SETIAP 21 April, kita kembali memperingati Hari Kartini. Nama Raden Ajeng Kartini tidak pernah kehilangan makna meski lebih dari satu abad telah berlalu sejak gagasan-gagasannya tentang perempuan, pendidikan, dan kesetaraan dituliskan dalam surat-suratnya.
Armijn Pane (1922) mengambarkan Kartini sebagai sosok yang gelisah terhadap keterbatasan ruang bagi perempuan, terutama dalam akses pendidikan dan kehidupan sosial. Dari kegelisahan itulah lahir pemikiran yang hingga kini masih menjadi dasar penting bagi perjuangan kesetaraan di Indonesia.
Bagi saya, Kartini bukan sekadar simbol peringatan tahunan. Ia adalah cara pandang. Sebuah kesadaran bahwa perempuan memiliki hak yang sama untuk berpikir, belajar, dan mengambil peran dalam kehidupan sosial, ekonomi, maupun politik.
Bahkan, kadang saya membayangkan, jika Kartini hidup di masa sekarang, mungkin beliau sudah sangat aktif menulis gagasan di ruang-ruang digital—dan mungkin juga sudah jadi ”penyala diskusi publik” dengan caranya sendiri.
Saya berasal dari Pamekasan, Madura. Sebelum menjadi anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, saya menjalani perjalanan panjang sebagai guru pendidikan anak usia dini (PAUD) selama kurang lebih 14 tahun. Dari ruang kelas sederhana itu, saya belajar bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari hal-hal kecil: dari kesabaran, dari perhatian, dan dari ketulusan mendampingi tumbuh kembang anak-anak.
Di ruang PAUD, saya juga melihat bagaimana perempuan memegang peran yang sangat besar dalam kehidupan keluarga. Ibu-ibu datang dengan segala keterbatasan, tetapi membawa harapan yang besar untuk masa depan anak-anaknya.
Dari situ saya memahami bahwa perempuan sesungguhnya sudah lama menjadi pilar utama kehidupan sosial meski sering tidak mendapatkan pengakuan yang setara dalam ruang formal.
Sebagai kader PDI Perjuangan, saya tumbuh dalam nilai politik kerakyatan yang menempatkan rakyat kecil sebagai pusat perjuangan. Dalam pandangan ini, perempuan bukan pelengkap, tetapi bagian yang setara dalam menentukan arah pembangunan bangsa. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa melihat bahwa perempuan tidak hanya mengurus rumah tangga, tetapi juga menggerakkan ekonomi keluarga dan menjaga ketahanan sosial di tingkat paling dasar.
Pun sebagai anak ideologis dari Ibu Megawati Soekarnoputri, saya belajar bahwa politik harus selalu berpijak pada nilai kemanusiaan. Kekuasaan bukan tujuan, melainkan alat untuk menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat, termasuk perempuan yang selama ini berada di lapisan paling bawah struktur sosial.
Hari ini saya melihat bahwa gagasan Kartini harus terus dibaca dalam realitas sosial yang lebih luas. Kita tidak hanya berbicara tentang akses pendidikan, tetapi juga tentang keadilan ekonomi, perlindungan sosial, dan penguatan peran perempuan dalam pengambilan keputusan.
Di banyak daerah, termasuk di Madura dan wilayah lain di Indonesia, perempuan masih menghadapi tantangan yang nyata. Mereka bekerja keras di rumah, di sektor informal, hingga membantu menopang ekonomi keluarga. Namun, sering kali peran besar itu tidak diiringi dengan pengakuan dan perlindungan yang memadai.
Padahal, jika kita melihat lebih dalam, perempuan sesungguhnya adalah ”manajer utama kehidupan keluarga”. Mereka mengatur banyak hal sekaligus—kadang tanpa jabatan resmi, tanpa seremonial, tetapi dengan tanggung jawab yang sangat besar dalam kehidupan sehari-hari.
Di sinilah pentingnya negara hadir lebih kuat. Kebijakan tidak boleh berhenti pada tataran wacana, tetapi harus menyentuh kehidupan nyata perempuan di akar rumput: dari akses pendidikan, perlindungan terhadap kekerasan, hingga penguatan ekonomi keluarga.
Saya juga melihat bahwa penguatan perempuan tidak bisa dilepaskan dari pembangunan sosial secara keseluruhan. Ketika perempuan kuat, keluarga menjadi kuat. Dan ketika keluarga kuat, masyarakat akan lebih stabil dan berdaya.
Harapan saya untuk perempuan Madura sederhana, namun dalam. Perempuan harus semakin percaya diri bahwa mereka bukan hanya bagian dari cerita keluarga, melainkan juga bagian dari cerita besar bangsa ini.
Bahwa menjadi perempuan desa bukan batas, melainkan titik awal untuk melangkah lebih jauh. Kartini mengajarkan bahwa perubahan selalu dimulai dari kesadaran. Kesadaran itu hari ini harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata: di rumah, di sekolah, di desa, dan di ruang kebijakan.
Dalam politik kerakyatan yang kami jalankan di PDI Perjuangan, perempuan bukan hanya objek kebijakan, melainkan subjek sejarah. Ia adalah bagian penting dari kekuatan bangsa yang tidak bisa dipisahkan dari proses pembangunan nasional.
Hari Kartini bagi saya bukan sekadar perayaan, melainkan ”alarm” bahwa perjuangan perempuan belum selesai. Ia terus hidup dalam kerja-kerja kecil perempuan Indonesia: di rumah, di pasar, di sekolah, dan di ruang-ruang publik.
Selamat Hari Kartini. Semoga semangatnya terus menyala di Madura, di Jawa Timur, dan di seluruh Indonesia—sebagai cahaya yang tidak hanya dikenang, tetapi juga terus diperjuangkan dalam kehidupan nyata. (*)
*)Hj Ansari, anggota Komisi VIII DPR RI, Fraksi PDI Perjuangan Dapil Madura Raya
Editor : Amin Basiri