Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Spirit Memburu ”THR” di Sepanjang Ramadan

Ina Herdiyana • 2026-03-16 11:55:48
SuwantoroOLEH SUWANTORO, Dosen FTIK UIN Madura 

SEJAK memasuki bulan Ramadan, bahkan pada hari-hari pertamanya, perbincangan tentang THR (tunjangan hari raya) sudah ramai di ruang publik, termasuk media sosial. Dari sana, topik ini kemudian meluas ke berbagai percakapan keseharian: di tempat kerja, dalam obrolan keluarga di rumah, hingga dalam perencanaan berbagai kebutuhan menjelang Lebaran. THR tidak lagi sekadar isu yang muncul menjelang Idul Fitri, tetapi telah menjadi bagian dari suasana Ramadan itu sendiri. Puasa pun terkadang dijalani sembari menanti kepastian THR sehingga ibadah dan harapan ekonomi hadir secara bersamaan dalam keseharian Ramadan. Dalam kenyataan seperti ini, membicarakan dan menanti THR terasa wajar, sekaligus menjadi warna tersendiri dalam pengalaman Ramadan masyarakat kita.

Namun di balik realitas itu, ada satu hal yang patut direnungkan bersama bahwa ketika Ramadan dipahami semata sebagai jalan panjang menuju THR materi, puasa berisiko kehilangan makna terdalamnya. Sejak awal, puasa tidak pernah diniatkan sebagai ritual transaksional atau ibadah yang menjanjikan keuntungan instan, melainkan proses pembentukan kesadaran seperti kesadaran spiritual dan kesadaran sosial. Al-Qur’an menegaskan tujuan puasa adalah la‘allakum tattaqūn, agar manusia bertumbuh dalam takwa. Melalui kesadaran ini, makna ”THR” dalam tulisan ini tidak lagi dipahami sekadar sebagai tunjangan material, melainkan sebagai capaian rohani yang mematangkan kualitas diri.

Baca Juga: Touring Lebih Santai dengan Honda CT125, Motor Klasik Modern yang Nyaman Diajak Jelajah Namun Performa Standarnya Punya Catatan

THR (Takwa, Hijrah, dan Riyāḍah)

Dalam perspektif pengantar di atas, THR Ramadan tidak lagi berhenti sebagai singkatan dari tunjangan hari raya. THR justru dapat dibaca sebagai takwa, hijrah, dan riyāḍah. Tiga proses batin yang menyertai perjalanan puasa selama Ramadan. Ketiganya bukan istilah simbolik atau permainan kata semata, melainkan pengalaman spiritual yang dijalani secara perlahan, sering kali tanpa disadari, dan melalui disiplin harian yang terus diulang.

Takwa menjadi fondasi pertama dari kata THR. Puasa melatih manusia untuk menahan diri, bahkan dari hal-hal yang sebenarnya halal dan diinginkan. Dari latihan menahan inilah tumbuh kesadaran tentang batas, tanggung jawab, dan kejujuran terhadap diri sendiri. Takwa tidak hadir sebagai label kesalehan, tetapi tecermin dalam sikap hidup yang lebih terukur, lebih hati-hati dalam bersikap, serta lebih sadar akan konsekuensi setiap tindakan.

Namun, takwa tidak tumbuh secara tunggal. Ia menuntut keberanian untuk berubah. Di sinilah makna THR kedua, yakni hijrah, menemukan tempatnya. Hijrah dalam konteks Ramadan bukan hanya dimaknai sebagai perpindahan tempat, melainkan pergeseran arah batin. Puasa mendorong manusia berpindah dari kebiasaan menuruti dorongan menuju kemampuan mengelola diri, dari hidup yang reaktif menuju hidup yang lebih reflektif. Perubahan ini sering kali tidak tampak dari luar, tetapi justru menentukan kualitas hidup setelah Ramadan berakhir.

Perubahan batin semacam itu tentu tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia membutuhkan latihan yang konsisten. Di sinilah makna THR ketiga, yakni Riyāḍah, berperan. Puasa adalah latihan jiwa yang dijalani setiap hari menahan lapar, mengelola emosi, serta meredam ego. Latihan ini mungkin terasa sederhana, bahkan rutin, tetapi justru dari proses yang berulang inilah tumbuh ketahanan moral, kesabaran, dan kedisiplinan batin yang perlahan membentuk karakter.

Ketika THR (takwa, hijrah, dan riyāḍah) dipahami sebagai satu rangkaian proses, maka di sinilah sebenarnya poinnya. Bahwa THR tidak lagi diukur dari apa yang diterima, melainkan dari apa yang berubah. Ia hadir dalam perubahan sikap setelah Ramadan usai, yakni tumbuhnya pengendalian diri, kejernihan dalam bersikap, serta bertambahnya kepedulian terhadap sesama. Inilah THR yang tidak dapat dicairkan, tetapi nilainya terasa dan berdampak dalam kehidupan.

Baca Juga: BRI Jadi Penyalur Terbesar Kredit Program Perumahan Nasional

Karena itu, makna THR tidak selalu harus dihubungkan semata dengan sesuatu yang bersifat materi. Tunjangan dalam bentuk materi tentu tetap memiliki arti penting, baik sebagai penopang kebutuhan menjelang hari raya maupun sebagai bentuk perhatian dan berbagi kebahagiaan di tengah masyarakat. Namun di saat yang sama, Ramadan juga menghadirkan dimensi lain yang sering luput disadari. Ia dapat dipahami sebagai hasil dari proses spiritual yang ditempa sepanjang Ramadan. Ketika seseorang mampu mengantongi nilai-nilai puasa ke dalam kehidupan sehari-hari menjadi pribadi yang lebih tertata, lebih peduli, dan lebih bertanggung jawab, maka Ramadan telah memberikan sesuatu yang jauh lebih mendalam daripada sekadar tunjangan. Itulah THR yang tidak dicairkan, tetapi dipancarkan dalam cara seseorang bersikap dan menjalani kesehariannya.

Sebagai akhir dari tulisan ini, THR dalam bentuk materi tentu penting, tetapi hanya singgah sesaat dalam kehidupan kita. Namun, THR batin jauh lebih penting. Ia akan betah dan bersemayam menjadi penuntun langkah setelah Ramadan berlalu. Saat itulah makna THR menemukan jejaknya yang paling nyata. Allahu A’alam. (*)

 

Editor : Ina Herdiyana
#puasa #ramadan #takwa #spirit #tunjangan hari raya #thr