Oleh: Moenzir A, Pustakawan Lubangsa
Madura dipandang sebagai salah satu pulau kecil yang secara geografis terletak di Pulau Jawa dengan peradaban yang lambat jika dibandingkan dengan peradaban di luar Madura.
Bahkan ada satu kalimat candaan yang mengatakan bahwa ”Madura tertinggal sepuluh tahun dengan peradaban yang sudah berjalan di luar Pulau Madura.
Namun seiring berkembangnya zaman, Pulau Garam sedikit demi sedikit mulai terseret arus perkembangan zaman.
Teknologi seperti gadget pun kini sudah bisa kita lihat di tangan-tangan mungil anak-anak dengan usia yang bisa dibilang masih balita.
Hal tersebut juga berdampak pada minat mereka terhadap hal-hal yang berbau literasimereka akan semakin sulit dipengaruhi supaya tertarik terhadap dunia literasi.
Dengan demikian, otomatis para penulis muda di Madura juga berpotensi temaram.
Dari permasalahan tersebut, santri menjadi jawaban yang tepat untuk menjawabnya.
Alat elektronik seperti gadget adalah hal yang hampir mustahil berada di tengah kehidupan para santri karena peraturan memaksa mereka untuk fokus belajar, belajar, belajar, dan mengabdi.
Hal tersebut menjadi kesempatan emas untuk memengaruhi mereka supaya berminat untuk belajar tentang literasi.
Bisakah memengaruhi santri yang sudah pasti ketika liburan tak akan lepas dari smartphone mereka? Tentu bisa.
Banyak santri yang mengatakan bahwa membaca novel di pondok sama dengan menonton film di rumah.
Hal tersebut sudah menjadi langkah besar untuk mengajak mereka pada dunia literasi atau sastra.
Memang benar tidak semua novel yang santri baca mengandung ilmu yang dapat dipungut.
Namun dengan memulainya mereka membaca novel, dapat memancing rasa penasaran mereka untuk membaca buku dengan genre lain.
”Untuk cinta membaca, tidak jadi masalah jika memulai dari bacaan ringan terlebih dahulu seperti novel, komik atau bahkan cerdas (cerita dewasa) sekalipun."
Itu adalah suatu kutipan yang saya dapat dari salah satu acara di pondok. Dari kutipan tersebut, kita paham bahwa untuk memancing ketertarikan pada membaca, kita bisa membaca buku dari genre yang ringan terlebih dahulu.
Maka dengan tertariknya santri membaca novel, itu sudah merupakan langkah besar untuk nimbrung dalam dunia literasi.
Dari pengalaman para santri di sekitar saya yang memiliki hobi menulis, hampir semua dari mereka bermula dari rasa penasaranbermula dari sebuah pertanyaan kecil yang timbul dari benak mereka.
”Bagaimana rasanya jadi seorang penulis? Bukan hanya sebagai penikmat tulisan?, dari pertanyaan itulah mereka dapat menciptakan tulisan mereka sendiri.
Dengan sedikit dorongan dari sesama santri, banyak dari mereka yang sudah dapat menciptakan tulisan berkualitas.
Namun, faktor lain seperti lingkungan atau pergaulan juga sangat berpengaruh terhadap diri santri. Bisa dibilang pemilihan teman yang tepat lebih banyak pengaruhnya jika dibandingkan dengan faktor-faktor lain.
Jika bergaul dengan sastrawan—otomatis sedikit banyak ia juga akan kena cipratannya. Jika bergaul dengan teman yang hobi melanggar peraturan, tidak menutup kemungkinan ia juga akan ikut melanggar.
Persis seperti syair Ady bin Zaid Al-Badiy, yang bunyinya: ”Jangan bertanya siapa dia, tapi tanyakan siapa temannya."
Syair itu jelas-jelas mengatakan betapa berpengaruhnya pergaulan pada diri seseorang.
Pesantren adalah tempat paling ideal untuk meningkatkan gairah literasi anak muda di Madura supaya tidak pudar.
Jika masalah utama anak muda sekarang adalah gadget yang selalu mereka rangkul, maka santri hanya merangkul dua hal; kitab (buku) dan barokah kiai.
Jika minat santri akan literasi di pondok mereka meningkat atau barangkali berhasil menjadi seorang penulis, mereka bisa memengaruhi anak muda di luar pesantren yang hanya tertempel gadget di tangan mereka ketika mereka nimbrung ke masyarakat atau ketika libur tahunan.
Di beberapa pesantren upaya untuk meningkatkan minat santri akan literasiatau sastra sudah jauh-jauh hari dilakukan.
Misalnya, memberi bimbingan atau belajar bersama tentang kepenulisan, yang isinya sharing ilmu tentang kepenulisan.
Meski memang tidak semua pesantren menerapkan hal semacam itu, pondok salaf bisa kita jadikan contoh.
Di sana santri tak akan punya waktu untuk belajar mengenai tulis-menulis. Namun seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa membaca novel bisa menjadi pengganti menonton film jika di rumah.
Banyak santri salaf yang diam-diam membaca novel di kamar mereka.
Hal tersebut juga menjadi sebuah bukti bahwa gairah literasi pemuda Madura masih belum padam.
Hanya saja, ada suatu hal yang menghambat mereka untuk membaca atau menulis ketika di rumah.
Santri penulis juga memiliki potensi untuk menumbuhkan kembali sastra berbahasa Madura. Tak banyak di Madura yang mampu menulis sastra berbahasa Madura dengan baikdengan ejaan yang tepat.
Santri penulis sering kali memanfaatkan tulisan mereka untuk dipublikasikan di media massa untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah sebagai tambahan uang saku yang diberi orang tua mereka.
Tulisan mereka juga penuh dengan diksi yang indah sedemikian rupanamun dengan bahasa Indonesia, sangat jarang kita lihat santri penulis yang lihai memainkan tiga tingkatan bahasa yang ada di Madura untuk tulisan mereka.
Santri yang hobi menulis ketika di pondok pun akan memalingkan hobi mereka terhadap suatu hal yang mau tak mau pasti kembali lagi pada mereka ketika di rumah; gadget. Banyak teman santri yang hobi menulis di sekitar saya mengatakan bahwa ”Sebanyak apa pun saya membaca buku di pondok pasti akan berganti haluan ketika berada di rumah, buku saya akan berdebu karena kecil kemungkinan akan tersentuh.
Dari apa yang mereka katakan juga dapat kita pahami betapa besarnya pengaruh gadget terhadap seseorang.
Memang benar di luar pesantren ada beberapa kelompok yang di dalamnya belajar tentang tulis-menulis.
Namun, sekali lagi kembali pada kesadaran dan kemauan. Anak muda zaman sekarang kebanyakan akan lebih memilih kelompok bermain game daripada tongkrongan yang berbau literasi.
Pesantren adalah lembaga tempat santri dituntut untuk belajar tanpa gadget di tangan mereka.
Karena itu, pesantren bisa dibilang adalah salah satu harapan terakhir pengikat literasi di Pulau Garam ini, tentu perlu bimbingan serius di banyak pesantren Madura.
Pemerintah juga bisa turut andil dalam mempertahankan literasi di Madurakhususnya sastra berbahasa Madura.
Sebab, anak muda Madura adalah masa depan Madura pula. Jika minat anak muda di luar sana sudah tidak bisa dibelokkan pada literasi, maka pesantren adalah lembaga yang masih memberikan secercah harapan untuk mengajak para santri di dalamnya terjun pada dunia literasi (meski sekadar ketika ada di pondok). (*/han)
Editor : Amin Basiri