Oleh Abrari Alzael, Budayawan, mengajar di Universitas Annuqayah Sumenep
SUATU ketika, menonton pertandingan bola kasti. Pada mulanya, pertunjukan ini biasa saja. Sejurus kemudian, terjadi keributan antarpendukung.
Satu pendukung, mengeluarkan pisau, hendak menikam salah satu dari pendukung lainnya.
Lelaki itu merasa tersinggung, tidak terima diremehkan dan karena itu lahirlah amarah.
Aksi marah itu tidak berlangsung lama karena rekan sesama pendukung, melerai, mendinginkan.
Begitu juga dari kubu lainnya yang terancam, diminta tidak meladeni, disuruh pulang dan tak ada dendam.
Tiga hari setelah peristiwa itu, tetangga kasak-kusuk. Oknum yang menghunus pisau cap garpu itu diduga hanya akting untuk mendapatkan perhatian.
Ia berakting sebagai pemberani di banyak orang, diyakini pasti dilerai, dihadang agar tidak terjadi pertumpahan darah bila ada yang terluka.
Kejadian ini mengingatkan saat awal terjadi perang AS-Israel vs Iran. Prabowo Subianto, pidato akan segera bertolak ke Teheran, untuk mendamaikan situasi. Ia akan menjadi mediator bagi para pihak yang bertikai.
Sungguh mulia cita-cita presiden republik ini. Warga negara, menyarankan presiden tidak berangkat ke Iran dengan pertimbangan keselamatan sebab tak ada mata pada peluru.
Dalam bab ini, Prabowo mendengar. Ia tidak jadi bertolak ke Iran. Ia selamat, berbeda dengan anggota TNI lainnya yang bertolak ke Lebanon, dan gugur di situ. Soal kasak-kusuk tetangga, tidak berhenti di sini, mereka menafsir lagi.
Disebutkan, bisa jadi kehendak Prabowo waktu itu, adalah keinginan seperti suporter pemain kasti.
Supaya dilarang, dihalangi, dan tidak jadi duel sebagaimana Prabowo tidak jadi ke Teheran.
Bisa jadi, Prabowo akting, karena sudah tahu bahwa pada akhirnya dia tidak akan menjadi juru damai, semacam tahu diri setelah bercermin.
Di negeri ini, kebebasan berdemokrasi sungguh dijunjung tinggi. Siapa saja boleh bermimpi, berserikat dan berkumpul untuk berpendapat.
Ishlah Bachrawi, Saiful Mujani termasuk Feri Amsari, sering kali menyampaikan pendapatnya tentang negeri.
Dalam keyakinan mereka, pembangunan idealnya diawali dari data dan feasibility studies. Selain itu, kajiannya harus ada.
Prabowo itu presiden, bukan raja. Presiden punya partner kerja, memiliki tempat untuk berunding; mau melakukan apa, mengerjakannya di mana, bersama siapa, tantangannya apa, dan peluangnya seperti apa. Baru setelah semuanya matang dalam planning, baru dieksekusi.
Apakah dengan rukun iman kinerja ini pasti berhasil? Belum tentu. Apalagi, jika sebuah pembangunan dikerjakan secara serampangan, lebih pasti, belum tentu hasil baiknya.
Di fatsun itulah kritik hadir. Apalagi, pidato-pidato Prabowo sebelum menjabat presiden, narasinya menggelegar.
Rakyat terkesima, terpana dan oleh sebab itu Prabowo terpilih sebagai presiden. Tetapi setelah menjadi presiden, dalam konteks filsafat hermeneutik, Prabowo memberi kesan berubah.
Misalnya, saat pidato di ruang terbuka, Prabowo berteriak, Hidup Jokowi. Di televisi, urat leher Prabowo terlihat merambat saat berteriak disusul dengan kepalan tangan yang mengacung ke udara.
Jokowi, mungkin berjasa kepada Prabowo karena menjadi pendukung saat pilpres. Tetapi, apa sejatinya yang didukung, Prabowo atau cawapres Gibran yang tak lain anak kandungnya? Apakah Jokowi akan mendukung Prabowo saat itu bila Wapresnya bukan Gibran? Tetangga kembali bertanya, apa jasa terbesar Jokowi kepada Prabowo dalam konteks pilpres? Saya meminta maaf, tidak punya jawabannya. Yang bisa disampaikan kepada tetangga hanya meniru Jokowi; jangan tanya saya, tanya ibunya.
Lalu apa sesungguhnya yang sedang dibangun Prabowo selain MBG dan KMP? Dua hal itu, tentu saja baik untuk memasyarakatkan gizi dan menggizikan masyarakat agar tidak tejadi stunting.
Pertanyaannya, gizi kurang itu berdasarkan data hanya terjadi di 19 persen dari populasi anak; mengapa tidak dimulai dari 19 persen dulu dan bukan masif seperti hari ini? Ini pertanyaan tetangga yang disampaikan karena mereka tidak punya waktu dan kesempatan untuk menyampaikan langsung kepada Mr Gemoy.
Mengapa KMP langsung masif, dan tidak dibuat pilot project dulu secara bertahap? KMP belum ada model yang sukses dan menorehkan sejarah, sejauh ini.
Bahkan dalam kasus KMP di Tuban, hanya berumur sehari. Hari ini diresmikan dan esok harinya isi etalase dipereteli oleh SDM yang merasa berhak atas itu. Terlebih lagi, tidak setiap desa lalu memiliki penduduk yang sama.
Di desa tertentu warga yang menghuni hanya di bawah 500 jiwa. Ada yang di atas 500 jiwa, tetapi tidak sampai 1.000 jiwa.
Di desa lainnya, ada yang berpenghuni hingga 13 ribu jiwa. Idealnya, ada perlakuan berbeda satu sama lain. Tetapi Prabowo, memperlakukan sama.
Itu hanya contoh dari gerundelan tetangga. Mereka warga negara juga dan pada saat pilpres memilih Prabowo. Mereka yang senang saat Prabowo joget dan timnya mentahbiskan sebagai si Gemoy.
Menurut mereka, Prabowo jenaka, menghibur, dan seperti surga yang dirindukan. Itu dulu sebelum benar-benar menjadi presiden.
Kini, Prabowo terasa jauh, atau menjauh, atau dijauhkan. Tetangga khawatir presiden hanya menerima kabar yang baik-baik saja. Tetangga takut apabila Prabowo hanya mendapat masukan dari satu pintu.
Semua kritik yang tidak viral, khawatir disikapi orang-orang terdekatnyta sebagai makar, hasutan, atau dibiayai asing dan dilaporkan kepada aparat yang berwajib.
Bisa kale (kata anak Jaksel), Prabowo tersenyum ramah dan tidak menampilkan wajah yang merengut.
Rengut itu kian menambah takut warga dan semakin menegaskan bahwa negeri ini tidak baik-baik saja. Tetapi, tidak senyum seperti Jokowi juga, seperti dipaksakan dan mengandung umpan.
Rindu Prabowo saat sebelum benar-benar menjadi presiden; ketika itu rakyat benar-benar dibutuhkan. (*)
Editor : Amin Basiri