Oleh: Akhmadi Yasid*
SAYA pernah cukup lama hidup di ruang redaksi. Sebuah lingkungan kerja yang satset dengan deadline ketat. Satu kesimpulan penting yang ditekankan: dulu wartawan takut berita tidak boleh terbit, kini wartawan lebih takut berita tidak dibaca.
Di ruang redaksi itulah saya belajar bahwa berita bukan sekadar susunan kalimat. Ia adalah pertarungan: antara keberanian dan ketakutan, antara idealisme dan kepentingan, antara fakta dan tekanan.
Dulu, tekanan itu terlihat jelas wajahnya. Panggilan telepon gelap. Ancaman melalui pesan khusus. Larangan menulis karena menyangkut kepentingan besar. Tentang kuasa dan kekuasaan.
Kekuasaan seperti berdiri dengan wajah yang keras dan mudah dikenali. Bahkan kaku, pada wilayah hitam putih.
Hari ini semuanya berubah. Pers tidak lagi terlalu takut pada sensor, kuasa negara dan kepentingan besar. Yang lebih menakutkan justru sesuatu yang tampak sederhana: kehilangan iklan, kehilangan akses, kehilangan relasi, kehilangan traffic.
Dan anehnya, ketakutan seperti itu sering jauh lebih efektif menjinakkan keberanian. Di era digital ini, media hidup dalam perlombaan yang nyaris tidak mengenal jeda.
Ritmenya pada siapa paling cepat. Lakonnya pada siapa paling viral. Endingnya, pada siapa yang paling ramai dibicarakan. Ruang redaksi perlahan berubah menjadi ruang yang sibuk menghitung angka.
Kita pun cukup dengan melihat berapa viewer naik. Karena dari sana berapa klik masuk tercatat. Tentu pula akan tampak berapa engagement yang tercapai.
Lalu tanpa terasa, sesuatu mulai bergeser. Sebuah cara pandang yang melipat ruang dan waktu. Berita tidak lagi selalu dipilih karena paling penting bagi publik. Kadang dipilih karena paling mungkin menarik perhatian.
Judul dibuat semakin gaduh agar tidak tenggelam di antara ribuan informasi lain yang berlarian di layar telepon genggam. Dan di titik itu, pers sesungguhnya sedang menghadapi dilema yang sunyi.
Apakah ia masih berdiri untuk mencerahkan publik, atau perlahan hanya bertahan untuk memenangkan perhatian?
Di daerah seperti di Madura, situasinya sering lebih rumit. Karena jarak antara wartawan dan kekuasaan terlalu dekat. Mereka bertemu di warung kopi yang sama. Mengenal keluarga yang sama. Kadang dibesarkan oleh lingkungan sosial yang sama.
Maka tekanan terhadap pers daerah sering tidak hadir dalam bentuk ancaman terbuka. Ia justru hadir pelan-pelan. Frase utamanya jelas: “Hubungan baik harus dijaga.”
Kalimat seperti itu terdengar biasa. Tetapi justru di situlah kompromi sering bermula. Dan seperti biasa, kompromi yang terlalu sering akhirnya melahirkan kebiasaan diam. Bahkan cenderung melenakan.
Media sosial membuat keadaan semakin bising. Karena per hari ini semua orang bisa menjadi pembuat informasi. Semua orang merasa punya panggung untuk berbicara. Sebuah ciri citizen journalism, yang makin bergerak jauh ke depan.
Tetapi tidak semua orang bekerja dengan disiplin verifikasi. Kebohongan bahkan sering bergerak lebih cepat daripada fakta. Ia datang dengan video dramatis. Dengan potongan narasi emosional. Dengan desain yang menarik dan mudah dipercaya.
Artificial intelligence atau AI akan membuat semuanya semakin sulit dibedakan. Foto palsu bisa tampak nyata. Bahkan suara saja bisa ditiru. Pidato bisa direkayasa, seolah sebuah kenyataan.
Realitas perlahan menjadi sesuatu yang dapat diproduksi. Dan di tengah keadaan seperti itu, pers sesungguhnya sedang diuji bukan hanya soal kecepatan, tetapi soal integritas.
Saya percaya, pers yang sehat tidak harus membenci kekuasaan. Tetapi pers juga tidak boleh terlalu nyaman dengan kekuasaan. Ingat Mas Bro: karena kritik selalu membutuhkan jarak! Dan kedekatan yang berlebihan sering membuat pers kehilangan ruh perlawanannya.
Ia mungkin tetap hidup sebagai perusahaan media. Tetap ramai. Tetap viral. Tetapi diam-diam kehilangan keberanian sebagai alat kontrol publik.
World Press Freedom Day akhirnya bukan sekadar seremoni tahunan. Bukan hanya soal ucapan dan spanduk. Tetapi momentum untuk bertanya dengan jujur: mampukah pers hari ini menjaga independensinya?
Sebab ketika pers lebih takut kehilangan iklan daripada kehilangan integritas, maka sesungguhnya yang sedang kita hadapi bukan hanya krisis bisnis media. Melainkan sebuah hal besar, yakni krisis keberanian.
Dan demokrasi, sering kali runtuh bukan ketika suara dibungkam secara paksa. Tetapi ketika suara-suara kritis pelan-pelan memilih menjadi jinak. Ketika pers perlahan belajar nyaman untuk tidak lagi terlalu kritis.
(*Penggiat media; kini di parlemen)