*Oleh: Hasin
Beberapa hari yang lalu, presiden Prabowo Subianto bersama dengan kementerian sosial Syaifullah Yusuf melakukan peresmian 166 sekolah rakyat yang tersebar di 34 provinsi di seluruh Indonesia.
Dimomen peresmian, Saat memberikan sambutan menteri sosial yang akrab disapa Gus Ipul sempat terisak hingga harus di tenangkan oleh presiden.
Kejadian itu lantas mendapatkan banyak komentar dari para netizen, ada yang mengapresiasi dan mendukung namun ada juga yang menilai terlalu berlebihan.
Namun dari kejadian itu, penulis jadi teringat beberapa waktu yang lalu waktu penulis ikut berproses menjadi bagian kecil dari berdirinya Sekolah Rakyat di Kabupaten Bangkalan.
Seperti yang dijelaskan oleh menteri sosial Gus Ipul bahwa Sekolah Rakyat tidak membuka pendaftaran, melainkan langsung mendatangi satu persatu rumah target siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu atau putus sekolah.
Beberapa waktu yang lalu, setelah penulis bergerilya dari satu rumah ke rumah yang lain untuk mengunjungi target calon siswa namun belum ada satupun yang berhasil diyakinkan untuk menyekolahkan anaknya di sekolah rakyat, tentu dengan berbagai alasan kekhawatiran karena memang sekolah rakyat merupakan program baru yang di inisiasi oleh presiden Prabowo Subianto.
Namun dari hasil berkeliling dari rumah ke rumah akhirnya penulis mendapatkan informasi bahwa ada seorang anak yatim yang orang tuanya meninggal dan tidak bersekolah namanya Tantri, perempuan, cantik, usianya 6 tahun, tinggal bersama neneknya yang sudah tua dan sakit-sakitan.
Waktu penulis berkunjung kerumahnya, Tantri tidak ada dirumah, dia sedang bermain bersama teman-temannya, berdasarkan keterangan dari neneknya, Tantri sangat ingin bersekolah seperti teman-temannya.
Tapi apalah daya, keterbatasna finansial karena tulang punggung keluarga sudah tiada, serta neneknyapun sudah sakit-sakitan membuatnya harus menerima kenyataan untuk tidak bersekolah. Tanpa terasa, air mata menetes tak tertahankan, betapa hidup kadang serasa tidak adil dan sangat kejam, tapi itulah kenyataannya.
Saat penulis menceritakan bahwa ada sekolah baru namanya sekolah rakyat. "Sekolahnya bagus juga gratis, tidak hanya bagus dan gratis tapi semua perlengkapan serta kebutuhan siswa ditanggung oleh pemerintah, diasramakan, khusus untuk keluarga yang kurang mampu, program prioritas Presiden Prabowo, bahkan nantinya keluarganya juga akan diberikan program pemberdayaan agar bisa sejahtera dan keluar dari jerat kemiskinan," ucapku penuh keyakinan agar sang nenek mengizinkan cucunya disekolahkan di Sekolah Rakyat.
Dari tatapannya, penulis melihat harapan, alhamdulilah beliau mengizinkan, pada waktu itu juga si nenek lantas meminta agar si Tantri di jemput dari tempat bermain untuk diberikan kabar bahwa keinginannya untuk bersekolah akan segera terwujud.
Begitupun dengan Tantri, saat mendapatkan kabar bahwa dirinya akan bersekolah girangnya minta ampun, teman-temannya lantas memberikan selamat, seakan juga ikut bahagia bahwa Tantri akan bersekolah.
Kami semua bahagia, terlebih penulis sendiri, seakan sudah jadi pahlawan yang bisa menyelamatkan seseorang dari jurang masa depan kelam menuju masa depan cerah, impian yang terwujud, akhirnya kamipun memproses berkasnya, dan menyampaikan bahwa Tantri nantinya akan dijemput ketika sudah tiba waktunya masuk ke sekolah rakyat.
Namun takdir berkata lain, tidak lama dari kunjungan, si nenek meninggal dunia, berdasarkan cerita warga, si nenek sempat bercerita dan kepikiran khawatir Tantri akan dijual dan menjadi korban perdagangan orang.
Maklum orang desa, namun setelah dijelaskan oleh tetangga dan orang-orang terdekat kekhawatiran itu akhirnya hilang. Husnul Hotimah ya nek.....
Dikarenakan Tantri tinggal sendirian, akhirnya dijemput oleh bibiknya yang ada di Kalimantan untuk dibawa dan disekolahkan disana.
Walaupun tidak jadi bersekolah di sekolah rakyat semoga Tantri memiliki masa depan yang cerah.
Berdasarkan data, angka keluarga tidak mampu serta angka anak putus sekolah di Madura tinggi, namun upaya meyakinkan mereka agar mau masuk sekolah rakyat yang sistem asrama dan masih program baru sulitnya minta ampun, jadi kebayangkan perjuangannya hanya untuk sekedar mendapatkan siswa? He....
Tapi berselang berjalannya waktu akhirnya sekolah rakyat di kabupaten Bangkalan diresmikan dengan jumlah total sekita 70 an siswa dari latar belakang keluarga yang berbeda-beda, mulai dari yatim, anak putus sekolah, hingga anak pemulung.
Mereka yang biasa hidup serba kekurangan, hidup di jalanan, tidur dengan alas seadanya tanpa pendidikan, makan tidak teratur, kini mereka sudah bersekolah di gedung yang sangat mewah, fasilitas lengkap, makan tepat waktu tiga kali sehari lengkap lauk-pauk serta buah-buahan dan susu. Yang awalnya tidur tanpa alas di tempat seadanya, kini tidur beralaskan kasur empuk, dengan selimut dan lengkap dengan pendingin ruangan atau AC.
Kali kedua, tanpa terasa penulis terisak, bukan karena sedih tapi justru karena bangga memiliki presiden se peduli ini sama masyarakat kurang mampu.
yang muncul pertama kali di benak penulis adalah betapa besar manfaatnya? Berapa banyak doa-doa baik yang dilantunkan dari keluarga para siswa yang bersukur karena impiannya kembali terwujud setelah sekian lama terkubur.
Apalagi setiap masing-masing dari mereka juga mendapatkan laptop, jadi kebayang ketika pemulis masih kecil dulu, jangankan punya laptop, bisa dapat uang jajan saja sudah top, he.....
Karena siswanya dari latar belakang tidak biasa, bahkan notabeni adalah mereka yang terbuang dan tersisihkan dari lingkungannya, anak-anak yang sebelumnya kurang perhatian karena lahir di keluarga yang kurang mampu maka tidak mudah memang untuk mengumpulkan apalagi mendidiknya, butuh kesabaran untuk menuntunnya, butuh hati yang tulus untuk memeluknya, merasakan setiap dunyut jantung dan nadinya, meyakinkan bahwa sejatinya dia manusia sama seperti kita, punya cita-cita, ingin dimanja, cuman kebetulan berada di dimensi yang berbeda. Tidak seberuntung kita, yang serba berkecukupan.
Pernah suatu ketika awal-awal diresmikannya sekolah rakyat di Bangkalan, penulis berkesempatan bertugas menemani untuk kegiatan solat magrib berjamaah, lanjut mengaji dan ditutup dengan solat isya berjamaah, sebelum kemudian lanjut makan malam. Biyuhhh...... Penulis syok minta ampun.
Ada yang perang sarung, ada yang nangis karena bertengkar, ada yang rebutan masuk kamar mandi sambil dorong-dorong seraya banting pintu, ada yang loncat pagar tangga, bahkan perkara tempat solat pun ada yang rebutan dan tidak ada yang mau mengalah.
Setelah sempat teriak-teriak, kejar sini, kejar sana berupaya menenangkan mereka, akhirnya penulis kelelahan, nafas ngap-ngapan, emosi tidak stabil, akhirnya penulis memilih selonjoran, tarik nafas dalam dan panjang, lalu menghembuskannya pelan, sambil bergumam didalam dada, bukankah mereka manusia, yang punya rasa, dan semua tingkah laku itu merupakan ekspresi bahwa mereka sedang bahagia dengan dunia barunya.
Ekspresi bahagia memiliki teman baru, ekspresi bahagia memiliki tempat tinggal dan tempat tidur baru, ekspresi bahagia karena memiliki menu makan baru, ekspresi bahagia memiliki kegiatan baru, bahkan ekspresi bahagia memiliki toilet baru, dan yang paling wah adalah ekspresi bahagia karena merasa mendapatkan perhatian baru dari para wali asuh dan wali asramanya sehingga tidak sedikit dari mereka yang terkadang minta ditemani ngobrol sambil pijet-pijetan, ah.... Ini bukan hanya hidup baru bagi mereka tapi juga pemandangan serta pengalaman baru bagi penulis, akhirnya penulis kembali meneteskan air mata, nafas yang tadi ngap-ngapan sudah mulai teratur, emosi yang semula tidak stabil mulai tenang.
"sesungguhnya mereka bukan nakal, tapi mereka sedang meluapkan rasa bahagia," gumamku dalam hati.
Dan ternyata terbukti, Setelah beberapa kali menemani mereka solat berjamaah dan mengaji, perlahan suasana mulai berubah, sudah mulai ada yang mau mengalah, sudah mulai ada yang mau mengantri masuk kamar mandi, sudah mulai ada yang mau saling membantu. Bahkan sudah ada yang seperti besti, kesana kemari berdua, bahkan duduk barisnya juga berdua. Ahh.... Sungguh pemandangan yang indah tuhannnnn.
Cerita yang lain juga, penulis pernah menemukan salah satu siswi yang jatah jajannya disimpan, dikumpulkan, tidak dimakan, setelah ditanya mengapa tidak dimakan? "Mau dibawa pulang buat mama," ucap siswi perempuan, cantik mungil tapi penulis lupa namanya.
Pemandangan seperti ini sebelumnya penulis hanya melihatnya di televisi, tapi kini bisa menemukan sendiri, melihat dengan mata kepala sendiri. Dan kesekian kalinya air mata menetes, sungguh mereka anak-anak luar biasa, seketika ingin rasanya mengucapkan terimakasih langsung ke Bapak presiden Prabowo Subianto.
Dan yang terkini, salah satu dari mereka yang saya ceritakan diatas, fotonya ada yang berhasil nampang di akun medsosnya kemensos, bukan karena joget-joget ala anak-anak alay masa kini, tapi karena dia mampu berlari sehingga berhasil menjadi juara 2 lari 100 meter tingkat kabupaten, namanya Nur Laily.
Mungkin ini yang pas dijuluki Zero to Hero, dari dipandang sebelah mata, anak pinggiran, tidak mendapatkan perhatian, anak dari keluarga pas-pasan akhirnya bisa berhasil berprestasi mengharumkan nama keluarga dan daerahnya. Luar biasa....
Dan yang lebih membuat penulis merinding ketika melihat mereka semua berseragam sekolah rakyat, jujur ini puncak penulis menangis sesenggukan cukup lama, bagaimana bisa anak dari keluarga kurang mampu bisa bersekolah layaknya orang kaya.
seperti apa konsepnya? Padahal mereka bisa sekokah aja bersukur ini malah di beri laptop, dapat seragam keren, dan di muliakan layaknya anak orang kaya yang mampu bayar mahal. Mimpi apa sih mereka sebelumnya? Kok bisa? Anak yang awalnya hitam, dekil, tidak terawat, kurang gizi, sekarang mulai bersih, berisi, cuantik dan cakep dengan balutan seragam dan baret khas Sekolah Rakyat. Ahh.... Izinkan aku menangis sekali lagi.
Bagiku Sekolah Rakyat bukan sekedar Sekolah Hebat, lebih dari sekedar itu, Sekolah Rakyat adalah sekolah yang lahir dari seseorang yang berhati malaikat, yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, dia adalah Presiden Prabowo Subianto.
Maka tidak heran jika Gus Ipul menangis sesenggukan disaat meresmikan, karena sekolah ini memang beda, baik konsep, praktek, maupun tujuannya. Itu bukan berlebihan tapi bahasa jujur yang tidak lagi bisa disampaikan hanya dengan kata-kata, apalagi bagi penulis yang pernah mengalami putus sekolah, sekali lagi sekolah rakyat tidak hanya sekedar sekolah hebat tapi sekolah yang lahir dari seseorang yang berhati malaikat, dengan adanya sekolah rakyat tidak ada lagi alasan anak putus sekolah karena hambatan ekonomi, kecuali hanya bagi mereka yang memang tidak mau sekolah. Terimakasih pak presiden Prabowo.
*Pekerja Sosial Kemensos
Editor : Abdul Basri