Dompet Dhuafa pada mudik lebaran 2010 saja terjadi perputaran uang sebesar Rp 84,9 triliun untuk sebuah ritual singkat pada masa itu.

Dari jumlah tersebut, sebesar 56 persen berputar dalam kisaran pengeluaran biaya untuk akomodasi, wisata dan juga sedekah maupun zakat yang dibayarkan pemudik.

Sisanya sebesar 44 persen diperuntukkan bagi biaya transportasi, makan dijalan juga oleh-oleh bagi keluarga di kampung maupun yang dibawa pulang oleh pemudik sekembali mereka dari tempat asal.

Tentu saja data 16 tahun lalu ini sangat jauh berbeda dengan data 2026 ini mengingat adanya pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan jumlah masyarakat yang ada di Indonesia saat ini.

Orang Madura tentu juga telah berkontribusi nyata pada perputaran dana dompet dhuafa yang cukup besar dan signifikan ini. (Bambang Soebyakto dalam Lailatul Mahbubah, 2011).

Harmoni Silaturahim dan Toleransi

Toron memainkan peran krusial dalam membangun silaturahim, yang dalam konteks Islam dan budaya Indonesia merujuk pada upaya menyambung dan mempererat tali persaudaraan.

Momen berkumpul ini menjadi media untuk memperbaharui hubungan, menyelesaikan konflik, dan menguatkan struktur sosial khususnya dalam unit keluarga besar.

Namun demikian, dampak mudik terus meluas melampaui ranah kekerabatan, ia juga berfungsi sebagai katalisator dalam menumbuhkan rasa toleransi di tengah masyarakat plural.

Pertemuan antara perantau yang membawa pulang keragaman pengalaman, latar belakang, dan pandangan dari kota dengan tradisi di kampung halaman menciptakan ruang dialog dan adaptasi.

Di balik budaya dan tradisi toron ini juga terdapat satu hal yang perlu disadari bahwasanya para keinginan perantau untuk pulang kampung didasari oleh berbagai motif yang ikut mendorong mereka.

Secara psikologis dalam diri mereka ada kecenderungan untuk melihat kampung halaman yang membesarkannya.

Terlebih lagi secara sosiologis, mereka masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan keluarga besar di daerah asal, seperti kedua orang tua, mertua, saudara-saudara dekat maupun jauh, dan lain sebagainya yang secara syari maupun kultur mewajibkan mereka untuk bersilaturrahmi.

Filosofi mudik sering kali berfokus pada aspek ekonomi, infrastruktur, atau logistik yang mengeksplorasi secara mendalam peran mudik sebagai mekanisme kultural yang menguatkan kohesi sosial melalui silaturahmi dan toleransi.

Proses ritual mudik atau toron dan interaksi sosial yang menyertainya secara signifikan berkontribusi pada pemeliharaan harmoni sosial dan kerukunan antarwarga.

Oleh karena itu, perlu dirawat agar praktik mudik secara efektif tetap bisa memelihara dan membangun kembali jaringan sosial (silaturahmi) serta menumbuhkan sikap saling menghargai dan menerima perbedaan (toleransi) di tengah masyarakat, yang pada akhirnya mendukung stabilitas dan integrasi sosial di Indonesia, khususnya di Pulau Madura.

Pada konteks kekinian, di era globalisasi ini, pelestarian tradisi seperti toron menjadi semakin penting.

Tradisi ini mengingatkan masyarakat Madura akan asal-usul mereka dan memberikan pegangan moral serta identitas di tengah perubahan sosial yang cepat.

Toron juga berfungsi sebagai alat pendidikan budaya bagi generasi muda Madura, mengenalkan mereka pada nilai-nilai yang telah lama dijunjung tinggi oleh nenek moyang mereka.

Mengigat nilai-nilai luhur masyarakat Madura yang menekankan pentingnya silaturahmi, penghormatan kepada leluhur, solidaritas dan toleransi.

Tradisi ini patut dipertahankan dan dihargai, mengingat kontribusinya yang signifikan dalam menjaga keutuhan dan kesejahteraan masyarakat Madura di tengah arus kuat pergeseran budaya, perkembangan teknologi dan dinamika kehidupan era postmodern seperti saat sekarang ini.

Epilog

Tradisi toron yang dilakukan warga Madura merupakan hasil dari sebuah konstruksi sosial, agama dan budaya setempat.

Tradisi toron juga dapat diartikan sebagai hasil interaksi sosial antar individu dalam sebuah komunitas berhubungan dengan nilai-nilai agama ataupun kearifan lokal yang berlaku sampai sekarang.

Sampai saat ini, tradisi toron telah menjadi milik dan bagian dari kepribadian warga Madura.

Selain itu, tradisi toron juga berperan penting dalam membangun jaringan sosial Masyarakat Madura yang kuat.

Kembali ke kampung halaman memberikan kesempatan bagi para perantau untuk bertukar informasi, berbagi pengalaman, dan memperkuat ikatan sosial yang dapat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam situasi darurat.

Meski tradisi toron masih kuat dipegang oleh masyarakat Madura, tantangan tidak bisa dihindari.

Modernisasi dan urbanisasi telah mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk cara orang melihat dan menjalani tradisi.

Generasi muda mungkin merasa kurang terkait dengan tradisi ini karena gaya hidup modern yang berbeda. Namun, dengan usaha yang konsisten dari berbagai pihak, ada harapan bahwa tradisi ini akan tetap hidup dan relevan.

Integrasi teknolgi dalam pelestarian budaya, seperti pembuatan dokumenter sejarah, pengajaran melalui media sosial, dan aplikasi digital untuk mengingatkan jadwal tradisi, bisa menjadi solusi untuk menarik minat generasi muda Madura yang pada gilirannya akan semakin menguatkan makna tradisi Toron masyarakat Madura sebagai simbol kembali ke akar budaya Madura yang hakiki. (*)

Editor : Amin Basiri
#toron #madura #tradisi